
Linnea masih ditelan oleh kebingungan yang memenuhi kepalanya. Bagaimana tidak? Xavier menyuruhnya untuk mengambil darah Apollo yang pastinya akan sangat sulit di dapatkan.
Jelas hal ini termasuk tak mungkin karna mustahil Apollo punya darah. Ia adalah sebangsa Perreus yang merupakan Mahluk suci yang bisa meramalkan tentang pertanda buruk dan baik. Jelas Apollo sangat memiliki kedudukan tinggi balik kursi kekuasaan Yang Mulia Lucius.
Melihat Linnea yang terus diam sepanjang Meeting berlangsung, Tuan Darren mulai heran saling pandang dengan Dewan Direksi yang hadir karna penjelasan Zion barusan sudah berakhir di rencana Proyek selanjutnya.
"Maaf. Ada apa Nona Linnea?"
Linnea masih diam menatap kearah Dokumen yang ia peggang sampai mereka kembali saling pandang. Linnea terperanjat kala Asistennya sudah menepuk bahu Linnea sopan.
"Nona!"
"A.. Aku.."
Linnea tersadar. Ia menatap ke arah Xavier yang tak memandangnya sama sekali. Setelah melemparkan Dokumen tadi Xavier tak lagi bicara bahkan menatap Linnea sedikit-pun. Seakan-akan disini hanya ada yang lain tanpa kehadirannya.
"Nona! Kau baik-baik saja?"
"A.. Yah. Hanya saja aku merasa sedikit pusing." jawab Linnea mengusap tengkuknya yang dingin. Zion menyudahi Meeting ini hingga mereka langsung berdiri mengucapkan selamat pada Xavier selaku kepala atau otak dari Proyek ini.
"Presdir! Senang bekerja sama dengan anda."
"Hm." jawab Xavier melempar gumaman datar. Tuan Darren hanya tersenyum lalu pamit keluar bersama Sekretarisnya. Begitu juga Mr Frenzer dan Dewan Direksi yang menatap segan Xavier sebelum pergi meninggalkan ruangan.
Alhasil sekarang hanya tinggal Xavier dan Linnea bersama para Asistennya. Sekertaris Grach sudah keluar karna tahu jika hal seperti ini akan terjadi.
"Kenapa kau memintaku melakukan ini?"
Xavier menatap lurus kedepan dengan sangat angkuh. Ia sama sekali tak duduk pertanda pembicaraan ini hanya berlangsung sebentar saja.
"Apa yang ingin kau cari darinya? Jangan-jangan kau.."
"Tugas seperti itu saja kau tak bisa." desis Xavier remeh. Hal itu sontak membuat Linnea tersentak ke permukaan logikanya.
Apa Xavier tengah mengujinya? Apa jika ia menyelesaikan Tugas ini maka Pernikahan itu akan terlaksana tanpa halangan?
"J..jadi kau.."
"Jika kau mau selesaikan itu. Jika tidak, aku juga tak perduli." jawab Xavier lalu meninggalkan ruangan. Zion hanya mengikuti Masternya yang tiba-tiba membuat tanda tanya besar dan sangat ambigu.
"Master. Kenapa kau memberikan Tugas itu pada Nona Linnea? Bukankah dia salah satu penghalang hubunganmu?"
"Itu tak penting." jawab Xavier mengeluarkan Ponsel dari saku celananya. Ia sudah mengganti Ponselnya yang rusak dengan Ponsel baru karna sudah di lempar Stella siang tadi.
Dan Xavier juga membelikan Stella benda yang sama karna mengingat Stella akan bergabung ke Perusahaan besok. Untuk Baby Ester, Xavier mempercayakannya pada Nyonya Clorie yang untuk sementara menjadi Ibu bagi Baby Ester jika di hadapan banyak orang.
"Apa yang dia lakukan sekarang?" tanya Xavier kala tak ada jawaban dari panggilan yang ia lakukan pada Stella. Ia sangat gelisah karna Stella masih marah saat ia sudah tak lagi di Villa.
Kehadiran Dokter Ryker menambah kegelisahannya sampai sedari tadi hanya ingin pulang dan bicara dengan Stella.
__ADS_1
"Master! jika kau bertengkar lagi dengan Nona Stella. Kenapa tak sedari di Villa tadi Master bicara dengannya."
Helaan nafas Xavier langsung tercipta masuk ke dalam Lift khusus untuknya. Siapa yang tahu bagaimana sifat Stella dengan sangat baik kalau bukan Xavier sendiri?!
"Dia berbeda. Jika marah baik itu kebenaran atau kebohongan tak akan masuk ke telinganya."
"Benarkah? Yah. Aku lihat Nona juga sangat menyeramkan." gumam Zion tapi segera mendapat lirikan dingin Xavier yang mencekik lehernya.
"M..Maaf. Master!"
Xavier tak menjawab. Zion segera mengumpati mulutnya yang tiba-tiba sangat lancar membicarakan Stella. Jelas Xavier sangat tak suka jika ada seseorang bicara buruk tentang wanita itu.
Melihat hawa dingin yang di sebarkan Xavier kala panggilannya tak kunjung di jawab Stella menarik inisiatif Zion yang ingin mengembalikan suasana ini menjadi sedikit hangat.
"Master!"
"Shiit. Apa semua wanita begini?" umpat Xavier benar-benar merasa depresi. Ia sangat ingin mendengar suara wanita itu walau nanti tak akan berakibat baik.
"Aku akan menghubungi Kakek Li-Yang menanyakan tentangnya. Master!"
"Hm." gumam Xavier masih mencoba untuk menelfon hingga Lift ini sudah terbuka memperlihatkan Lobby khusus Xavier yang seperti biasa sangat sunyi.
Setelah beberapa lama. Zion mulai bicara dengan Kakek Le-Yang untuk memberikan Ponsel itu pada Stella agar Masternya bisa bicara.
"Berikan itu pada Nona Stella!"
"Tuan! Nona menolak untuk bicara."
"Nona bahkan tak mendengarkan saya bicara!"
"Master!" gumam Zion kala Xavier sudah merampas Ponsel itu dengan wajah mengeras dan tak tenang.
"Dia ada di dekatmu?"
"Yah. Nona tengah mengajak Tuan Muda Bermain. Master!"
"Speaker!" jawab Xavier menyiapkan suara kerasnya. Saat Kakek Li-Yang sudah mengatakan IYA barulah Xavier bicara agak keras.
"ANGKAT PANGGILAN DARIKU JIKA TIDAK AKU TAK AKAN MEMBIARKANMU KE PERUSAHAAN!!"
"N..Nona menatapku. Master!"
Suara gugup Kakek Le-Yang pertanda Stella telah memberinya tatapan membunuh itu. Zion juga paham kondisi Kakek Le-Yang bagaimana karna ia pernah di posisi itu.
"BIARKAN SAJA! DALAM HITUNGAN TIGA KAU TAK MENJAWAB MAKA KAU AKAN MENYESAL. DAN.."
Akhirnya panggilan yang tadi masih Xavier lakukan seketika tersambung. Hal itu membuat Xavier menyeringai dengan santai melepas Ponsel Zion dari tangannya.
"Master!" gumam Zion langsung cepat menangkap Ponselnya yang hanya tersisa 5 senti dari lantai Lobby. Ia mengusap dada lega akhirnya tak mengganti Ponsel lagi.
__ADS_1
Sementara Xavier ia sudah ada dalam dunianya sendiri. Ntah apa yang di lakukan Stella sampai sedetik saja tak bersuara maka dunia ini tak akan baik-baik saja.
"Ehm! Kau masih marah?"
Tak ada jawaban dari seberang sana. Hanya ada beberapa aktifitas kecil yang terdengar oleh Xavier.
"Kau mendengarku?"
Lagi-lagi hanya kebisuan dan hal ini kembali membuat Xavier menggeram.
"Baiklah! Kau sepertinya memang ingin untuk tak masuk ke..."
"KAU SEBENARNYA MAU APA?? AKU TAK PUNYA WAKTU BANYAK UNTUK BICARA DENGAN MAHLUK SEPERTIMU."
Suara pekikan keras Stella sampai Xavier sedikit menjauhkan Ponsel dari telinganya. Suara ketus dan sangat pedas dengan amarah meluap itulah yang ingin ia dengar.
Bukannya marah Xavier justru mengulum senyum samar. Ia mengabaikan Zion yang pura-pura menjadi patung seakan tak mendengar obrolan aneh mereka.
"Kau begitu sibuk. Hm?"
"YAH! DAN KAU JUGA TENTU SANGAT SIBUK BUKAN? MAKA JANGAN MENELFONKU LAGI!!"
"Kau.."
Ucapan Xavier terhenti kala panggilan ini sudah di putuskan sepihak oleh Stella. Xavier hanya menghela nafas memijat pelipisnya yang terasa pusing.
Tapi, hawanya tak mengancam siapapun. Xavier terkesan geli dengan dirinya sendiri karna baru kali ini ia merasa pusing dalam konteks wanita dalam hidupnya.
"Master! Ada apa?"
"Bonekaku perlu dibujuk." gumam Xavier memikirkan sesuatu. Ia harus membuat hal spesial agar Stella bisa tenang dan ia akan menjelaskan semuanya.
"Master! Aku punya ide."
"Katakan!" titah Xavier mendengarkan apa yang Zion katakan padanya.
"Bagaimana kalau Master membawakan makanan kesukaannya?"
"Dia akan melempar makanan itu ke wajahku!" gumam Xavier sudah tahu apa yang terjadi. Dulu saja Stella juga marah tapi selalu menolak apapun yang ia berikan.
Mendengar itu Zion kembali berfikir. Apa yang harus di lakukan agar Stella bisa berbaikan dengan Masternya?!
"Kalau begitu. Ajak dia ke Pesta atau buat Pesta kecil untuk adegan Romantis."
"Aku tak bisa." bantah Xavier memang tak bisa bersikap begitu manis. Apalagi saat mendengarnya dalam keadaan marah Stella pasti akan menamparnya. Wanita itu sangat bar-bar jika sudah mengamuk.
"Lalu apa? Kalian yang bertengkar tapi kepalaku yang akan pecah!"
Batin Zion frustasi. Spesies yang disukai Masternya memang wanita teraneh yang sulit untuk di rayu dengan barang-barang mewah apapun.
__ADS_1
.....
Vote and Like Sayang..