
Cahaya yang tadi masih menerangi area Perusahaan perlahan meredup. Mereka bertanya-tanya kenapa langit seakan diselimuti hawa aneh yang seakan menyuruh untuk bersembunyi?!
Para Karyawan Perusahaan yang melihat dari arah kaca ruangan dan tampaknya cuaca di Kota ini tengah tak baik-baik saja.
Tapi, berbeda dengan yang Stella lihat tak hanya kegelapan. Kedua netra biru itu terpaku pada langit yang tampak mulai menunjukan Wujud apa yang tengah bergerak ke arah sini.
Sedetik kemudian Stella syok melihat ada ribuan Kelelawar yang terbang ke arah sini dipimpin oleh dua pusaran Asap hitam yang tampak begitu cepat.
"Tofer!!"
"Iya. Nona?" tanya Tofer yang tadi juga berjaga di dekat pintu.
Melihat wajah pucat Stella ia paham jika pasti wanita ini takut melihat pasukan Kaki tangan Yang Mulia Lucius sudah mengerang kesini.
"Nona tenang saja. Wilayah ini sudah di lindungi oleh Master!"
"Bukan itu yang-ku maksud. Mereka itu menginginkan aku dan bisa saja semua Manusia di dalam Perusahaan akan terkena imbasnya." jawab Stella tahu jika pasukan ini pasti ingin membuat Perusahaan hancur.
"Nona! Kau tenang saja. Kami akan melindungimu."
"Berhenti bicara seakan aku akan mati. Cepat kau suruh semua Manusia disini untuk kembali pulang." tegas Stella berlari keluar ruangan.
Ia pergi ke arah Lift dimana Sekertaris Grach juga merasakan hawa tak enak di Perusahaan. Mereka mencium aroma bangkai yang kuat sampai tak bisa leluasa bernafas.
"Nona! Kau mencium sesuatu?"
"Hari ini sudah selesai bekerja. Lanjutkan besok jika ada panggilan dari Perusahaan!" titah Stella membuat dahi Sekertaris Grach menyeringit seraya mengibas hidungnya.
"Nona! Ini baru sore, Presdir akan marah jika.."
"Jika dia marah. Maka aku yang bertanggung jawab. Sekarang pergilah!!" tegas Stella menyingkirkan keraguan di hati Sekertaris Grach yang seketika langsung mengangguk.
Ia masuk ke Lift bersama Stella yang melirik jam di pergelangannya. Sudah lama Xavier pergi tapi tak pulang, ini sangat membuatnya cemas.
"Nona! Apa kau tak mencium aroma bangkai ini terlalu menyengat?!"
"Ini.."
Belum sampai ke ujung Stella bicara tiba-tiba saja terdengar suara Muntahan yang sangat keras dan ramai di bawah sana.
Sontak hal itu membuat Stella semakin diburu oleh waktu dan keadaan. Kala pintu Lift terbuka mereka sudah ada di lantai 1 Perusahaan dimana semua Karyawan dan Staf yang tadi terlihat baik-baik saja sekarang sudah berubah dramatis dimana semuanya muntah karna aroma menjijikan ini.
"Hooekmm!! T..Tolongg.."
Tak ada yang duduk di kursi. Mereka berjatuhan ke lantai bahkan keadaan ini sangat membuat Stella prihatin sekaligus menciptakan kebingungan di benak Sekertaris Grach.
"Nona! Ini.."
"Jika seperti ini mereka tak akan bisa pulang dengan selamat." gumam Stella merasa sangat tak adil. Xavier hanya melindunginya dan bukan berarti semua manusia disini akan tahan dengan aroma busuk yang dibawa pasukan Kaki Tangan Kakek Lucius itu.
Melihat keadaan yang semakin tak stabil apalagi suara pekikan Kelelawar itu sudah berputar di atas Gedung tinggi ini membuat Stella harus bisa mengantisipasi keadaan.
"Sekertaris Grach! Apa disini ada ruangan yang tertutup?"
"Ada. Nona! Tapi di arena luar di Gedung satunya. Disana itu tempat Aula berkumpul."
Mendengar itu Stella berfikir. Jumlah Karyawan Perusahaan besar ini pasti banyak dan tak mungkin membantu mereka masuk dalam waktu sesingkat ini.
"Apa kaca-kaca ini bisa di tutup?"
"Bisa. Nona! Disini juga ada Sistem Pelindung dan Saluran air di atas Atap."
__ADS_1
Stella mengangguki itu. Ini hanya lantai 1 dan kemungkinan lantai diatas juga akan mengalami hal yang sama.
"Kau pergilah ke lantai atas tutup semua kaca yang bisa melihat keluar dan nyalakan Penyedot AC serta taburkan wewangian. Kau mengerti?"
"Baik."
Sekertaris Grach mengangguk membiarkan Stella keluar dari Lift lalu ia kembali menutup benda itu untuk ke lantai atas.
Sementara Stella. Ia mengiring beberapa orang yang tengah muntah dengan hebat mencium aroma menyengat yang sangat sulit di hilangkan.
"Ada yang masih bisa ke Pantry?" tanya Stella seraya memapah beberapa Staf wanita yang sudah pucat ke area sudut ruangan.
Ada beberapa Pria muda yang tampak masih segar dan sedikit linglung mendekat padanya. Stella menyuruh mereka untuk menyiramkan pengharum lantai di sini serta menghidupkan Kipas di beberapa sisi ruangan.
"Tolong siram semuanya dan tutup semua kaca yang terbuka. Kalian bisa tenang disini, sebentar!"
"Nona! Disana ada yang pingsan!"
Suara salah satu Pria yang segera bergegas ke arah sana. Stella dengan cepat meraih botol air di atas meja kerja didekatnya lalu mendekat ke arah Pria itu.
"Tolong bawa dia ke area sudut. Dan sebagian dari kalian cepat nyalakan Kipasnya!"
"Baik. Nona!"
Mereka yang masih tahan bergerak-pun segera menjalankan apa yang Stella perintahkan. Kipas besar itu diaktifkan dengan Alarm bahaya tingkat pertama yang juga aktif membuat ada gas pendingin yang muncul di beberapa titik ruangan ini.
Stella terlihat sangat telaten mengarahkan mereka agar bernafas pelan dengan memanfaatkan kibasan angin serta aroma harum Pencuci Lantai yang dituangkan dengan air pengiringnya.
"Rileks! Jangan panik. Tetap tenang dan bernafas dengan pelan, cari Plastik atau kertas yang bisa kalian pakai!"
Mereka semua langsung tenang lala cara Stella menangani situasi ini cukup efektif. Dan sekarang tinggal beberapa lantai diatas yang Stella sangat berharap akan baik-baik saja.
"Tetap tenang. Jangan cemas karna semuanya akan baik-baik saja."
Suara Sekertaris Grach yang sudah keluar dari Lift. Ia mendekati Stella yang sudah mengumpulkan Para Karyawan disini untuk duduk tenang di sudut sana.
"Bagaimana? Mereka aman?"
"Syukurlah mereka hanya pusing dan sudah di amankan. Sekarang, Nona kembalilah ke ruangan Presdir!" pinta Sekertaris Grach cemas.
Tapi, Stella menggeleng. Ia masih khawatir jika Pasukan gelap itu akan mengusik kembali orang-orang disini.
Dan benar saja. Belum sampai pikiran Stella meredup tiba-tiba saja Stella melihat jika Mahluk-Mahluk aneh itu berputar mengelilingi kaca-kaca Perusahaan tapi tak bisa masuk.
Di mata Stella itu adalah Asap dan tengkorak tapi di mata semua orang disini selainnya, itu adalah api yang sudah membakar Perusahaan.
"Apiii.. Itu.. Kita.. Kita akan terbakaar!!"
"Kenapa bisa terjadi kebakaraan??"
Panik mereka kembali syok dan takut karna dalam penglihatannya Perusahaan ini sudah dijalari api dan dinding tebal ini terasa panas menyatakan kebenaran.
"Kita akan matiii!!! Kita matii!!"
"Tenang!! Tenanglah!" pinta Stella tahu jika ini hanyalah tipuan para Mahluk menjijikan itu. Keadaan yang semula tenang sekarang kembali kacau dengan aroma bangkai yang semakin menyengat.
"Nona! Bagaimana ini?"
"Memang Brengsek!" umpat Stella masuk ke dalam Lift yang segera membawanya ke atas. Suara berisik kepanikan di bawah sana membuat kedua tangan Stella terkepal hingga Lift sudah terbuka tapi ini lantai paling atas menuju area Atap.
Ia tak perduli lagi dengan apa yang mengincarnya tapi yang jelas Stella tak bisa diam saja dengan ulah mereka semua.
__ADS_1
Kala Stella sudah sampai ke teras Atap yang tinggi dan bebas pilar. Ia langsung di hadapkan dengan ratusan Kelelawar yang mengitari area langit gelap ini.
"Pergilah dari sinii!!!" bentak Stella menatap tajam ke arah pasukan penyerang ini.
Langit bertambah gelap kala kedatangan Stella semakin menambah hawa lapar dari para Mahluk yang terpancing akan aroma darah murni Stella. Mereka terlihat beberapa kali mencoba menerobos tapi tak bisa masuk karna pemagaran di sekeliling wanita ini sangat kuat.
Bahkan. Connor dan Eliem yang tadi berusaha mencari cela untuk membawa Stella-pun tak bisa. Mereka hanya memancing wanita ini agar keluar sendiri tapi tetap saja masih di jaga ketat oleh Hawa keberadaan Masternya itu.
"Jangan mengusik merekaa!! Kalian memang sangat rendahaan!!"
"Jaga bicaramu!" desis Connor begitu muak dengan Stella karna kala itu bagian dari mereka terhisap langsung sampai tak bisa dikembalikan lagi.
Mendengar itu Stella bertambah menjadi-jadi. Ia tahu betul kalau dua Mahluk inilah yang kala itu merubah wujud menjadi Gurita di hadapannya.
"Jadi kau yang dulu ingin menyakiti Bayiku?? Aku tak pernah sudi jika Putraku melihat dua Mahluk menjijikan seperti kaliaan!!"
"MULUTMUUU!!!"
Geram Mereka dengan cepat memuntahkan Tinta hitam panas itu ke arah Stella yang sudah tahu jika inilah yang akan di semburkan padanya.
Stella menghindar walau agak labil tapi ia cukup gesit dalam memutar tubuh indahnya. Apalagi, Stella merasa jika tubuhnya benar-benat ringan.
Melihat Stella yang begitu menyulut kemarahannya. Connor dengan cepat merubah dirinya menjadi Gurita hitam dengan lendir terus menyembur membuat Stella begitu waspada.
"Aku tak punya kekuatan untuk melawannya. Tapi, jika seperti ini bisa mengulur waktu aku akan melakukannya."
Batin Stella menetapkan keputusan. Kala Connor semakin menjadi-jadi ia juga begitu serius menghindar tapi tak lupa Heels yang ia pakai sudah siap melayang ke arah Connor yang dilanda amarah besar.
Kala dirasa waktunya sudah pas. Stella melepas Heelsnya lalu melemparnya ke arah wajah Gurita Connor yang seketika terkejut karna matanya tertusuk benda runcing ini.
"Sakiit?? Apa perlu yang keduaa??" tanya Stella tersenyum puas.
Tetapi. Ia segera mundur kala ukuran tubuh Connor semakin membesar bahkan wajahnya sampai mengadah menatap Mahluk berlendir ini.
"KAUUUU..."
Suaranya menggelegar membuat lantai yang Stella pijaki bergetar. Arena lantai semakin gelap kala Eliem juga sudah mulai mengepung Stella dengan ratusan Kelelawar yang mencari cela untuk masuk menyerang.
Tubuh Gurita besar dengan Tentakel-tentakel panjang itu terjulur liar ke arah Stella yang ingin lari ke samping tapi Tentakel milik Connor sudah melesat ke arahnya.
"Veee!!!" teriak Stella menunduk hingga terdengarlah suara ledakan dari arah depan Stella dengan Magma hitam berlendir panas itu sudah terciprat meledak.
Tubuh Stella terdorong kebelakang mengapit dinding yang seakan menjauhkannya dari lendir hitam yang tadi bertebaran bebas kemanapun.
"I..ini.."
Stella sangat syok kala melihat ada Bayangan hitam dengan tangan tengkorak panjang itu menariknya ke dinding tadi. Hawa Mahluk ini sangat hangat dan lembut tapi Stella tak berani menatap wajah Tengkoraknya yang diselumbungi oleh Jubah hitam dengan bagian kaki seluruhnya berwujud tengkorak yang tinggi.
"K..kau.."
Stella menyentak tangannya dengan takut merapat ke arah pintu masuk Atap tadi. Ia tak berani mendekat karna bisa saja ini adalah bagian dari pasukan Kakek Lucius.
"Kau ..kau ingin darahku-kan? Jangan harap aku akan memberikannya pada Mahluk seperti muu!!" maki Stella masih menjaga jarak.
Kedua netra biru Stella terlihat garang walau menyembunyikan rona gugupnya. Respon dan exspresi wajah Stella seakan menjadi tontonan bagi sosok itu sampai tak bergeming berdiri di sana.
"Apa yang dia lihat dariku? Kenapa aku merasa dia ingin mendekatiku?"
Batin Stella runyam. Hawa ini sangat berbeda bahkan ia merasa gugup tiba-tiba padahal ia seharusnya takut-kan?
...
__ADS_1
Vote and Like Sayang..