YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Bagaimana Mungkin?


__ADS_3

Pagi ini terasa cukup hangat. Seperti biasa Villa yang menyembunyikan diri dari riuh Kota maju itu selalu menyesuaikan suasana.


Kala malam ia menjelma menjadi kutub dan jika siang akan hangat dan selalu cocok untuk bersantai. Tetapi, aturan cuaca seperti ini hanya tiba kala Stella hadir disini.


Sebelum wanita itu ada. Lingkungan hutan dan Villa selalu diselimuti hawa gelap dan mendung seakan tak ada manusia di dalamnya.


Seperti sekarang. Stella kembali bersiap-siap untuk keluar Villa karna ia ingat jika Ella kemaren berjanji untuk datang ke tempat pertama bersuara, alhasil Stella harus bergegas karna Xavier juga akan berangkat kerja.


"Mana sepatu kuu??" tanya Stella yang mengobrak-abrik ruang ganti.


Xavier yang tengah berdiri di dekat Balkon dengan tampilan sudah rapi dan menawan itu-pun hanya melirik kecil ke arah pintu ruang ganti lalu kembali fokus menyedu cangkir yang ia peggang.


"Veee!!!"


"Hm?"


"Sepatu?" tanya Stella menyembulkan kepalanya keluar pintu tapi tubuhnya masih di dalam.


Xavier terdiam sejenak tanpa menatap Stella yang begitu heboh pagi-pagi begini. Sampai-sampai tak memperdulikan soal tubuhnya yang sakit-sakit setelah bercinta malam tadi.


"Veee!!! Kau tuli. Ha??" maki Stella karna sudah tak bisa menunggu. Ia tak mau terlalu siang datang ke Kota takut kehilangan jejak gadis itu.


Xavier tahu apa yang Stella inginkan hingga rela bangun pagi-pagi bersiap tak seperti biasanya. Hal itulah yang membuat Xavier malas untuk keluar dan terus berdiri disini.


"Veee!! Kau mendengarku?"


"Hm."


"Dimana sepatuku? Biasanya ada di Lemari." tanya Stella keluar seraya berjalan mendekat ke arah Xavier yang masih berdiri dengan satu tangan masuk ke dalam saku celananya.


"Vee! Kau bisa terlambat bekerja karna menungguku."


"Siapa yang ingin mengajakmu?"


Spontan mata Stella terbelalak akan ucapan Xavier yang masih begitu santai membelakanginya. Dengan cepat Stella berjalan ke hadapan Xavier yang menautkan alisnya melihat pakaian Stella.


"Kau mengatakan apa??"


"Pakaianmu.."


"Katakan lagi!" tantang Stella dengan tatapan begitu menajam dan tak terima. Xavier diam menatap datar dengan pindaian ke seluruh tubuh Stella.


Ia sudah begitu cantik dibaluti Kaos Over Size berwarna Navy tua dengan gambar MinyMouse di area depan terlihat sangat menggemaskan.


Ntah kenapa Stella ingin memakai pakaian yang begitu terkesan menonjolkan jika ia adalah seorang remaja. Celana pendek Jeans sepaha itu sengaja Stella pakai untuk menunjukan keindahan kaki jenjang putih nan mulusnya.


"Apa? Kau jangan cari masalah lagi. Vee!"


Tangan Xavier yang tadi ada di dalam saku celananya terangkat menyentuh bagian pipi mulus Stella yang tak ada lagi bekas ciumannya semalam.


"Apa?"


"Mana?"


"Apanya?" tanya Stella membiarkan Xavier mencengkram dagunya dengan tatapan mengintimidasi.


"Bekas-ku!"

__ADS_1


"Aku tutupi dengan bedak." jawab Stella santai menurunkan tangan Xavier dari dagunya. Ia tersenyum bangga juga menunjukan leher dan bagian dagunya juga tak lagi terlihat bekas gigitan itu.


"Aku sengaja menutupinya dengan Foundation. Baguskan?"


Tanpa aba-aba Xavier langsung menarik leher Stella mendekat membuat mata wanita itu melebar. Cangkir yang Xavier pegang tadi sudah menghilang dari tangan pria itu.


"Kauu.."


"Ini karyaku." desis Xavier mengusap kasar dagu dan pipi Stella yang memberontak tak mau bedaknya di hapus tapi Xavier begitu kuat menahan leher Stella sementara tangan satunya menghapus jejak Bedak yang Stella pakai.


Alhasil. Bekas merah dan gigitan Xavier itu terlihat di pipi, dagu dan leher Stella yang menggeram kesal.


"Kau apa-apaan. Ha? Bagaimana kalau mereka melihatku seperti ini? Pasti mereka mengira aku wanita yang.."


Stella terdiam seketika kala ia sadar akan apa yang baru saja ia katakan. Tatapannya berubah sendu kala tahu hal itu memang benar.


Perubahan raut muka Stella sangat di rasakan Xavier yang menghela nafas dalam memilih untuk pergi ke arah ranjang mengambil ponselnya.


"Vee!"


"Hm."


"Apa aku bisa pergi saat sudah menemukan gadis itu?"


Xavier hanya bungkam tetap sibuk memeriksa ponselnya membuat Stella gelisah segera mendekat.


"Aku mohon! Aku sudah menemukannya, aku akan berusaha membujuknya untukmu. Vee!"


"Siapkan Mobilku!"


Xavier bahkan mengacuhkan Stella dan sibuk berbicara dengan Zion yang ia panggil dari sambungan ponsel. Stella berusaha mencari perhatian Xavier yang seakan tak mendengarnya.


"Bawa semua berkas itu ke meja kerjaku!"


"Vee! Aku.."


"KAU BISA DIAM. HA???"


Bentak Xavier membuat Stella tercekat. Kilatan amarah di manik Abu Xavier tampak begitu mengerikan menggetarkan kaca dan dinding kayu kamar ini. Nafas dan wajah Stella memucat hebat terdiam di tempat.


"A..aku..aku hanya menagih janjimu. V...Ve.."


"Kapan aku berjanji?"


Degg...


Stella seketika tersentak mendengar ucapan Xavier barusan. Matanya melayang jauh mengingat dengan jelas tawarannya hari itu.


"K..kau.."


"Siapa kau mau menawar denganku?" tanya Xavier sungguh tak suka dengan sikap keras kepala Stella yang selalu ingin bebas darinya.


Sampai kapan-pun Xavier tak akan melepasnya tapi juga akan selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan Stella disini.


"K..kau sudah berjanji. Kau sudah berjanji padaku." gumam Stella dengan suara bergetar. Ia sudah tak bisa disini walau rasa nyaman itu memang ada. Demi menemui Mommynya Stella rela untuk melupakan semua yang yang ia rasakan disini.


"Aku tak berjanji!"

__ADS_1


"K..kau berjanji! Kau berjanji. Vee!" gumam Stella memeggang lengan kekar Xavier yang mengepalkan tangannya.


Netra biru laut Stella yang berair membuat Xavier mengalihkan pandangan ke arah lain karna tak akan sekuat saat pertama menyiksa wanita ini.


"A..aku.. Aku ingin pulang. Mo..Mommyku. Vee! Dia sendirian. Vee!"


Akhirnya Stella meloloskan permohonannya yang tak lagi bisa di tahan. Suaranya semakin rendah dan bergetar membuat dada Xavier sakit mendengarnya.


"V..Vee.."


Xavier tak menjawab sepatah-katapun. Ia melangkah pergi keluar kamar membuat Stella langsung terpaku diam dengan tetesan air mata meluncur ke pipinya.


Bibir Stella bergetar menahan rasa sesak menduga Xavier telah membohonginya.


"M..Mommy. Hiks!" isak Stella langsung berjongkok menyembunyikan wajahnya di antara tekukan kaki itu.


Ia menangis dengan isakan tertahan ingin cepat pulang. Ia tak bisa menunggu lebih lama lagi dan ntah kenapa Stella hanya ingin pulang secepat mungkin.


"M..Mommyku sendirian! Dia..dia di benci penduduk di sana. Aku..aku takut Mommyku tiadaa!!! Biarkan aku pulaaang!!!"


Isakan Stella lolos diantara cela pintu dimana Xavier tak sungguh pergi. Ia memejamkan matanya dengan kedua tangan terkepal juga tak akan tahan melihat Stella selalu bersedih dengannya.


"Aku..aku tak punya siapapun! Hanya.. Hanya dia, aku takut .. Aku takut dia.."


Xavier tersentak saat merasakan jika Stella tengah tertekan. Ia dengan cepat membuka pintu kamar dan benar saja, Stella sudah pingsan di dekat ranjang membuat Xavier mengeras kelam.


"Stella!" gumam Xavier mengusap pipi pucat Stella yang sudah basah dan sembab. Tanpa banyak bicara lagi, Xavier segera mengangkat tubuh Stella ringan ke atas ranjang tempat tidur.


Wajah yang pucat dan mata tertutup rapat ini membuat Xavier segera memeriksa denyut nadi Stella yang lemah dan bermasalah.


"Kenapa dia sering pingsan?" gumam Xavier mencoba menyerap aura tubuh Stella yang terasa gelisah dan tak nyaman.


Tangan Xavier yang semula memeggang pergelangan tangan Stella beralih ke area leher. Anehnya, denyut nadi Stella begitu lemah padahal ia sudah menetralisir semua rasa sakit saat terkena apapun.


"S..Sakitt."


"Kau mendengarku?" tanya Xavier kala ringisan Stella muncul dengan tangan beralih memeggangi perutnya.


Keringat dingin itu keluar bercucuran sampai bibir Stella yang semula pink berubah pucat pasih.


"S..sakiit!"


Xavier langsung kelut. Ia segera mengalirkan tenaganya ke tubuh Stella yang benar-benar gelisah sampai menangis memeggangi perut yang terasa begitu tegang.


"V..Veee Sakittt!"


Jantung Xavier berdetak sangat cepat kala tubuh Stella mendingin. Ia tak lagi bisa tenang hingga dengan cepat Xavier menyerap rasa sakit Stella tetapi benar saja, Xavier bisa merasakan bagaimana tegangan otot-otot perut Stella dan tekanan batin wanita ini.


Namun. Saat Xavier menetralkan kembali tubuh Stella tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu yang aneh dari dalam tubuh wanita ini.


Bukan darah murni Stella tetapi ini lebih pada suatu aura yang sama dengannya bahkan, Xavier mencoba menelisik dengan menekan perut Stella tak begitu kuat dengan mata berubah merah darah.


Denyutan jantung Stella terdengar jelas sampai suara-suara organ wanita ini bekerja. Tetapi, yang membuat Xavier terdiam adalah suatu hal yang tak mungkin terjadi.


"Bagaimana mungkin?"


.....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2