YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Tak akan menyerah!


__ADS_3

Pertempuran di wilayah ini nyatanya begitu menakjubkan. Tak ada yang rusak sama sekali tapi suara-suara jeritan itu terdengar melengking karna langsung terhisap masuk kedalam Lingkaran air yang sedari tadi menelan banyak korban Energi para Mahluk ini.


Mereka hanya terus bersujud ke tanah karna menahan getaran hebat yang muncul akibat desakan semua Arthas yang terserap kedalam sana menimbulkan sensasi gempa dan badai angin yang begitu kuat.


Namun. Yang membuat Zion cemas adalah kehadiran Kakek Lucius yang sedari tadi melihat bagaimana pasukan Mayatnya di serap masuk kedalam Pusaran air itu tanpa ada yang bisa mematahkan sama sekali.


Tuan Attacus dan Nyonya Margaretta juga ada di sampingnya bersama Apollo yang ikut menyaksikan peristiwa mengerikan ini.


"Yang Mulia! Kau harus cepat menghentikan dia atau semuanya akan hancur."


"Tapi, dia keturunan murni Xavier dan wanita itu." gumam Nyonya Margaretta yang sangat tak percaya Xavier menyembunyikan kekuatan sebesar ini dari mereka.


Pantas saja Pria licik itu tenang-tenang saja saat pasukan Arthas di kirim kesini dan nyatanya dia punya satu Mahluk yang begitu berbahaya.


Melihat kekuatan besar ini belum melepas Mahluk kiriman Kakek Lucius, Tuan Attacus sampai merasa heran kenapa bayi sekecil itu bisa menahan bobot energi sebesar ini bahkan tak ada yang bisa lepas jika sudah masuk dalam Pusaran air itu.


"Yang Mulia! Cepat hentikan dia karna Prince akan menggunakan itu untuk melawan mu."


"Dia begitu serius." gumam Kakek Lucius yang sudah mengeluarkan hawa Ranah Pembantaian miliknya.


Mereka mulai merasakan hawa panas yang begitu kuat karna kekuatan Kakek Lucius sudah mulai menjalar mengurung area Villa.


Kegelapan ini semakin kental dengan Bulan merah darah yang tadi di kelilingi para anggota Xavier itu tampak semakin bersinar pertanda energi yang di serap oleh Baby Ester sangat banyak.


"Rusak Formasi kebangkitan ini!!"


"Baik." tegas Tuan Attacus dan Nyonya Margaretta yang menggunakan kekuatan mereka untuk melesat ke area Bulan yang tengah diselumbungi Mahluk tengkorak berjubah.


Mereka mengeluarkan senjatanya masing-masing dengan Rantai api milik Tuan Attacus sudah keluar dari tangannya menghantam ke arah Bulan merah itu.


Sebelum Rantai api panas membara sampai ke arah para Anggota yang tengah bekerja, tiba-tiba saja air laut yang tadi tengah bergejolak di bawah sana meluap dengan gelombang tinggi menghadang hantaman Rantai itu.


Akibatnya desakan angin semakin menggila mendorong tubuh mereka untuk menjauh dari area laut yang tengah di jaga ketat dan begitu membahayakan.


"Suamiku! Authums itu tak bisa di anggap remeh." gumam Nyonya Margaretta yang bertopang pada asap hitam di bawah kakinya.


Authums adalah sebutan untuk Pengikut Xavier yang berasal dari air. Lautan ini menyimpan satu pemimpin yang terus menjaga Villa dan mereka sangat patuh pada Xavier yang pasti sudah menyusunnya dengan matang.


Melihat air laut yang begitu ganas dan menentang keras. Tuan Attacus tak punya banyak waktu untuk berfikir disini.


"Serang bersamaan!"


"Kau yakin akan berhasil?" tanya Nyonya Margaretta mengeluarkan Kipas besar berwarna hitam di tangannya.


Sedangkan Tuan Attacus mengalirkan energi yang besar ke Rantai api yang ia peggang dengan tatapan sengit ke arah Gelombang besar ini.


"Jika dia sudah bangkit tak ada waktu untuk bernafas." desis Tuan Attacus langsung melesat bersamaan dengan Nyonya Margaretta bak kilatan api yang begitu cepat menghantam ke arah dinding Gelombang itu.


Desakan kekuatan keduanya membuat Lautan berguncang bahkan Gelombang air laut yang tadi kokoh menghadang sekarang tampak mulai renggang.


Melihat peluang masuk cukup lebar. Tuan Attacus saling pandang dengan Nyonya Margaretta yang mengangguk membentuk pola penyerangan di kakinya lalu menghempaskan Kipas besar itu hingga angin ini menepis air yang telah jatuh ke bawah.


"Tidak!! Mereka berhasil!!" gumam Zion melihat Nyonya Margaretta dan Tuan Attacus berhasil merobohkan benteng Authums. Jelas itu bisa terjadi karna kekuatan mereka juga sangat besar.

__ADS_1


Hempasan Kipas dari wanita paruh baya itu membuat Hutan di sekeliling Villa langsung terpental bahkan pepohonan itu nyaris menghantam area Villa.


Sontak keadaan yang begitu sengit dan menakutkan ini membuat semua Pelayan dan Penjaga disini menjadi gemetar. Mereka tak mampu melihat pertempuran di depan sana dengan wujud mahluk-mahluk mengerikan terus berterbangan.


"Tuan! Lakukan sesuatu atau Tuan kecil akan terkena serangan mereka."


"Yah. Pasukan Yang Mulia sangat banyak dan terus berdatangan." cemas Efika menimpali ucapan Kakek Le-Yang. Mereka semua sangat panik dan hanya bisa menggantungkan harapan setinggi mungkin.


Zion juga tak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa menjaga Nyonya Crolie yang masih belum sadarkan diri sedari tadi.


Melihat semua keadaan beralih berpihak padanya. Kakek Lucius sangat tak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia mengarahkan tangannya ke arah pusaran air itu dengan tatapan sangat mematikan.


"Belum saatnya kau bangkit." desis Kakek Lucius mendorong kekuatannya ke arah sana hingga Light putih berkilat tajam itu langsung melesat membawa keliatan langit yang seketika menggulung menghantam ke arah benteng air itu.


"Kau sangat kuat yang Mulia!" kagum Apollo kala serangan ini ingin menghantam ke arah sana tapi belum sempat ia mengedipkan mata tiba-tiba saja ada tebasan kuat dari arah samping menepis serangan Kakek Lucius yang dihempaskan ke atas langit sana hingga menimbulkan ledakan yang dahsyat mengguncang wilayah ini.


Sontak pandangan mereka tertuju pada arah serangan kuat tadi. Mata Zion terlihat berbinar kala melihat siapa yang sudah berdiri di atas awan gelap itu dengan satu Pedang Ranah Pembantaian miliknya yang begitu menguarkan hawa Perkasa.


"Masteeer!!!" gumam Mereka seketika berharap banyak pada Sosok tampan dengan separuh wajahnya sudah berubah.


Satu mata merah dengan sebelah rahang berubah menunjukan tengkorak tapi masih saja begitu Tampan tak mengurangi Porsi kegagahannya.


Kedatangan Xavier membuat Authums dan anggota Xavier yang tadi mengelilingi Bulan di atas sana semakin bersemangat. Mereka kembali menghadang serangan Nyonya Margaretta dan Tuan Attacus yang tadi hampir bisa memecah Formasinya.


"Kau melangkah sejauh ini." gumam Kakek Lucius menatap sengit Xavier yang masih setia dengan pandangan dinginnya.


Aura keberadaan yang kuat itu memancing amarah Apollo yang tak menyangka Xavier begitu menentang sampai senekat ini.


"Kau tahu betapa kuat bayi itu?!" tanya Kakek Lucius tak mengalihkan pandangan dari Xavier.


"Yah. Dia bisa membunuhmu baik itu wujud manusia atau yang asli. Yang Mulia! Dia sangat berbahaya."


"Teruslah lihat Takdirnya." tegas Kakek Lucius sudah melepas Syal di lehernya pertanda ia benar-benar serius kali ini.


Ada 4 lubang hitam di semua sisi leher kokoh itu dengan bekas luka pedang di bagian tenggorokannya. Wajah Kakek Lucius begitu menyeramkan bahkan mereka syok kala melihat hal apa yang di tutupi Syal itu selama ini.


"Apa itu Dimensi miliknya?!"


Batin Xavier yang sebelumnya memang tak tahu tentang lingkaran hitam pekat itu. Tapi yang jelas, hawa membunuh Kakek Lucius sangat berubah mematikan.


"Itu adalah Lingkaran dimensi. Masing-masing lingkaran punya kekuatan dan tempat yang mematikan, kau harus menghindari bertarung jarak dekat."


Bisikan di telinga Xavier yang terdengar begitu paham. Jelas ia mengerti karna hal itulah yang membuat dirinya hancur beberapa tahun lalu.


"Menyesal sekarang maka aku akan memaafkan mu!!" angkuh Kakek Lucius menggenggam erat Tongkat di tangannya.


Tatapan Xavier masih sama dan tak berubah sama sekali. Tubuh kekar atletisnya tak bisa diragukan lagi tujuan dan untuk siapa ia bertahan begini.


Para pelayan wanita sana tak bernai menatap tubuh gagah Masternya karna itu terlalu sempurna. Mereka tak sanggup untuk sekedar melihat.


"Katakan kau akan MUNDUR maka aku mengampuni mu!"


"Jangan membuang waktuku." tegas Xavier sudah mengambil posisi siap tempur.

__ADS_1


Pedangan dihunuskan tepat ke wajah Kakek Lucius dengan jarak cukup jauh tapi jelas ini tak menjadi halangan apapun.


Merasakan Xavier begitu keras kepala. Kakek Lucius tak lagi menahan diri. Ia langsung menghentakkan tongkatnya ke asap gelap yang ada di kakinya hingga Tanah ini langsung bergetar bahkan terbelah dengan mengerikan.


"Cepat masuk ke Villa!!" teriak Zion tahu apa yang akan muncul dari tanah ini.


Mereka bergegas berlarian bahkan sampai tersungkur karna getaran tanah ini begitu kuat tapi tak bisa merobohkan Villa yang menjadi tempat perlindungan mereka.


"KAU AKAN MENERIMA GANJARAN NYAA!!!" Suara Kakek Lucius menggelegar beriringan dengan gumpalan Tanah yang tadi berhamburan langsung naik ke atas langit sana membentuk Naga penyusun Tanah dan Batu yang begitu ganas mengaum dengan mata hitam dan taring begitu tajam.


Aumannya membuat semburan api yang besar bahkan Xavier harus benar-benar fokus atau tidak ia akan terlempar jauh dari sini.


"Kau tak bisa membunuhnya." suara itu kembali berbisik di telinga Xavier yang tahu ia tak cukup kuat untuk membunuh Sosok ini.


"Lebih baik kau amankan anak dan istrimu."


"Jika hanya ingin menggangguku. Lebih baik aku tak membebaskan mu." desis Xavier tak suka di perintah. Jelas ia tahu itu tapi tak akan pernah mundur selagi kekuatannya masih ada.


"Kau tak akan menang."


"Jangan samakan aku denganmu. LEMAH," Maki Xavier segera menghindar cepat kala ekor Naga tanah ini sudah menghempas ke arahnya.


Pedang yang ia peggang menjadi target Kakek Lucius yang pastinya akan menghanguskan semua senjatanya.


"Di atasmu!!"


"Berisiiikk!!!" geram Xavier menebaskan Pedang di tangannya ke arah ekor Naga bergerigi tajam yang tadi muncul di atas kepalanya hanya berjarak 5 Senti tapi kecepatan Xavier lebih dari itu.


Tebasan Pedang Xavier memutus Ekor keras itu tapi kembali muncul tanpa ada cacat sama sekali. Keganasan binatang Mitologi ini semakin menjadi-jadi kala Xavier begitu sulit di dapatkan.


"Bagaimana dengan ini?" desis Kakek Lucius mengalirkan api di sekujur tubuh Naga Tanahnya lalu mengerahkan kembali ke arah Xavier yang merasa ini lebih cepat dari yang tadi.


Ia cukup gesit dan begitu agresif membunuh Xavier yang tetap bertahan dengan Pedangnya. Kali ini tak cukup sekali tebasan tetapi Xavier harus meloncat ke atas kepala Hewan buas itu dengan tubuh gagah begitu kokoh melawan kobaran api yang menjalar ke arahnya.


Melihat itu Seringaian Kakek Lucius meruak. Jelas ini hanya untuk memancing Xavier agar memijak kepala Tunggangannya.


"Hancurkan!" geram Kakek Lucius mengepal,kan tangannya hingga Naga itu langsung meledak keras melahap apapun yang ada di sekitarnya.


"Bagus. Yang Mulia! Dia pasti sudah tiada apalagi karna luka di dadanya." decah Apollo dibelakang Kakek Lucius yang terlihat menatap puas segalanya.


"Penjilat!"


Degg..


Apollo terkejut kala ada yang menghunuskan pedang ke tubuhnya dari belakang sana bahkan ia tak merasakan pergerakan ini sebelumnya.


Darah hitam itu menyembur dari mulutnya kala dorongan Pedang merah ini seakan mengalirkan sengatan di tubuhnya.


"Y..Yang Mulia.." lirih Apollo tapi Kakek Lucius juga tengah di kepung. Ia tak menduga Xavier memanfaatkan penyerangannya tadi untuk memasang jebakan kilat untuknya.


.....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2