
Sudah dua hari sejak kejadian malam itu Xavier tak lagi pulang ke Villa. Ia seakan menghilang tanpa kabar bahkan Zion-pun sudah tak lagi datang ke Villa seperti biasa.
Tentu hal ini sangat menyakiti Stella. Ia selalu berfikir apa Xavier benar-benar akan meninggalkannya? Apa pria itu tak lagi ingat tentang dia dan putra mereka?
Hal itu sontak membuat Stella sakit. Ia jatuh demam tapi tetap kekeh untuk datang ke Perusahaan. Sehari sebelumnya Stella merasa enggan karna tak ada kabar apapun dari Xavier tapi ia tak ingin diam disini saja.
"Stella! Kau yakin ingin kesana? Kau masih demam. Nak!" tanya Nyonya Clorie yang tengah menggendong Baby Ester di dadanya. Ia menatap iba Stella yang terlihat agak pucat tapi masih terlihat ingin ke Perusahaan.
"Mom! Magangku harus segera di laksanakan. Sudah lama aku disini tanpa melakukan apapun."
"Tapi, kau belum sehat betul. Dan Pria sialan itu tak perduli sama sekali padamu." desis Nyonya Clorie sangat menggeram marah.
Stella hanya mengulum senyum merapikan Rok Span yang ia pakai dengan baju kaos polos tanpa lengan agak ketat dan ditutupi Blazer Moca yang terlihat membungkus rapi Tubuh molek Stella yang tampil Kasual sangat menawan. Ia menonjolkan sisi Profesional dan hawa kecantikan yang tak biasa.
Riasan Natural itu menambah kesan muda dan energik apalagi Stella mempercantik mata birunya dengan rambut dibiarkan terurai.
"Mom! Aku pergi dulu ya. Asinya sudah ku masukan ke Dot dalam lemari pendingin."
"Yah. Hati-hati." jawab Nyonya Clorie membiarkan Stella mengecup kilas pipi gembul Baby Ester lalu mengantar Stella turun ke bawah. Disana sudah ada Efika yang hanya diam melihat Stella turun dari kamar bersama Nyonya Clorie yang sedari kemaren mendampingi Putrinya.
"Efika! Bantu Mommyku. Ya?"
"Baik. Nona!" jawab Efika mengangguk. Stella pamit pergi ke depan Villa dimana Tofer sudah Stand-by dengan Mobil mewah angkutan pribadi untuk Stella.
Tofer terdiam kala melihat Stella berjalan dengan detakan Heels berwarna hitam menyatu dengan kulit putih bak Porselen ini. Sungguh apa dia ini manusia atau Animasi Dounghua yang keluar dari Platform TV.
"Apa sudah siap?"
"A.. Saya siap. Nona!" jawab Tofer membuka pintu samping Mobil. Stella masuk membawa Tas kecil miliknya lalu melambaikan tangan pada Nyonya Clorie yang juga menyapanya.
"Hati-hati!! Ingat Putramu selalu menunggumu pulang!"
"Iya. Mom!" jawab Stella memberi senyuman di balik kegundahan yang ia rasakan. Tatapan manik biru Baby Ester terlihat menatap tajam ke arah bagian Taman samping tapi mereka tak tahu apa yang tengah mengganggu si kecil ini.
Nyonya Clorie hanya melihat sebentar lalu kembali masuk ke dalam Villa diringi Mobil Stella sudah melaju stabil ke luar area Villa.
Didalam Mobil sana Stella terus menatap keluar jendela Mobil. Ntahlah ia rasa ingin menangis tapi air matanya masih tertahan di dalam sana.
"Dimana Mastermu?" tanya Stella tapi Tofer terlihat juga kebingungan.
"Nona! Saya hanya di tugaskan untuk mengantar anda tapi bukan berarti saya selalu tahu apa yang Master lakukan."
__ADS_1
"A..apa dia tak ada datang ke Perusahaan?" tanya Stella dengan suara agak bergetar dan rendah. Hal itu sontak membuat Tofer terdiam merasa kali ini suasana hubungan Masternya mulai di guncang hebat.
"Tidak. Nona!"
"D..dia begitu marah sampai.. sampai tak pulang." gumam Stella meremas Tas yang ia peggang. Matanya mulai berkaca-kaca menahan rasa sesak yang beberapa hari ini ia tahan.
Jelas Stella tak mau terlihat sedih di depan Nyonya Clorie yang pastinya akan semakin menganggap Xavier itu buruk. Ia tak mau semuanya jadi sulit karna nyatanya memang sudah buruk.
Melihat Stella yang begitu tertekan Tofer hanya bisa memberi sedikit kalimat yang memang selalu ia pahami sejak lama.
"Nona! Master tak sejahat itu."
"Aku tahu. Dia tak jahat tapi.."
Stella mengusap air mata yang jatuh ke pipinya. Tatapan sendu terlempar ke arah luar dimana mereka sudah memasuki Jalan Utama Kota.
Tapi dia selalu membuatku bertanya-tanya dan tak bisa menebak apa yang dia inginkan?! Di suatu sisi dia terlihat mencintaiku tapi di sisi lain dia selalu membuat sikap yang ambigu. Aku tak mengerti harus menghadapinya bagaimana?!
"Nona! Kau berdiri dengan seorang Penguasa dan Putra Mahkota. Kuatkan dirimu karna itu tak mudah. Master juga dilatih sejak lama untuk berfikir dan bertahan dengan caranya sendiri. Jangan terlalu memaksa Master untuk masuk kedalam cara pandang mu karna itu tak akan mungkin bisa."
"A..aku..aku tak memaksanya. Apa salahnya dia katakan padaku apa yang terjadi? Aku pasti paham dan akan mengerti." jawab Stella dengan suara parau yang terdengar menahan nafas sendatnya.
Tofer terdiam belum bisa berkata apapun lagi. Ia hanya memberi ruang untuk Stella melepaskan tangisnya yang sedari di Villa ia tahan.
"Memiliki seseorang di belakangku."
Batin Stella menyambut kalimat itu. Jujur Stella sangat takut akan di tinggalkan lagi bahkan ia takut akan bernasib sama seperti yang di alami Mommynya.
Lama Stella berusaha mengendalikan dirinya agar tak sembab kala datang ke Perusahaan sampai akhirnya Tofer sudah membawa Mobil ke area Elite Perusahaan EMC.
Stella merapikan kembali riasan dan penampilannya melihat jika banyak Mobil yang ada di depan Gerbang apalagi desakan Awak Media terlihat berkerumun mengelilingi seseorang.
"Itu ada apa?"
"Shitt." umpat Tofer ingin memutar kemudi ke arah lain tapi Stella menyuruhnya untuk berhenti.
"Hentikan Mobilnya!"
"N..Nona.."
"Hentikan Mobilnya!" pinta Stella merasa sangat penasaran. Sontak Tofer menghentikan Mobilnya dengan cepat turun kala Stella juga sudah turun dari Mobil ini.
__ADS_1
"Nona! Kau.."
"Pergilah! Aku akan masuk sendiri." jawab Stella melewati Tofer berjalan ke arah kerumunan Media. Mereka terlihat tengah menanyai seseorang.
"Nona! Nona kapan acara Pernikahan kalian?"
"Kenapa Presdir tak membuat pernyataan seperti yang anda lakukan?"
Mendengar pertanyaan itu Stella merasa sangat tertarik untuk mendekat. Ia menyela di beberapa kerumunan yang sesak ini hanya untuk melihat siapa yang tengah di wawancarai.
Mata Stella seketika termenggu melihat sesosok wanita cantik dengan rambut coklat bergelombang dengan pembawaan bak Model itu tengah tersenyum akan pertanyaan mereka.
"Pernikahan kami akan segera di langsungkan. Tapi, sebelum itu banyak persiapan yang harus di lakukan."
"Dimana Presdir Xavier? Bukankah dia seharusnya menemani anda Nona?"
Duarr..
Stella terkejut setengah mati mendengar ucapan salah satu Awak Media yang tampak bersemangat. Jantung Stella seakan keluar dari tempatnya kala sadar jika suara ini adalah suara wanita yang kala itu menelfon dengan panggilan manis pada Xavier.
"I..ini.."
Stella benar-benar lemas bahkan ia oleng kala ada yang desakan padat ini mendorongnya oleng sampai ingin jatuh ke belakang.
Untung saja Tofer segera berlari mendekat sigap menahan bahu Stella hingga membuat kerumunan tadi mulai terpecah.
Mereka menatap Stella dengan pandangan heran sekaligus merasa kagum karna wanita cantik ini menyetarakan hawa keberadaanya dengan seorang Linnea.
"Nona kau tak apa?" tanya Tofer membantu Stella berdiri dengan benar.
Mereka semua saling pandang bahkan berbisik kecil kala melihat Stella sepertinya bukan dari Keluarga sembarangan. Wanita ini punya Inner Beauty yang kuat.
"Apa dia seorang Model?"
"Tapi kenapa bisa disini?"
Linnea juga cukup tertarik dengan keberadaan Stella. Ia merasakan jika aroma harum ini berasal dari tubuh Stella dan hal itu membuat ranah Vampirnya seketika terpancing keluar.
"Nona!" gumam Asisten Linnea kala melihat Nonanya gelisah. Tatapan Linnea begitu menyelidik pada Stella apalagi kulit putih bersih ini mengingatkannya pada seseorang.
"Cepat pergi dari sini!" gumam Linnea sudah tak tahan lagi akan aroma tubuh Stella. Ia segera pergi meninggalkan keramaian yang seketika diambil oleh Boneka Salju Xavier itu.
__ADS_1
..
Vote and Like Sayang..