
Masih dengan suasana yang sama. Deru angin terasa menggila kala Xavier sudah membawa Stella tepat di dekat pantai didekat Villa yang tengah menunjukan keperkasaannya.
Pusaran gelombang air laut berputar tinggi dengan bagian tengah air terbelah mengeluarkan Mahluk-mahluk berbentuk asap hitam yang terbang naik kepermukaan.
Langit yang tadi masih menampakan kilauan mentari tapi sekarang sudah berubah menghitam dengan penampakan Mahluk-mahluk menyeramkan tadi masih menunjukan eksistensinya.
Sungguh. Zion yang melihat dari kejahuan sana merasa kembali akan di perlihatkan pertunjukan yang di mulai dengan tarian angin dan gelombang lautan.
"Apa yang akan di lakukan Master dengan keadaan seperti ini? Dia merubah dimensi menjadi Malam." gumam para penjaga Villa yang benar-benar takut Masternya akan kembali menunjukan kekuasaannya.
Rembulan di pertengahan pantai mulai naik membuat suasana remang tapi masih membiarkan mereka untuk melihat apa yang telah terjadi.
Xavier membaringkan Stella di atas pasir dekat Pantai yang bersedia menjadikan tempat untuk peraduan.
Pasir ini sama sekali tak berterbangan karna pusaran angin yang kuat. Bahkan, ia seakan tahu jika harus menata'ati Masternya untuk tetap menjaga sosok wanita cantik ini.
"Kau sudah siap?" gumam Xavier melihat Stella tak lagi sadar. Dengan cara inilah ia bisa membiarkan si kecil itu menunjukan diri karna saat Stella dalam keadaan sadar ia tak pernah mau menunjukan apapun.
"Tak perlu menahannya. Karna ini.."
Kalimat Xavier terjeda kala tatapan netra abunya langsung menatap ke arah langit diringi dengan desakan angin memporak-porandakan hutan di sekeliling Vila.
"KU HADIAHKAN UNTUKMU!" tekan Xavier menghempaskan tangannya ke arah laut di samping sana hingga gelombang air yang tadi menggulung mulai mengelilingi tubuh Stella dan dirinya.
Gelombang itu semakin tinggi seakan menghalangi pandangan para manusia yang tadi melihat dari kejahuan. Air melimpah keluar tapi tak mengenai Xavier maupun Stella.
Ia seakan menjadi bundaran jeli yang terus meninggi dengan Mahluk-Mahluk tengkorak berekor hitam itu ikut mengelilingi pusaran air dengan mata berkilat merah bak lentera yang di terbangkan.
"A..apa yang terjadi?"
"Lihat langitnya!!"
Para penjaga dan Pelayan Villa takut-takut melihat ke atas langit sana. Tak hanya angin dan gelombang laut yang menggila tapi tiba-tiba saja Penampakan dari Mayat-mayat hidup yang tadi mendesak masuk seketika memekik hebat kala awan gelap yang ia ciptakan tadi berputar seperti sabetan sebuah pedang.
__ADS_1
Dokter Ryker memfokuskan penglihatannya ke arah Pusaran air tapi ia tak bisa melihat apa yang terjadi di dalam sana.
Kekuatannya tak cukup untuk melawan hawa pelindung Xavier yang benar-benar membatasi ruang bagi mereka untuk melihat Stella dan prosesi nekat ini.
Didalam benteng air tebal itu Xavier merubah separuh Wujudnya menjadi Patriack Elbrano yang berarti Pangeran Elbarano yang memeggang kendali.
Separuh wajahnya berubah menjadi tengkorak. Wajah pucat dengan mata merah menyala itu menyorot ke arah perut besar Stella yang masih belum sadar.
Perlahan taring Xavier terjulur keluar. Kedua tangan kekarnya berubah menjadi bayang-bayang tengkorak yang berkuku tajam.
Ia tak berubah secara penuh karna hanya ingin melepas batas dari penyerapan sosok di dalam sana. Selama ini Xavier membatasinya karna tak ingin terlalu mengejutkan Stella.
Sekarang. Ia tak mau beban wanita ini semakin bertambah seiring menahan beban perut yang sellau bertambah besar menguras energinya.
"Stellaaaa!!!"
Suara Nyonya Clorie terdengar tapi Xavier tak menggubrisnya. Ia berjongkok di dekat tubuh Stella dengan tangan yang berbayang Tengkorak itu terulur ke kening Stella.
Kuku tajam bak iblis milik Xavier menggores pipi Stella hingga menimbulkan darah. Hal itu membuat perut Stella yang tadinya tenang sekarang mulai menunjukan hawa ingin keluar tapi belum bisa karna kekurangan energi.
"Bangunlah!" desis Xavier menghentakkan tangannya yang tadi menusuk pipi Stella ke pasir di samping perut Stella hingga kilatan petir hitam di atas langit pucat itu langsung menyambar ke arah gulungan air.
Angin semakin berputar tak karuan dengan langit menggulung para Mahluk menakutkan itu untuk turun masuk ke dalam pusaran angin.
Petir saling menyambar seakan berebut untuk mendorong Pasukan mayat menjijikan itu untuk tergulung ke bawah memekikkan suara Kelelawar yang terdengar menjerit.
Melihat hal mengerikan ini Nyonya Clorie semakin panik karna takut jika Stella tengah tak baik-baik saja disana.
"Stellaaaa!!!! Stellla keluar dari sanaa!!"
"Nyonya!"
"Toloong!! Tolong putriku!" histeris Nyonya Clorie yang tak bisa bergerak. Ia hanya menyaksikan dari arah Jendela Villa memperlihatkan Bencana besar itu tengah terjadi mengelilingi putrinya.
__ADS_1
Efika sudah tak bisa bertahan. Ia terduduk di dekat lantai seraya berusaha bernafas karna lantai Villa bergetar hebat dengan beberapa kaca pecah dari arah depan menahan tekanan kuat yang menyerang dari arah pantai.
Udara disini menipis berganti rasa panas. Bagaimana tidak? Xavier benar-benar tak membatasi kekuatan itu lagi bahkan membiarkannya lolos untuk memberi peringatan pada seseorang.
Jelas yang sangat kuat terdampak akan hal ini pada Dokter Ryker. Ia masih belum sepenuhnya sembuh hingga tak bisa menahan tekanan dari hawa aneh dari arah Pantai sana.
"Kau.. Kau kenapa?" tanya Zion kala Dokter Ryker meremas bagian jantungnya. Jelas ia tak sekuat itu bisa menahan tekanan ini karna luka dalamnya masih belum sembuh.
Karna tak bisa melihat saja dari sini. Zion segera memapah Dokter Ryker untuk masuk ke Villa melewati pecahan kaca dengan para penjaga yang sudah biasa akan hal ini.
Mereka sudah tahu apa yang harus di lakukan yaitu dengan menunduk bersujud ke tanah yang gemetar karna ikut menahan tekanan dari arah pusaran air.
Sementara Xavier. Ia mengalirkan hawa dingin ke tubuh Stella agar tak ikut merasakan rasa terbakar yang di sebabkan oleh eksistensi besar bayi ini.
Bawahan Xavier yang tadi berkeliling di atas sana ikut berjaga hingga Pasukan Arthas yang tadi di seret masuk ke dalam pusaran langsung terseret masuk ke dalam bulatan hitam yang muncul di perut Stella.
.......
Prnakk...
Angin bergejolak menerbangkan tirai-trai dan Furniture sebuah ruangan gelap yang hanya disinari oleh bunga lilin di beberapa sudut tempat ini.
Cuaca di sekitar Kediaman seketika berubah buruk padahal sebelumnya tampak baik. Langit yang tiba-tiba gelap padahal ini seharusnya masih siang.
Hal ini membuat sesosok pria dengan syal di leher itu terbangun dari atas pembaringannya. Pintu lebar ruangan terbuka memperlihatkan bayangan seseorang yang bertelinga runcing dengan hidung juga sama. Ia mendekat segera bersujud ke dekat Ranjang besar itu dengan rasa gelisah bisa tersebar ke seluruh tempat.
"Yang Mulia! Ini buruk. Ini sangat buruk. Prince sudah melanggar aturan anda dan membuat bencana besar!!"
Tak ada tanggapan langsung dari Sesosok pria tua bersyal itu. Ia hanya melayangkan tatapan tajam ke arah kaca jendela ruangan dengan aura intimidasi terasa pekat.
"Dia memang SANGAT BERANI."
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..