YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Sangat berbisa!


__ADS_3

Langit di atas sana sudah membayang jingga pertanda mentari akan segera menenggelamkan dirinya di ufuk barat yang biasa ia datangi di setiap penghujung waktu berganti.


Dan selama itu pula Xavier di buat jengkel karna Linnea tak kunjung pergi dari ruangannya. Ia ingin sekali mencekik wanita ini tapi, jika ia melakukan hal itu maka masalah besar akan terjadi.


Linnea memiliki dukungan besar di Keluarganya. Apalagi, selama ini Linnea di gadang-gadang akan menjadi istrinya. Tentu Xavier yang tak mau Stella ikut terancam di sampingnya harus bersikap senormal mungkin agar Kakek Lucius tak menduga hal apa yang baru saja ia temui.


"Kau mau pulang?" tanya Linnea yang berulang kali menanyai Xavier yang tampak sudah gelisah di tempat duduknya.


Mata pria itu terus melihat ke area kaca besar tampak begitu menunggu.


"Patriack! Apa kau ingin darah baru?"


Xavier terdiam sejenak. Ia menatap datar Linnea dan tentu Linnea tersenyum karna setelah beberapa jam disini baru kali ini mata Xavier tertuju padanya.


"Kalau kau mau. Aku akan mencarikannya untukmu!"


"Pergilah!"


Titah Xavier dengan intonasi yang sama. Hal itu membuat Linnea berbinar segera berdiri tanpa banyak bicara lagi ia mendekat ke meja Xavier yang tentu tak semudah itu ia dekati.


Kakinya tiba-tiba tak bisa mendekat ke arah meja dan terus berdiri kaku.


"Kau.."


"Berikan pada bawahanku!" tegas Xavier tak memandang Linnea yang merasa sangat terkejut. Ia pikir Xavier menginginkan itu untuk dirinya?


"Aku akan carikan untukmu! Pasti kau tak sempat mencari manusia untuk.."


"Keluar!" sela Xavier tampak mulai bosan dengan ocehan Linnea. Hal itu membuat Linnea semakin naik pitam sudah tak tahan dengan sikap acuh dan dingin Xavier padanya.


"Kenapa kau begitu tak menyukaiku? Dulu kau tak pernah mengusirku."


"Keluar!"


"Kau.."


Kalimat Linnea seketika tercekat kala lehernya sudah terasa panas. Tatapan Xavier berubah dengan sorot membunuh dan netra gray itu berkilat merah menyala.


Alhasil. Linnea segera bertolak pergi karna tak bisa menahan intimidasi dari Xavier yang memejamkan matanya untuk menenagkan diri.


"Kenapa harus dia?" gumam Xavier memijat pelipisnya yang berdenyut. Sepertinya ia terlalu memikirkan wanita itu sampai tak bisa fokus melakukan apapun.


Bahkan, berkas-berkas kerja yang harus ia lihat tak ada yang Xavier buka sama sekali.


Sejujurnya. Xavier tak menyukai Linnea, selama ini ia diam dan menurut karna Kakeknya menetapkan mereka sebagai pasangan kejayaan Elbrano. Tentu pada saat itu yang ada di pikiran Xavier hanya bagaimana mengemban tanggung jawab itu? Tapi, ntah kenapa sekarang ia merasakan sesuatu yang janggal kala berdekatan dengan Linnea.


"Master!"


Zion tiba-tiba masuk membawa Dokumen penting membuat Xavier menoleh sebentar lalu kembali menatap ke arah dinding kaca sana.

__ADS_1


"Master! Ini Dokumen yang.."


"Kau kerjakan saja!"


Hal itu membuat Zion tersentak. Tatapan rumitnya keluar merasa bingung kenapa Masternya tiba-tiba jadi begini? Biasanya dia selalu menyelesaikan semuanya sampai waktu tanpa sadar beralih pada jam awal pergi bekerja.


"Master! Apa kau butuh sesuatu?"


"Aku keluar! Kau urus disini." ujar Xavier berdiri dari duduknya lalu mengambil Jas yang tadi ia letakan di kursi kerjanya.


Sosok tinggi dengan perawakan barat asli ini meraih ponsel dengan ringan lalu melangkah gagah tak menghiraukan Zion yang hanya diam.


"Apa karna Stella?"


Batin Zion melirik ke arah Xavier yang sudah pergi keluar. Tiba-tiba saja ia merasa sangat cemas akan keberadaan Stella. Jika wanita itu terus ada di samping Masternya, maka besar kemungkinan Kakek Lucius akan segera tahu dan menghukum Xavier dengan berat seperti Pamannya yang sudah tak bisa keluar Ruangan sampai sekarang.


Sementara Lobby sana. Xavier sudah berdiri di dekat Mobilnya yang tadi membawanya kesini. Tapi, Xavier tak mau keluar memakai Mobil ini karna akan di curigai banyak orang.


Alhasil. Xavier memerintahkan anggotanya untuk membawakan Mobil baru yang tak akan bisa di kenali dari Perusahaanya.


"Master!"


Seorang pria berstelan jas lengkap mendekati Xavier dari arah depan. Ia tampak juga membawa Paper-bag Cream yang terlihat sangat glamor.


"Semuanya sudah siap. Master!"


Pria itu mengangguk memberikan Paper-bagnya lalu mempersilahkan Xavier mendekat ke arah Mobil Buggati Duvo yang berwarna Silver tua seperti Model Sport yang sangat mewah.


...........


Jalanan masih tampak ramai dan tak menyusut sama sekali. Ia berharap jika mentari di atas sana sudah berwarna jingga maka ia akan bisa tenang duduk di tepi jalan ini menikmati pemandangan Kota yang begitu maju dengan banyak Teknologi canggih di depannya.


Tetapi, karna luka di lutut dan wajah asing Stella yang tak seperti dari warga Kota ini membuat Stella risih.


Bagaimana tidak? Kulit Stella tampak bersih dan netra biru laut yang indah. Belum lagi aura Stella memang aura gadis kelas atas. Ia tak seperti seorang wanita malam atau wanita yang sudah di perbudak orang lain.


Karna tak sanggup lagi berjalan melewati jalur pejalan kaki ini, Kaki Stella mulai terasa keram dengan kerongkongan terasa kering.


Ia melihat-lihat tempat di sekelilingnya dan ada Mall besar yang tampak sudah menyalakan lampu untuk menyambut malam tiba.


"Aku ingin minum." rengek Stella memijat-mijat betisnya seraya berjongkok memandangi pintu Mall yang di jaga oleh dua pihak keamanan.


Ingin sekali ia berlari dan menjemput botol-botol air dingin di dalam sana.


"Mommyy!!! aku mau pulang!!" gumam Stella sedikit menjerit kecil nyaris seperti geraman yang hanya bisa di dengar oleh nya.


Beberapa orang yang melewati Stella hanya saling pandang tak perduli. Seperti biasa tingkat keperdulian disini sangat minim.


"Aku tak minta uang pada Nyamuk itu. Seharusnya dia memberiku uang. Kenapa dia begitu menyebalkan?!"

__ADS_1


Umpat Stella akhirnya nekat pergi ke dekat Mall. Ia tentu tak aneh lagi dengan Tempat perbelanjaan besar ini, tapi masalahnya itu pada UANG, apa ia punya benda itu?"


"Penampilanmu begitu berkelas tapi hanya menunggu di depan Mall?"


Suara cemo'oh datang dari belakang Stella yang menoleh. Nyatanya itu adalah segerombolan Gadis-gadis muda seusia Stella yang tampak memang berasal dari Keluarga yang berada.


Gadis dengan Dress moka sepaha dengan lengan panjang tampak elegan itu menatap Stella dengan raut sinis. Tampaknya mereka risih karna sedari tadi beberapa pria disini hanya memandangi Stella termasuk dua penjaga Mall di depan mereka.


"Ini Mall punyaku! orang sepertimu ini hanya akan mengotori lantainya." ketus Gadis itu tertawa bersama 3 temannya.


Jelas rambut keriting dengan kulit kuning langsat ini begitu jauh dari Stella yang seketika mengepalkan tangannya.


"Namaku Hezel! Kau harus tahu nama itu agar bisa makan gratis di dalam sana."


"Benarkah?" tanya Stella dengan pandangan juga tak gentar. Ia bukan sosok yang bisa di bully seenaknya bahkan Stella sanggup membunuh siapapun yang merendahkannya.


"Woww! Kau marah?"


"Tidak. Aku hanya kasihan padamu." jawab Stella menatap jijik fisik Hezel yang merasa begitu panas akan pandangan Stella.


Beberapa pengunjung yang keluar dari pintu Mall yang tepat di belakang mereka sampai kebingungan.


"Kau yang harusnya dikasihani. Dari mana kau mendapatkan pakaian semahal ini kalau bukan menjual dirimu sendiri."


Bukannya berceloteh panjang seperti Helzel dan teman-temannya. Stella justru memberi senyuman licik yang membuat semua orang memandang ke arahnya.


"Apa kau pikir Kasta kita sama hanya karna kau punya Mall ini? Tapi tunggu.."


Stella menjeda ucapannya menelisik penampilan gadis-gadis muda di hadapannya ini.


"Aku tak percaya kau orang kaya. Apa tak pernah perawatan sampai kulitmu sekotor itu?"


Seketika Hezel terkejut mendengar ucapan Stella. Orang-orang di sekitar mereka sampai menatap Hezel dengan pandangan ikut heran.


"Kauu.."


"Aku mengerti. Karna membangun Mall sebesar ini, mirisnya kau jadi terlantar! Sangat menyedihkan." decah Stella bergurat iba lalu melangkah pergi meninggalkan Mall dan Hezel yang sudah naik pitam tapi ia tak bisa mengejar Stella karna 3 temannya sudah merasa malu.


"Sialan!! dia pikir aku hanya bisa meminta pada orang lain?!" umpat Stella sampai lupa jika arah tujuannya sekarang kemana.


Ia hanya berjalan asal sampai tak sadar jika sedari tadi langkahnya selalu di pantau seseorang pria yang tengah melambatkan laju Mobilnya dari arah jalan.


Ada senyuman samar yang terlihat dari cela kaca jendela Mobil yang ia buka.


"Sangat berbisa."


Vote and Like Sayang..


Maaf ya author nggak sempat say buat up tadi😊🥲

__ADS_1


__ADS_2