
Siang ini Stella mendapat panggilan dari Dapartemen Hukum Kota ini. Hal itu di karenakan kasus kematian Tuan Forbieden yang kala itu meninggal secara tragis dan sangat tiba-tiba.
Yang melaporkan hal itu adalah Direktur Monar-Du yang sudah sadar dari masa Kritisnya di Rumah Sakit. Ia sempat mengalami hal yang sama tapi untung saja ia bisa lolos karna kala itu Sosok yang tiba-tiba menyerangnya seperti punya urusan lain.
Setelah itu ia langsung membuat pernyataan pada Dapartemen Kepolisian Kota Melbron jika mereka sempat tak memiliki hubungan tak baik sebelumnya dengan Perusahaan EMC dan terutama Stella.
Tentu Stella harus di panggil untuk menjalani beberapa pemeriksaan dan ia tetap datang. Dan sekarang ia dihubungi Xavier yang menawarkan diri untuk membantu.
"Perlu bantuan ku. Sayang!"
"Aku bisa mengurusnya. Lagi-pula kau juga sibuk-kan?!" jawab Stella yang ada di dalam Mobil.
"Kau yakin?"
"Iya. Aku tahu jika meminta bantuan mu itu tak gratis." sinis Stella mematikan sambungan.
"Kau yakin ingin masuk ke dalam?" tanya Nyonya Clorie yang menemani Stella ke Dapartemen Kota ini. Kumpulan Media sudah mengerumuni Mobil mereka dimana Tofer masih ada di kursi kemudi menunggu perintah.
Stella juga hanya diam di dekat Nyonya Clorie yang merasa cemas dengan kerumunan Media sebanyak ini.
"Stella!"
"Mom! Aku tak salah, untuk apa aku takut?!" tanya Stella menggenggam tangan dingin Nyonya Clorie yang menatap dalam netra biru putrinya.
Tak ada rasa takut di sana bahkan ia hanya menemukan ketenagan dan rasa percaya diri yang kuat. Hal itu tentu membuat Nyonya Clorie menghela nafas lega.
"Baiklah. Mommy yakin kau akan baik-baik saja."
"Ayo keluar. Mom!" ajak Stella dan Tofer langsung keluar. Kerumunan ini di jaga oleh pihak keamanan jadi setidaknya Stella masih bisa bernafas.
Saat Tofer membuka Pintu Mobil maka kilatan kamera mereka begitu cepat menangkap Stella yang turun dari Mobil mewah ini.
Kecantikan wajah belia itu tampak bersinar kuat bahkan mereka bisa melihat bagaimana bersihnya kulit Stella dan porsi tubuh dan wajah yang sangat pas.
Ia dibaluti Dress Mona selutut dengan bagian leher yang tertutup dan lengannya juga panjang. Ada gradasi seperti setengah lingkaran di bagian dadanya menambah kesan seksi tapi juga elegan.
Begitu juga saat melihat Nyonya Clorie. Mereka seakan menyaksikan dua Fase kehidupan. Dimana Stella saat masih Remaja dan Nyonya Clorie dengan penampilan Dewasa elegannya yang memukau.
"Apa mereka Kakak Adik?"
"Keduanya sama-sama cantik."
"Susst! Jangan terbuai oleh wajah-wajah seperti itu. Bisa saja mereka yang merencanakan pembunuhan sadis Direktur Forb."
Desas-desus Media yang sebenarnya tak percaya jika Stella yang melakukannya. Apakah gadis cantik belia ini mampu membanting tubuh Pria Dewasa?
__ADS_1
"Nona, Nyonya!" Tofer mempersilahkan Stella dan Nyonya Clorie untuk masuk ke dalam Gedung besar Dapartemen Negara ini.
Tapi. Sebelum itu Stella membiarkan para Media ini mengambil gambarnya terlebih dahulu dengan tenang lalu melayangkan senyum ramah dan sangat hangat seraya melewati mereka.
"Nona! Apakah kau tahu kenapa Direktur Forbieden meninggal dunia?"
"Dimana anda saat kejadian berlangsung?"
"Apa masalah anda dengan Direktur Forbieden?"
Stella hanya membalasnya dengan senyuman seraya berjalan menaiki tangga Teras bersama Nyonya Clorie memasuki Pintu besar ini.
Seketika banyak Aparat Kepolisian disini. Mereka berjejer menatap Stella dengan raut kagum tapi juga segera sadar untuk menjalankan tugas.
"Maaf. Tapi, hanya Nona Stella yang masuk ke ruangan Jendral." cegat salah satu Pria berseragam Polisi ini.
"Aku akan menemaninya. Aku.."
"Mom!" gumam Stella mengusap lengan Nyonya Clorie agar tak cemas. Alhasil wanita itu pasrah membiarkan Stella pergi keruangan Interogasi Dapartemen ini sedangkan ia menunggu di kursi yang di sediakan di dalam.
Ia memandang cemas Stella yang di bawa masuk ke dalam ruangan khusus yang agak jauh ke dalam sana.
Yang jelas Stella di dampingi dua Aparat yang segera membuka ruangan yang terlihat sunyi. Ia di suruh masuk dan Stella hanya menurut.
Mereka memberi salam hormat dengan tegas pada Seorang Pria Dewasa dengan bagian rahang tegasnya dijalari jambang tipis tapi hal itu membuat tampilannya terlihat Maskulin.
Tatapan mata yang dalam serta postur tubuh tegap ini memang pantas mendapat gelar bintang 5.
"Duduk!"
Stella duduk di kursi tepat di hadapannya. Netra teliti Stella melihat nama di Seragam Pria ini dan 'Petron Affederus' adalah kata yang tertera disana. Tampaknya Pria ini berasal dari Keturunan Yunani terbukti dengan rambut kuning kotor dan mata coklat tua.
"Kau tahu siapa aku?"
"Polisi!" jawab Stella seadanya. Hal itu membuat dua Pria di belakangnya langsung diam karna mereka tahu jika Jenderalnya sangat memiliki emosi yang cukup tak stabil.
"Umurmu?"
"Jalan 18!" jawab Stella dengan makna singkat tapi tegas. Jenderal Petron menatapnya intens dan Stella cukup merasakan hawa tak mengenakan ini.
"Aku tak tahu apa kau kenal atau pura-pura tak mengenalku. Tapi, dalam sejarah Negara ini tak ada yang bisa lolos dari Cengkramanku." nadanya penuh ancaman menakut-nakuti Stella yang hanya mengangguk santai saja.
"Baguslah!"
"Apa yang bagus?" tanya Jendral Petron pada Stella yang tak berpikir panjang menghadapinya.
__ADS_1
"Bagus karna anda termasuk orang yang bertanggung jawab."
"Seberapa tahu kau tentang tanggung jawab?' alisnya terangkat meragukan Stella.
"Tahu melebihi anda."
"Bicaralah yang sopan pada Jenderal!!" Tukas dua Pria di belakangnya tapi Stella tetap diam dengan ketenagan masih menyelimuti wajahnya.
Jendral Petron diam sesaat mengamati gestur Stella. Dari hawanya saja wanita ini sangat pintar menjawab pertanyaannya tanpa terjebak sama sekali.
"Kau tahu Pria ini?" Ia menyodorkan Foto Direktur Forbieden ke atas meja.
"Tahu!"
"Seberapa kenal?"
"Tak terlalu. Kami hanya bicara saat di Rapat Direksi EMC. Dia Pria yang ramah." jawab Stella tapi itu belum membuat jalan Interogasi ini memanas.
"Kau punya Kontaknya?"
"Tidak. Karna aku hanya Sekertaris Magang. Yang mengatur segalanya adalah Sekertaris Grach dan dia sudah lama mengabdi di EMC." tegas Stella membuat Jendral Petron menghela nafas.
"Dimana kau saat pukul 3 Sore?"
"Di Perusahaan."
Seketika Jendral Petron menyeringai licik. Ia mengetuk-ngetuk meja ini pertanda sudah ada cela.
"Tikus yang terlalu lincah akan menarik perhatian Predator. Tahu pepatah itu?" tanya-nya dengan intonasi mengerikan.
"Tidak."
"Baiklah. Kau saat itu ada di Perusahaan tapi kami mendapat informasi jika kau pergi dengan seorang Supir."
Seketika Stella terdiam. Wajahnya masih tenang tapi ia ingat kala itu Supir Taksi yang ia ajak bekerjasama masih ada di Kota ini.
"Seorang Pria yang keluar dari Mobil pura-pura bertanya jalan untuk mengambil KARTU SESEORANG." tekan Jendral Petron mengeluarkan Kartu Identitas Kerja yang kala itu Stella pakai.
"Shitt. Aku lupa membereskan yang satu ini."
Batin Stella yang mengumpati kecerobohannya kala itu. Ia juga terlalu tergesa-gesa pergi ke Club tanpa membereskan kekacauan sebelumnya.
.....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1