
Setelah memuaskan diri dengan menyuruh Stella memakai pakaian yang begitu menggemaskan baginya, Xavier kembali meminta untuk selalu di layani setiap ia pulang dari pekerjaannya.
Aturan baru mulai dibuat dan tentu hal itu tidak-lah menguntungkan bagi Stella. Bahkan begitu menyudutkan wanita itu.
Seperti pagi ini. Stella enggan untuk bangun karna tubuhnya terasa begitu pegal dan remuk. Tetapi, Xavier memintanya bangun dan tidur kembali saat ia sudah pergi.
Itu gila bukan?
"Bangun!"
"Ehmm." gumaman tak jelas Stella yang menggulung dirinya dengan selimut. Ia mengabaikan suara Xavier yang mengguncang betisnya dari luar selimut.
"Bangun! Nanti kau bisa tidur lagi."
"Ehmm."
"Banguun!!"
Xavier menarik selimut yang Stella pakai hingga tubuh jenjang nan seksi mulus ini terlihat kembali. Xavier mengulum senyum kala melihat banyak bekas ciumannya di tubuh Stella.
Merasa dipandangi begitu intens. Stella dengan malas langsung berbaring tengkurap membenamkan wajahnya di permukaan bantal hangat ini.
Ia sudah tak perduli bagaimana sekarang tubuhnya terpampang dengan bokong bulat berisi yang tampak begitu seksi.
Tangan Xavier yang begitu nakal sampai tak tahan untuk menaboknya ringan membuat Stella naik darah.
"Pergilah!! Kenapa masih disini??" pekik Stella menepis tangan kekar Xavier yang asik mencubit-cubit paha dan bokongnya.
Pria ini memang sudah gila dan tak waras. Setiap saat ada saja yang dia pinta dan itu tak manusiawi.
"Bangun!"
"Please! Aku ngantuk. 10 menit saja aku mau tidur."
Mata berat Stella sayu-sayu melirik Xavier yang akhirnya mengurungkan niatnya. Ia kembali menyelimuti Stella yang akhirnya bisa bebas tidur menambah tenaganya kembali.
"Ingat tugasmu!"
"Emm!"
"Jika lupa, tawarannya batal!"
"Ehmm."
Jawab Stella hanya bergumam saja. Xavier menghela nafas dalam, ntah kenapa ia sangat malas keluar dan hanya ingin berdebat dan mengganggu wanita ini saja.
Merasa Xavier belum keluar. Stella langsung membuka mata beratnya menatap sosok tampan berwajah datar yang masih tampak berdiri di samping ranjang memandanginya.
"Apa?" serak Stella khas bangun tidur.
"Tugasmu yang ke 2!"
Stella terdiam lalu berfikir. ia sama sekali tak ingat membuat Xavier menggeram marah bercampur kesal. Semalam ia sudah menjelaskan panjang lebar apa saja tugasnya tapi Stella begitu mengabaikannya.
__ADS_1
"Kau lupa. Hm?"
"Ntahlah. Kau pergi saja!" jawab Stella enteng tanpa mau mengingatnya. Namun, saat Xavier mengeluarkan kalimat ultimatum itu, ia langsung bergegas.
"Tawaran yang.."
"Baik!"
Stella mengangkat tangannya keluar dari selimut yang masih menutupi tubuhnya. Ia dengan malas beralih duduk dengan rambut sudah berantakan tapi tampak begitu menggemaskan.
Melihat itu Xavier menarik sudut bibirnya licik. Ia tahu Stella tak akan menyia-nyiakan usahanya semalam.
"Kau sudah ingat?"
"Hm. Mengantarmu ke pintu saat kau mau bekerja. Benarkan, TUAN?" tanya Stella selayaknya seorang pelayan menyapa Xavier yang hanya diam setia dengan wajah datar itu.
Tapi, tak sebanding dengan hatinya yang tengah kegirangan tapi seperti biasa wajah angkuh dan arogan selalu mendominasi.
"Hm."
"Cih." Umpat Stella dengan malas bangun dari tempat tidur menyeret langkah dengan tubuh polos itu pergi ke kamar mandi.
Seperti biasa, pintu kamar mandi Stella tutup keras pertanda ia tengah tak baik-baik saja.
Suara gemercik air terdengar cukup deras. Xavier hanya melihat beberapa saat lalu kembali menatap ranjang.
Sedikit ide gila muncul. Ia tak benar-benar ingin Stella mengantarnya ke depan dalam keadaan seperti itu.
Alhasil. Xavier segera merapikan Jasnya lalu melangkah keluar kamar dimana Zion sudah menunggu di dekat tangga sana menenteng tas kerjanya.
"Master!"
Efika yang tadi menunggu Xavier turun untuk memberikan cangkir itu hanya diam menunduk kala Masternya sudah turun.
"Master!"
"Sajikan makanan yang paling lezat dan bergizi. Apapun yang sehat dan di sukai olehnya!" titah Xavier dengan intonasi suara baritonnya.
Ia mengambil cangkir Teh itu lalu menegguknya tandas. Siapapun yang melihat bagaimana gagahnya pria ini dalam melakukan apapun pasti akan selalu terpana dalam.
"Master! Apa itu untuk Nona Stella?"
"Hm."
Xavier meletakan kembali cangkirnya lalu mengambil Sarbet yang ada di atas nampan. Ia melirik ke atas tangga seraya mengusap bibirnya yang begitu membuat Efika terpesona.
"Kau pastikan dia tidur dengan cukup!"
"Baik. Master!"
Zion merasa heran. Tak biasanya Xavier bersikap begitu detail pada Stella dan terkesan sangat perduli.
Tahu akan makna pandangan Zion. Xavier segera melempar Sarbetnya ke arah Efika yang sigap mengambilnya.
__ADS_1
"Dia butuh tenaga untuk melayaniku!"
"Stella memang sangat beruntung."
Batin Efika merasa begitu kagum karna Stella mampu membuat tempat disini. Walau hanya sebagai pelayan setia di ranjang tapi ia bisa melakukan apapun yang ia mau disini.
"Kau mengerti?"
"A..m..mengerti. Master!" jawab Efika tersentak sadar dari lamunannya.
Xavier kembali melangkah pergi ke pintu utama dimana Kakek Le-Yang tengah menunggu di teras sana.
Ia hanya melewati para penjaga yang menyapanya sampai ke arah dekat Mobil yang sudah di panaskan Zion tadi.
"DASAR KAU NYAMUUUUUUK!!!!"
Suara teriakan Stella menggelegar ke seisi Villa membuat mereka terkejut hebat. Tapi tidak dengan Xavier yang hanya mengulum senyum samar nyaris tak terlihat masuk ke Mobilnya.
Zion hanya memilih diam ikut masuk duduk di kursi kemudi.
"Master!"
"Sekarang!"
Zion mengangguk melajukan Mobil dengan stabil ke arah luar Pagar Villa. Ia melirik wajah tampan datar Xavier dari kaca spion dan pria itu tampak sangat berbeda pagi ini.
"Apa yang terjadi dengan mereka?"
Batin Zion merasa kebingungan. Sedetik kemudian ia ingat jika semalam Nona Linnea menelponnya untuk menanyakan apa Xavier masih sibuk atau tidak karna tak mengangkat panggilannya.
"Master!"
"Hm."
"Semalam Nona Linnea menelfon padaku. Dia menanyakan kenapa Master tak mengangkat ponselnya?"
Wajah Xavier yang tadi terlihat bersahabat seketika berubah. Seakan ada yang menutupi pandangan indahnya hari ini begitulah raut wajah datar Xavier meruak.
"Master!"
"Katakan saja aku sibuk." tegas Xavier yang diangguki Zion. Ia tak mau mencampuri urusan Masternya tapi jelas jika Yang Mulia Luchius tahu, ini akan menjadi masalah besar.
.........
Sementara di dalam Villa sana. Stella sudah memaki-maki Xavier karna meninggalkannya padahal sudah bersiap-siap.
"Sialaaan!!! Kalau begini lebih baikku tak usah banguun!!" geram Stella membanting pintu utama Villa.
Ia benar-benar naik pitam karna Xavier mengakalinya. Sudah jelas ia sangat lelah dan mengantuk bahkan berjalan kesini saja Stella harus menyusuri dinding.
Efika yang melihat itu hanya mengulum senyum. Ia membiarkan Stella meluapkan rasa kesalnya dengan terus memaki Xavier.
Jika itu orang lain. Pasti sudah tak akan bernafas lagi.
__ADS_1
.....
Vote end Like Sayang..