YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Siapa ayahnya?


__ADS_3

Hari terus berlalu. Tanpa di sadari sudah 1Minggu lamanya Stella hidup dengan pilihannya sendiri. Ia sangat bahagia menemani Nyonya Corlie dalam masa penyembuhan dan sekarang benar-benar pulih.


Stella menikmati kebebasan yang ia rasakan. Walau terkadang ia sering melamun sendiri karna merasa tiba-tiba sangat merindukan seseorang tetapi tak mungkin lagi untuk bertemu. Ia juga tak akan mau dekat dengan Sosok itu lagi karna Stella benar-benar ingin melupakan dan fokus untuk hidupnya yang sekarang.


Kiranya memang seperti itu, tapi sangat susah. Stella juga mulai merasakan bagaimana sensasi menjadi wanita hamil sampai ia terus muntah setiap pagi membuat Nyonya Corlie khawatir.


Seperti sekarang. Hal itu kembali terjadi bahkan membuat Stella tak bisa makan apapun. Wajahnya pucat terus ada di dalam kamar mandi yang menjadi saksi bisu baginya.


"Hooeekmm!" suara mual yang keluar sampai terdengar di arah depan.


Nyonya Corlie yang tengah membersihkan teras Rumah dari serbuk putih salju itu segera terperanjat berlari masuk ke dalam Rumah.


"Hoeekmm.. M..Mom."


"Stella! kau muntah lagi?" tanya Nyonya Corlie sangat Panik. Tadi, Stella sudah mulai membaik tapi lagi-lagi hal yang sama terjadi.


Ia sudah kasihan melihat wajah cantik Putrinya pucat pasih dan tak bisa makan apapun sedari pagi.


"Muntahkan saja. Mommy akan membawamu ke Rumah Sakit. Nak!"


"T..Tidak.." gumam Stella kembali mual berpeggangan ke lengan Nyonya Corlie yang mengusap keringat dingin di leher dan dahi Stella.


"Kenapa? Mommy takut terjadi sesuatu padamu. Ini sudah berhari-hari. Dan jangan menolak lagi."


"Bagaimana kalau Mommy tahu aku hamil? Apa dia akan marah?"


Batin Stella mencemaskan itu. Ia takut jika Nyonya Corlie terkejut atau tak menerima kenyataan ini. Ia mengandung anak pria lain yang bahkan tak menerima dirinya maupun janin ini.


Melihat respon mencurigakan Stella, rasa cemas Nyonya Corlie bertambah bahkan tak bisa mengerti kenapa Stella sangat aneh. Bahkan, semua yang Stella alami ini bukan lagi gejala masuk angin karna Stella mulai tak mau makan.


"Stella! kau harus tetap ke Rumah Sakit."


"M..Mom."


"Tidak. Ini demi kesehatanmu." tegas Nyonya Corlie keluar mengambil ponselnya di atas Sofa di ruang depan.


Stella sekuat tenaga keluar dari kamar mandi mendekati Nyonya Corlie yang sudah mau menelfon Nyonya Herley untuk membantunya memesankan Mobil di jalan utama.


"M..Mom!"


"Kau diam! Jangan membuat Mommy takut. Stella!" gumam Nyonya Corlie sudah menyambungkan panggilan ke Nyonya Herley yang terdengar cukup sibuk.


"Hello! Ada apa?"


"Nyonya! Stella beberapa hari ini terus muntah dan tak sehat. Apa kau bisa membantuku?"


"Mo..Mommy. Aku..aku baik-baik saja." ucap Stella ingin meraih ponsel Nyonya Corlie yang tak bisa diam saja tetap kekeh untuk berbicara.


"Bisa tolong Nyonya bantu pesankan Mobil untuk.."


"Moom!! Aku tak mau!!" Pekik Stella menyentak lengan Nyonya Corlie sampai Ponsel itu jatuh ke lantai.


Seketika tatapan Nyonya Corlie berubah datar dengan Stella yang sudah mau menangis. Jelas jika semua ini sangat di takutkan oleh Stella selama ini.

__ADS_1


"Siapa?"


"M..Mom.."


"Siapa Ayahnya?"


Duaarr...


Stella langsung terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkan Nyonya Corlie. Hal itu membuat air mata Stella jatuh dengan tatapan kosong dan sendu.


Mata Nyonya Corlie sudah berkaca-kaca menatap ke arah perut Stella. Ia selama ini sudah curiga akan perubahan yang Stella alami itu persis seperti apa yang ia rasakan dulu. Ia bukan lagi awam dengan keadaan seperti ini.


"M..Mom!"


"S..Siapa? Mommy tahu kau h...hamil." gumam Nyonya Corlie bergetar. Ia masih belum mau percaya tapi respon Stella yang selalu menolak untuk di ajak ke Rumah Sakit membuat semua duga'annya selama ini benar.


Mendengar hal itu Stella langsung berhambur memeluk Nyonya Corlie yang sudah menahan isakan mendengar tangisan lemah Stella.


"M..Mommy hiks. M..Maaf.. Maafkan aku. Mom!"


"Apa.. Apa yang terjadi? Kenapa kau merahasiakan ini?" tanya Nyonya Corlie mengusap kepala Stella yang pastinya sudah melalui hal yang sangat menyakitkan.


Ia tak bisa membayangkan hal yang selama ini terjadi padanya kembali terulang kepada Stella.


"M..Mom. Maaf! Maafkan aku."


"Siapa yang melakukannya? Katakan!" pinta Nyonya Corlie menangkup pipi pucat Stella yang tampak tak bisa mengatakannya.


Ada beban besar yang di tahan netra biru laut ini sampai bibir Stella bergetar tak sanggup mengatakannya.


Stella menggeleng memeggang perutnya yang sudah semakin berisi. Jika di lihat sekilas memang tak tampak tapi saat memeggangnya akan terasa dan begitu hangat.


"D..Dia tak mau."


"Stella kau.."


"D..dia.. dia t..tak mau M..Mom. Hiks! D..dia ingin membunuhnya." isak Stella membuat Nyonya Corlie tertegun kosong.


Rasa sakit mendengar itu sangat tak sepadan dengan apa yang di rasakan putrinya.


Seketika wajah Nyonya Corlie mengeras dengan tatapan penuh amarah. Pria brengsek mana yang dengan teganya ingin melenyapkan tanpa mau bertanggung jawab.


"D..dia tak menginginkannya. Dia.. Dia hanya .."


"Kau mencintainya?"


Seketika Stella tercekat ludahnya sendiri. Kepalanya tertunduk dengan air mata terus berlinang pertanda jika benih cinta itu memang muncul dan akan sangat menyakitkan.


"M..Mom!"


"Pria seperti itu tak pantas untukmu. Dia sama sekali tak berhak atasmu."


Stella hanya bisa diam tak tahu harus apa. Yang jelas, ia hanya bisa menerima tak ingin membunuh janin yang sudah berkembang dengan baik di Tubuhnya.

__ADS_1


"Mom! Aku.. Aku mohon, biarkan aku.. Aku melahirkannya dan.."


"Mommy mendukungmu!" tegas Nyonya Corlie membuat wajah Stella kembali terangkat menatapnya.


Bibir Stella bergetar antara percaya atau tidak, Mommynya tak marah dan tetap mendukung keputusannya.


"M..Mommy kau.."


"Kau pikir Mommy akan biarkan kau sendirian. Ha? Jangan berfikir hal yang tak mungkin. Walau janin itu hadir dengan suasana buruk tapi itu bukan salahnya. Dia juga berhak hidup. Bukan?"


Stella mengangguk cepat kembali memeluk Nyonya Corlie yang lega jika Stella tak tertekan akan masalah ini.


"T..Terimakasih. Mom! Kau..kau mau mendukungku."


"Jelas. Keputusanmu sangat penting karna pasti Putriku sudah memikirkan ini dengan matang. Benar?"


Stella mengangguk memberi senyum lega dan bahagia mendapat kecupan hangat di keningnya.


"Sudahlah. Sekarang kau kembalilah ke kamar. Mommy akan buat Minuman pereda Mual untukmu."


"Baik. Mom!" jawab Stella melangkah perlahan ke arah kamar. Nyonya Corlie menghela nafas dalam mengeluarkan sesuatu dari sakunya.


Tatapan yang hampa tapi jelas itu sebuah keputusan. Ia tak akan membebani Stella dengan tuntutan hidup yang pedih.


"Mom!"


Nyonya Corlie menoleh dimana Stella masih berdiri di depan pintu kamar. Tatapannya tertuju pada surat yang ada di genggaman Nyonya Corlie takut-takut itu hal yang sama seperti dulu.


"Mom itu.."


"Surat panggilan dari Sekolahmu." jawab Nyonya Corlie meremas surat itu ingin membuangnya ke tempat sampah.


Mendengar itu Stella terdiam. Ia masih memeggang perutnya dengan pikiran melayang jauh.


"Kau sedang Hamil dan tak mungkin kembali ke Sekolah yang sudah tinggal beberapa bulan. Mommy tak ingin kau.."


"Aku mau kembali ke sana!"


Spontan Nyonya Corlie terkejut mendengar ucapan Stella barusan. Ia berbalik mendekati Stella yang tampak sangat yakin dan serius.


"Stella! Ini bukan permainan, kau akan bertemu banyak orang bahkan bisa saja mereka kembalI mengusikmu. Nak!"


"Mom! Jika aku berhenti Sekolah di semester akhir ini, aku akan benar-benar kehilangan hidupku. Hanya dengan itu aku bisa keluar dan bekerja dengan baik." jawab Stella menggenggam tangan Nyonya Corlie yang sangat cemas. Jika Stella kembali ke sana maka ia takut banyak orang akan menyakiti Putrinya seperti sebelumnya.


"Mom! Aku mohon, percayalah padaku. Aku akan serius kali ini."


Imbuh Stella meyakinkan Nyonya Corlie. Lagi pula hanya beberapa bulan saja dan saat itu perut Stella juga tak akan terlalu menonjol dan Sekolah akan berakhir.


"Mom!"


"Baiklah!"


.....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2