
Kabar Pernikahan Xavier dan Linnea telah menyebar bahkan seluruh penjuru Kota. Cetakan berbagai Majalah Ikonik itu telah keluar dan banyak mengundang tanggapan baik di kalangan Masyarakat Kota.
Mereka menerima kabar Pernikahan Xavier dan Linnea dengan hangat karna di berbagai sisi pasangan itu cocok. Linnea adalah Princess dari Keluarga Phantson dan Xavier adalah Putra Tunggal Elbrano yang sangat berkuasa.
Keduanya bahkan sudah mendapat pengakuan dari berbagai Media jika memang pantas untuk di sandingkan.
"Nona Linnea itu cantik dan memiliki Keluarga yang sangat Royal. Sama dengan Keluarga Elbrano dan keduanya pantas bersama."
"Yah. Aku tak sabar menyaksikan Pesta megah dan mewah itu nanti."
Desas-desus Karyawan Perusahaan dengan bebas memuji tanpa memperdulikan perasaan seorang gadis muda yang tadi hanya bisa diam duduk di kursi dekat Resepsionis. Ada Sekertaris Grach yang tampak datang karna panggilan dari Tofer tadi.
"Dengan Nona Stella?"
Stella hanya diam tak menjawab. Tatapannya kosong kedepan seakan pikirannya tengah tak di posisi sekarang.
Melihat itu Tofer paham. Ia berbicara dengan Sekertaris Grach yang memang sudah tahu jika Stella adalah anak Magang disini.
"Tolong kau tuntun Nona! Jaga dia baik-baik dan jangan sampai ada yang menganggunya disini."
"Maaf. Tapi kau.."
Tofer menunjukan tanda pengenalnya dan seketika Sekertaris Grach memucat lalu menjaga jarak. Ia menatap Stella dengan pandangan sopan dan tak lagi terkesan menjadi atasan.
"Nona! Silahkan ikuti saya!"
Tak ada jawaban dari Stella. Ia masih tampak murung dan diam membuat Tofer menghela nafas karna mereka sudah menjadi objek perhatian semua Staf Perusahaan.
Apalagi paras Stella yang seperti seorang Putri Mahkota dengan aura yang sangat mendominasi membuat mata lelaki di Perusahaan ini selalu mencuri pandang pada wajah indah natural itu.
"Nona! Kau akan membuat semua orang tahu tentangmu."
"A.."
Stella tersigap kembali sadar dalam lamunannya. Kedua netra biru sendu itu menatap semua orang yang ada disini dengan asing.
"Perhatian semuanya!!"
Sekertaris Grach mulai bersuara membiarkan Stella berdiri tapi agak berpeggangan ke ujung Meja Resepsionis. Ia tetap memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja padahal kepalanya sudah pusing.
"Ini adalah Stella Amoena! Dia Siswi Magang dari Staten Island dan Saya harap kalian bisa menerima dengan baik."
"Magang? Aku kira dia tadi Nona Muda Perusahaan lain!" gumam mereka sangat tak percaya. Pasalnya semua barang-barang yang Stella pakai itu sangat bermerek dan berharga fantastis.
Stella hanya diam menatap tegas semua orang yang memandangnya tapi seperti biasa ada yang selalu tak suka dengan Stella. Auranya terlalu kuat dan selalu menarik perhatian.
"Bantu dia untuk beradaptasi dengan Perusahaan! Dia akan bekerja dibagian Sekertaris Presdir selain aku di tempat ini."
"A..apa?" tanya Stella kala sadar jika posisi itu terlalu tinggi. Begitu juga yang lain karna merasa Stella terlalu cepat dan baru masuk tapi sudah menduduki Posisi setinggi itu. Padahal mereka selama ini berlomba-lomba untuk menduduki kursi yang sama seperti Sekertaris Grach.
__ADS_1
"Tapi.. Tapi ini terlalu tinggi. Aku bisa memulai dari bawah dan.."
"Nona Stella! Kau di rekomendasikan dan di pilih langsung oleh Presdir kala mengadakan kunjungan ke sana. Mampukah aku meragukan mu?" tanya Sekertaris Grach sangat menghargai itu.
Stella tak lagi bisa berkata-kata kala tatapan beragam ekspresi ini langsung menghunusnya. Ada yang suka dan ikut senang tapi banyak yang terlihat membenci Stella.
"Apa kalian mengerti?? Ada yang tak setuju??"
"Kami setujuu!!" jawab mereka tercampur paksaan. Stella melirik ke arah Tofer yang mengangguk kecil menenagkan Stella dari rasa tak enak ini.
"Baiklah! Kembalilah bekerja. Dan Nona s.."
"Stella saja!" sela Stella tak mau diperlakukan sangat spesial. Sekertaris Grach mengangguki hal itu dengan segan.
"Baiklah. 10 menit lagi temui aku di lantai 15!"
"Baik!" jawab Stella memandangi kepergian Sekertaris Grach ke arah Lift di sudut sana. Ia mengambil nafas dalam meraih Tas kecilnya yang tadi ada di Meja Resepsionis.
"Namamu Stella-kan?"
Seorang wanita dengan rambut keriting gimbal dan kulit coklat tua. Ia berperawakan seperti orang Barat hitam yang tampak cukup berpengaruh di bagian lantai ini.
"Apa yang kau lakukan sampai langsung masuk ke sini. Hm?"
Tofer menggeram ingin meringsek maju tapi Stella mengangkat tangannya dengan tatapan tegas dan sangat berkharisma.
"Sudahlah. Kau bisa pergi!"
Tofer berhenti bicara kala tatapan tajam Stella sudah menghunjamnya. Alhasil Tofer mengangguk melangkah keluar dari pintu kaca tebal Perusahaan meninggalkan Stella dalam Kandang macan ini.
"Kami membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk masuk ke sini tapi kau.."
Wanita itu menatap Stella dengan sinis dan menyelidik. Kulit putih dan prosi wajah belia ini memang standar Kecantikan yang sempurna.
"Koneksi apa yang kau punya hingga bisa masuk dengan mudah?!"
"Apa aku harus memberitahumu?" tanya Stella dengan gestur elegan menyilangkan satu kakinya kedepan dengan tubuh jenjang seksi itu bersandar ke pinggir Meja Resepsionis, tak lupa kedua tangan Stella melipat di depan dada terlihat berpose menawan.
Hal itu membuat mereka terpana tapi Sosok wanita berkulit gelap ini terbakar api malu.
"Kauu.."
"Kerja keras dan Komitmen. Itu Koneksiku!" jawab Stella memberi senyuman di bibirnya menyapa para Karyawan lain dengan lambaian jemari lentik lembut itu.
Dengan gontai Stella berjalan melewati mereka menuju Lift yang ia masuki. Wajah datar Stella memandang dingin tapi itu daya tarik Visual yang kuat.
Kala Lift sudah tertutup langsung Stella menyandarkan tubuhnya ke dinding Lift dengan batin terasa sangat lelah.
"Apa tak cukup satu masalah saja?!" gumam Stella sedikit membenturkan kepalanya ke dinding Lift. Ia sudah tak bisa berdiri akan kabar itu tapi sekarang ujian baru di mulai. Apa ia memang ditakdirkan untuk selalu susah?
__ADS_1
"Berapa lama lagi aku harus seperti ini?! Aku harus menemui Xavier dan menanyakan apa maksud dari semua ini?!" geram Stella meremas tali Tasnya.
Lift itu terbuka memperlihatkan Lantai yang begitu sunyi dan ada Beton kokoh yang berdiri jantan di kedua sisi lorong ini. Stella keluar untuk mencari ruangan Sekertaris Grach yang tak ia temukan.
"Ini lantai 15-kan?" gumam Stella melihat ke arah Nomor lantai. benar, ini adalah lantai 15 tapi kenapa tak ada ruangan apapun disini. Hanya lorong kosong yang terhubung langsung dengan dinding kaca polos yang menampakan pemandangan di luar sana.
"Dimana? Apa aku salah dengar?!" gumam Stella berjalan menyusuri lorong sunyi ini. Ia mendekat ke arah dinding kaca tebal yang mempertontonkan Pemandangan indah dari Gedung-gedung pencakar langit di sekitar Perusahaan.
Pikiran Stella seketika tenang melihat hal ini. Pemandangan dari luasnya penghijauan Kota di jalan-jalan rapi sana membuat Stella merapat ke dinding sampai tak sadar jika sedari tadi ada seseorang yang selalu mengawasinya dari kejahuan.
Ia berdiri di tempat dimana Stella ada dan hanya diam menyembunyikan hawa keberadaanya.
Namun. Kala meresapi suasana ini terlalu lama Stella mulai terdiam kala merasakan jika ada yang tengah memantaunya.
D..dia disini..
Jantung Stella terasa bergetar. Matanya sampai mulai memanas dengan perasaan bercampur aduk. Dengan cepat Stella berbalik dengan harapan hal itu benar adanya tapi..
"Kau.."
Stella menelan kehampa'an. Tak ada siapapun di belakangnya bahkan semuanya sama saja. Sunyi, kosong dan tak ada siapapun selain dirinya.
Mata Stella menatap kesemua sudut lantai ini tapi benar-benar kosong sampai bibir Stella mulai bergetar bersandar ke dinding kaca di belakangnya.
Mata biru itu berkaca-kaca hingga akhirnya Stella berbalik membekap wajahnya sendiri dengan suara parau mulai terdengar. Isakan halusnya keluar tapi sekuat tenaga ia tahan agar tak keluar.
"A..aku.. Aku tahu kau disini.. A..aku membencimu. V..Vee hiks."
Isak Stella menangis sendirian sampai ada hembusan angin dingin di belakang tengkuk Stella yang membuat pandangan matanya mulai gelap dan terasa pusing.
Tubuh Stella mulai sulit mengimbangi bobotnya hingga tumbang ke belakang.
Tapi. Ada sekilat bayangan hitam yang sigap menahan bahu Stella dalam pelukan lengan kokoh itu. Mata sayu Stella terbuka kecil merasa tak asing dan pandangannya mulai kabur memandang sosok ini.
"K..kau.."
Lirihan Stella terhenti kala tangan kekar itu sudah mengusap wajahnya dengan lembut. Alhasil kesadaran Stella benar-benar hilang sepenuhnya tanpa ada lagi cela untuk bersuara.
Dengan ringan ia menggendong Stella dalam kegagahan Tubuh kekar itu. Tatapan netra abunya terkesan lembut dan tam searogan biasanya.
"Terserah mau mau membenciku atau sebaliknya tapi yang jelas, kau akan tetap ada dalam Pengawasanku!" bisiknya melayangkan kecupan hangat di dahi Stella.
Rasanya sangat menyiksa menahan diri agar tetap pada posisi ini padahal ia sudah tak tahan lagi untuk saling berjahuan.
Sedetik kemudian ada asap hitam yang keluar dari permukaan lantai. Ada dua Mahluk berkubah hitam dengan wajah gelap dan posturnya sangat tinggi tapi kurus.
"Hapus semua jejak keberadaan ku! Dan tetap awasi dia!"
"Baik. Master!"
__ADS_1
.....
Vote and Like Sayang..