
Pusaran gelombang air sana masih menarik Mahluk-mahluk di atasnya untuk masuk kedalam area yang sudah di kelilingi para penghuni Lautan yang masih membatasi area Pantai.
Mereka seakan bersorak riuh kala melihat energi besar dari pasukan Arthas itu terserap habis masuk ke dalam perut Stella yang mulai tak mampu menahan energi yang melewati jiwanya.
Alhasil. Karna melihat perut Stella sudah lebih dari cukup untuk siap melahirkan, Xavier segera memutus aliran energi itu dengan meletakan telapak tangannya di atas perut Stella hingga lingkaran hitam yang tadi tercipta perlahan menutup.
"Master!!! Berikan mereka pada kamii!!!"
Bawahan Xavier yang berterbangan ingin mengurung Jiwa-jiwa Arthas ini ke dalam lautan tempat mereka dibenamkan.
Satu bola mata hitam sebelah kanan milik Xavier berubah merah senada dengan mata kirinya. Telapak tangan membayang tulang belulang itu dengan cepat menghantam gelombang air laut yang mengelilingi mereka hingga pusaran air itu menghisap sisa energi yang tadi Stella lepaskan.
Alhasil semua Mahluk yang tadi ingin menyerang Stella di bawa masuk ke lautan hitam pekat dengan rembulan berubah merah darah.
"Stellaaaa!!!"
Teriakan Nyonya Clorie kala melihat rupa mengerikan Xavier yang begitu menakutkan. Taring tajam dan mata merah menyala itu membuatnya terus melakukan pemberontakan.
"Lepaskan putrikuuuu!!! Lepaskan diaa!!!"
"Nyonya! tenanglah." gumam Efika tak berani melihat ke arah pantai. Ia tetap menunduk berjongkok ke lantai di bawahnya karna seumur-umur ia tak pernah punya keberanian melihat wujud Masternya.
Di pasir abu sana. Stella mulai bereaksi dengan rasa sakit yang tiba-tiba mencengkram area perut dan bagian intinya. Keringat dingin itu keluar dengan tangan mulai mencengkram pinggiran Dress rajut itu.
"E..Emm!" geraman Stella memucat tanpa membuka matanya. Hal itu membuat Xavier segera merubah kembali Wujudnya seperti Manusia menawan seperti biasa lalu berjongkok di dekat Stella.
"S..Sakitt!!"
Desisan Stella terdengar lirih. Tangan kekar Xavier masuk ke sela Dress hamil wanita itu meraba perut Stella yang memberi pergerakan. Hal itu sangat di mengerti oleh Xavier yang memang sudah tahu ini akan terjadi.
"S..Sakiiitt!!!"
"Bertahanlah!" gumam Xavier dengan cepat menggendong ringan Stella yang mengerang sakit di sekujur tubuhnya.
Prosesi lahiran ini akan membutuhkan tenaga dan energi Stella tak di gunakan sama sekali saat penyerapan jiwa tadi. Xavier tak membiarkan tubuh Stella menerima dampak besar yang akan menganggu persalinan.
Melihat kedatangan Masternya para penjaga yang tadi bersujud segera berdiri tegap melawan deru angin yang masih belum reda.
"Master!"
"Tetap jaga disini!" titah Xavier masuk ke area Villa dimana Kakek Le-Yang membawakan selimut untuk Nonanya.
"Master! Apa yang harus kami lakukan?"
"Air hangat dan handuk!" jawab Xavier datar masuk ke Villa membawa Stella untuk kembali ke dalam kamar. Kedatangan nya bisa di lihat Nyonya Clorie yang tiba-tiba sudah bisa bergerak mendekati Xavier dengan wajah marah dan cemas melihat Stella sudah pucat pasih.
"Kau..kau apakan putriku?? Apa yang terjadi padanyaa??"
Xavier hanya diam menapaki tangga atas menuju lantai kamarnya. Nyonya Clorie tak tinggal diam menyela langkah Xavier yang mengeraskan wajah kala Stella sudah meremas dadanya menahan sakit.
"Apa yang kau lakukan pada Putrikuu??"
"DIA AKAN MELAHIRKAN!" tekan Xavier menarik keterkejutan Nyonya Clorie yang spontan melihat perut Stella.
Matanya melebar melihat perut yang tadi tak sebesar ini tiba-tiba berubah cukup derastis.
"I..ini.."
"Veeee!!!" jerit Stella mengejutkan Nyonya Clorie karna tiba-tiba saja ada darah yang menyembur ke luar dari sela paha Stella.
Hal itu membuat Xavier kelut dengan cepat membawa Stella masuk ke dalam kamar. Ia membaringkan Stella ke atas ranjang besar ini lalu beralih menatap membunuh Nyonya Clorie yang masih mematung di depan pintu.
"APA YANG KAU TUNGGU. HA??"
__ADS_1
Geram Xavier karna ia juga tak bisa mengelakkan prosesi ini. Bayi itu memiliki Genetika Stella yang manusia. Ia tak bisa mencari jalan lain untuk mengeluarkannya karna memang seharunya Stella harus melahirkan secara normal.
"Walaupun aku bukan manusia tetapi Stella sama sepertimu! Mahluk itu juga memiliki separuh dari kami berdua. Kau tahu caranya melahirkan, bukan?"
"T..tapi.."
"LAKUKAN SEKARANG!" tekan Xavier tak bisa melihat Stella menahan sakit yang begitu luar biasa ini. Jika ia bisa menggantikannya pasti Xavier sudah lakukan sejak lama.
Melihat wajah Stella semakin pucat dan terus di banjiri keringat dingin itu mendorong keberanian Nyonya Clorie untuk membantu Putrinya.
Kedua tangannya gemetar kala melihat darah terus mengalir di sela paha Stella yang terus mencengkram lengan kekar Xavier yang tak pernah mengira jika prosesi melahirkan manusia memang sangat menyakitkan.
"D..dia pendarahan. Kau.. Kau sadarkan dulu dia."
"Jika tak sadar mungkin rasa sakitnya akan berkurang." pikir Xavier tak mau menyadarkan Stella yang menahan sakit dari alam bawah sadarnya.
Nyonya Clorir mengambil nafas dalam. Wajah tanpa exspresi itu menyimpan rasa cemas Xavier yang tampak cukup tertekan akan erangan sakit Stella membuat pikirannya tertegun.
Apa yang sebenarnya pria ini rencanakan? di suatu sisi dia selalu menjaga Stella tapi di sisi lain raut wajahnya sama sekali tak bisa di tebak.
Namun. Nyonya Clorie menggelengkan kepala cepat tak mau berpikir hal yang seperti ini. Ia harus membantu Stella lebih dulu.
"Kau sadarkan dia secepatnya!"
"Kau yakin dia tak akan sakit lagi?" tanya Xavier serius dengan intonasi mengancam nyawa. Wajah Nyonya Clorie seketika berubah menghakimi Xavier.
"Yang namanya melahirkan pasti sakit! Kau tak masuk akal."
"Tapi, dengan begini dia bisa menahan lebih lama." jawab Xavier padahal sejujurnya ia tak mau melihat mata biru ini sampai berair dengan tatapan penuh kesakitan yang di layangkan padanya.
Xavier hanya bersembunyi di balik kata-kata dingin dan raut wajah datar tapi menyimpan kekhawatiran besar terhadap Stella.
"Cepat sadarkan dia!! Jika terus begini Stella tak akan bisa mengejan!"
"Hm."
Tak lama setelahnya mata sayu Stella mulai terbuka. Deru nafas memburu dengan keringat dingin selalu keluar nyaris membanjiri lehernya.
"V..Vee!" Stella meremas perutnya yang terasa di cengkram kuat. Cairan merah hangat itu keluar beriringan dengan air agak keruh yang membuat Nyonya Clorie gugup.
Demi putri dan cucuku.
Dorongan keberanian Nyonya Clorie memuncak. Ia melepas daleman Stella yang sudah basah karna darah dan air hingga jalan lahir di bawah sini nyatanya sudah terbuka normal.
Berarti pada saat di pantai tadi Kontraksi itu sudah terjadi selama proses penyerapan yang di lakukan bayi ini.
"V..Vee s..sakitt.. Sakiitt hiiks. Sakitt!" keluh Stella tak pernah merasakan sakit sekuat ini. Pinggangnya seakan terlepas dengan tulang-tulang yang di tarik paksa keluar dari tubuhnya.
Melihat air mata Stella sampai keluar, jantung Xavier terasa di remas-remas. Jujur ia takut melihat ini tapi kalau bukan karna keadaan yang mendesak ia tak akan memaksakan bayi itu berkembang terlalu pesat.
"V..Vee!!"
"Hey! Tenanglah, ini hanya sebentar. Hm?" bisik Xavier mengusap kening Stella yang mencengkram kuat lengannya. Kuku-kuku wanita itu menekan dengan kuat sampai membuat goresan dalam.
Tapi, Xavier tak perduli. Yang ia tahu sekarang bagaimana caranya Stella tetap aman dan tak merasakan ini terlalu lama.
"Stella! Tarik nafas mu perlahan lalu hembuskan. Sesuai dengan hitunganku kau harus mengejan. Mengerti?"
"M..Mommy.. Aku.."
"Dia tak bisa melewati batasnya. ini proses melahirkan yang tak bisa di bantu oleh Mahluk di samping mu itu." ucap Nyonya Clorie menyelipkan nada ketus tapi Xavier tak mendengarkannya.
Tahu jika ia akan segera melahirkan Stella menatap wajah datar Xavier yang tampak juga memandangnya dalam. Deru nafas Stella yang tak stabil membuat Xavier sangat kusut dan emosi.
__ADS_1
"Jika kau tak kuat jangan di paksakan." lirih Xavier tapi tegas. Ia berani mengambil konsekuensi apapun karna yang terpenting sekarang itu adalah Stella. Ia tak akan membahayakan Stella dengan kelahiran anak itu.
Melihat Xavier yang tampak menahan nafas Stella diam untuk sesaat mencoba mengumpulkan tenaga. Rasa sakit ini memang begitu kuat tapi energi di tubuhnya masih bisa di dorong keluar.
"Mom!"
"Kau siap?"
Stella mengangguk mengambil nafas dalam. Satu tangannya beralih menggenggam tangan kekar Xavier yang tak mengalihkan pandangan dari wajah putih ini.
"Tarik nafas mu dan rileks. Ini akan mudah jika kau kuat. Mengerti?"
"I..iya." jawab Stella takut-takut karna ini pertama kali ia lakukan. Begitu juga Xavier, nyatanya menemani wanita melahirkan itu sangat menakutkan dari pada menjalani Hukuman Pedang petir.
Nyonya Clorie mulai menghitung. Ia membuka lebar paha Stella agar cukup untuk memudahkan bayi itu untuk lahir.
"Sekaraang!!"
Stella langsung mengejan sekuat tenaganya dengan cengkraman tangan terus menguat. Nafas terengah kala tenaga terkuras sangat banyak tapi lagi-lagi ia enggan berhenti.
"Emmmm Veee!!!!" jerit Stella melengking hebat membuat deru angin langsung masuk ke kamar ini. Tirai-tirai berterbangan dengan suasana malam semakin pekat.
Xavier melihat tangan Nyonya Clorie sudah berlumuran darah dan aroma darah murni Stella akan memancing kedatangan banyak Mahluk lain yang berniat jahat.
"S..Ssaakittt hiks. Mommy!!!!"
"Tarik nafasmu dan kembali mengejan. Stella!!" ucap Nyonya Clorie juga berkeringat dingin. Ia hanya mengandalkan pengalaman karna cukup paham dalam proses melahirkan ini. Dulu ia juga mengeluarkan Stella sendiri karna tak ada yang mau membantunya.
Nafas Stella semakin terputus-putus. Matanya mulai susah dibuka membuat Xavier seakan di cambuk dengan sangat kuat.
"Jangan pejamkan matamu. Tetap buka!"
"A..aku.. Aku.."
Stella merasa sudah tak kuat. Tungkainya mengigil dan energi itu sangat terkuras. Begitu juga Nyonya Clorie, tak ia sangka proses melahirkan Stella akan sesusah ini. Walau memang ia akui ini sangat menguras tenaga tapi seharusnya darah yang Stella keluarkan tak sebanyak ini hingga berakibat fatal pada dirinya sendiri.
"Ini akan membutuhkan waktu dan tenaga!"
"Berapa lama?" tanya Xavier mengusap pipi Stella dengan lembut. Ia akan mengkerahkan seluruh anggotanya untuk melindungi area Villa karna akan banyak yang datang kesini.
Namun. Sedetik kemudian Xavier merasakan ada yang ingin berkunjung ke area Villanya. Ini salah satu hawa yang dimiliki Keluarga Elbrano.
"Masteeer!!"
Suara dari luar tiba-tiba membuat Xavier terdiam. Itu adalah Zion yang pasti punya kabar yang akan membuat keadaan terlalu rumit di jelaskan.
"Pergilah! Aku akan mengurus Stella!"
"Aku tetap disini." tegas Xavier tak mau beranjak. Stella yang tahu jika keadaan tengah tak kondusif melepas genggamannya dari tangan Xavier.
"V..Vee.." serak Stella lemah. Ia meyakinkan Xavier dari tatapan lembutnya jika ini akan segera berakhir.
"Aku tak bisa meninggalkanmu!"
"T.. Tak apa. Aku akan mengeluarkan a..anak kita." jawab Stella berusaha menahan. Alhasil Xavier bangkit tapi masih dengan berat hati beranjak dari tepi ranjang lalu keluar dari ruangan.
Zion yang tampak sangat cemas-pun mendekat melihat wajah dingin Masternya.
"Master! Ini buruk."
"Katakan!" titah Xavier sudah merasakannya sejak awal.
"Nyonya besar Margretta dan Tuan Atticus memasuki wilayah Villa! Mereka datang dengan jalan pembuka dari Yang Mulia Lucius."
__ADS_1
.....
Vote and Like Sayang..