YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Merasa muak


__ADS_3

Keadaan masih sama dan sangat sulit di jelaskan bagaimana keadaan Ruangan yang tiba-tiba sunyi ini. Hanya Sekertaris Grach yang merasa jika Stella merasa terancam akan kehadiran sosok ini.


Bahkan, tangannya yang semula terulur bebas beralih meremas lengan Sekertaris Grach dengan pandangan gak berkedip pada wajah Pria itu.


"A..apa kau baik-baik saja?" tanya Sekertaris Grach berbisik. Tapi, kulit Stella semakin dingin dengan rona pucat itu tak bisa dielakan.


Batinnya begitu terguncang, bahkan bergerak saja Stella takut-takut antara malu, jijik dan tak nyaman akan semua ini.


"Nona Stella!"


"A.. Aku pergi dulu." gumam Stella memilih mundur berbalik untuk pergi tapi tiba-tiba saja langkahnya langsung dicekat.


"Apa kau tak ingin membujuk-ku juga?"


Wajah Stella yang semula pucat terlihat semakin mendingin. Kedua tangannya terkepal meremas Ponsel yang tadi masih ia genggam.


"Direktur Luther! harap anda.."


"Aku ingin bicara langsung dengan Anak Magang ini!" tegas Luther tanpa berdiri dari duduknya. Sekertaris Grach mendekati Stella tanpa tahu ada apa antara dua Mahluk ini?!


"Apa kau bisa menanganinya?" gumam Sekertaris Grach tapi Stella diam. Ia menarik nafas dalam mencoba menenagkan diri yang begitu terkejut akan pertemuan tiba-tiba ini.


"Nona Stella!"


"A.. Hm." Stella mengangguki panggilan Sekertaris Grach yang akhirnya memberinya semangat lewat pandangan tegas itu. Ia keluar meninggalkan Stella dengan Luther dan Asisten Pria itu.


Masih belum berbalik dan tetap memunggungi memantik pindaian mata Direktur Luther yang terlihat semakin tak percaya jika ini adalah Gadis yang malam itu membuatnya terasa begitu bahagia.


"Perubahanmu terlalu besar sampai aku nyaris tak mengenali."


Stella tetap diam. Ia memejamkan matanya dengan nafas berubah rileks mencoba tetap tenang. Dirasa sudah cukup mengendalikan diri, Stella langsung berbalik menatap tegas wajah Oriental Direktur Luther.


"Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan."


"Ouh. Tak mengerti?" decahnya mendadak syok. Ia berdiri dengan pandangan heran tapi percayalah itu sangat membuat bulu-kuduk Stella meremang.

__ADS_1


"Kau mau apa?" tanya Stella menatap tajam Direktur Luther yang melangkah mendekatinya dengan satu tangan masuk ke saku celana dan satunya lagi masih bermain Bolpoin.


"Yakin tak mengenalku?"


"TIDAK."


Tekan Stella tegas perlahan mundur. Langkah Direktur Luther begitu membuat Stella terancam dan Asistennya sudah tahu jika Tuannya tak mau di ganggu dan segera keluar dari ruangan ini.


Mendapati mereka hanya berdua. Stella langsung ingin pergi tapi tiba-tiba pinggiran Jasnya langsung di tarik Direktur Luther yang membuat Stella tersentak spontan menarik diri kembali.


"Kau mau apa?" geram Stella mengeratkan balutan Jasnya.


Seringaian Direktur Luther meruak kala Stella tampak berjaga dengannya. Sangat berbeda dengan malam itu dimana pelayanan wanita ini begitu membuatnya gila bahkan tak menduga akan sehebat itu.


"Kenapa? Bukankah kau sudah biasa seperti itu?"


"Jaga bicaramu. Aku SAMA SEKALI TAK MENGENALMU." tekan Stella ingin pergi dari ruangan ini tapi jelas ada hal yang membuatnya langsung tertusuk.


"Jika kau tak mengenalku maka baiklah. Tapi, aku masih kenal dengan suara desahanmu."


Seketika Stella langsung keluar dari ruangan ini dengan mata berkaca-kaca melewati Sekertaris Grach yang tadi ingin mengantarkan satu Dokumen kerja.


"Apa Direktur Luther masih di dalam?" tanya Sekertaris Grach pada Asisten Pria itu. Tak perlu menjawab nyatanya Mahluk yang ia tanyakan sudah muncul dari balik pintu.


"Maaf, tapi apa ada masalah?"


Direktur Luther hanya diam dengan wajah malas melewatinya. Jelas perasaan Sekertaris Grach sangat tak nyaman dengan kondisi Stella barusan.


"Apa yang terjadi padanya?!" gumam Sekertaris Grach langsung bergegas ke arah Toilet. Setelah sampai di sana ia melihat jika Pintu masuk itu di tutup rapat dan ada suara air di dalam sana.


"Nona!! Nona apa kau baik-baik saja?"


Menggedor pelan Pintu tempat ini. Tak ada jawaban dari dalam sana membuat kecemasan Sekertaris Grach semakin menjadi-jadi.


"Nona! Nona. Kau mendengarku?"

__ADS_1


Drett..


Satu pesan masuk ke Ponsel Sekertaris Grach yang mendapat pesan dari Stella. Wanita itu mengatakan ia baik-baik saja dan hanya ingin mencuci wajah.


Walau terkesan aneh tapi Sekertaris Grach tak mau terlalu memaksa. Ia hanya menatap bergantian Layar Ponsel dan Pintu ini lalu menghela nafas.


"Jangan terlalu lama disana. Cepatlah keluar!"


Tak ada jawaban sama sekali. Alhasil Sekertaris Grach pergi dengan berat hati menyeret langkahnya kembali ke Lorong tadi.


Sementara di dalam sana. Wanita yang ia cemaskan tadi tengah membekap telinganya dengan mata merah yang tampak sudah mengalirkan cairan bening itu.


Kata-kata yang di lontarkan Direktur Luther barusan masih terngiang-ngiang di telinganya bahkan bayangan masa lalu kotor itu membuat Stella jijik dengan dirinya sendiri.


"V..Vee." gumam Stella menangis tertahan. Ia meremas telinganya merasakan jijik dan muak akan dirinya sendiri.


Ingin menyesal tapi sudah terlambat. Ia sudah terlalu kotor sampai masih di Cap sebagai Wanita Penghangat.


" V..Vee! L..lihat dia.." lirih Stella menatap sendu pantulan wajah sembabnya di cermin ini. Pahatan menyedihkan yang selalu terlihat ceria dan tegar padahal ia bukan apa-apa tanda sandaran dari dada bidang Lelakinya.


"A...aku tahu. Kau..kau pasti melihatku. Kan? Aku.. Aku mohon. K..Kembalilah!" lirih Stella kembali terisak bercampur dengan suara air yang jatuh dari Wastafel.


Ia sangat tak berani untuk menghadapi masa lalu karna banyak hal buruk yang membuatnya jatuh dan terkurung. Ia tak mau melihat kebelakang lagi tapi kenapa tiba-tiba datang disaat seperti ini.


Stella terus teringat akan kejadian di Club itu sampai-sampai ia melempar Kotak tisu di atas Wastafel ke lantai ini agar pikirannya tak terus dihantui oleh ucapan mesum Pria itu.


"T..tidak. Aku..aku tak sendiri, aku.. Aku masih punya Ester dan.. Dan kau Vee. Kau.. Kau mendengarku-kan?" gumam Stella tersenyum lega tapi kemudian ia sendiri merasa malu jika Ester tahu apa yang ia kerjakan selama ini.


"V...Vee! A..apa yang akan ku lakukan? Bagaimana jika Ester tahu tentang itu?" cemas Stella tampak linglung dan sangat cemas. Ia tak mau jika masalah ini membuat Ester benci padanya.


Sementara. Lelaki yang Stella khawatirkan itu sedari tadi bersandar ke pintu Toilet. Kedua tangannya terkepal dengan sorot mata membunuh bahkan urat kemarahan itu jelas melintas di wajahnya.


"Berani kau mengusik Mommyku!" desis Ester dengan mata berubah merah. Ia memang bukan Vampir tapi Manusia yang menuruni kekuatan istimewa dari kedua orang tuanya.


Marah itu membeludak sampai ia dengan cepat bagai lesatan kilat tak lagi ada di depan pintu sana.

__ADS_1


....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2