YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Tak semudah itu


__ADS_3

Setelah membuat mereka semua terpaku cukup dalam. Akhirnya pertunjukan Penerus Master Elbrano itu telah dimulai.


Dengan sekali kibasan Sayap kokoh gagah membentang Perkasa itu semua bawahan Kakek Lucius yang tadi berkeliaran di Wilayah ini langsung terbakar. Tebasan Pedang berkilat biru itu bagai kembang api melesat dari satu tempat ke tempat yang lain.


Gerakan Meroket yang begitu stabil bak pasukan Malaikat tengah memantau situasi umat manusia. Ia juga kembali menstabilkan hawa tempat ini dan barulah mengurus Kakek Lucius yang tampak terdiam kosong menyaksikan bagaimana Mahluk bersayap mempesona tapi juga mengerikan ini menghanguskan Bawahannya.


"Kau begitu angkuhh!!"


Suara jantan yang terkesan dingin dan juga arogan. Ia berdiri dengan satu kaki agak di tekuk kebelakang dengan tubuh sudah memakai Jubah berwarna Emas yang memang diperuntukan baginya.


Tatapan Kakek Lucius tak lagi bisa berpaling dari hunusan Pedang yang tepat menyentuh dahinya. Apakah ini mimpi? Seorang keturunan Cucunya sendiri mengacungkan Pedang kemuliaan yang seharusnya di keluarkan pada saat Pelantikan.


"K..Kau.."


"Yah. Kau begitu angkuh dan lupa diri sampai menghukum seseorang bahkan lebih yang tak punya masalah sama sekali." desisnya penuh tekanan. Sorot mata membunuh ini persis seperti seseorang yang tengah diam masih salam posisi yang sama tapi Pedangnya sudah di turunkan kembali.


"Kau yang tak tahu apa-apa. Ingin menasehatiku?"


Seketika wajah Ester langsung berubah sangat beku. Ia menekan ujung Pedangnya hingga cairan hitam kental itu keluar pertanda ini tak main-main.


"Kau hanya hanya lahir dari KESALAHAN BESAR DAN PENGHIANATAN AYAH MUU!!"


"Jangan terlalu keras bicara." desis Ester dengan pandangan elang bermain. Air yang tadi mengurai dibuat kembali ke dalam wadah lautan yang tiba-tiba tenang.


Hanya saja semua bawahan Xavier masih berderet di sekeliling Rembulan merah sana. Mereka seakan diam memberikan ruang bagi Sosok belia yang nyatanya sudah menjelma menjadi Putra Mahkota selanjutnya.


"Kenapa? Aku berharap kau bisa menggantikan Ayahmu yang BODOH itu."


"Terlalu banyak bicara tak baik. Kakek!" jawab Ester dengan ujung Pedang tajamnya semakin menekan Tengkorak Kakek Lucius yang seketika merasakan benda keras ini ingin menembus kepalanya.


"K..kau sama saja."


"Jangan menyamakan aku dengan Cucumu itu! Jika aku jadi dia.. "


Ester menjeda kalimatnya. Ia sedikit melirik ke arah Xavier yang tak bergeming setia dengan pandangan intimidasinya.


"Sudah lama ku penggal kepalamu karna menginginkan. MOMMYKU!"


Imbuh Ester bersiap mendorong peggangan Pedangnya ingin menembus kepala Kakek Lucius yang seketika pasrah karna ia juga tak punya energi yang kuat untuk membebaskan diri.


"Heeeyyy!!!!"


Suara keras dari arah belakang sana membuat mereka semua menoleh. Seorang pria berkacamata dengan pisau yang sudah di arahkan pada leher seseorang itu membuat Ester berbalik dengan tatapan sungguh terkejut tapi mematikan.


Terlihat jika Dokter Ryker tengah menyandra seorang wanita yang di seret membelah Pasir pantai yang basah.


"Lihat apa yang aku bawaa???"


Semua orang yang tadi ada di dalam Villa langsung keluar terutama Zion yang sangat syok dan heran kenapa Dokter Ryker berani menyeret Stella ke Gudang bahaya ini.


Apalagi, Pisau yang di acungkan ke leher wanita itu membuat mereka saling pandang penuh tanya.


"Terkejut?? Kalian terkejuut??"


Xavier hanya diam. Wajahnya membeku dengan Wujud sudah kembali seperti Manusia tapi urat hitam yang menjalar tadi sudah menutupi separuh wajahnya. Tapi, bukan berarti hawa magis dan misterius ini berkurang.

__ADS_1


"V..Vee!!"


"Jangan merusak suasana hatiku." desis Dokter Ryker menekan Pisau di tangannya ke leher Stella yang membuat Ester begitu marah ingin melesat ke arah sana tapi tiba-tiba tubuhnya tak bisa di gerakan.


Spontan Ester melihat ke arah Xavier yang masih diam setenang air tapi wajahnya begitu beku.


"Jika ada yang berani mendekat. Aku bersumpah Stella akan menjadi korban selanjutnya."


"K..kenapa? Kau..kau bilang kau.."


Stella berkaca-kaca menatap Dokter Ryker yang tadi mengatakan jika ia datang kesini maka Kakek Lucius akan berhenti membuat kekacauan di tempat ini.


Tapi tak di sangka dia bahkan berbalik menekan Pisau ke lehernya hingga Stella benar-benar terkejut.


"Kau terlalu lugu. Stella!"


"K..kau.. Kau membohongiku???" tanya Stella dengan suara bergetar. Mendengar itu Dokter Ryker terdiam dengan mata merah berair dan senyuman miris.


Jelas jika ia berperang dengan batinnya sendiri untuk melakukan hal ini tapi ia tak bisa melepaskan perasaan itu.


"Kau memang baik dan tulus. Tapi, aku membutuhkanmu."


"Kenapaa?? Kenapa kau seperti inii??" tanya Stella memberontak tapi Dokter Ryker juga sekuat mungkin menahan pergerakannya.


Ia membuat jarak aman dengan Xavier yang masih diam tapi pasti akan mencari cela untuk mengambil wanita ini dari sandara'annya.


"Jangan banyak bertanya. Kau cukup menurut padaku."


"T..Tidak. Kau bajingaan!!"


Hal ini semakin membuat darah Ester mendidih bahkan getaran tanah ini tak bisa menahan hawa kemurkaan dari sang Putra.


"Aku ingin kau memaksa Kekasih-mu itu untuk membebaskan aku!!"


"L..Lepaass!!" desis Stella memberontak dengan tatapan berkaca-kaca pada Xavier yang masih diam di tempat.


Kakek Lucius juga keheranan. Ia tak menyangka jika Dokter Ryker akan melakukan hal ini padahal dulu ia sangat yakin pada kesetiaannya pada Xavier.


"Bebaskan aku maka aku akan membebaskan Stellaa!!!"


"V..Vee.." lirih Stella menatap Xavier yang tetap setia dengan pandangan dinginnya. Seringaian Dokter Ryker meruak kala melihat ada sesosok Mahluk yang melesat ke arahnya menarik perhatian semua orang.


"A..Apollo..?"


Tuan Attacus yang terkejut begitu juga mereka semua yang ada di depan Villa. Wajah licik Apollo si Mahluk seperti Monster bertubuh lengket dengan kepala botak, mata hitam besar san telinga runcing itu memperlihatkan wajah sebenarnya.


"Apollo!! Apa yang kau lakukan?" Tuan Attacus tak mengerti.


"Kau bertanya atau tengah bercanda?!" kelakar Apollo dengan gigi hitam berkarat dan air liur meleleh. Semua ini jelas bukan sesuai statusnya sebagai Peramal Klan Elbrano.


"Kauu.."


"Kalian begitu na'if dan berotak pendek." maki Apollo mengusap dadanya hingga tusukan Pedang Xavier tadi perlahan kembali pulih dengan sendirinya.


Tangan panjang kurus pembungkus tulang itu memeggang bahu Dokter Ryker yang menatap kasihan pada Stella tapi ia kembali sadar akan remasan di bahunya.

__ADS_1


"Kalian begitu tak cocok menjadi bagian Klan Elbrano bahkan sangat memalukan."


"APOLOOO!!!" geraman Kakek Lucius yang seketika merasa murka melihat perubahan ini. Urat wajahnya muncul pertanda apa yang ia lihat ini benar-benar di luar dugaan sebelumnya.


Mendapat respon bentakan dari Kakek Lucius, tawa bebas Apollo meruak merentangkan tangannya bagai penguasa nirwana.


"Kau juga si Tua bangka yang sangat mudah di Tipu!! Selama ini aku hanya memanfaatkan mu untuk menemukan Darah murni yang akan membuatku bertambah kuat dan bisa menundukan kalian semua!! AKU YANG AKAN MEMIMPIN KALIAAAN!!!"


"Kauuu..."


Kakek Lucius begitu menjadi-jadi hingga kedua tangannya ingin bergerak tapi darah itu segera menyembur dari mulutnya. Sontak tawa Apollo kian naik bahkan terdengar kesemua penjuru.


"Lihaat!! Betapa kau tak berdaya di bawah tekanan Keluargamu sendiri. Apalagi, sekarang yang kau inginkan sudah ada di tanganku." desis Apollo menatap penuh minat Stella dengan lidah panjang terjulur seakan begitu ingin menghisap darah segar ini.


"Bukankah begitu. Teman?" Apollo beralih pada Dokter Ryker yang diam menatap kedepan dimana Zion yang memandang penuh kecewa.


"Ryker! Aku pikir kau kerabat ku."


Ucapan Zion membuat kepalan Dokter Ryker menguat. Matanya semakin mengigil segera berdiri menunjuk wajah Zion dengan Pisaunya dari kejahuan.


"Kalian bukan teman atau suadarakuu!! Kalian yang menjadikan aku seperti ini bahkan Orang Tuaku meninggal karna Kaliaaan!! Kaliaan brengseeek!!"


Bentak Dokter Ryker dengan dendam, emosi dan kebencian menjadi-jadi. Wajahnya yang semula bijaksana dan tenang berubah mengigil menahan perasaan yang menjalar di sekujur tubuhnya.


"K..Kalian.. Kalian yang merusak masa kecilku! Mereka membenciku!! Karna aku membunuh Kedua Orang Tuaku sendiri!! Aku ingin bebas dari semua inii!!"


"Kau akan bebas." sambar Apollo menepuk bahu Dokter Ryker yang selama ini sudah melawan batin agar bisa ke titik ini. Ia kasihan dan perduli pada Stella tapi saat tahu jika wanita ini punya darah murni yang bisa menjadikannya kembali seperti manusia biasa, ia langsung menuruti kesepakatan dengan Apollo.


Harapan di wajah Dokter Ryker sangat tergambar luas bahkan keinginan bebas itu membuatnya sesekali tersenyum tapi juga ingin menangis.


"Aku ingin kembali ke Duniaku."


"Yah. Kau akan kembali bahkan kedua Orang Tuamu pasti sangat bangga padamu. Ryker!" desis Apollo membangkitkan api yang memang sudah menyala itu.


Ia beralih pada Kakek Lucius yang sudah terlihat tak berdaya dan begitu juga Xavier yang hanya bisa diam membuat hatinya tergelitik.


"Pangeran Cinta! Kau akan melihat bagaimana aku menghabiskan Energi Kekasihmu." licik Apollo dengan seringaian iblisnya tapi, sedetik kemudian ia merasakan hawa aneh pada diri Stella yang masih ada di tempat ini.


"Ini.."


"Jangan terlalu percaya diri." suara keangkuhan di depan sana membuat Apollo dan Dokter Ryker syok. Tubuh mereka sampai tertolak mundur kala melihat ada Seorang wanita yang sama tengah ada dalam pelukan hangat dan gagah Xavier yang menunjukan kekuasaannya.


Tak hanya Apollo tapi semua orang termasuk Ester yang terperanjat melihat Mommynya yang tak sadarkan diri pelukan Xavier yang sejenak menidurkan kesayangannya.


"K..Kau.."


"Lihat betapa menyedihkannya kau!" tegas Xavier seraya membelai surai lembut Stella yang bersandar ke dadanya. Mata wanita itu terpejam tapi tubuhnya masih berdiri seakan Xavier memeggang kendali.


Sontak Apollo dan Dokter Ryker langsung beralih ke arah bawah mereka dan seketika jantung itu berdegup kala melihat Sosok yang tadi mereka kira Stella adalah gumpalan Air yang seketika langsung mencair di dataran Pasir ini.


"T..Tidak.."


Dokter Ryker terjatuh merasa begitu tak percaya. Apollo memucat dengan pandangan yang tadi percaya diri berubah mengigil takut.


"Belajarlah dalam membuat rencana. Tak semudah itu bermain taktik di HADAPANKU." Geram Xavier yang sudah tahu sejak lama jika Dokter Ryker mendekati Stella hanya karna ingin memanfaatkan keistimewaan wanita ini.

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2