YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Kebahagian Stella


__ADS_3

Pagi ini terasa sangat hangat dan berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Kiranya aroma masakan untuk pertama kalinya terkuar dengan panoramanya sendiri.


Bagaimana tidak? Pagi ini mereka sangat di buat terpukau oleh Seorang Pria bermata abu dengan kharismatik yang kuat itu tengah berkutat dengan Panci Penggorengan. Ia dibaluti kaos putih lengan pendek dengan celana Jogger panjang terlihat gagah di tubuhnya.


Ia tampak santai menunggu Stik kentang yang ia buat matang seraya mengaduk halus Saos Tiram yang ia campurkan beberapa bumbu penyedap. Kerang dan Kepiting yang ia rebus sudah tampak matang hanya menunggu beberapa menit lagi.


Tentu hal itu tengah di pantau oleh Ester yang sedari tadi menatap sinis ke arahnya. Lelaki 18 tahun itu seperti memiliki aura permusuhan yang kuat membuat Efika dan Kakek Le-Yang terdiam di sudut Dapur.


"Apa ini sudah?" tanya Xavier tak bisa mencicipi rasanya. Ia juga tak tahu mana enak atau tidak karna tak pernah makan.


"Apa sesuai dengan Takaran tadi. Master?"


"Hm." jawab Xavier dan hal itu membuat Efika mengangguk pertanda sudah. Jelas ia tak berani mencicipi karna takut jika ini masakan sakral yang hanya boleh di makan oleh satu Wanita saja.


Melihat Xavier yang menata Kerang di dalam Mangkuk dan menyiramkan Saos Tiram dan Tomat racikannya. Ester langsung membuang muka, jelas ia tak suka dengan semua ini.


"Kau tak ingin membantu?"


"Cih. Pencari perhatian." umpat Ester meminum gelas air dingin di tangannya lalu menghentakkan benda itu kasar ke atas Meja Pantry.


Xavier hanya menyunggingkan Smiriknya karna tahu jika Ester pasti tak suka jika ia lebih di perhatikan.


"Sebaiknya kau cari bahan lain. Jangan hanya berdiri merusak pemandangan ku."


"Aku mengawasi mu." Tukas Ester menaikan satu alisnya menatap Pria Tampan memakai Apron ini.


"Aku tak akan meracuni Istriku sendiri."


"Hanya aku yang tahu isi otakmu. Dad!" geram Ester menatap tajam Xavier yang sudah selesai menata semuanya di atas Nampan dengan segelas Susu Coklat kesukaan Stella juga sudah terhidang.


Mommy akan lebih perhatian padanya. Tua Bangka ini selalu bisa mencari muka.


Pikiran Ester terus mengumpati Xavier. Ia menatap Buah-buahan dalam keranjang dibatas Meja di dekatnya. Seketika Ester langsung menemukan Ide Brilian.


"Meja Makan sudah siap. Master!"


"Hm. Bereskan sisanya!" titah Xavier ingin melepas Apron tapi tiba-tiba saja terdengar suara pekikan seseorang dari arah pintu Dapur.


"Astaga. Xavieeer!!!"


Nyatanya Nyonya Clorie yang baru datang dari Kota Broneo tapi merasa aneh dengan aroma masakan ini. Saat ia sudah mengunjungi Dapur tentu matanya terbelalak melihat Sosok gagah ini.


"Kau.. Kau ini.."


"Master sudah kembali. Nyonya!" sela Efika sopan dan hangat.


Seketika mata Nyonya Clorie langsung berkaca-kaca segera berlari kembali ke arah kamar Xavier untuk memberitahu Stella. Hal itu membuat Xavier kesal karna Stella belum cukup tidur untuk di bangunkan sekarang.


"Kau bawa ini ke Meja Makan!" Titah Xavier pada Efika yang menyanggupinya. Ia segera melangkah cepat seraya melepas Apron itu karna sekarang Dunia Mimpi Istrinya akan terguncang karna Wanita itu.


Sementara Ester. Ia diam-diam meneliti masakan Xavier sehingga Efika tak berani untuk menyentuh Nampan itu.


"Dimana Garam?"


"T..Tuan kau.."

__ADS_1


Efika tercekat kala Ester sudah melayangkan tatapan membunuhnya. Alhasil Efika memberikan tempat Garam hingga dengan seringaian licik itu meruak.


"Mangkuk!"


"I..ini. Tuan!"


Efika juga memberikannya. Ester tampak memasukan sisa Masakan itu ke dalam Mangkuk baru begitu juga Stik Kentang yang tampak lezat juga ia pisahkan.


Namun. Yang membuat Kakek Le-Yang dan Efika membelalakkan mata adalah, Ester menambah satu sendok garam ke dalam Mangkuk Kerang dan Kepiting itu dengan wajah mengerikan.


"T..Tuan! Kau.."


"Dia tak akan berhasil." gumam Ester membuat Nampannya sendiri. Ketika Mommynya tak mau memakan ini maka ia akan mengatakan jika Mangkuk yang satunya adalah buatannya. Licik bukan?!


Sementara di lantai atas sana. Nyonya Clorie membangunkan Stella yang tampak sangat malas dan lelah. Tubuh wanita itu masih di tutupi selimut membuat Nyonya Clorie yang sangat senang tak bisa diam saja.


"Stella! Stella, bangun Sayang!!"


"Ehmm." gumam serak khas Stella yang semakin menarik selimut. Hal itu membuat Nyonya Clorie tak sabar langsung ingin menarik selimut Stella tapi untung Xavier dengan cepat masuk menahan benda itu tetap menutupi tubuh Istrinya.


"Stella akan senang melihatmu sudah datang. Dia akan senang!"


"Dia.."


Nyonya Clorie langsung menarik selimut itu hingga sedetik kemudian ia terbelalak melihat punggung polos putih Stella sudah di penuhi bekas kissmark dan belum lagi nyatanya Stella tak memakai sehelai pakaian-pun.


Xavier segera menggulung tubuh Stella dengan selimut itu lagi agar Wanita ini tak masuk angin.


Seketika wajah Nyonya Clorie berubah memerah. Ia terlihat mengigit bibirnya menahan malu karna ia baru sadar jika tak mungkin Xavier membuat Stella menunggu.


Stella tersenyum senang melihat Xavier masih ada dengan wajah hangat menyambutnya pagi ini.


"Pagii!" serak Stella menarik lengan Xavier yang membungkuk ke arahnya. Saat Stella ingin melabuhkan kecupan selamat pagi Nyonya Clorie langsung gelagapan menabrak Meja di belakangnya.


Sontak Stella terkejut langsung mendorong bahu Xavier agar menjauh hingga kegugupan itu mulai menjalar di tubuhnya.


"M..Mom! Kau.."


"A.. Itu. Tiba-tiba saja mataku terasa kabur. Ntah apa yang terjadi." keluh Nyonya Clorie mengusap matanya lalu seperti tak melihat berjalan keluar kamar.


Alhasil Stella langsung memukul manja bahu Xavier yang menjadi sasarannya.


"Kenapa tak bilang Mommy disini?!"


"Apa aku sempat?" tanya Xavier tersenyum samar.


"Y.. Ya Sempat. Kau saja yang tak ingin memberitahuku."


"Benarkah? Tapi, aku rasa kau masih terpengaruh obat itu sampai tak membiarkanku mengambil nafas." goda Xavier menaik-turunkan alisnya dan itu membuat wajah Stella meradang merah melayangkan cubitan mautnya ke pipi Xavier karna ini bagian yang lembut.


"Jangan membahasnya lagi."


"Aku sampai tak kau biarkan ke kamar mandi dan.."


"Sustt!!" potong Stella membekap mulut Xavier yang segera menghujami jemari lentik ini dengan kecupan penuh cinta darinya.

__ADS_1


"Bersihkan dirimu. Lalu turun untuk Makan!"


"Aku masih mau tidur." gumam Stella menguap cukup lebar seperti tak perduli citra cantiknya. Ia membiarkan Xavier merapikan rambutnya yang berantakan hingga ketukan di pintu kamar membuat perhatian mereka teralihkan.


Xavier langsung membungkus tubuh Stella dengan selimut sampai hanya bagian hidung ke atas yang terlihat.


"Vee!"


"Parasit itu datang." gumam Xavier membuat dahi Stella menyeringit. Ia menatap ke arah pintu dan seketika ia mendengus. Nyatanya Ester membawakan Nampan berisi makanan yang membuat mata Xavier menyipit tajam.


"Mom! Kau makan dulu."


"Aku agak kenal dengan apa yang kau bawa." jawab Xavier tapi wajah Ester sama sekali tak bergurat perduli.


Stella berbinar melihat ada Kerang Saos Tiram dan Kepiting Rebus serta Stik Kentang kesukaannya.


"Baby!"


"Sayang!" gumam Xavier menahan tubuh Stella di pelukannya. Netra tajam itu tak lepas mengikuti Ester yang sudah duduk di tepi Ranjang meletakan Nampannya dengan percaya diri padahal jelas ia mengambil Masakan Daddynya.


"Siapa yang memasaknya?"


"Aku!"


Keduanya menjawab bersamaan membuat dahi Stella menyeringit dan sontak hal itu membuat darah Xavier mendidih.


"Aku yang memasaknya."


"Kau jangan mengaku-ngaku." jawab Ester menaikan alisnya. Keduanya saling pandang sengit seakan saling perang belati.


Stella diam saling tatap bergantian wajah Tampan dua Pria ini. lalu memejamkan matanya seraya bersandar ke bahu Xavier.


Hal itu membuat Ester membuang muka pedasnya begitu juga Xavier yang sama-sama mengibarkan bendera peperangan.


"Sayang! Ini aku yang masak."


"Mom! Dia tak pandai memasak. Makan saja susah." ketus Ester membuat Xavier meradang langsung menyentil telinganya sontak hal itu membuat Ester tak terima langsung mengambil bantal di samping Stella lalu memukulkannya ke bahu kokoh Xavier yang juga tak tinggal diam langsung mendorong Ester ke atas ranjang tepat di samping Stella hingga ia mengunci pergerakan Ester dengan kakinya.


Ester memberontak tapi kekuatan Xavier sangat tak tertandingi. Pria ini memiliki taktik tersendiri untuk menahan otot tubuhnya.


"M..Mom!"


"Kau mau mengaku-ngaku. Hm?" geram Xavier menyentil telinga Ester yang merah karnanya.


Stella mengulum senyum. Ia mengeluarkan kedua tangannya dari dalam selimut lalu memakan Stik Kentang ini seraya menyaksikan pergulatan Xavier dan Ester yang saling memperebutkan hak kepemilikan masakan.


Sesekali Stella terkikik kala lengan Xavier di gigit Ester yang memakai jurus jitunya untuk melepaskan diri.


Tanpa sadar air mata Stell mengalir berharap jika ini tak akan pergi darinya.


"Vee!" gumam Stella tersenyum.


"Terimakasih." imbuh Batinnya karna ia tahu jika Xavier memang memasak. Terbukti dengan aroma bumbu yang masih melekat di tubuhnya.


....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2