
Kedua mata biru itu mengigil dengan embun yang selalu turun membasahi pipinya. Netra berair menatap memar merah yang sudah terukir jelas di rahang tegas ini.
Tangan yang tadi dengan berani menampar sekarang turun perlahan meremas selimut yang ada di bawahnya. Tak ada satu kata-pun yang keluar seakan ia terlalu lelah untuk itu.
Tapi, manik abu elang yang tadi tertoleh ke samping dengan keras karna dorongan jemari lentik ini sama sekali tak berkedip menatap wajah sembab Stella yang hanya menunduk.
Jelas Stella merasa takut dengan apa yang baru saja ia lakukan. Bukan takut pada Xavier akan marah tapi ia sadar jika ini terlalu kasar.
Tanpa mengeluarkan satu patah-katapun Stella akhirnya turun dari ranjang. Ia menggendong Baby Ester yang ia peluk erat tanpa mau melepaskannya.
"Kau benar." gumam Stella menahan rasa sesak di dadanya. Ia dengan cepat pergi ke ruang ganti dimana mengambil barang-barang Baby Ester.
Air matanya terus turun tapi Stella tahan dengan satu tangan gemetar mengambil Popok Bayi dan semua kebutuhan Baby Ester. Ia tak memperdulikan barang-barangnya karna yang Stella sadari hanya anaknya.
"I..ini sudah cukup. Hm?" gumam Stella mengecup lama kening Baby Ester yang tampak melempar pandangan dingin ke arah pintu ruangan ini.
Hawanya sangat kelam menghakimi Xavier yang sudah berdiri tegap dibelakang sana menatap lembut Stella yang sudah mengemasi barang-barangnya.
Isakan kecil itu terdengar membuat dada Xavier terasa sangat sakit hingga ia tak bisa mengontrol dirinya sendiri.
"I..ini yang terakhir."
Batin Stella menguatkan dirinya untuk berbalik tak memandang Xavier sama sekali. Ia berjalan agak cepat membawa Tas berukuran sedang cukup menampung pakaian Bayinya.
Namun, kala tubuh Stella ingin melewatinya lengan kekar itu langsung membelitnya erat hingga merapat ke dada bidangnya.
"K..kau..."
"Maaf!" lirih Xavier bersitatap dalam dengan netra biru Stella yang sudah di banjiri cairan bening itu. Bibir Stella bergetar menahan sesak di dadanya menatap Xavier penuh tanda tanya.
"K..Kenapa? Aku.. Aku bisa p..pergi. A..aku.."
"Kau tak bisa kemanapun!"
"A..aku bisa. A..aku bisa hiks." isak Stella menyandarkan kepalanya ke dada bidang Xavier yang langsung memeluk erat dua mahluk berharga dalam hidupnya ini.
"A..aku.. bisa Vee. Hiks! Lepaskan aku!"
"Tidak akan. Kau akan tetap bersamaku." tegas Xavier membuat Stella langsung mendongakkan wajah sembabnya.
"Permainan apa lagi? A..apa yang kau inginkan dariku? Aku.. Aku bisa memberikan darahku padamu. Aku bisa dan.. dan tak apa. Tapi.. Kau.. Kau sisakan sedikit agar aku bisa menghidupi putraku. Aku.."
Xavier segera membungkam ucapan Stella dengan ciuman pengunci darinya. Stella memberontak berusaha mendorong bahu Xavier dengan satu tangan agar Baby Ester tak jatuh dari gendongannya dengan Tas yang ia peggang sudah tergorok ke lantai dingin ini.
"Ehmmm!!!!!"
Geraman Stella sekuat tenaga mendorong dada bidang ini tapi Xavier sudah mendesaknya ke dinding ruangan mengunci pergerakan Stella yang mulai kewalahan.
__ADS_1
Kekuatannya tak sebanding dengan Xavier yang begitu gagah memeggang bagian belakang kepala Stella dengan satu tangan menggenggam paksa tangan Stella yang tadi mendorong dadanya.
Air mata Stella terus turun membuat Xavier tak tahan hingga melepaskan ciumannya tapi kening itu saling menyatu.
"Jangan menangis!"
"Aku benci. Aku membencimu!" lirih Stella yang seketika luruh tak bisa menopang tubuhnya lebih lama. Spontan Xavier langsung mengangkat tubuh Stella ringan kembali keluar mendekati ranjang yang sudah agak berantakan.
"A..aku..per..pergi. Lepass!!" sentak Stella mendorong bahu Xavier agar tak lagi membuatnya merasa ambigu.
"L..Lepaass!!!"
"Kau mau kemana. Ha? Kau tak punya apapun lagi dan.."
"Aku bisa kemanapun! Aku bisa pergi kemanapun bahkan aku bisa mendapatkan apa yang aku mau. Aku .. "
Stella meremas bahu Xavier dengan tatapan terpaut dalam dan terlihat membendung luka.
"Aku bisa menjual diriku sendiri!"
"Stellaa!!!" geram Xavier dengan mata tajam mulai kembali meruak. Hal ini membuat senyum miris Stella terukir masih duduk di tepi ranjang dengan Xavier yang berjongkok di depannya.
"B..Bukankah itu yang kau m..maksud tadi?"
"Stella aku.."
"J..jika aku begitu kotor. Aku sadar diri dan p..pergilah. Kau ingin menikah-kan?" lirih Stella sendu.
"Aku sudah terbiasa sendiri. Aku bisa membesarkan putraku tanpa kau dan.."
"Dengarkan aku!" tegas Xavier beralih menangkup pipi Stella dengan satu tangannya. Ia mengusap cairan bening ini lembut membuat batin Stella semakin tersiksa.
"K..kau.."
"Kita tengah di awasi." bisik Xavier membuat Stella terdiam. Nafasnya masih terdengar sendat dan terputus-putus pertanda keadaanya belum membaik.
"M..Maksudmu kau.."
"Aku merasakannya dan Ester juga. Mereka selalu mengawasi mu dan suasana hubungan kita." jawab Xavier sudah tak lagi merasakan keberadaan Mahluk itu.
Stella menatap kesekelilingnya dan tak ada siapapun selain mereka. Tapi, Stella sadar jika sedari Xavier tak ada Baby Ester selalu tampak gelisah dan menatap tajam di beberapa tempat.
"I..ini.."
"Dengarkan baik-baik dan jangan berfikir yang tidak-tidak. Aku sama sekali tak berniat melakukan ini jika bukan karna mata-mata Kakekku sudah berkeliaran. Sayang!"
Stella tersentak mendengar ucapan Xavier barusan. Ia masih tak percaya jika yang tadi itu hanya sebatas sandiwara padahal rasa sakitnya terasa nyata.
__ADS_1
"T..tidak. Kau.. Kau pasti.."
"Kau tak percaya padaku?" tanya Xavier membuat Stella termenggu menyelami netra abunya dengan sangat dalam. Stella tak menemukan kebohongan apapun disini bahkan Xavier terlihat begitu serius.
"Aku tak memberi tahumu sebelumnya karna saat itu kau sedang marah padaku. Aku tahu kau tak akan mendengarkanku saat kau sudah semarah itu dan kau tak akan percaya jika aku mengatakannya secara spontan."
Mendengar hal ini Stella langsung menggeram. Antara lega tapi juga sangat frustasi karna ia menangis karna hal yang sia-sia dan tak berarti begini.
"Kau memang benar-benar menyebalkan!!!" pekik Stella menepis kasar tangan Xavier yang tadi menyentuh pipinya.
Mendengar suara memekik dan berisik ini tentu saja Xavier lega karna Stella mengerti akan apa yang ia sampaikan.
"Kau pikir ini lelucon. Ha?? Aku.. Aku sampai ingin membunuhmu."
"Benarkah? Kalau begitu aku rela mati ditangan lembut mu. Sayang!" jawab Xavier mengecup lembut tangan Stella yang tadi menepis sentuhannya.
Wajah Stella tak lagi terlihat ingin menangis tapi justru ia menunjukan wajah kesalnya. Alis itu di tekuk dengan bibir mengerucut membuang muka dari Xavier yang mulai menelan gemas.
"Bagaimana pernikahan itu?"
"Yang mana?"
"Sudah berapa banyak wanita yang ingin kau nikahi sampai tak ingat begitu??" ketus Stella menatap tajam Xavier yang berangsur duduk di sampingnya dengan santai membelit pinggang Stella posesif.
"Hanya satu."
"Kauuu.."
"Denganmu!"
Degg..
Jantung Stella seakan terhenti kala mendengar jawaban Xavier barusan. Wajahnya kosong dengan tatapan masih tak menyangka itu dilayangkan ke wajah tegas Tampan Xavier yang seketika menarik dagu Stella mendekat ke wajahnya.
"V...Vee.."
"Aku harus secepatnya mengikatmu erat karna banyak yang mengantri menggantikan aku." desis Xavier kembali menautkan ciuman hangat darinya.
Kali ini Stella tak memberontak. Ia seakan membiarkan Xavier mencumbu lembut bibirnya melepas kerinduan yang beberapa hari ini keduanya pendam.
Rasa bahagia yang datang seakan menjadi ilusi bagi Stella. Ia masih tak menyangka jika Xavier benar-benar akan menikahinya.
"Benarkah itu? Dia serius-kan?"
Batin Stella sangat bergetar membayangkannya. Ia sampai tak sadar jika Baby Ester sudah Xavier pindahkan ke dalam Keranjang bayi sana tanpa memutus tautan bibir mereka.
Ntah bagaimana caranya Stella sudah tak bisa sadar. Ia hanya diam kala Xavier menuntunnya ke atas ranjang yang beberapa hari ini terasa dingin dan hampa bagi Stella.
__ADS_1
.....
Vote and Like Sayang..