
"Veee!!!"
Teriakan itu spontan keluar dengan mata terbuka lebar dan keringat dingin membanjiri tubuhnya. Nafas Stella menderu hebat menatap ke sekelilingnya tak ada orang sama sekali membuat Stella mulai panik.
Ia takut jika ini kondisi yang sama dan belum berubah sama sekali.
"Veee!!!"
Teriak Stella sejadi-jadinya tak mau disini. Suara keras itu membuat pintu kamar terbuka memperlihatkan Xavier yang tampak masih setia dengan wajah datarnya.
Stella segera turun dari ranjang dan berhambur memeluk tubuh kekar itu dengan jantung berdegup kencang dapat terasa oleh Xavier.
"Vee!"
"Tenanglah!" bisik Xavier mengusap punggung Stella lalu menggendong tubuh langsing itu ringan kembali ke arah ranjang.
Stella tak mau melepas pelukannya ke leher Xavier yang mendudukkannya di atas ranjang. Rasa takut Stella yang tadi menyeruk semakin menjadi-jadi kala rasa tangan-tangan berlumuran darah itu masih menggapai di kakinya.
"V..Vee! tadi .. tadi aku melihat hal yang sama. Villa ini jadi tua dan.. dan banyak mayat yang ada di pantai. Mereka meminta tolong padaku. Aku.. Aku harus.."
"Tenanglah!" pinta Xavier mengusap keringat dingin di leher Stella yang begitu pucat. Anehnya, kali ini Xavier tiba-tiba saja tak bisa masuk dalam ingatan Stella yang memimpikan hal yang sama.
"V..Vee! Ada apa? Kenapa aku terus bermimpi seperti itu. Apa tempat ini.."
"Tak usah dipikirkan!"
"Tapi, aku kasihan dan aneh melihat itu semua." gumam Stella menatap wajah tampan Xavier. Ia melihat jika ada sesuatu yang berbeda dari respon pria ini.
Seakan-akan Xavier tengah memikirkan sesuatu sampai Stella merasakan sebuah kegelisahan itu.
"Vee!"
"Kau takut?" tanya Xavier menyelami wajah pucat Stella yang diam membisu. Jujur ia memang takut tapi, rasa ingin tahunya sangat besar sampai tak bisa menepisnya.
"Iya. Aku takut!"
"Padaku?"
Pertanyaan singkat itu seakan menggali isi pikiran Stella. Xavier seakan ingin menemukan satu jawaban yang masih membuatnya ragu.
"V..Vee!"
"Jawab!" tegas Xavier tetapi Stella menggeleng. Hal itu belum membuat raut datar Xavier mengendur bahkan semakin terasa kental.
"Aku tak takut padamu! Hanya saja, duniamu sangat aneh dan tak bisa-ku terima."
"Tak bisa?"
"Vee! Kau sebenarnya bicara apa?" tanya Stella mulai merasa gelisah. Ia sedari tadi menahan tanda tanya sekaligus bingung kala rasa hangat di perutnya masih terasa sampai saat ini.
"Apa terjadi sesuatu padaku? Kenapa aku bisa pingsan dan.."
"Kau percaya sesuatu?" tanya Xavier masih saja belum bisa menerima. Ia tak yakin bahkan walau hal itu terasa nyata Xavier masih menepis semua dugaannya.
Tetapi, Stella yang tak tahu apa-apa sampai berfikir ekstra karna pertanyaan aneh yang di lontarkan Xavier.
"Percaya apa? Kau ingin mengatakan apa?"
"Aku berbeda denganmu! Dan bagaimana mungkin kau bisa.."
__ADS_1
Xavier menjeda kalimatnya lalu terdiam kembali menatap perut Stella. Ia jelas merasakan keberadaan dirinya di tubuh Stella dan itu karnanya Stella perlahan mulai diperlihatkan dengan dunianya.
"Vee! Kau jangan membuatku cemas. Katakan ada apa?" panik Stella mencengkram lengan Xavier yang terlihat sangat kusut dan tak mau menerimanya.
"Aku bukan manusia sepenuhnya tapi aku tak mungkin MENGHAMILIMU!"
Duaarr...
Stella langsung terkejut akan ucapan Xavier barusan. Matanya terbelalak hebat bahkan kekosongan itu kembali menghantui Stella.
H..Hamil? A...aku..aku hamil?
"V..Vee! Kau..kau bercanda. Ini tak lucu!" bantah Stella menggeleng. Ia tak siap bahkan belum pernah berfikiran untuk mengandung atau punya seorang anak.
Namun. Melihat raut wajah serius Xavier yang begitu bertanya-tanya, Stella-pun segera memeggangi perutnya dengan mata berkaca-kaca.
"K..kau bercandakan? Katakan!!" desak Stella mengguncang lengan kekar Xavier yang tiba-tiba ada perasaan yang aneh menyelip di hatinya.
Lucu dan mustahil ia menghamili seorang wanita yang bukan dari Ras Vampirnya. Tak akan ada yang bisa menahan perkembangan bayi itu karna akan menyerap energi lebih besar. Stella memang memiliki Darah Murni tapi bukan berarti ia tahan akan perkembangan janin itu nantinya.
Bahkan. Xavier ingat dengan jelas jika Apollo yang merupakan Peramal Keluarganya mengatakan jika Linnea-lah yang akan melahirkan penerus Elbrano dan diyakini oleh Kakek Lucius sejak Xavier kecil.
Tapi, inilah yang membuat Xavier merasa janggal tapi bukan berarti ia mengatakan Stella dihamili pria lain, Xavier hanya belum menerima stigma itu.
"Katakan!! Kau jangan mempermainkanku!!"
"Ku hamil!" tegas Xavier dengan tatapan sangat-sangat serius membuat air mata Stella jatuh. Seketika dunianya runtuh kembali ke dasar terdalam.
"H..Hamil.."
"Hm."
"T..tidak. Kau..kau bercanda. Kau.."
"Apa aku terlhat bercanda?!" tanya Xavier juga ikut tak suka melihat Stella yang malah menangis. Ia bingung harus melakukan apa sedangkan kenyataan ini belum bisa ia terima.
"H..Hamil. Hiks! Aku..aku tak mau. Aku tak mau." tolak Stella menggeleng. Sumpah demi apapun ia sangat takut jika sampai bayi tak berdosa itu lahir dari rahim kotornya.
"K..kau.. Kau kenapa melakukan ini. Ha?? Kenapaa???" teriak Stella marah bercampur sedih. Ia tak ingin menerima hidup baru yang belum tentu akan bernasib baik.
"Hidupku seperti ini! Aku..aku tak ingin dia merasakan hal yang sama!! Aku tak mau. Hiks!"
"Kau.."
"A..aku tak mau. Hiks! Aku tak mau. Vee!" isak Stella lemas bagai tak bertulang lagi. Ia sangat kecewa pada dirinya sendiri jika si kecil itu hadir dalam sebuah kesalahan yang besar. Apa yang harus ia katakan pada Mommynya ketika pulang nanti?
"Kau disini saja."
"K..Kau gila?" tanya Stella dengan suara bergetar. Ia tahu Xavier tak akan bisa menerima hal ini apalagi status Stella bukan apa-apa dan hanya sebagai tawanan.
"Tidak!"
"A..aku ingin pulang. Bagaimana aku mengatakan hal ini pada Mommyku, bagaimana?" tanya Stella sudah putus asa. sudah cukup ia terjebak disini dan lagi-lagi ada ikatan kembali tercipta, ia sudah lelah.
"Apa itu mengganggumu?"
"Y..Yah. Aku tak ingin punya bayi atau melahirkan. Aku .. wanita yang buruk. Aku tak pantas jadi seorang Ibu." jawab Stella meneteskan air mata mirisnya. Ia sadar dan tahu diri, selama hidupnya ia hanya akan menjadi seroang wanita penghibur. Hanya itu dan akan selalu hal itu.
Melihat itu Xavier diam. Walau ia tak tahu apa harus mengakui atau tidak tapi yang jelas ia hanya ingin Stella tetap disini.
__ADS_1
"Kau tak mau mengandungnya?"
"T..Tidak."
"Baik!" tegas Xavier dengan tangan beralih menyentuh perut Stella. Dengan wajah datar seakan tak punya hati nurani Xavier menekan perut Stella untuk melenyapkan janin ini.
"K..kau mau apa?" tanya Stella kala mata Xavier mulai berubah merah darah dengan rasa dingin mulai menggerogoti perutnya.
"Kau mau apaaa???"
"Melenyapkannya!" jawab Xavier ringan dan dengan syok Stella menepis tangan Xavier dari perutnya dan mundur merapat ke kepala ranjang.
Respon Xavier tak seperti manusia pada umumnya. Ia seperti tak punya rasa simpati atau perasaan kasihan akan janin itu.
"Kau..kau ingin membunuhnya?"
"Lalu?"
"Membunuh janin i..ini?" tanya Stella memeggangi perutnya. Walau ia tak terima tapi Stella bukan wanita yang jahat sampai melakukan hal seperti itu.
Yang ada di pikiran Xavier hanya keselamatan Stella. Jika wanita itu terganggu dan karna janin itu Stella akan masuk ke dalam Dunia bawahnya, maka Xavier tak akan segan melenyapkannya.
"Kau..kau akan membunuhnya??"
"Tubuhmu tak akan kuat menahan hawa perkembangannya!" tegas Xavier tak mau Stella merasakan hal itu. Tetapi, Stella tak sekejam itu. Ia masih punya hati walau menolak berulang kali.
"K..Kau gila! Kau sudah gilla!!" maki Stella antara sakit dan marah. Dengan entengnya Xavier mengatakan hal itu atas apa yang sudah di lakukan selama ini.
Apa begitu mudahnya kau melakukan itu? Jadi benar kau hanya menganggapku sebagai penghangat ranjang?
"Aku melakukan sesuai keinginanmu!"
"K..kalau begitu. Kau bisa membunuhku sekaligus dengan janin ini." pinta Stella dengan tatapan sudah pasrah dan tak mau lagi melihat siapapun.
Mendengar itu Xavier mengepalkan tangannya kuat. Apa ia harus senang? Apa hebatnya dari sebuah janin dan itu hanya akan membuat Kakek Lucius semakin merasakan hawa keberadaan Stella.
"Bunuh aku! Kau..kau tak perlu lagi berfikir ini benih siapa karna.. karna selama ini aku.. Aku hanya seorang wanita malam. aku bisa saja mengandung anak pria lain." ucap Stella mencengkram selimut di dekatnya. Air mata tak kunjung berhenti untuk mendeskripsikan suasana hati Stella sekarang.
"Ayo lakukan! Lakukan seperti saat kau ingin melenyapkannya! Lakukan padakuuu!!!"
"DIAAM!!!" bentak Xavier mulai kelut. Ia berdiri dengan emosi juga melambung tinggi karna tak akan pernah bisa melihat Stella menderita mengandung janin itu.
"B..Bunuh. Hiks! Bunuh aku!"
"Aku tahu itu bagian dariku. Tapi, kau tak mungkin bisa mengandungnya!! Kau tak akan bisa masuk ke Dunia-kuu!" tegas Xavier benar-benar tak ingin Stella menahan sakit di setiap pertumbuhan mahluk itu, apalagi Stella punya darah murni yang akan di serap habis.
Mendengar pernyataan Xavier barusan Stella tak cukup kuat untuk menahan rasa sesak di dadanya. Ia langsung masuk ke dalam selimut membebaskan isakan perih itu.
Getaran barang-barang disini mulai terasa dengan beberapa furniture jatuh dari tempatnya karna aura membunuh Xavier nyaris keluar sempurna.
"Shiiit!" umpat Xavier mengusap wajahnya kasar. Inilah yang ia pikirkan sedari tadi, sangat susah menghadapi Stella apalagi ia tak cukup paham soal kehamilan manusia.
"Jangan menangis! Aku hanya tak mau terjadi sesuatu yang fatal padamu, aku tak butuh janin itu. Aku tak pernah menginginkannya. Stella!"
Batin Xavier ingin mengatakan ini tapi ia tak bisa. Sikap kerasnya tampak angkuh dan arogan tapi jauh dari lubuk hati Xavier ia mau membuat Stella aman di sisinya.
....
Vote and Like Sayang.
__ADS_1