YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Bukan manusia!


__ADS_3

Sudah sedari tadi Tofer menunggu di depan Gedung besar ini. Ia tak melihat keberadaan Stella maupun anak-anak yang lain.


Pikiran Tofer hanya menganggap jika ini masih jam sekolah dan mungkin mereka masih ada di kelas. Pikirnya begitu.


Tapi. Jelas Tofer merasakan hawa panas yang ada di sekitar Sekolah ini. Bukan dari kekuatan Masternya tetapi Tofer yakin kekuatan ini sangat besar.


"Apa Nona masih di dalam?"


Gumam Tofer mengirim pesan pada Zion. Tak lama ia menunggu seraya berdiri di depan Mobil tiba-tiba saja Zion datang dari pintu depan dengan wajah kurang mengerti.


"Tofer!"


"Apa Nona masih di dalam?"


"Dia sudah keluar dari tadi." jawab Zion yang memang tak lagi melihat Stella. Keduanya terdiam sesaat lalu segera sadar jika hal ini sangat aneh.


"Periksa ke seluruh Sekolah! Aku akan laporkan pada Master!"


"Baik!"


Jawab Tofer ikut berpencar bersama para Pengawal yang tadi ada di luar. Ia berlari mengelilingi lingkungan luar dan setengahnya masuk ke dalam Gedung.


Melihat hal itu Zion langsung mengumpat. Ia tak yakin Stella baik-baik saja tapi justru pikirannya itu harus ia singkirkan.


"Aku rasa Master akan marah." gumam Zion segera berlari kembali masuk ke dalam Gedung.


Ia menaiki tangga menuju lantai dimana ruangan khusus bagi Xavier yang tampak masih sunyi seperti tadi.


"Masteer!!"


Zion masuk dengan wajah tegang melihat ke seluruh penjuru ruangan. Kemana sosok yang tadi berdiri di dekat Sofa? Apa dia ke kamar mandi?


Zion pergi ke Kamar mandi. Setelah mengetuk-pun tak ada orang lain. Tak mau berfikir yang tidak-tidak akhirnya Zion menelfon.


"Siaall! Master kemana? Apa terjadi sesuatu?"


Gumam Zion tak mengerti saat panggilan ini tak aktif sama sekali. Ia mencoba berulang kali tapi tetap sama.


Tak lama setelahnya Tofer juga masuk dengan wajah yang sama. Dengan sekali tatap saja keduanya sudah tahu jawaban apa yang di dapat.


"Semoga saja mereka baik-baik saja."


"Tapi. Apa kau yakin Master mencari Nona Stella?" tanya Tofer masih cemas. Mendengar itu Zion menghela nafas dalam.

__ADS_1


"Aku tahu bagaimana Master. Dia tak akan membiarkan siapapun menyakiti Stella."


"Aku harap begitu." gumam Tofer menghela nafas dalam. Sekarang yang bisa mereka lakukan hanya menunggu.


...........


Di tempat yang berbeda. Sebuah rumah tua yang tampak sudah di makan oleh akar kayu-kayu besar yang bahkan sudah bagai hama menempel pada dinding Kayu rapuh bangunan seperti Gubuk pedalaman ini.


Langit tiba-tiba saja berubah menjadi gelap dengan bayang-bayang mentari yang nyaris tenggelam oleh rimbunnya Pohon-pohon disini.


Ada dua sosok pria berkepala plontos dengan wajah pucat dan lingkaran mata hitam tampak jelas. Wajah dingin keduanya tengah menghadap pada sesosok wanita yang sudah mereka bawa ke tempat sejauh ini untuk memastikan sesuatu.


"S..Siapa?"


Tanya Stella gemetar berusaha bergerak di tengah kekakuan. Tubuhnya tiba-tiba tak bisa bergerak dan hanya bisa bersandar di depan pintu kayu yang di makan rayap ini.


Dari hawa panas dan tak bersahabat dua Manusia ini. Stella sangat yakin jika mereka pasti bagian dari Ras Xavier dan menginginkan Bayinya.


"L..lepaskan aku.. Kalian.. Kalian tak bisa menyentuhku." gugup Stella karna ia tak punya apapun untuk melawan dua pria berbadan kekar ini.


Tak ada sahutan dari mereka berdua. Hanya wajah datar tapi tatapan saling bersahutan.


"Apa kau manusia?"


Melihat kebisuan Stella. Connor langsung menatap Eliem yang mengangguk kembali memandang Stella dengan tatapan yang sama.


Namun. Sedetik kemudian mereka langsung berubah dengan kepala yang mengembung nyaris mengeluarkan mata merah yang sudah sebesar Bola Kasti.


Melihat hal itu jeritan Stella tak bisa di hiraukan. Kakinya terasa dingin dan beku tak bisa menahan rasa takut akan penampakan mengerikan di depan matanya.


"P..Pergiii!!! Pergiii!!"


Teriak Stella ingin menutup matanya tapi tak bisa. Ia seakan di paksa untuk melihat ini dan jantung Stella semakin berpacu kala kepala yang tadi semakin membesar seketika meledakan cairan kental berwarna hitam yang menjiprat ke tubuh Stella.


Cairan yang sangat panas seperti lelehan Larva gunung yang membakar kulit wanita itu dengan sangat mengerikan.


"P..Panaaas!! Panaaas hiks." jerit Stella merasakan sakit yang luar biasa. Cairan pekat ini berbau sangat amis dan juga merekat kuat ke kulit Stella seakan menghisap darahnya.


Mata Stella sudah berair kala melihat Dua pria tadi sudah kembali menunjukan wujud aslinya Tentakel-tentakel Gurita mulai terlihat di sela Jas yang mereka pakai dengan kepala juga berubah menjadi binatang laut menyermkan.


"Kau memilikinya!" desis mereka dengan suara sangat mendengung dan mengerikan. Stella sangat takut dan memberontak kala Tentakel berlendir dari tangan Eliem meraih kakinya dan menjalar ke arah perut.


Sumpah demi apapun Stella sangat takut bahkan ia hanya bisa menjerit tapi suaranya sudah mulai parau karna cairan hitam itu seakan menjalar sampai mencekik leher Stella.

__ADS_1


"T..tolongg!!" geraman Stella pucat kala tak bisa bernafas. Bukannya kasihan melihat hal itu keduanya malah semakin menjadi-jadi.


Hawa tubuh Stella mulai terasa dingin setelah panas yang membakar habis tubuhnya tadi membuat kulit putih Stella merah dan bahkan memar.


"V..Veee.." lirih Stella terbata-bata. Hanya nama itu yang sekarang terlintas di kepalanya dan ia tak punya tenaga lagi untuk bertahan.


Lama kelamaan pandangan Stella mulai gelap. Dadanya panas karna tak mendapat pasokan udara dan semuanya terasa lenyap dan sangat sakit.


Untuk sesaat Stella hanya bisa menangis. Suaranya tak lagi bisa keluar karna sungguh rasanya sangat sakit.


"A..apa aku akan mati sekarang?"


Batin Stella melihat perutnya yang di belit oleh Tentakel berlendir ini. Ia merasakan energinya di serap dan membuat kesadaran Stella langsung berangsur hilang.


Melihat Stella sudah tak sadarkan diri. Connor dan Eliem langsung berniat melepaskan Tentakel mereka karna ingin membunuh wanita ini.


Tapi tunggu. Connor dan Eliem saling pandang kala tiba-tiba mereka tak bisa melepaskannya dari perut Stella.


"I..ini.."


Keduanya memucat. Langit gelap di atas sana semakin menghitam tak ada lagi cahaya yang menerangi lingkungan Hutan. Angin mulai berputar sangat kencang bahkan membuat pepohonan di samping mereka terpental jauh ke belakang.


Connor diam masih dengan ketenagan. Ia dan Eliem saling pandang karna merasakan kekuatan begitu Dahsyat dari arah tubuh wanita ini.


"Dia bukan manusia!"


"Kita harus cepat memberi tahu. Yang Mulia!"


Percakapan keduanya yang kembali ingin menarik diri. Namun, lagi-lagi hal yang sama terjadi. Mereka tak bisa melepaskan Tentakel ini dari perut Stella yang bisa mereka lihat dari mata merah menyala itu.


Lama-kelamaan Connor mulai merasakan energi yang ia serap dari tubuh Stella tadi kembali di serap oleh kekuatan ini.


"Dia menyerap energinya kembalii!!"


"Tak hanya itu. Dia juga menyerap jiwaku."


Batin Eliem menahan energi tubuhnya agar tak ikut terserap dengan fatal. Sekuat apapun mereka berusaha, tetap saja tak bisa mencegah hal buruk terjadi.


Cairan hitam yang tadi melekat di tubuh Stella langsung masuk ke sela pori-pori kulit wanita itu dan lenyap begitu saja. Rasa sakit yang semula Stella alami kini beralih menggerogoti tubuh Eliem dan Connor yang mengkerahkan seluruh tenaganya untuk melepaskan diri.


Kekuatan mereka memang sangat besar hingga dengan pilihan rumit karna tak mau mati sia-sia. Connor dan Eliem langsung memotong setengah Tentakel mereka lalu pergi dengan tubuh menahan sebuah serangan kuat dari arah luar menuju titik jiwa.


Ada sesuatu yang membantu agar mereka tak bisa mengeluarkan kekuatan sepenuhnya dan hanya berusaha begitu saja.

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2