
Di dalam ruangan dingin amis remang tempat penyembuhan itu terlihatlah dua Mahluk yang masih belum kembali ke bentuknya yang semula. Keduanya tengah melakukan Meditasi diri untuk memulihkan keadaan tubuh kembali.
Tentu hal ini sangat membuat seorang pria tua dengan wajah menyeramkan berdiri tak jauh dari mereka terdiam. Matanya terlihat tenang tapi ia masih belum bisa percaya jika dua kaki tangannya kembali dengan keadaan mengenaskan seperti ini.
"Y..Yang Mulia!" lirih Connor karna ia sudah hampir bisa memulihkan tenaganya. Tentakel yang semula terpotong sekarang perlahan keluar begitu juga Eliem yang kembali meregenerasi.
Setelah beberapa saat memulihkan keadaan. Akhirnya Connor dan Eliem sudah bisa merubah bentuk asli mereka kembali seperti manusia. Dua pria berkepala plontos itu segera bersujud di hadapan Kakek Lucius karna gagal menjalankan misinya.
"Yang Mulia! Hukum kami dengan sangat berat!" pinta mereka dengan penuh penyesalan. Walau tubuh mereka mengigil karna takut Kakek Lucius murka tapi lebih baik mengakuinya.
Namun. lama mereka menunggu belum ada hal yang lebih menyakitkan yang terjadi. Kebisuan Kakek Lucius benar-benar membuat mereka merinding.
"Yang Mulia!"
"Hanya seorang wanita." suara bariton khas yang begitu kelam itu membuat Connor dan Eliam pasrah jika tiada saat ini.
Kepala terus tertunduk dengan mata masih tertuju pada lantai di bawah mereka. Marmer hitam yang menyatu dengan suasana ruang bawah tanah yang hanya diterangi sepucuk lilin.
Apa mereka akan habis sekarang? Jika begitu, biarkan mereka melakukannya karna memang sudah gagal.
"Yang Mulia! Sebelum kau membunuh kami, mohon untuk biarkan kami kembali membawa wanita itu ke hadapanmu." pinta Eliem yang memang begitu setia dengan Kakek Lucius.
Pria dengan wajah berkeriput dan ada Syal yang selalu menutupi lehernya ntah menyembunyikan apa hanya dia yang tahu. Rambut yang hampir memutih tetapi tubuh masih saja gagah. Walau demikian tak bisa di tepis jika ia masih terlihat berumur 50 tahun padahal ia sudah hidup beribu-ribu tahun.
Perawakannya sangat mirip dengan seorang algojo. Tatapan begitu mematikan dan raut wajah selalu lurus dan ambisius. Netra abu miliknya bisa berubah menghitam total dengan pusaran hawa gelap mengelilinginya di setiap amarah itu datang.
Tentu saja Connor dan Eliem tak asing lagi dengan sifat tenang tapi terlalu berbahaya pria ini. Itulah kenapa mereka mengabdi karna Kakek Lucius-lah yang telah membuat mereka lepas dari jeratan kematian.
"Yang Mulia!"
"Belum waktunya." gumam Kakek Lucius dengan kumis tipis di bagian atas bibir masih datar. Ruangan remang ini terasa sangat lembab tapi beginilah cara Connor dan Eliem untuk mempercepat penyembuhan.
Mendengar jawaban Kakek Lucius. Keduanya langsung saling pandang belum bangkit dari sujud patuhnya.
"Beri kami tugas. Yang Mulia!"
"Tetap cari wanita itu. Tapi, biarkan Arthas Yang mendekatinya." titah Kakek Lucius mengibaskan Jubah hitam berlambang Kelelawar bermata merah itu hingga tubuhnya langsung hilang di telan asap gelap mendesis kan angin cukup kuat memadamkan kobaran lilin.
Eliem dan Connor kembali berdiri dengan mata berubah merah di antara kegelapan. Mereka yakin jika ada kekuatan besar yang dimiliki wanita itu hingga sampai membuat mereka terluka.
"Aku merasa. Jika dia di lindungi kekuatan yang sama seperti Ras kita."
"Ini kekuatan Prince!" gumam Eliem menimpali Connor. Ia masih tak berani menduga-duga walau saat penyerangan itu. Keduanya seakan merasakan ada hawa intimidasi dari seorang Xavier. Itu tak asing dan tak bisa di ragukan, tapi. Mereka tak berani bicara walau nantinya pasti akan terungkap juga.
Tak mau berbicara cukup lama. Mereka langsung menghilang di tempat untuk pergi ke Dimensi para Arthas yang telah menjadi Budak Elbrano sejak lama.
.........
Di tempat yang berbeda. Sesosok wanita dengan tubuh di lapisi selimut tebal itu tampak masih lelap di atas ranjang sempit hanya cukup untuk satu tubuh saja.
Ia masih tertidur lelap dengan nyaman memeluk bantal yang ia jadikan guling. Perut besarnya tertutup selimut menghadap ke arah jendela kamar yang memperlihatkan deraian salju putih.
__ADS_1
Sudah lama wanita itu tertidur sampai tak sadar jika malam sudah membuang mentari di Apartemen tadi. Sebegitu nyenyak ia tak sadar jika Nyonya Corlie sudah keluar masuk beberapa kali memeriksa Putrinya sudah bangun atau tidak.
"Masih belum?!" gumam Nyonya Corlie melihat dari ambang pintu. Ia menatap cemas Stella yang tadi tiba-tiba ada di kamar padahal Nyonya Corlie tak merasakan kedatangannya.
Saat ia masuk ke rumah. Sepatu Stella sudah ada di depan pintu dan dengan gelisah Nyonya Corlie melihat ke kamar. Nyatanya Stella sudah berganti pakaian dan tampaknya sudah mandi berbaring dengan mata terpejam di atas tempat tidur.
"Mungkin dia kelelahan. Aku berharap jika anakku tak di perlakukan buruk lagi di sana." Lirih Nyonya Corlie ingin menutup pintu. Tapi, saat suara engsel berderit mengganggu Stella yang memang sudah mau bangun karna perutnya terasa lapar.
"Vee!"
Spontan Nyonya Corlie terhenti. Ia berbalik menatap Stella yang sudah bergerak dengan mengucek mata dan menguap tapi mata masih tertutup malas.
"Vee! Kau dimana?"
"Vee?" gumam Nyonya Corlie menyeringit mendengar suara serak khas bangun tidur Stella yang meraba-raba tempat di samping dan belakang tubuhnya.
"Vee emm.."
"Stella!" panggil Nyonya Corlie mendekat ke arah ranjang. Mendengar suara wanita yang tak asing di telinga itu.
Spontan Stella langsung membuka matanya yang seketika melebar kala melihat wajah cantik Nyonya Corlir yang ada di hadapannya.
"M..Mom!"
"Ada apa? Vee siapa?" tanya Nyonya Corlie duduk di tepi ranjang seraya memeggang lengan Stella yang melihat ke sekeliling.
Whaaat? Ini.. Ini bukan Apartemen dan ranjangnya berubah. Apa Xavier mengantarku pulang dan Mommy mengetahuinya.
"Mom! Apa..apa tadi ada yang ke sini? Siapa yang mengantarku pulang?"
Tanya Stella dengan setengah panik menanyai Nyonya Corlir yang mengernyit heran.
"Tak ada yang mengantarmu. Saat Mommy pulang kau sudah ada di Rumah dan tidur disini, Mommy pikir kau kelelahan. Nak!"
"Ti..tidak ada?!" gumam Stella menghembuskan nafas lega. Melihat respon aneh Stella, tatapan Nyonya Corlie menyipit dan terkesan menekan.
"Apa kau dekat dengan seorang pria? Vee itu pacarmu atau apa? Jawab Mommy!"
"Mom! Mommy bicara apa?!" sangkal Stella dengan raut gugup. Ia berusaha bersikap seperti biasa menyembunyikan hal ini dari Nyonya Clorie yang tahu tabiat Stella bagaimana.
Wanita ini akal selalu menghindari kontak mata saat ia sudah mengelak.
"Siapa lelaki yang kau maksud? Apa yang kalian lakukan?
" Mom! Ayolah, Vee itu ... Itu.. Aa.."
"Siapa?" desak Nyonya Clorie hingga Stella tak bisa menemukan hal yang bisa di samakan dengan Xavier.
"D..dia.. dia itu.. "
"Shitt! Apa yang harus ku katakan. Ya Tuhan!" batin Stella meremas selimut yang masih menutupi tubuhnya.
__ADS_1
"Stella! Katakan!"
"V..Vee itu.. K..Kucing. Yah.. Dia Kucing jantan yang aku temukan saat ke jalan Pulang. Mom! Tubuhnya kurus dan kelaparan, karna itu aku terlambat pulang." jawab Stella asal merangkai kisah. Ia tak bisa membayangkan bagaimana Xavier akan marah mendengar penjabaran tentang Kucing jantan dan kurus di jalanan ini.
"Mommy pikir apa?! Kau ini membuat Mommy cemas setiap menghilang begitu saja." decah Nyonya Corlie menghela nafas lega.
Stella pun sama. Ia tersenyum kaku hanya ikut menambah bumbu kisah fiksinya.
"Ya sudah. Sekarang kau harus makan. jika terlalu mengantuk coba makan sebelum kau tidur, Bayimu butuh energi juga. Paham?"
"Iya Mom! Dan sekarang dia kelaparan." jawab Stella mengusap perutnya yang sudah besar. Hal itu mendapat keterkejutan Nyonya Corlie yang tak menyangka akan sebesar ini dalam watu beberapa minggu.
"P..perutmu.."
"A.. Ini aku juga tak tahu. Mom! Tiba-tiba begini." jawab Stella terus mengusap perutnya. Wajah Nyonya Clorie memucat dengan tatapan kosong ke arah bunjulan di balik selimut ini.
Ia sudah mulai merasa takut dan sangat takut melihat perkembangan begitu cepat dari bayi ini.
Tahu akan raut pucat dan cemas bercampur ketakutan Mommynya. Stella jadi memeggang lengan wanita itu untuk menyadarkannya.
"Mom! Ada apa?"
"S..Stella! Kau tak bertemu hal yang aneh-kan. Nak?" tanya Nyonya Corlie dengan suara bergetar. Matanya berair menahan rasa sesak dan nyeri di sekujur tubuh terutama dadanya.
Perasaan Stella jadi kacau. Maksudnya apa? Kenapa respon Mommynya seakan mencemaskan dirinya?!
"M..Mom. Kau.."
"Jawab!n Jawab. Mommy!" tegas Nyonya Corlie dengan jantung berdebar kuat. Stella dengan pelan menggeleng masih kebingungan kala Nyonya Corlie segera memeluknya dengan erat.
"Mommy!! Mommy sangat takut terjadi sesuatu padamu. Jika.. Jika ada yang mendekatimu tetapi hal yang tak masuk di akal kau harus segera menjauh. Jangan mendekat sama sekali dan.."
"Mom!"
"Dan Mommy mohon. Kau tak boleh pergi jauh selain di kota ini saja. Mengerti?" imbuh Nyonya Corlie tampak begitu cemas dan sangat-sangat khawatir.
Karna tak ingin membuat Mommynya semakin kelut dan gelisah. Stella hanya mengangguk pasrah dan tak bertanya apapun.
"Mommy.. Mommy akan membuat bubur untukmu. Kau cuci muka dulu!"
"Iya. Mom!" jawab Stella membiarkan Nyonya Crolie melabuhkan kecupan ke dahinya lalu melangkah keluar dengan isakan masih terdengar.
Kepala Stella penuh tanda tanya akan maksud dan jawaban dari keanehan Mommynya. Kenapa Mommy sangat khawatir dengan perutku? Dan kenapa dia selalu melarang ku pergi keluar dari Kota ini?
....
Vote and Like Sayang..
Maaf ya say.. Author nggak sempet up tadi pagi. Skrg baru pulang makanya bisa😢
Â
__ADS_1