
Setelah menemani Stella yang sibuk mengurus Baby Ester akhirnya Xavier mulai didesak oleh pekerjaan. Ia yang rencananya tak ingin ke Perusahaan tapi tiba-tiba saja ada Meeting penting yang harus ia hadiri dan itu sudah menunggu lama karna Xavier baru datang kembali ke Kota Melbron setelah pulang dari Kota Borneo yang termasuk cukup lama.
Tetapi. Dengan desakan pekerjaan itu Xavier masih ragu dan malas untuk bersiap. Ia hanya berbaring di atas ranjang dengan kepala masih ada di paha Stella yang menidurkan Baby Ester di dekatnya.
"Vee!"
"Hm?" gumam Xavier yang malas beranjak. Ia membelit pinggang Stella membenamkan wajah tampannya ke sana. Hal itu sontak membuat senyum hangat Stella tertuai ringan.
"Zion sudah menunggumu. Cepatlah bersiap!"
"Aku ingin disini saja." jawab Xavier dengan suara nyaris terbenam di perut Stella yang menghela nafas ringan.
"Vee! Kapan aku bisa masuk ke Perusahaanmu?"
Mendengar pertanyaan Stella yang terdengar halus menarik wajah tampan Xavier untuk memandangnya. Jemari lentik Stella mengusap kepala keangkuhan ini dan tak akan ada yang menyangka jika seorang Xavier bisa semanja itu pada seorang wanita.
"Aku bisa langsung memberimu Nilai yang bagus!"
"Vee! Itu tak perlu. Aku harus melakukan apa yang seharusnya di bebankan padaku. Jika aku bekerja sebagai Karyawan Magang maka harus melakukannya." jelas Stella tak mau memakai jalan pintas.
"Aku akan mengurusnya! Nilai mu akan sempurna."
"Kau meremehkan aku?" tanya Stella dengan wajah berubah masam. Jelas jika ia mau ikut dengan kemampuannya sendiri bukan karna bantuan atasannya.
Melihat keseriusan dari netra biru laut Stella yang kekeh ingin melakukan itu juga akhirnya Xavier diam mempertimbangkannya. Ia melirik Baby Ester dari ekor netra abunya dan Bayi tampan itu tampak lengket dengan Stella.
"Tubuhmu masih sakit?"
"Tidak juga. Tubuhku berangsur membaik. Hanya sedikit nyeri di bawah sini." jawab Stella menunjuk ke bagian bawah perutnya. Hal itu spontan membuat Xavier mendunselkan wajahnya ke perut Stella yang memang masih agak besar. Lemak yang tersisa dari Proses mengandung itu di gigit gemas oleh Xavier yang membuat Stella kegelian.
"Vee!! Kauu.."
"Gembul!" gemas Xavier menepuk-nepuk bokong Stella dengan pelukan yang mengerat. Stella hanya bisa menggeliat menahan kegelian tapi kekehan kecilnya tak bisa dielakan.
"Vee!! Sudah. Nanti Baby bangun dan menangis lagi karnamu."
"Dia selalu menganggu." gumam Xavier ingin mencengkram bagian kaki Baby Ester yang di Bedong Nyonya Clorie tadi tetapi Stella dengan cepat menahannya.
"Jangan ganggu lagi! aku sudah susah payah menidurkannya."
"Sekarang kau yang harus tidur!" Tegas Xavier mulai bangkit dari baringannya. Ia duduk dengan rambut acak-acakan dan tatapan masih malas untuk beranjak dari sini.
"Ayo! Pergilah mandi lalu bersiap. Aku akan mengambil Pakaianmu."
"Disini saja!" pinta Xavier lalu beranjak dari ranjang. Ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum pergi ke Perusahaan.
Stella hanya bisa menghela nafas dalam kembali menatap wajah damai Baby Ester yang tampak sangat tenang dan sama sekali tak terganggu akan suara berisik dari Daddynya tadi.
"Maklumi sikap Daddymu. Dia tak pernah bersikap baik dengan orang baru. Tapi percayalah, perlahan-lahan dia akan terbiasa dengan kehadiranmu. Hm?" Bisik Stella mengecup pipi gembul Baby Ester yang hanya menggeliat kecil dengan bibir merah muda lembut mungil itu seperti ingin mengemut sesuatu.
__ADS_1
Stella asik melihat wajah tampan Putranya yang semakin lama ia memandang maka semakin dalam Stella jatuh cinta pada si kecil ini. Baby Ester benar-benar jiplakan Xavier.
Setelah beberapa lama Stella sibuk dengan dunianya sendiri hingga suara ponsel dibawah selimut ini membuat Stella terperanjat. Ia mengambil benda pipih itu sampai akhirnya
Dahi Stella menyeringit kala ada Nomor yang masuk tapi tak ada nama yang tertera disana.
"Veeee!!"
Panggil Stella tapi tak ada jawaban dari Xavier. Ia agak segan mengangkatnya tapi karna sudah lama berdering dan menganggu Baby Ester akhirnya Stella mengangkatnya.
"Hel.."
"Patriack! Kau dimana? Meetingnya akan segera di mulai. Sayang!"
Degg..
Spontan jantung Stella langsung dibongkem keras. Suara cemas dan lembut dari wanita ini membuatnya diam dengan pikiran sudah melayang jauh kemana-mana.
"Sayang! Kau masih disana? Ayolah. Jangan karna Pertemuan Keluarga kita malam itu kau jadi semakin mengacuhkanku."
Stella hanya diam. Dadanya terasa sesak tapi ia tak mau menduga hal apapun yang akan membuatnya pusing sendiri.
"Patriack! kau jangan terus begini. Pernikahan kita akan tetap di langsungkan dan kau harus datang pa.."
Stella langsung mematikan ponsel itu dengan deru nafas yang tak stabil. Sumpah demi apapun saat mendengar kata PERNIKAHAN di sebut, hati Stella langsung terasa di cabik-cabik.
Bahkan, matanya sampai berkaca-kaca membayangkan bagaimana hubungan wanita itu dengan Xavier?
Tidak. Xavier tak mungkin melakukan hal itu padanya, tidak mungkin.
Stella termenggu sampai tak sadar jika pintu kamar mandi sudah terbuka memperlihatkan Xavier dengan tubuh atletisnya dibaluti handuk sepinggang kekar itu.
Xavier sadar akan kekosongan Stella hingga ia mendekat seraya melemparkan handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya tadi ke wajah Stella.
Spontan Stella terperanjat langsung mengambil handuk di wajahnya. Xavier sudah mendekat ke tepi ranjang mengambil handuk itu kembali dari tangan Stella.
"Kau lapar?"
Stella hanya diam. Dari guratan ini saja Xavier sudah tahu jika ada yang menganggu pikiran Stella.
"Ada apa?"
"Vee!" gumam Stella dengan wajah terlihat serius. Xavier juga diam menunggu apa yang ingin Stella katakan.
"Hm?"
"Tadi ada yang menelfonmu!"
"Lalu?" tanya Xavier seraya mengeringkan rambutnya. Stella diam merasa mulai emosi tapi ia tak bisa sembarangan begitu.
__ADS_1
"Apa kau merencanakan Pernikahan dengannya di belakangku?"
Pertanyaan yang di lontarkan Stella membuat tangan Xavier yang tadi mengusap rambutnya perlahan terhenti. Tatapan datar itu masih sama sulit bagi Stella untuk menebaknya.
"Jawaab!!"
"Tidak usah di pikrikan." jawab Xavier dengan intonasi dinginnya. Linnea memang benar-benar merusak suasana hati Stella dan bisa menimbulkan kecurigaan wanita ini padanya.
Jawaban Xavier membuat Stella tersenyum miris. Jelas jika Xavier selalu menganggap enteng hal seperti ini padahal bagi Stella semua hal kecil-pun harus ia ketahui.
"Kau merencanakan Pernikahan di belakangku. Dan dengan mudah menjawab seperti itu?" pelannya kecewa.
Xavier mengambil nafas dalam tak ingin bersuara terlalu keras atau Baby Ester akan terjaga.
"Aku tak merencanakan apapun!"
"Lalu itu apa? Barusan itu apaaa??" tanya Stella masih belum menerimanya. Karna perdebatan itu membuat Baby Ester sampai kembali menggeliat dan sedikit rengekan keluar.
"Aku tak merencanakan apapun. Sulit menjelaskannya sekarang. Stella!"
"Kau selalu saja menganggapku tak perlu tahu apapun." gumam Stella beralih menggendong Baby Ester yang merengek dengan perlahan. Ia masih terlihat kaku tapi sudah aman dan tak separah sebelumnya.
Ia membuka kancing Dress hamil itu menyusui kembali Baby Ester yang tampak mulai kehausan. Stella tak lagi mengeluarkan suara apapun bahkan memandang Xavier saja tidak.
Hal itu membuat Xavier merasa tak bisa bernafas normal.
"Aku tak menikah dengan siapapun! Wanita itu yang terus menggangguku. Dia itu.."
Ponsel Xavier lagi-lagi berdering dan kali ini dengan amarah yang sudah membeludak didadanya Stella melempar benda itu ke atas lantai hingga tak lagi bersuara.
"Cepatlah pergi! Kau bisa menganggu tidur Putraku!" dingin Stella tak menatap Xavier yang memejamkan matanya menghela nafas tenang.
Ia tahu bagaimana Stella. Wanita ini tak akan mengerti jika di jelaskan, ia harus melihat secara langsung.
"Besok kau bisa ke Perusahaan. Lihat sendiri wanita itu."
"Sudah sampai mau menikah. Cih, pasangan yang cocok." ketus Stella menahan sesaknya. Ia Trauma dengan percintaan yang dulu kandas bersama Devano. Awalnya juga tak jujur padanya lalu mereka sudah bergandengan dengan kedok sepasang kekasih.
"Aku tak menikahi siapapun. Kau.."
"Panggilannya sudah beberapa kali di Ponselmuu!! Kau melarangku bicara dengan Pria lain bahkan menatapnya saja kau marah. Tapi, nyatanya kau sama sekali tak menghargaiku!!!" sambar Stella dengan wajah keras dan tak bisa menerima ini.
Xavier diam. Ia memilih pergi ke Ruang ganti agar segera pergi tak ingin melayani Stella dulu. Ia hafal jika Stella sudah mengklaim sesuatu ia akan sangat kekeh dan Xavier tak menginginkan pertengkaran tak berdasar ini terus terjadi.
"Semakin di diamkan dia akan terus melunjak." desis Xavier mengambil Kemeja dan Pakaiannya di lemari. Ia sudah memperingatkan Linnea agar tak mengganggunya lagi tapi lagi dan lagi ia membuat keributan yang sama.
Ada satu hal yang membuat Xavier tak membunuh Linnea. Jika ia mau sudah dari dulu wanita itu tiada tapi, Xavier masih membutuhkan kehadiran Linnea untuk memastikan sesuatu.
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..