
Langkah kaki jenjang itu begitu tergesa-gesa mencari dimana Dapur Kediaman besar ini. Wajahnya begitu cemas turun dari tangga satu ke tangga lain lalu keluar dari beberapa ruangan yang membuatnya tersesat.
"Dimana?? Dimana Dapurnya?"
Stella begitu frustasi. Ia kembali keluar dari ruangan elektronik ini lalu pergi menuruni lantai ntah yang ke berapa menerima jejak kakinya.
Saat kaki Stella sudah menyenggol Meja yang ada di sudut lantai ini ia langsung jatuh tersungkur ke arah depan tepat ke hadapan kaki seseorang.
Heels pendek berwarna merah dengan pakaian simpel tapi elegan ini sangat Stella kenal.
"M..Mom!" lirih Stella mengadah ke atas. Dan benar saja, wajah cantik wanita dewasa ini terlihat menatapnya datar tapi tampak sendu.
Secepatnya Stella berdiri kembali memeggang lengan Nyonya Clorie yang terlihat hanya diam dengan wajah kosong dan pandangan putus asa.
"M..Mom! Dimana.. Dimana dapurnya?"
Tak ada jawaban dari Nyonya Clorie yang hanya memandang Stella dengan nanar. Hal ini semakin membuat jiwa Stella terasa di ambang batas kekhawatiran.
"M..Mom! Tadi.. Tadi Xavier meminta air. Dia.."
"Ayo Pulang!" ajak Nyonya Clorie beralih mengusap pipi Stella yang tampak sembab. Mata indahnya tersirat luka dan guncangan emosi yang kuat.
"M..Mom! Aku.. Aku butuh air. Aku.."
"Air?" gumam Nyonya Clorie dengan mata berkaca-kaca hingga Stella menyadari sesuatu. Netra biru itu kembali mengembun dengan pandangan terkejut dan juga terlihat terguncang.
"A..Air.."
Stella meremas lengan Nyonya Clorie kuat. Ia mulai sadar akan sesuatu yang tadi tak terlintas di kepalanya.
Xavier tak minum air. Dia tak memakan-makanan manusia.
"M..Mom dia.." Stella menggeleng dengan bibir bergetar menjatuhkan air mata yang kesekian kalinya merembes keluar.
Nyonya Clorie menangkup pipi Stella yang tiba-tiba pucat dan mendingin.
"S..Sudahlah."
"T..Tidak.. V..Vee!!"
Stella langsung berlari kembali menaiki tangga yang tadi ia lalui bergegas kembali ke lantai yang tadi ia tinggalkan. Sesekali ia menabrak beberapa pernik Ruangan tapi Stella tak perduli karna jantungnya sekarang ingin meledak di dalam sana.
"V..Vee.."
"Stellaa!!"
Panggil Nyonya Clorie tak bisa melihat kehancuran Putrinya untuk yang kedua kalinya. Ia mengejar dari belakang sana sesekali menghindari barang-barang yang berjatuhan karna kecerobohan sang Putri.
"V..Vee!!!"
Stella sudah sampai ke lantai tadi hingga matanya yang kabur akan genangan air bening itu menatap Ester yang tengah memunggunginya di balik Pilar.
__ADS_1
Dengan cepat Stella berlari mendekat berharap jika hal yang tadi terlintas di kepalanya tak terjadi sama sekali.
"Eater!"
Lirih Stella menatap ke arah samping Ester. Jantungnya semakin berpacu kala tak lagi melihat Sosok kekar dan tampan itu disana.
Tapi, Stella masih berusaha berpikir positif dengan tubuh lemas dan tangan bergetar memeggang bahu Ester yang menunduk meremas Mantel di tangannya.
"B..Baby! D..daddymu dia.."
Ester hanya diam tetap menunduk tak sanggup menatap wajah hancur Stella yang tersenyum nanar meremas bahu Ester kuat.
"D..Dia masih disini. Dia.. "
"Mom!" lirih Ester kala suara bergetar Stella membuatnya terasa ingin mati.
"V..Veee!!! Vee. Kau..kau diamana?" tanya Stella menyeret kakinya memeriksa beberapa ruangan disini. Air matanya terus mengalir terus mencoba menepis kenyataan yang ada.
"Vee!! Kau dimanaaa?? Jangan bercanda denganku."
"Mom!" lirih Ester mengepal kala melihat Stella masih belum menerima hal ini. Ia masih saja mencari walau hal itu hanya digunakan untuk meredam rasa takut yang kuat dalam jiwanya.
Nyonya Clorie yang sudah sampai di tempat ini langsung mendekati Stella yang masih keluar masuk beberapa ruangan yang sebelumnya sudah ia periksa.
"V..Vee! Kau dimana?? Katakan kau.."
"Stella!" gumam Nyonya Clorie menahan lengan Stella yang ingin menuruni tangga dengan keadaan tubuh selemah ini.
"Jangan seperti ini." lirih Nyonya Clorie menangkup kedua pipi Stella yang seketika menggeleng keras dengan air mata tak lagi tertahan di pelupuk netranya.
"T..Tidak dia.."
"Dia punya jalannya sendiri."
"D..Dia.. Tidak.. Aku. .. Veee!!! Veee kau dimanaa?? Kau dimanaaa??? Hiks!" teriak Stella sejadi-jadinya menatap ke semua sudut tempat ini.
Rasa tak terima itu seketika meruak membuat nafasnya beberapa kali tersendat berharap semua ini hanya Mimpi baginya.
"V..Vee. Hiks!"
"Dia akan selalu bersamamu. Hm?" gumam Nyonya Clorie membawa Stella dalam pelukan hangatnya. Isak tangis itu tak lagi Stella tahan dengan hati dan jiwa yang hancur.
Bayangan dimana wajah tegas itu masih di hadapannya membuat Stella ingin menjerit sejadi-jadinya.
Dengan mata kabur di tutupi embun itu Stella menatap nanar Mantel yang ada di genggaman Ester. Wajahnya kembali berharap banyak akan hal ini.
"I..itu.."
"Stella!"
"I..Itu miliknya. Dia.. Dia pasti bicara sesuatu dia.."
__ADS_1
Stella mendekati Ester yang semakin merasakan dadanya begitu berat sangat menyesakan. Ia membiarkan Stella meraih Mantel terakhir ini dengan nafas sendat dan pendek.
"B..Baby! D..dia pasti bicara padamu-kan? A..apa yang dia katakan? A..apa dia bicara soal aku? Apa.."
"Mom!" lirih Ester masih belum mengangkat kepalanya. Hal ini membuat Stella segera berteriak mengguncang bahu Ester yang tak tahan lagi.
"DIMANA DIAAA??? JANGAN DIAM SAJAA!!"
"Stella! Cukup!" tegas Nyonya Clorie menarik Stella yang melepas cengkramannya ke bahu Ester. Wajahnya terlihat sangat hancur bahkan untuk berbicara saja Stella harus berusaha sekuat mungkin.
"D..Dia.."
"Aku tahu ini berat bagimu. Tapi, ini keputusan Xavier! Dia tak ingin membuatmu dalam bahaya dan.."
"BAHAYA APA LAGI? MOM!!" bentak Stella dengan bibir bergetar meremas Mantel di tangannya. Ester menatap nanar wajah sembab ini mencoba tetap tenang.
"B..Bahaya apa? SELAMA INI DIA TAHU AKU MENGHADAPI HAL YANG LEBIH DARI PADA BAHAYA BAHKAN AKU MENEMPATKAN POSISIKU DI TENGAH-TENGAH KEHANCURAN HIDUPKU TAPI KENAPA BARU SEKARANG?? KENAPA???"
Teriak Stella meluapkan semuanya. Ia meremas dadanya yang begitu sakit menahan gejolak perasaan ini dan sumpah demi apapun ia tak sanggup bertahan.
S..sakit. Aku sangat sakit. Vee! Ini sangat sakit.
Batin Stella menjerit tak bisa meredam luka di hatinya. Rasa takut, gelisah dan tak bisa membayangkan hal buruk ini bisa terjadi membuat Stella tak berpikir panjang.
"A...aku bertanya pa..padanya. Mom! AKU BERTANYA PADANYA. APA YANG BISA KU LAKUKAN?? TAPI.. "
Stella tak lagi mampu bicara. Pandangannya mulai berkunang dengan kepala yang terasa berdenyut kuat.
"V..Vee.."
"Mom!" lirih Ester langsung menyambut tubuh Stella yang nyaris tumbang ke lantai dingin ini. Mata sembab itu sudah tertutup rapat pertanda Stella tak sadarkan diri.
Melihat ini Nyonya Corlie langsung takut. Stella juga pernah hancur saat mengalami pengkhianatan dari Devano mantan kekasihnya dulu, tapi. kehancurannya yang sekarang bahkan berkalilipat lebih menyedihkan.
"A..aku takut dia tak kuat lagi." gumam Nyonya Clorie mengusap pipi pucat Stella kasihan.
Seketika kepalan Ester menguat tak bisa diam saja melihat Mommynya dipermainkan seperti ini.
"Dia harus menjelaskannya!".
" Ini keputusan yang tepat." jawab Nyonya Clorie tahu tentang ini. Tatapan membunuh Ester terlempar padanya seakan meminta jawaban.
"Xavier tak ingin Stella berkorban demi kebangkitannya. Luka di tubuhnya begitu fatal sampai dalam Wujud aslinya dia akan tetap merasakan sakit."
"Apa tak ada cara lain?" tanya Ester sangat ingin melakukan apapun agar Stella tak seperti ini.
"Jika ada. Tak mungkin dia memilih untuk mundur."
.....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1