YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Kumpulan anjing menggonggong!


__ADS_3

Di tepi jalan tepat di penghujung Hutan yang kemaren di lalui terdengar suara berisik dari sesosok wanita cantik yang tengah berdebat dengan seorang Pria berjas rapi tengah memaksanya masuk ke dalam Mobil mewah ini.


Jelas Stella tak mau dan menolak keras untuk ikut. Banyak hal-hal mengejutkan yang datang padanya setelah kedatangan pria aneh itu.


"Nona! Silahkan!"


"Tidak! Aku tak mengenalmu dan pergi dari sini." geram Stella dengan mata melotot tajam. Ia masih menunggu Taksi yang biasa menunggunya disini.


Mendapat penolakan dari Stella. Pria itu segera mengeluarkan ponselnya membuat Stella menyeringit.


"Kau..kau mau apa? Ha!!!'


"Sesuai perintah Master. Jika anda menolak maka seluruh Pengawal akan menjemput ke sini." jawabnya dengan tegas.


Hal itu spontan membuat Stella terbelalak. Membayangkan jika jalan lebar dan panjang ini penuh dengan Mobil-mobil mewah yang mengantarnya ke Sekolah sudah membuat Stella pusing dan cemas.


"Bagaimana? Nona mau?"


"Shiit! Kau akan membayar ini." geram Stella terpaksa masuk ke dalam Mobil. Pria itu menutup pintu di samping Stella lalu ia masuk ke pintu kemudi.


Lirikan matanya beralih ke arah Spion seraya memberi pesan pada Masternya jika Stella sudah ada di dalam Mobil.


"Ntah apa yang dia mau dariku? Otaknya sudah konslet sampai seperti ini."


"Kau bicara sesuatu? Nona!" sahut sang Pengawal. Dengan emosi yang menyala-nyala, Stella menjawab bernada tinggi.


"Yaah!! Otak Master mu itu sudah Konslet dan salah Kabel."


"Master bukan robot. Anda salah, Nona!" jawabnya santai dan tenang.


Alhasil Stella bungkam membiarkan Pria ini melajukan Mobil stabil menyusuri jalan Kota yang seperti biasa ramai tapi tak menyesakan.


Banyak ruang untuk melepaskan pandangan dan bernafas untuk beberapa saat. Tak ada percakapan apapun bahkan Stella sudah tak ada mood untuk berteriak.


"Nona!"


"Hm."


"Nama saya Tofer! Mulai sekarang saya yang bertanggung jawab mengantar anda." jelas Tofer si pria berambut kriting coklat dengan mata kehijauan khas orang Roma. Kumis tipis di rahangnya membuktikan jika dia lebih tua dari Xavier.


Mendengar hal itu. Stella memejamkan matanya dengan rasa tak terima akan apa yang Xavier lakukan. Ia merasa tak percaya dan masih belum bisa menerima perubahan Xavier yang suka berubah-ubah.


"Aku tak butuh!"


"Tapi. Master menginginkannya!"


"Lalu?" ketus Stella bertanya dengan nada sinis.


"Apa aku harus berterimakasih dan menurutinya? Apa begitu?"


"Seharusnya. Iya!"


Jawab Tofer meluruskan. Alhasil Stella tak lagi bisa bicara selain diam mengumpulkan kesadaran untuk sesaat menenagkan pikiran.


Ia akan bicara dengan Xavier dan bertanya apa maunya dan mengembalikan semua barang-barang ini.


"Dia selalu menganggap ku penjilat! Dia pikir dia siapa? Setelah menampakan ku dia datang dengan cara seperti ini. Cih!''


Tofer hanya mendengarkan. Ia tak mau berbicara terlalu banyak karna itu perintah Masternya. Jawab seadanya dan kau tahu yang harus di lakukan.


Setelah beberapa lama. Gerbang Sekolah Stetan Island mulai terlihat. Dari sini Stella meminta turun karna tak mau menjadi objek perhatian lagi.


"Di sini saja! Aku akan berjalan kesana."


Namun. Bukannya berhenti Tofer tetap melaju stabil seakan tak mendengar suara Stella yang syok.


"Kau mendengarku? TURUN DISINI!!"


"Master menyuruhku mengantar anda ke dalam!"

__ADS_1


"Apaaa???" pekik Stella tak percaya. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut merasa gelisah karna Mobil sudah berhenti di Gerbang besar ini.


Pria dewasa bernama Bobs itu tertegun melihat Mobil mewah yang masuk ke dalam Gerbang dan ia merasa segan untuk menghentikannya.


"Aku bilang berhenti!! Tapi kau.."


"Sedikit lagi. Nona!"


Jawab Tofer memelankan laju Mobil karna ada Siswi dan Siswa Stetan Island yang baru datang berjalan di area pinggir.


Mereka semua saling pandang melihat Mobil mewah yang masuk dengan angkuh ini terutama Adurey dan Devano yang baru datang dengan Motor besarnya-pun tertegun.


"Apa ada Tamu penting dari Sekolah?" gumam Audrey turun dari Motor melepas Helmnya. Devano memarkirkan Motor ke tempat biasa tetapi matanya tak tertarik menatap ke arah Mobil itu.


"Dev! Kau kenal Mobil itu?"


"Sepertinya milik Orang kaya melebihi kita." jawab Devano asal karna kilauan baja itu memang sangat asli.


Tak berselang lama Devano bicara. Tiba-tiba terdengar suara berisik dari seluruh penjuru Sekolah yang syok melihat siapa yang turun dari Mobil itu.


"S..Stellaa!!! Itu.. Itu Stellaa!!!"


"Stella?" gumam Adurey dengan mata terbelalak dan tak percaya. Devano langsung menatap ke sana hingga ia sama terkejutnya melihat Stella berdiri di depan pintu yang di bukakan oleh Tofer.


"Dia memang selalu punya tunggangan mewah dari Pria-pria di luar sana."


"Audrey!" tegus Devano masih belum percaya jika Stella seberani itu. Selama ini tak pernah ada yang melihat Stella datang di antar kendaraan Baja mahal itu bahkan, sampai ke pekarangan depan.


Sementara Stella. Ia berusaha bersikap acuh dan tetap pada sikap datar dan dinginnya. Ia melewati Tofer yang memandangi Stella sampai masuk ke pontu kaca itu dan barulah ia masuk ke Mobil.


Tak mau melewatkan kesempatan untuk memaki Stella. Adurey segera berlari kecik ke sana di ikuti Devano yang cemas jika kekacauan akan terjadi lagi.


"Adurey!! Kau.."


"Dia memang selalu membuatku naik darah." geram Audrey berjalan pincang karna kejadian kemaren melukai bagian kakinya.


"Heey. Wanita liaaar!!"


Stella sama sekali tak menggubris panggilan kotor Audrey yang berjalan di belakangnya. Langkah Stella tetap pasti sampai ke depan Kelas yang tampak sudah ramai di padati anggota lainnya.


"Wanita liaaar!! Berhentii!!"


"Audrey!" geram Devano menarik lengan Audrey yang tampak naik darah. Mereka semua mulai memusatkan perhatian pada Stella dan Audrey yang terlihat marah.


"Dia membuat masalah lagi."


"Yah. Tak asing di telinga."


Bisik mereka semua termasuk 3 teman Devano yang menatap Stella dengan pandangan kagum tapi juga mengolok.


"Kau tak bosan membuat keributan setiap hari?" tanya Hera yang merupakan Sekertaris kelas yang juga tak menyukai Stella.


Mendengar itu Stella tetap diam melangkah masuk tapi segera mundur kala anak-anak lain menghalangi pintu itu.


"Selesaikan dulu masalahmu! Jangan membuat kami pusing di Kelas."


"Yaah!! Kau selalu membuat onar!!" timpal yang lain sampai Stella benar-benar dikerumuni banyak lalat menjijikan ini.


Melihat itu Audrey memanfaatkan keadaan. Ia mendekat dengan remeh diikuti Devano yang sangat pusing.


"Yah. Dia memang biang masalah! Kemaren saat Presdir datang dia seakan mencari perhatian pada Pria tampan dan sempurna itu. Dan sekarang kalian tahu yang terjadi.."


"Sudahi ini." sela Devano tak mau membuat Stella selalu di pojokan.


"Dia di bawa dengan Mobil mewah yang jelas manusia kelas bawah sepertinya tak akan mampu memiliki atau menyewanya."


Imbuh Audrey membuat mereka semua saling pandang. Jelas itu tak asing lagi dan jawabannya sudah pasti sejak dulu.


"Nona Audrey benar! Stella pasti sudah menukar kemewahan itu dengan sesuatu yang menyenangkan."

__ADS_1


Timpal Hera yang mendapat tertawaan dari yang lain. Suara ejekan dan kata-kata kasar itu terdengar dari semua mulut kecuali Devano yang merasa bersalah karna ia yang dulu menyebarkan rumor ini.


"Lihat dia! Terlalu menyedihkan."


"Yah! Sekolah disini butuh biaya dan jelas dari mana asal uang yang ia setor ke Komisaris Sekolah."


Ejek semuanya sampai mata berair menertawakan Stella yang mengepalkan kedua tangannya. Walau sudah terbiasa ia masih belum menerima hal ini.


"Diam? Dia diam berarti benar! Hal itu sangat benaar!!"


"Kau tahu kenapa aku diam?" tanya Stella yang berbalik menatap Audrey tanpa ada rasa takut dan gentar. Walau hatinya sakit ia tak pernah menunjukan sisi rapuhnya pada siapapun.


"Kenapa? Bukankah kau tak bisa mengelak?"


"Tidak. Kau salah besar." jawab Stella mulai bersedekap dada menatap mereka semua yang seketika hening seakan mempersilahkan Stella bicara.


"Kau.."


"Aku membiarkan kumpulan ANJING saling menggonggong!"


Duaarr..


Jawaban Stella membuat mereka sampai syok dan merasa sangat tertekan. Audrey sudah mendidih akan cacian bermakna hina dari Stella.


"Kumpulan binatang lapar ini menginginkan lemparan Daging dariku dan baru mereka bisa tenang. Bukankah begitu?"


"Kauu..."


"Ada apa ini??"


Syara Mrs Emma membuat mereka semua diam. Stella mundur kala sosok wanita berkacamata profesor ini datang dengan tatapan panas pertama untuknya.


"Masalah lagi? Dan saya tahu siapa intinya."


"Mrs! Ada sedikit kesalah-pahaman. Kumpulan Anjing saling menyahut menginginkan daging. Kau ingin bergabung?" tanya Stella dengan tatapan berubah sangat mematikan. Ntah dari mana ia mendapatkan aura gelap seperti ini sampai Mrs Emma tak berkutik.


"M..Masuk! Cepat Masuk kelas dan jangan berisik. Presdir akan datang untuk menjalankan Programnya."


"Baik. Mrss!!"


Jawab mereka segera masuk ke kelas. Audrey terhenti tepat di samping Stella yang masih berdiri di luar.


"Aku tak akan melepaskan mu sampai kau tak akan bisa hidup."


"Aku menunggu." jawab Stella tak memandang ataupun melirik. Alhasil Audrey masuk dengan amarah yang di pendam meninggalkan Devano dan Mrs Emma yang tengah menjawab Panggilan.


Suasana canggung bagi Devano akhirnya di mulai. Ia tak tahu harus bicara apa yang jelas dadanya tengah tak baik-baik saja.


"Stella aku.."


Tanpa menunggu lagi Stella kembali masuk ke dalam Kelas mengabaikan Devano yang menelan kekecewaan. Tatapan hampanya meruak tak bisa menerima kepergian Stella darinya.


"Apa kau bisa memberiku kesempatan kedua?!" gumam Devano sendu. Ia mengambil nafas dalam untuk merilekskan pikiran dan hatinya dan barulah Devano masuk.


Tentu saja semua itu di saksikan oleh manik abu yang sedari tadi melihat kekacauan di depan kelas sana. Ia berdiri di atas lantai dekat tangga tanpa ada yang tahu jika Pria itu melihat jelas ada api asmara yang masih terkobar di hati seseorang.


Tak ada raut cemas atau khawatir karna Stella tak menanggapinya. Tapi, ini tak akan ia biarkan. Rasa suka dan cinta itu harus musnah bahkan tak boleh ada yang tersisa.


"Master!"


"Dia ingin bersaing denganku." gumam Xavier menyunggingkan seringaian iblisnya. Zion mengambil nafas dalam.


Dokter Ryker saja masih terbujur di tempat pemulihannya dan sampai sekarang ntah bisa hidup atau tidak hanya Xavier yang tahu. Lalu bagaimana dengan bocah ingusan ini yang mencoba-coba mengantarkan nyawa?


Sampai kapanpun Xavier tak akan rela ada yang menginginkan Stella lebih besar dari dirinya. Egois? Yah. Xavier hanya ingin di prioritaskan dan tak mau di kalahkan siapapun.


....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2