YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Terimakasih Untuk Segalanya


__ADS_3

Panorama pemandangan yang betul-betul indah membuat Stella terpaku cukup lama. Ia tak bicara atau menanyakan hal apapun karna matanya sudah menelan habis semua hal yang di anggap aneh tapi juga sangat membuatnya terkesima.


Anehnya ia tengah berdiri di dekat bibir Pantai yang sama seperti di Villa biasa tapi disini perbedaan yang paling menonjol adalah sebuah tempat bersantai di bangun tepat di bawah pepohonan disekitar pantai dengan banyak bunga Gardenia tertanam dimana-mana.


Belum lagi saat Stella menoleh kebelakang matanya di kejutkan dengan Villa yang nyatanya sudah berubah bentuk. Desainnya begitu Klasik dan rapi dimana sangat mirip dengan Mimpinya kala itu.


"I..ini.."


"Ini tempat pertama kau hadir." sela suara bariton lembut mengalun tegas seakan menyatakan hal ini tanpa keraguan.


Stella diam seribu bahasa. Ia merasa asing dengan Pria ini walau Stella ingat saat itu ada yang berjalan di pantai menyapa seorang wanita yang tengah bermain air. Ia tak cukup tahu dan atau mengingat wajahnya kala itu.


"M..Maksudmu apa? Aku tak kenal kau." gumam Stella tapi membuat hati Pria itu tergores. Hanya ada senyum nanar yang terlihat menelan kepahtan.


"Apa kau tak merasakan apapun saat bersamaku?" .


"A..Apanya?" gumam Stella seraya meremas pinggiran Dress yang ia pakai.


Jujur ia merasa pelukan pria ini sangat hangat dan lembut. Ia begitu merindukannya tapi kenapa bisa? Ia tak mau terlalu dekat pada Pria yang tak ia kenal.


"Apa kau tak merasa kita ada kemiripan?" menatap Stella yang ragu-ragu juga memandang ke arahnya.


Hal pertama yang Stella bingkai adalah netra biru ini. Ia lama memandangnya hingga baru sadar jika Pria ini memiliki hawa wajah yang tegas tapi lembut sangat mirip dengan apa yang dulu Mommynya ceritakan.


"K..Kau.."


"Aku.."


"T .tidak. Tidak mungkin." gumam Stella menggeleng. Ia tak mau berharap tentang hal ini. Karna tak percaya lagi Stella berbalik ingin melangkah pergi tapi suara percakapan di Villa sana membuatnya terhenti.


"Temani aku ke Pantai!"


Seorang wanita muda yang terlihat menarik lengan kekar Sosok Pria yang membuat mata Stella terbelalak adalah Wanita itu adalah Mommynya.


Perut yang besar dibaluti Kardigan tebal berjalan melewati Stella seakan ia tak melihat Anak malang ini.


"Ini sudah malam tapi kau mau keluar. Disini dingin."


"Tak apa. Hanya sebentar. Hm?!" kekehnya menarik ke tepi Pantai.


Mata Tuan Arlen meratapi bayangan masa lalu yang masih menjadi kenangan untuknya. Ia punya Dimensi ini untuk melepas rindu yang ia tahan selama bertahun-tahun.


Hanya bisa memutar kenangan lama tanpa bisa masuk kembali ke dalam Momen yang sama.


Begitu juga Stella. Matanya berkaca-kaca saat sudah paham jika Pria yang tengah membelakanginya ini siapa? Perasaan sesak itu memenuhi dadanya yang terasa sangat nyeri.


"Maaf."


Gumaman Tuan Arlen menunduk. Ia merasakan kekecewaan yang Stella alami karna ia datang saat waktu sudah terlampau berlalu.


"Maafkan aku!"


Stella hanya diam. Kedua tangannya terkepal erat tak menyangka jika ia akan bertemu Ayahnya. Sosok yang selama ini baginya adalah mahluk Mitologi tapi sekarang hadir dengan hawa yang asing bagi dirinya.


"Maaf. Aku tak bisa menjagamu dan Mommymu dengan baik. Aku memang tak berguna."


Bibir Stella bergetar. Air matanya turun tapi segera ia usap. Ada rasa marah, kecewa, kerinduan bercampur aduk mengguncang batinnya.


"A..aku membencimu." gumam Stella mengusap air mata yang terus membasahi Pipinya. Ia ingin meluapkan apa yang selama ini menjadi unek-unek hidupnya.


"Kau kemana saat kami di jual oleh Pria bajingan itu?? Kau membuat Mommyku berjuang sendirian sampai mengorbankan dirinya sendiri!!! Aku membencimuu!!! Hiks. Aku benci." Isak Stella membuat Tuan Arlan harus menahan luka di hatinya.


Ia berbalik menatap sendu Stella yang tampak menangis menutupi wajahnya dengan kedua tangan lentik itu.


"S..Stella!"


"Jika..Jika kau ada pasti Mommy tak akan seperti itu! Dia.. Dia tak akan di rendahkan semua orang. Dia.."


"Maaf. Maafkan aku!" lirih Tuan Arlan mendekat tapi tangannya canggung untuk menyentuh Stella.


Dengan nafas sendat dan mata sembab itu Stella memandang kecewa Tuan Arlan yang sungguh lebih baik ia tak datang kesini.


"K..kau pasti melupakan kami-k..kan?"


"Tidak! Aku.. Aku selalu berusaha ingin keluar dari sana tapi aku tak bisa!! Selama bertahun-tahun aku di kurung di sana dan hanya bisa hidup dalam kenangan bersama Mommymu aku sama sekali tak melupakan apapun!! Aku mohon percayalah padaku." pinta Tuan Arlan sangat ingin memeluk Stella.


"S..Stella! Aku tak memintamu menerimaku tapi, b..bisa aku memelukmu?!" imbuhnya sangat tak tahan. Ia begitu merindukan buah dari Cinta tragis mereka.


Tanpa pikir panjang lagi Stella langsung berhambur masuk kedalam pelukan erat dan hangat milik Tuan Arlan yang sempat tersentak tapi ia sangat bahagia.


"D..Daddy. Hiks!"


"Hm? Kau sudah sebesar ini. Maafkan aku!" gumam Tuan Arlan berkecil hati.


Stella menggeleng. dengan mata berair itu mengadah dan sedikit sendat untuk bicara.


"D..Dad! Daddy tak akan pergi lagi-kan?" Stella terlihat begitu takut dan tak rela.

__ADS_1


"Memangnya kenapa?" tanya Tuan Arlan mengusap air mata di pipi Stella yang kembali memeluknya dengan sangat erat.


"M..Mommy! Mommy sangat merindukanmu." gumam Stella sangat ingin Nyonya Clorie bahagia.


Seketika wajah Tuan Arlan kembali kosong. Tangannya mengusap canggung kepala Stella dengan dada terasa bergetar.


"Temui Mommy. Aku Mohon."


"Hm. Jangan memohon padaku." gumam Tuan Arlan mengeratkan pelukannya pada Stella.


Baru kali ini ia merasakan bahagia kala bertemu dengan Darah dagingnya yang nyatanya sangat cantik dan menggemaskan.


"Kau sangat mirip dengan Mommy-mu. Stella! Ntah bagaimana kabarnya aku tak berani menemuinya."


Batin Tuan Arlan yang sejujurnya sangat merasa bersalah dengan Nyonya Clorie. Wanita itu susah banyak menderita hanya karna ketidak berdayanya.


Tahu akan kecemasan yang terpendam itu. Stella segera menarik diri dari Tuan Arlan yang tak mau melepaskan pelukan mereka.


"Biarkan seperti ini dulu! Aku sangat merindukanmu."


"Bukan aku. Dad! Tapi, Mommy! Dia pasti sangat senang saat bertemu denganmu."


"T..tapi.."


Stella menggeleng tak menerima bantahan. Ia melihat semua Dimensi kenangan ini dimana hanya kekosongan dan ruang hampa saja.


"Jangan takut. Mommy tak akan marah."


"B..Benarkah?" gumam Tuan Arlan agak ragu. Pasalnya mereka sudah tidak bertemu selama belasan tahun dan mustahil bisa kembali seperti dulu.


Melihat harapan dan permohonan di manik biru Stella memberikan keberanian padanya, Tuan Arlan jadi merasa sedikit percaya diri.


"Dad?"


"Baiklah!" dengan hembusan nafas berat pertanda cukup gugup.


Senyum Stella mengembang membuat Tuan Arlan segera mengibaskan tangannya hingga hembusan angin ini perlahan mengubah kondisi.


Nyatanya mereka sudah berdiri di Pantai Villa yang kembali sama seperti biasanya. Mentari Jingga mulai kembali terlihat dengan panorama asri dan Moderen dari Villa ini.


"Ayo. Dad! Mommy pasti sudah pulang." ajak Stella menarik lengan kekar Tuan Arlan untuk ke arah Villa tapi suara seseorang terdengar khawatir ke arah sini.


"Stellaa!! Stellaa kau dimana?? Nak!!"


"Itu.. Itu. Mommy!!" sorak Stella seperti anak kecil yang mempertemukan Ayah dan Ibunya. Tuan Arlen semakin tak karuan kala melihat samar dari kejahuan sosok itu sudah berjalan kemari.


Stella melambaikan tangannya dan spontan Tuan Arlan berbalik kembali memandangi luasnya lautan ini.


"Ya. Tuhan!!" cemas Nyonya Clorie kala Stella berdiri dengan seru angin Pantai sederas ini dengan Dress sependek itu.


Ia segera melepas Mantel hangat di tubuhnya lalu berjalan ke arah Stella seraya melepaskan Heels yang ia pakai lalu membuangnya ke sembarang arah untuk memijaki pasir lembut ini.


"Jangan disini dengan pakaian setipis itu. Kau tak lihat anginnya dingin seperti ini. Ha?!" omel Nyonya Clorie untuk sesaat tak sadar jika Pria yang Stella peggang tangannya itu bukanlah Xavier.


Ia membalutkan Mantel itu ke tubuh Stella yang tersenyum bebas beralih memeluk tubuhnya.


"Mom!"


"Ayo ke Villa. Kau belum makan. Bukan?" tanya Nyonya Clorie tapi segera melipat dahi kala mata Stella sedikit sembab dan hidungnya juga merah.


"Kau menangis?"


"Mom! Aku.."


"Siapa lagi yang mengusikmu. Ha?? Apa mereka memang tak ada habis-habisnya??!" umpat Nyonya Clorie terdengar emosi.


Tuan Arlan diam membisu seakan ia hanya menikmati alunan tegas dan meninggi penuh amarah itu untuk saat ini.


"Mom!"


"Apa Xavier tak bisa menyelesaikannya? Apa dia.."


"Mom! Bukan itu." decah Stella mencoba menenagkan Nyonya Clorie yang tadi sangat khawatir jika sampai Stella di permalukan lagi.


Namun. Saat diam begini ia merasakan hawa keberadaan seseorang yang membuat matanya tertarik untuk menatap Visual Pria yang membelakanginya ini.


"B..Bukan Xavier?!"


Batinnya terpaku dalam tak berkedip sama sekali. Ntah kenapa tiba-tiba jantungnya berdebar kencang dengan perasaan yang begitu sesak tapi ntah kenapa.


Melihat Mommynya mulai terkurung dalam dunianya sendiri Stella tersenyum kecil. Ia perlahan menarik diri dari tengah-tengah Mahluk ini lalu berjalan perlahan ke belakang Nyonya Clorie.


Sebelum pergi. Stella berbisik ke telinga Nyonya Clorie yang seketika meneggang.


"Daddy sudah datang!" bisik Stella lalu berlari pergi ke arah Villa meninggalkan Nyonya Clorie dan Tuan Arlen yang sontak berbalik menatap kepergiannya yang seperti anak kecil melepas Heelsnya yang menghambat langkah cepat itu.


"Bersenang-senanglaah!!!" teriak Stella di depan sana sesekali mau terjatuh tapi tak jadi dan memberi cengiran kudanya.

__ADS_1


"Dia memang sangat ceroboh." gumam Nyonya Clorie menggeleng melihat Stella begitu tergesa-gesa.


Namun. Ia segera membuang muka ke arah lain kala ia melihat bayangan Tuan Arlan dari ekor matanya.


Tak ada pembicaraan apapun selain keheningan. Nyonya Clorie menahan air matanya dan bersikap selayaknya orang asing. Ia sudah tak terbiasa dan hanya menahan diri seberapa lama kekuatannya bisa.


1 menit menjelang 3 menit mereka masih tahan berdiam diri. Tapi, dalam menit ke 4 keduanya mulai gelisah dan hanya mengandalkan seruan angin.


"K..kau apa kabar?" tanya Tuan Arlan mengusap tengkuknya hanya mencuri pandang pada wajah cantik Nyonya Clorie yang tak berubah sama sekali. Wanita ini masih membuatnya selalu betah untuk memandang lebih lama.


"Baik!" tegas Nyonya Clorie juga tak tahu cara menanggapinya bagaimana? Matanya hanya bisa membendung embun luka itu untuk beberapa saat.


Namun. Sedetik kemudian keduanya sudah mulai tak tahan hingga kembali berhadapan dengan berani.


"Maafkan aku!!" Kalimat yang sama terucap secara beriringan. Seketika Nyonya Clorie langsung meneteskan air matanya melihat kembali wajah yang ia kira dulu mengkhianatinya.


"Maafkan aku! Aku pikir kau menjadi bajingan saat itu. Aku tak tahu jika kau ternyata di kurung di sana dan aku.." .


"Tidak. Kau pantas berpikir seperti itu karna aku tak pernah menjelaskan apapun padamu." gumam Tuan Arlen terlihat sangat menyesal. Ia langsung memeluk Nyonya Clorie yang juga tak lagi membendung isakannya.


Baru kali ini ia terlihat kembali merasa hidup dalam dunianya sendiri padahal sebelumnya ia hanya mengurus Dunia Putrinya.


Tentu hal itu di lihat oleh netra biru berair Stella yang tadi bersembunyi di balik Pohon agak jauh dari Pantai tapi masih bisa melihat dari sini.


Ia membiarkan kedua lengan kekar seseorang membelit perutnya dengan suara nafas stabil namun sangat khas.


"Kau senang. Hm?"


Stella mengulum senyum mengusap air matanya lalu berbalik menatap wajah tampan Xavier. Satu kecupan penuh tekanan Stella layangkan ke bibirnya lalu di susul kecupan kedua jatuh ke dagu Xavier.


"Terimakasih!" gumam Stella bergetar dengan mata begitu merasa bahagia hari ini.


"Untuk?"


"Terimakasih karna kau sudah memperbaiki hidupku."


Gumam Stella tak memutus kontak matanya dengan Xavier yang tak mau mendengar kalimat terimakasih itu lagi.


"Aku bosan mendengarnya."


"V..Vee! Aku serius. Kalau bukan karna kau pasti aku sudah.."


"Cuaca ini sangat segar. Sangat cocok untuk bergulat." sela Xavier mencari pembahasan lain. Sontak Stella langsung menipiskan bibirnya tahu jika Xavier tak suka dengan ucapannya barusan.


"Aku semakin mencintaimu."


"Harus. Itu WAJIB. Sayang!" desis Xavier menarik pinggang Stella merapat ke arahnya. Stella tersenyum mengalungkan kedua tangannya ke leher Xavier berniat untuk menautkan ciuman.


Tapi. Saat Xavier sudah ingin melahap bibirnya tiba-tiba saja Stella melepaskan diri dari belitan Xavier yang mengumpat kasar.


"Baby!" gumam Stella melihat Ester yang terlihat tengah melenturkan lengannya dengan raut wajah seperti menahan sakit.


Ia langsung melangkah kedekat Villa dimana beberapa penjaga sudah bekerja di Kebun Bunga belakang.


"Baby! Tanganmu kenapa?" cemas Stella melihat tangan Ester merah.


"Tadi aku mau membuatkan Kopi untukmu tapi airnya tumpah."


"Ya, Tuhan! Tanganmu sampai melepuh seperti ini." cemas Stella meniup lembut tangan Ester yang terlihat merah.


Seringaian Ester muncul menatap penuh kemenagan pada Xavier yang sudah tahu taktik busuk Tikus ini.


"Ayo. Mommy bantu oleskan Salepnya."


"Di tiup saja. Mom! Ini akan sembuh." gumam Ester pura-pura sakit padahal itu ia lakukan hanya untuk membuat amarah Daddynya semakin meluap-luap.


Melihat Stella yang hampir mencium tangan Ester membuat bara api di dada Xavier langsung terguncang. Ia segera mendekat lalu mengigit lengannya sendiri sampai berdarah.


"Sayang!" panggil Xavier dengan tegas dan wajah yang selalu datar itu tengah berusaha mencari perhatiannya.


"Vee! Tolong ambilkan aku.."


"Kau tak perduli padaku?" tanya Xavier kesal membuat Stella menoleh. Ia terkejut melihat darah itu sudah bercecer dari lengan kekar ini.


"Kau.."


"Lenganku juga sakit." sambar Xavier menatap tegas Ester yang juga memberikan wajah penuh peperangan.


"Tanganku juga!"


"Cih. Kau pikir aku tak tahu akal busukmu. Ha??"


"Kau yang kekanak-kanakan. Mommy berpisah saja darinya. Mom!!!" decah Ester membuat darah Xavier mendidih hingga keduanya langung adu kekuatan.


Stella seketika pusing memijat pelipisnya memilih untuk masuk ke Villa meninggalkan Ayah dan Anak yang selalu seperti anak kecil ketika di hadapannya.


"Semoga saja nanti aku hamil anak perempuan." gumam Stella berharap jika ia hamil anak perempuan maka setidaknya kasih sayang dua Pejantan itu bisa terbagi.

__ADS_1


TAMAT....


Besok Sinopsis Cerita baru ya say.. ☺


__ADS_2