
Bangunan megah dengan Pilar-Pilar kokoh itu menjulang menebarkan keangkuhannya. Desain Modern klasik yang terlihat menyatu dengan luasnya Pekarangan Mashion yang melepas mata memandang.
Hanya saja. Sedari Gerbang baja besar itu di Buka maka mereka akan di sambut oleh Patung-Patung Kelelawar beraroma magis yang kental. Mata batu menyeramkan itu seakan terus mengawasi mereka yang melangkah menuju Teras depan Mashion.
"Mom!"
"Aku ingin masuk." tegas Stella tak perduli akan aura kelam ini. Ia berjalan cepat mendahului Ester yang meliarkan mata elangnya dengan tangan siaga memeggang lengan Stella di depan.
Hal kedua yang membuat Stella terperanjat adalah para Pelayan Kediaman yang menyambutnya dengan mata hitam kosong tak bernyawa. Jelas ini terlihat menakutkan.
"Mohon tinggalkan Kediaman!"
"Aku ingin mencari Suamiku!!" tekan Stella tetap ingin melangkah ke Pintu besar ini tapi dua Pelayan muda dari dalam sana langsung mencegat di depan Pintu.
"Kauu.."
"Mohon tinggalkan Kediaman!" ucap mereka lagi dengan suara datar tapi kepalanya menunduk. Sontak Stella benar-benar merasa emosi mendorong bahu Keduanya agar menyingkir tapi jelas mereka tetap tak bergeming.
"Menyingkirlaah!!!"
"Mohon tinggalkan Kediaman!"
"Kauu.."
"Mom!" Ester langsung menarik Stella ke belakang tubuhnya. Ia beralih berhadapan dengan para Pelayan ini menguarkan hawa dingin dari wajah Tampannya.
"Mohon Tinggalkan Kediaman!"
"Baby! Mereka.."
Ucapan Stella tak sampai ke ujung kala Ester sudah memukul Pintu di dekatnya hingga kedua Pelayan itu langsung terpental ke belakang sana membuat Pintu yang tadi terbuka kecil sudah menganga lebar dengan dorongan angin kuat dari arah luar.
Keributan yang Ester ciptakan membuat semua Pelayan dan Penjaga Kediaman langsung turun mendekat ke arah sumber suara.
"M..Mereka.."
"Hanya merusak mataku." desis Ester sungguh kesal. Mendengar umpatan khas itu Stella jadi semakin merindukan seseorang. Matanya menatap separuh wajah Ester yang terlihat dari samping sini.
Bahkan, caramu mengumpat juga turun padanya. Vee!
Stella kembali mengusap air matanya. Ia hanya bisa diam untuk beberapa saat menenagkan diri yang tengah dilanda rasa gelisah.
Pandangannya terlempar pada Pelayan Kediaman dan para Penjaga yang mulai mengepung mereka. Netra biru Ester tak bisa di kecoh sama sekali hingga tangannya langsung ingin mengeluarkan Pedang miliknya.
"Berhentii!!"
Suara seseorang dari dalam sana. Sontak para Pelayan yang tadi mengerumuni mereka langsung mundur kembali berjejer di area sudut didalam sana.
Nyatanya itu Zion yang turun dari Tangga berlapis emas beralas Karpet merah itu menunjukan kemegahan tempat ini. Stella-pun tak punya waktu untuk memuji karna pikirannya hanya fokus pada satu orang.
"Dimana Mastermu?? Dimana diaa??"
"Kalian pergilah!" titah Zion pada para Mahluk bawahan Elbrano ini. Ia melangkah mendekati Stella yang sudah kembali berdiri di depan Ester yang setia dengan wajah bekunya.
"Dimana Xavier?"
"Dia tengah sibuk."
"KAU JANGAN MENGATAKAN HAL YANG MEMBUATKU INGIN MENCEKIKMU," Bentak Stella dengan mata melotot tajam.
Mendengar suara keras ini helaan nafas Zion keluar ringan. Sudah ia duga Stella tak akan mudah untuk di alihkan. Sifat keras kepala ini memang menjadi khasnya.
"Untuk sekarang tidak bisa. Kau bisa kembali beberapa hari atau.."
"Veee!!!"
__ADS_1
Panggil Stella menerobos ke dalam melewati Zion yang ingin memanggil Stella tapi tiba-tiba kalimatnya tercekat kala Ester sudah melewati tubuhnya dengan lirikan mata membunuh yang mencekik lehernya.
"Tak ku sangka Titisan Master begitu lekat padanya."
Batin Zion menajamkan matanya. Tapi, ia segera mematung kala langkah Ester tepat terhenti di pertengahan tangga.
Tak perlu berbalik saja Zion sudah membayang ke masa lalu. Dalam ingatan dan pandangannya yang berdiri disana adalah Masternya saat remaja. Hawa dan aura yang sama tak pernah ia lupakan.
"Jangan menunjukan wajah tak sukamu lagi pada MOMMYKU!" tegas Ester lalu melanjutkan langkahnya ke lantai atas Kediaman dimana kemegahan ini terus menyambut tapakan kakinya.
Dekorasi Tirai maron gelap dengan beberapa tempat tak di beri lampu seakan membiarkan remang-remang dari luar untuk mengisi kekosongan.
Langit-langitnya yang tinggi di hiasi Lampu bangkar yang besar juga menambah kesan estetik tapi juga magis yang kuat. Banyak lukisan-lukisan aneh disini dan tak indah sama sekali.
"Veee!!!"
Perhatian Ester beralih ke lorong di sampingnya. Ia bergegas mempercepat langkah melewati beberapa Pintu ruangan yang ia tak tahu fungsinya untuk apa.
Dari sini Ester melihat jika banyak ruangan di Kediaman ini dan semuanya sunyi. Jelas jika hawa ancaman ini belum keluar dan tak terbiasa akan kedatangannya termasuk Stella yang terus memutar langkah melihat ke berbagai Lorong atas.
"Vee!! Veee kau dimana??"
Stella membuka Pintu di sampingnya tapi hanya ada ruangan gelap dan sepertinya tak ada orang disini. Langkahnya kembali tertarik ke belakang mendekati Pintu di sudut sana dengan wajah cemas dan begitu panik.
"Vee!!"
Lagi-lagi tak ada. Stella langsung bersandar ke Pilar di sampingnya dengan mata terus berkaca-kaca menatap ke sekeliling tempat ini.
"K..kau dimana?"
"Mom!" lirih Ester yang mendekati Stella. Jelas ia tak tahan dengan wajah sendu wanita ini bahkan ingin rasanya Ester melakukan cara apapun.
"D..dia dimana? Aku tahu dia disini tapi.. Ini terlalu luas. Aku tak tahu harus mencarinya kemana?" lirih Stella membekap wajahnya dengan kedua tangan. Isakan halus itu terdengar pertanda ia benar-benar cemas.
"V..Vee hiks."
Degg..
Suara berat angkuh itu membuat tubuh Stella meneggang. Ia menurunkan kedua tangannya dengan mata termenggu kedepan melihat siapa yang berdiri bersandar ke Pilar yang tadi menopang tubuhnya.
Bibir Stella tertarik sumringah dengan mata berair yang berbinar segera berlari ke arah Sosok yang tengah berdiri dengan gagahnya merentangkan satu tangan kekar yang segera membelit pinggang ramping Stella.
"Vee!!"
"Hm. Jangan menangis." gumam Xavier mengusap kepala Stella yang memeluk erat tubuhnya. Isakan kecil ini tak bisa dielakkan bahkan terdengar begitu menyayat.
"Kau..kau kenapa? Apa yang terjadi padamu?" tanya Stella memeriksa tubuh kekar Xavier yang dibaluti Mantel hangat menutupi lehernya.
Kala tangan Stella ingin melepas ikatan Mantel membuat Xavier segera menahan jemari lentik itu di dadanya.
"V..Vee.."
"Aku baik-baik saja." jawab Xavier dengan wajah datar tapi tatapannya selalu lembut memandang Stella. Kedua mata mereka saling memandang intens bahkan Stella memanfaatkan ini untuk mencari kebenaran di manik Abu ini.
Dan benar saja. Xavier tak bisa bersitatap lama dan segera membuang pandangan ke sembarang arah.
"Aku baik-baik saja."
Stella tetap diam. Matanya semakin mengigil dengan cairan bening itu yang lagi-lagi menetes sendu.
"B..Bohong!"
"Aku tak apa-apa. Bagaimana caraku mengatakannya padamu. Kalau.."
Stella langsung menarik ikatan Mantel di punggung Xavier yang seketika tak bisa berlindung lagi. Dada bidangnya yang semula memang di jalari urat hitam itu sudah membiru dan terlihat sangat panas.
__ADS_1
"Stella!" lirih Xavier tak mau dalam keadaan seperti ini. Ia ingin menghapus lelehan bening di pipi mulus itu tapi tangan Stella sudah lebih dulu meraba dadanya yang terasa begitu sakit.
Sekuat mungkin Xavier menahan sobekan luka di dalam sana hingga darah hitam itu menetes dari hidungnya tepat ke tangan Stella yang seketika mematung.
"I..Ini.."
"Pulanglah!" pinta Xavier mengusap hidungnya. Suhu tubuh Xavier meningkat panas dan Stella merasa jika bagian tangan Xavier yang tengah membelit pinggangnya mulai membayang hilang.
Ingatan Stella terlempar pada ucapan Bawahan Kakek Lucius yang kala itu mengatakan jika Xavier akan mengorbankan wujud manusianya.
"K.Kau.."
Stella membekap mulutnya dengan nafas sudah tak stabil. Wajahnya mendongak menatap pahatan pucat Xavier yang mengulurkan tangan mengusap kepalanya.
Sentuhan yang begitu hangat dan penuh perlindungan ini langsung membuat Stella takut. Perasaan tak rela itu ada bahkan jelas menentang dugaannya.
"Bagaimanapun Wujud ku aku akan tetap melindungimu!" tegas Xavier yang tak mempermasalahkannya. Ia tak mau melawan Takdir lagi karna ini sangat berbahaya bagi Stella nantinya.
"Jangan menangis lagi! Aku tak akan meninggalkanmu."
"T..Tidak." Stella menggeleng meremas lengan Xavier yang ada di Pinggangnya. Ia tak mau sendirian dan tak ingin hidup dalam bayangan saja.
"Tak apa. Walau kau tak melihatku aku akan tetap ada di sisimu. Ini hukum alam dan aku tak mungkin bisa melawannya."
"K..Katakan padaku. Aku.. Aku harus apa?" tanya Stella berharap jika ia bisa membantu. Rasa takutnya semakin mencuat kala darah hitam kental itu terus keluar dari hidung Xavier yang juga membenci hal ini.
Perlahan-lahan tubuhnya mulai kaku kembali bahkan berdiri seperti ini tak bisa Xavier kendalikan terlalu lama hingga ia nyaris tumbang.
"Vee!!"
Pekik Stella menahan bahu Xavier sebelah kiri tapi untung saja Ester kilat menopang tubuh kekar Ayahnya.
Wajah Stella semakin panik dan kelut menahan isakannya tapi juga berusaha berfikir tenang.
"Apa.. Apa yang perlu-ku lakukan? Katakan. Vee!"
"Hm." Xavier menggeleng pertanda tak ada. Ia hanya bersandar ke Pilar ini dengan kedua tangan di topang oleh Mahluk yang paling berarti dalam hidupnya.
Wajah dingin Ester di tatap misterius oleh Xavier yang pastinya punya harapan besar yang ia gantungkan hanya boleh di pikul oleh Putranya saja.
"Vee!! Katakan. Apa yang harus ku lakukan?"
"Bisa ambilkan segelas air? Sayang!" lirih Xavier dan tanpa di minta dia kali Stella mengangguk melepas perlahan pegangannya ke bahu Xavier lalu berlari ke arah belakang.
Melihat kepergian Stella wajah Xavier berubah dingin seperti biasa. Pandangannya lurus kedepan dan tak bisa mengurangi kharismanya.
"Jaga Mommymu!"
"Kenapa kau lakukan ini?" tanya Ester dengan intonasi sama-sama datar tapi jelas ada perasaan yang tak semudah itu keduanya perlihatkan.
Pandangan Xavier sangat jauh tapi masih terpaut dengan orang di sekitarnya.
"Dia wanita yang keras kepala, angkuh dan kekanak-kanakan."
"Cih. Kau saja tak ingin jauh darinya." umpat Ester membuat sudut bibir Xavier tertarik pelit. Ia sangat menemukan jiwanya di diri Ester yang sangat arogan.
"Yah. Walaupun begitu tapi dia tetap Boneka Saljuku. Air matanya sangat berharga. Bagiku, dia lebih penting darimu."
"Hm. Dia juga Mommyku." jawab Ester dengan intonasi pedas tapi segera terdiam kala bobot tubuh Xavier mulai berubah ringan.
Jantung Ester berpacu cepat tapi ia tak sanggup berbalik karna akan tahu apa yang di lihat oleh matanya nanti.
"Jaga dia untukku!" suara di telinga Ester terdengar begitu berat. Tiba-tiba saja ada Kotak Cincin di tangan Ester yang seketika langsung menoleh ke belakang tapi dia sudah tak ada.
Mata Ester hanya di hadapkan oleh Mantel yang tadi Xavier pakai sudah tergeletak di lantai dingin ini.
__ADS_1
....
Vote and Like Sayang