
Mentari yang tadi bersinar cerah di atas sana mulai terlihat lelah hingga terus berangsur pergi ke ufuk barat. Rona Jingga yang menyelimuti bagian langit membuat keindahan tersendiri dan meneduhi seisi Kota.
Dengan suasana demikian tentu rasanya beberapa aktifitas sudah harus di tinggalkan dan kembali ke Kediaman masing-masing.
Itulah yang tengah di lakukan Ester. Ia baru saja menginjak lantai Perusahaan yang tampak sudah mulai berangsur sepi dan hanya beberapa Karyawan yang tinggal untuk Lembur.
Ia hanya melewati jejeran Kursi dan meja itu seakan tak melihat jika masih ada orang yang duduk di atasnya. Tatapan datar ke arah Lift hanya ingin menjemput Mommynya.
"Itu bukannya Kekasih Nona Stella?"
"Dia sangat tampan dan agak mirip dengan Presdir. Aku merasa mereka Kakak adik."
Bisik-bisik mereka menatap samar Ester yang menghentikan langkahnya tepat di dekat Lift. Ia merasakan ada sesuatu yang janggal disini dan sepertinya tak ada aroma Darah Murni Mommynya sama sekali.
Melihat Ester yang berhenti di sana. Tefani yang tadi mengemasi barang-barangnya memberanikan diri mendekat. Ia sangat gugup dan takut Ester menatapnya dengan pandangan yang sama.
"A.. T..Tuan!"
Ester berbalik dan seketika ia sangat jantungan. Wajah datar dengan pandangan menikam ini langsung membuatnya tak berkutik.
"A.. Itu. Tadi, Nona Stella sudah pergi."
"Berapa lama?" tanya Ester masih dengan suara intimidasi nya. Tefani menelan ludah berat meremas jemarinya yang dingin.
Bagaimana Stella bisa menjalin kasih dengan Lelaki sedingin ini? Ntah macam apa interaksi mereka berdua.
Batin semua orang yang penasaran tapi mereka tak cukup puas melihat kebersamaan Stella dan Ester ketika di Perusahaan tampak lumayan hangat.
"S..Sudah sedari siang."
Sontak Ester langsung merasa gelisah. Ia tanpa basa-basi langsung melangkah kembali ke arah luar pintu Perusahaan membuat Tefani dan seluruh Karyawan disini menghela nafas lega seakan ancaman sudah menghilang.
"Tak ada yang tahan jika dia dan Presdir menyatu di tempat ini." gumam Tefani merinding.
Ia kembali ke mejanya membereskan barang-barang karna Di lantai atas Pekerja lain juga sudah berangsur memulangkan diri.
Sementara Ester. Ia sudah melajukan Mobil keluar area Perusahaan. Ia tak menghiraukan para Keamanan yang menyapanya dan terus menghubungi seseorang dari Ponselnya.
"Hello. Tuan!"
"Mommy-ku sudah pulang?" tanya Ester seraya menatap kondisi jalanan yang tiba-tiba saja ramai. Ia jadi harus mengatur kecepatan sesuai rambu-rambu dan arahan Petugas Kepolisian karna ada beberapa Mahasiswa yang melewati jalanan bersama anak-anak ntah dari mana.
"Nona Stella? Nona belum pulang. Tuan!"
Seketika Ester langsung terdiam. Jika begitu maka kemana lagi wanita ini? Dalam keadaan seperti ini ia tak bisa keluar begitu saja.
"Tuan! Ada apa?"
"Jika Mommyku sudah pulang ke sana. Kau beritahu aku!" titah Ester lalu mematikan sambungannya. Ia langsung beralih pada Asisten Zion dan ia tak bisa menunggu lagi.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Dimana Mommyku?" tanya Ester dengan intonasi yang cukup exstrem.
"Tadi dia di Ruangan Master."
"Kalau ada aku tak akan menghubungi-mu." geram Ester dengan kesabaran setipis tisu. Tak lagi terdengar jawaban di ujung sana dan tampaknya Asisten Zion tengah ada di Gedung IT Perusahaan.
"Tadi Stella mengirim beberapa Data Transaksi padaku. Dia ingin membobol nama-nama Rekening ini dan berapa saja melakukan Transaksi. Tapi, setelah itu dia mengatakan untuk Pulang ke Villa."
Ester segera mematikan sambungannya. Perasaan di dalam sana sudah kelut bahkan ia tak lagi perduli tentang laju Kendaraan. Selintas hanya terlihat seperti kilatan cahaya yang lewat dengan deru angin mengiringinya.
Di tempat yang berbeda. Sedari tadi Stella menahan hawa jijik dengan tempat ini. Ia merasa dunia malam yang dulu ia geluti tak lagi cocok dengannya.
Dentuman musik keras dan aroma alkohol yang menyengat ini sama sekali tak membiarkannya bernafas leluasa bahkan Stella merasakan sesak diantara banyak orang yang melepas penat disini.
"Menari denganku?" tawar Direktur Luther yang tadi sudah disini menunggu kedatangan Stella.
Ia puas dengan exspresi wajah marah yang terlihat begitu cantik dan menantang. Stella juga tahu jika Direktur Luther sedari tadi selalu menatap penuh puja padanya.
"Ada apa? Kau tak suka? Atau.. Kau mulai terbiasa dengan dunia barumu yang sekarang. Hm?"
"Yah. tapi lebih tepatnya NYAMAN dan TETAP SEPERTI INI." Tekan Stella menatap tajam Direktur Luther yang menyeringai seraya memainkan gelas Wine di tangannya.
Mereka tengah duduk di kursi Bar dimana banyak orang-orang mabuk yang tampak membuat hal menjijikan di kursi belakang sana.
"Cih. Kau pikir aku tak tahu jika kau yang berkonspirasi selama ini melawan Perusahaan EMC?!"
Sontak Direktur Luther terdiam dengan pandangan berbeda pada Stella. Ia diam tapi sedetik kemudian gelang yang ia peggang di putar halus dengan anggukan kecil misterius.
"Aku tak mengerti kau bicara apa?!"
"Oh. Benarkah? Bukankah Perusahaan-mu pada saat Kepemimpinan pertama Paman Xavier berkhianat dengan melakukan Transaksi Ilegal bahkan setengah dari keuntungan Perusahaan?! Atau yah, mungkin kau lupa jika aku tak pernah MENYUKAI PRIA SEPERTIMU." Desis Stella membuat genggaman erat tangan Direktur Luther ke gelas di tangannya menguat dengan mata tajam tapi segera ia alihkan.
"Jangan terlalu mengorek hal yang akan membuatmu menyesal. Sayang!"
"Menyesal?" tanya Stella membelo jengah. Ia memberikan senyum remeh yang merendahkan.
"Bahkan tak bisa di kira betapa senangnya aku hari ini. SANGAT-SANGAT SENANG. Sebelum mendekatiku seharusnya kau berpikir. Aku tak butuh gangguan menjijikan darimu."
Direktur Luther langsung menarik nafas dalam. Ia kembali menegguk Wine di tangannya dan itu ntah berapa gelas.
"Kau yang sudah melakukan Penipuan di setiap Klien bisnis yang bekerja sama dengan Perusahaanmu! Dan kau juga yang sudah menjual aset-aset Perusahaan Keluargamu untuk menutupi Hutang Perusahaan yang uangnya sudah kau kuras lebih dulu dan kau juga..."
Prankk..
Gelas itu di lempar ke lantai dengan suara pecahan mengundang tatapan semua orang. Musik terhenti dan objek perhatian tertuju pada keduanya.
Stella berdiri kala Direktur Luther tampak mulai mabuk dengan pandangan marah sekaligus sangat messum.
__ADS_1
"Yah.. Aku melakukannya! Aku terus menjual semua Aset Perusahaan dan Melakukan Transaksi Ilegal tanpa sepengetahuan siapapun kecuali rekanku. PUAS?"
"Bukan itu saja. Kau juga menjual nama baik Ayahmu untuk mendapatkan Pinjaman dari Bank Investasi."
Direktur Luther langsung bertepuk tangan. Ia sangat kagum karna dalam waktu singkat Stella bisa menggali setiap data penyelewengan dengan sangat detail.
"Kau begitu cerdas. Sayang!" desis Direktur Luther berjalan mendekati Stella yang mundur. Ia siaga dan waspada untuk mencari jalan keluar.
Beberapa Pria bertubuh kekar memasuki Club ini dan semuanya tak ada yang berkutik.
"K..kau.."
"Kau sangat berani datang kesini? Bersenang-senanglah denganku dulu." ujar Direktur Luther meraih gelas Wine yang ia sediakan untuk Stella tapi wanita itu tak meminumnya.
Melihat gelagat dan suasana pengepungan ini. Stella perlahan-lahan mematikan rekaman yang ia ambil di dalam tasnya tadi. Ia menatap waspada semuanya agar tak ada yang lolos.
"Kesini! Ayo Minum denganku."
"Kau tak waras." umpat Stella ingin pergi tapi dengan cepat Direktur Luther menarik lengannya dan memaksa meminum Wine yang ada di gelas itu. Pipi Stella di cengkram sampai bibirnya terbuka.
Ia memberontak tapi tak bisa. Mau tak mau Stella harus menelannya karna Direktur Luther terlihat kesetanan menekan gelas itu.
"Ehmm!!!" Stella melayangkan tamparan kerasnya ke Pipi Direktur Luther lalu berlari cepat masuk ke dalam keramaian.
"Kejar diaaa!!!" teriak Direktur Luther mengejar Stella yang ingin pergi ke arah luar tapi ada Asisten Bert. Alhasil Stella pergi ke belakang area Panggung Club dimana hanya disini yang gelap.
Suara barang-barang berjatuhan terdengar cukup kelas dan teriakan gila Direktur Luther membuat Stella harus merapat ke dinding di sampingnya Ia bersembunyi di balik Rak Wine yang terlihat menyembunyikan Tubuhnya.
"Aku harus segera mengirim rekaman ini pada Asisten Zion."
Batin Stella tak bisa menunggu lagi. Ia membuka ponselnya membuat pesan singkat tapi tak berselang lama tiba-tiba Stella merasakan Tubuhnya mulai berkeringat.
Rasa panas menjalar hebat dan bahkan Stella merasa ada yang aneh dengan bagian intinya.
"I..Ini.."
Stella seketika pucat. Ia tak lagi heran dengan obat yang pasti di berikan oleh Pria itu padanya. Dalam gejala yang ia rasakan dosisnya begitu tinggi. Bahkan nafas Stella mulai tak stabil dengan keringat terus keluar.
Pikirannya mulai melayang ntah kemana tapi tubuhnya terasa begitu panas dan terasa sangat tak nyaman.
"T..Tidak. Aku..aku tak bisa disini terus.." gumam Stella merasakan hawa yang tak mengenakan. Ia ingin keluar tapi anak buah Direktur Luther sudah berkeliaran ke arah sini membuat dirinya kembali masuk ke dalam kegelapan.
Lama-kelamaan Stella mulai merasa pusing. Tubuhnya mengigil dan tak bisa diam. Ia hanya bisa menekuk dengan paha merapat mencoba meredam hasrat dalam dirinya.
"V..Vee!"
........
Vote and Like Sayang..
__ADS_1