
Stella diam tak dapat berbicara. Hawa intimidasi disini sudah membuat tubuhnya dingin seakan ia sudah membuat Jiwa seseorang terbakar kuat.
Jika Stella yang tiba-tiba membius berdiri kaku. Jenderal Petron juga ikut berdiri tapi ia sangat risih dengan hawa tak bersahabat ini. Ia sampai membuka satu kancing seragam di lehernya pertanda mulai sesak.
Melihat keadaan berbenturan seperti ini. Dua Ajudannya tadi langsung berinisiatif menyapa Presdir EMC ini.
"Presdir! Senang mendapat kunjungan dari anda." Sapa keduanya penuh hormat tapi sayangnya menatap saja Xavier tidak.
Ia menatap tajam Stella tanpa berkedip membuat wanita itu menunduk tahu jika Xavier tengah kesal padanya. Karna tak ingin berlarut-larut akhirnya Stella memberanikan diri untuk bicara.
"A.. Itu. Tadi, Jenderal Petron ingin meminta Nomor Kontakku karna mungkin saja ada urusan penting. Dan..dan aku juga sudah menjelaskan soal Bukti Penipuan yang di lakukan Direktur Forbieden. Jadi,.."
"Ini tak ada hubungannya denganmu." tegas Xavier membuat Stella tercekat.
Tatapan netra elang itu beralih pada Jenderal Petron yang sungguh merasa ia tak sebanding dengan Pria ini. Wajah Tampan mendingin itu seperti ingin membantainya hidup-hidup.
"Baik! Anda sudah disini dan semuanya akan lebih mudah. Anda pemilik Perusahaan EMC dan sudah mengalami banyak Kerugian. Nona Stella juga sudah menjelaskan padaku jika.."
"Semua Data dan Informasi yang kau butuhkan sudah di kirim ke Dapartemen ini." sela Asisten Zion yang muncul dari belakang sana tampak mengurus apa yang ia bicarakan tadi.
Seketika Jenderal Petron membisu. Di lihat dari gestur cemas dan gugup yang Stella berikan ia jadi heran kenapa kedatangan Pria ini membuat Stella berubah seperti tengah meredam amarah kekasihnya.
"Kau.."
"Ini sudah selesai. Aku tak punya urusan lagi." sela Stella lalu berjalan tergesa-gesa melewati Xavier yang hanya diam melirik dari ekor matanya.
"Dia wanita yang cerdas sekaligus Ceroboh."
"Istirahatlah lebih awal." tekan Xavier dengan kalimat ambigu dan tatapan mematikan. Saat ia sudah berbalik melangkah pergi tiba-tiba saja dada Jenderal Petron terasa sakit hingga terbatuk darah.
Asisten Zion hanya mengambil nafas dalam melihat sekilas lalu pergi. Ia menyunggingkan senyum puas karna hidupnya kembali terasa bersemangat. Ia suka tingkat Arogan Masternya yang begitu tinggi membuat harinya terasa keren tapi juga melelahkan.
Di luar sana Stella di kepung oleh Media. Nyonya Clorie yang tadi ikut sampai harus berdesakan dengan para Aparat Keamanan untuk menjaga Stella yang di buru Media.
"Nona! Apa yang terjadi? Apa betul anda yang membunuh Direktur Foebieden?"
"Kenapa anda melakukannya?"
"Benarkah anda yang mendalangi pembunuhan ini?"
Stella sampai pusing mendengar pertanyaan ini. Ia mulai sesak di desak Media sebanyak ini hingga ia berbalik ingin mendekati Xavier yang berdiri depan Pintu utama sana tapi langkahnya dicegat oleh satu pertanyaan menusuk.
"Sejak kapan anda bekerja menjadi PSK?"
__ADS_1
Jantung Stella seakan terlepas dan mata terpaku kosong. Tubuhnya mematung seakan tak lagi ada tenaga untuk mengelak.
"Kami menemukan Bukti jika anda pernah bekerja di Club dengan pemilik bernama Madam Jen. Apakah benar?"
"Dan Direktur Luther mengirim Foto anda saat berada di kamar yang sama. Apakah sebelumnya Direktur Luther memesan anda dan sudah kenal lama?!"
Mata Stella tak bisa menatap lurus lagi. Kepalanya tertunduk dengan rasa sakit dan kehormatan yang sudah tak ada artinya lagi dimata Dunia.
Melihat hal itu darah Xavier mendidih. Stella merasakan jika tanah ini mulai bergetar dan ia segera mengangkat wajahnya menatap lembut Xavier yang sudah mengeluarkan ranah membunuhnya.
Stella seakan mengatakan 'AKU BAIK-BAIK SAJA' tapi matanya tak bisa berbohong jika batinnya masih ditekan.
"Nona! Apa benar anda telah bekerja di Club Mucikari bernama Madam Jen?"
"Jika tidak anda bisa membantah Berita itu. Nona!"
Mereka juga sangat tertarik menanyai Stella dan sebagian besar dari mereka mengarahkan kamera ke arah Xavier yang selalu menyita perhatian.
Stella sungguh tak tahu harus menjawab apa karna ia malu mengatakan kebenaran yang sangat menjijikan itu. Melihat Stella yang diam Nyonya Clorie langsung memeggang bahunya.
"Kau tak bekerja di sana. Jawab seperti itu. Hm?" bisik Nyonya Clorie tapi ini jadi beban batin bagi Stella yang tak tahan lagi terus menghadapi hal ini.
Ia menegakkan kepalanya menatap tegas segalanya dengan kedua tangan terkepal. Sekuat tenaga Stella mengumpulkan keberanian bahkan keringat dingin itu keluar di lehernya.
"Aku akan menjawab pertanyaan kalian! Dan aku juga tak ingin menutupi apapun." Ujar Stella membuat Xavier diam. Ia merasakan jika banyak tekanan yang datang berulang kali karna masalah ini.
"Apa benar berita yang tersebar itu. Nona!"
"Yah!"
Duaarr..
Nyonya Clorie terkejut dengan peryataan Stella bahkan mereka semua tak ada yang bersuara. Hanya kilatan Kamera yang tampak masih menjiprat cepat.
Stella terdiam sesaat mengambil nafas. Jantungnya berdebar kuat kala tatapan semua Media ini seperti masih tak percaya Stella mengakui hal ini.
"N.Nona.."
"Dulu aku memang bekerja disana!" jawab Stella menundukan kepalanya. Ia sangat malu dan tak lagi punya kepercayaan diri.
Semua orang mulai berbisik sadis mengatakan jika pernyataan Stella sangat mengejutkan. Wajahnya terlihat seperti wanita baik-baik tapi tak di sangka dia adalah seorang Penghangat.
"Masih semuda ini?!"
__ADS_1
"Dulu aku tak percaya. Tapi, sekarang dia mengakuinya."
Bisik mereka membicarakan Stella yang hanya diam meremas Tas di tangannya. Nyonya Clorie seketika menatap sendu Stella yang terus menunduk karna ia juga tak punya keberanian lagi.
Namun. Saat pembicaraan semua orang terasa semakin dalam dan menyakitkan tiba-tiba saja ada yang menarik pinggang Stella lembut merapat ke tubuhnya.
Hal itu membuat mereka terbelalak termasuk Stella yang melihat Xavier sudah memeluknya dengan satu belitan tangan kekar itu.
"V..Ve.. Kau.."
Stella berusaha menurunkan tangan Xavier dari pinggulnya tapi semua itu tak berhasil. Xavier justru semakin mengeratkan pelukan sampai wajah Stella merapat di dada bidangnya.
Mereka sampai terdiam kosong menutup mulutnya kembali di hampiri ketidakpercayaan yang kuat.
B..Bagaimana bisa? Presdir EMC sedekat itu dengan seorang Stella?
"V..Ve..! V..Vee Lepass!!" bisik Stella gelisah.
Xavier hanya diam. Ia menatap tegas dan tajam semua Media yang mengelilinginya hingga tanpa di perintah keberanian mereka ciut hingga mundur beberapa langkah memberi Stella ruang bernafas.
"P..Presdir!"
"Kenapa jika dia melakukan itu?" tanya Xavier membuat mereka bisu. Tak ada yang berani bicara kala suara berat itu mengalun mengintimidasi.
"Jangan kalian pikir Manusia di Dunia ini Sesuci yang ada di OTAK kalian. Kesuciannya tak tergantung pada hal itu tapi bagaimana kau menunjukan diri pada orang lain." imbuh Xavier menekan beberapa kalimatnya.
Mereka pucat kala exspresi wajah Xavier terlihat marah dan tak bersahabat menciutkan nyali yang tadi menyala-nyala.
"Lagi pula. Pekerjaan itu belum tentu atas kemauannya. Kalian tak bisa mengklaim sesuatu dari cara pandang diri sendiri atau sampai menyamakan pemikiranmu dengan orang lain. ITU MENJIJIKAN."
"P..Presdir! Kami.."
"Dan satu lagi!" sela Xavier beralih menggenggam tangan Stella lalu mengangkatnya keatas untuk menunjukan Cincin berlian itu.
"Vee! Kau.."
"DIA ISTRIKU!" tegas Xavier mengecup punggung tangan Stella yang juga mematung hebat. Seketika mereka semakin lemas antara bermimpi jika hal ini nyata.
B..Bagaimana bisa? Presdir Xavier benar-benar menyatakan hal besar ini pada mereka.
Jenderal Petron yang tadi melihat dari arah dalam juga tampak termenung. Ia tak menyangka kalimat itu keluar dari mulut seorang Pria seperti Xavier.
.....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..