YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Kejutan membingungkan!


__ADS_3

Setelah bertengkar dan berdebat cukup lama dengan Xavier tadi. Akhirnya Stella memutuskan untuk pulang sendiri tanpa menerima tawaran Xavier yang ingin mengantarnya.


Sungguh sangat sulit bagi Stella untuk menerima kedatangan Xavier secara tiba-tiba. Apalagi, Mommynya belum tahu kalau Ayah dari bayinya adalah seorang Master di dunia Bisnis. Stella belum siap memberi tahu Nyonya Corlie tentang hal ini.


"Aku harus membeli Ponsel! Mommy pasti sangat mencemaskan ku." gumam Stella yang ada di dalam Taksi. Ia melihat keluar dimana jalanan ini mulai sepi ke arah pinggir Hutan yang memang jalur utama ke arah Pemukiman tempat ia tinggal.


"Anda tinggal disini? Nona!"


" Yah." jawab Stella singkat. Pantas pria paruh baya ini bertanya karna dia baru pertama kali mengantar sosok gadis cantik yang mau tinggal di Pinggiran Kota.


"Sepertinya anda bukan asli orang sini. Apa Nona pendatang atau.."


"Disini saja!" sela Stella tak mau berbincang sangat lama. Apalagi ia tak pernah percaya pada satu orang-pun selain Mommynya.


Mendengar itu spontan Mobil terhenti. Stella keluar tanpa banyak bicara memberikan uang pada Supir Taksi yang sudah tampak masam. Sikap dingin dan angkuh Stella benar-benar membuatnya terhina.


"Cih! Pasti kau bekerja disini. Pantas saja gadis cantik sepertimu mau karna ada tunjangan besar."


"Kau bilang apa?' tanya Stella mulai emosi. Melihat wajah cantik Stella merah padam Mobil itu segera bergerak mundur melaju stabil meninggalkan Stella.


"Apa manusia di dunia ini memang sudah berotak sempit?!" umpat Stella memandangi kepergian Mobil itu. Suasana sudah sore dan langit mulai jingga, emosi Stella sampai berkobar tapi segera redup kala mengingat akan terlambat pulang.


Tak ingin membuang waktu. Akhirnya Stella melangkah masuk ke jalan setapak di dalam Hutan seraya mengeratkan Almamater yang ia pakai. Hawa dingin mulai menyeru karna seperti biasa tempat ini selalu dihujani Salju yang beku.


Tak ada rasa takut karna ia juga sudah terbiasa. Stella sendiri hafal bagaimana jalan ini memijak salju putih yang menenggelamkan kakinya.


Di sepanjang Stella berjalan awalnya memang terasa biasa dan normal. Namun, tiba-tiba saja Stella merasakan ada yang membuntutinya dan tingkat kewaspadaan Stella melesat kala telinganya mendengar derit langkah seseorang.


"Siapa?"


Batin Stella masih melanjutkan langkahnya. Ia mengeratkan cengkraman ke tas yang ia sandang sampai suara pijakan kaki ke salju ini semakin terdengar jelas membuat Stella segera memejamkan matanya.


"Brengseeek!!"


Maki Stella berbalik dengan cepat memukulkan tasnya ke sosok yang ada di belakangnya. Sekuat tenaga Stella menendang dan memukul apapun yang ia bisa.


"Nona!! Nona ini aku.. Akuu!!"


"Sialaan kauu!!" geram Stella mendorong tubuh pria itu sampai tersungkur ke tumpukan salju.


Tatapan Stella sangat waspada dan menjaga jarak. Walau tubuhnya sudah dingin karna lupa membawa Mantel tetapi, Stella tetap tak mau lengah.


"Kau siapa?? Jangan mencoba mengganggukuu!!!"


"I..ini aku!! Aku Nonaa!"


Suara pria itu segera berdiri. Dahi Stella menyeringit kala melihat sosok pria dewasa yang sungguh Stella tak kenal.


"Kau siapa?"


"Aku Teddy!" mengulurkan tangannya ke hadapan Stella yang masih diam. Tanpa menggubris uluran tangan itu Stella langsung berbalik pergi.


"Nonaa!! Nonaa biarkan aku berkenalan denganmuu!!"


Stella hanya diam kala Teddy mengejarnya. Ia mengingat-ingat apa ia pernah bertemu dengan pria ini atau Teddy adalah salah satu orang di Club Madam Jen.

__ADS_1


"Nonaa! Nona aku tak berniat jahat. Namaku Teddy. Dan siapa namamu?"


Stella masih diam. Tanpa menatap Teddy-pun ia sudah memasuki area pemukiman yang tampak seperti biasa.


Banyak pekerja Es balok yang baru pulang dan gadis-gadis pemukiman yang selalu bergosip di mana tempat.


Melihat kedatangan Stella bersama seorang pria. Mereka jadi saling pandang dengan tatapan sangat sinis. Jelas mulut busuk itu akan kembali bergunjing tetapi Stella hanya acuh.


"Nona! Ayolah, katakan namamu siapa?"


"Jangan menggangguku." geram Stella tak mau menjadi pusat perhatian. Bukannya mengerti Teddy malah menyela langkah Stella sampai spontan Stella mundur menjauh.


"Kauu!!!"


"Namamu! Siapa?"


"Kau tak perlu tahu." ketus Stella langsung pergi melewati Teddy yang tak bisa menunggu lama. Ia sangat mengagumi Stella karna gadis ini begitu cantik dan sulit di dekati.


"Nonaa!! aku ingin berteman denganmu. Ayolah!"


"Masa bodoh denganmu." geram Stella mempercepat langkahnya. Teddy tak mau kalah hingga ingin menarik lengan Stella tapi tiba-tiba saja ada angin kencang yang dingin menghempas ke arahnya hingga Tubuhnya terpental jauh ke belakang sana.


Stella tak menyadari hal itu. Ia sudah melangkah ke arah Rumahnya diiringi gonggongan Wings yang sudah terdengar jelas.


Nyonya Clorie keluar dari Rumah karna mendengar suara Wings yang keras. Alangkah cemasnya wanita itu melihat Stella pulang padahal sudah mau malam.


"Stella!! Kau kemana saja? Tadi Mommy ke Sekolahmu dan ada Polisi disana. Apa yang terjadi? Nak!"


Kepanikan Nyonya Corlie menjemput Stella yang ia tarik ke atas tangga lalu memeriksa tubuh Stella. Tak ada luka apapun dan itu membuatnya lega.


"Apa yang terjadi? Katakan!"


Stella belum paham apa yang di maksud POLISI yang di ucapkan Nyonya Corlie? Apa yang terjadi di Sekolahnya?


"Tadi. Mommy melihat semua anggota Sekolahmu di bawa ke Rumah Sakit. Mereka berteriak seakan mengalami sesuatu yang mengerikan."


"M..Maksud Mommy?" tanya Stella menyeringit duduk di sofa.


Nyonya Corlie melepas Tas Stella lalu mengambil Selimut di kamarnya. Ia sangat gelisah sampai tak bisa berfikir jernih.


"Pakai ini! Di luar sangat dingin tapi kau melupakan Mantel mu."


"Mom! Apa yang terjadi di Sekolah tadi?" tanya Stella mengganti Almamaternya dengan Mantel bulu ini. Nyonya Corlie melepas sepatu Stella yang ingin mencegahnya tapi tatapan Nyonya Corlie sangat tegas.


"Biarkan Mommy melakukannya!"


"Mom! Aku bisa sendiri."


"Lihat perutmu. Apa baik bagi Ibu hamil berlama-lama di luar? Kakimu sampai dingin begini. Sebenarnya kau dari mana?" tanya Nyonya Corlie mengusap betis putih Stella yang terasa dingin dan kaku.


Stella terdiam tak tahu harus mengatakan apa karna akan menjadi masalah besar jika Xavier sampai di bawa-bawa.


"Stella!"


"Iya. Mom!"

__ADS_1


"Tasmu berat! Apa isinya?"


Stella segera meraih Tasnya. Ia membuka Tas abu ini hingga dahinya menyeringit melihat ada Kotak yang di bungkus rapi di dalam sana dan Plastik yang berisi Kotak makanan dan air putih.


"Ini.."


"Apa? Kau butuh sesuatu?" tanya Nyonya Corlie menatap Stella yang diam. Seketika pikiran Stella melayang pada Xavier yang apa mungkin dia yang memasukan ini? Tapi, kenapa dia begitu perduli? Seharunya dia tak memperhatikanku.


"Stella!"


"Mom! Aku ke kamar dulu. Ya?"


Nyonya Corlie mengangguk membiarkan Stella bangkit lalu berjalan ke Kamarnya. Ia menghela nafas ringan mengambil Sepatu dan Almamater Stella untuk di rapikan.


....


Sementara di dalam kamar sana. Stella terkejut kala membuka satu Kotak yang ada di dalam kamarnya. Sebuah ponsel merek terbaru yang tampak begitu elegan dan mewah.


Stella benar-benar tak percaya kalau Xavier melakukan ini padanya. Apalagi, ada secarik kertas di dalam Kotak ini yang memanggil-manggil Stella untuk membacanya.


AKU TAK MENERIMA PENOLAKAN! GUNAKAN ITU UNTUK KEPERLUAN MU DAN JANGAN MENCOBA MENGEMBALIKANNYA.


Suamimu..


Vee..


Isi surat ini membuat Stella tertegun. Apalagi membaca bagian terakhir surat ini. Suami? Benarkah ini Xavier si Nyamuk gila itu? Apa dia kerasukan arwah Romeo?


"Kau pikir aku akan mudah di sogok dengan benda ini?" gumam Stella membuka ponsel itu. Dan lagi-lagi Stella di kejutkan dengan Wallpaper Ponsel yang terpampang jelas.


Ada Foto Xavier yang tengah duduk di atas Ranjang menggunakan kemeja abu yang tadi ia lihat. Wajah Tampannya terkesan menggoda dengan mata tajam seakan memperingatkan Stella agar tak macam-macam.


Antara marah dan kesal Stella langsung ingin mengganti Wallpapernya tapi seketika ia semakin naik pitam kala tak bisa di ganti dengan yang lain.


"Apa-apaan ini? Dia mengisi Galery ponselnya dengan foto-fotonya yang jelek dan datar. Dia pikir dia siapa??"


"Ada apa??"


Suara Nyonya Corlie yang menyahut karna mendengar suara makian Stella.


"Ada apa?? Kau butuh sesuatuu??"


"T..tidak ada. Mom! Hanya tugas Sekolaah!!" jawab Stella mengusap dada untuk menenagkan pikirannya. Ia segera memasukan kembali Ponsel ke dalam Kotak dan ingin menutupnya tapi tiba-tiba panggilan masuk dan kalian tentu tahu nama yang tertera disana.


PEMILIKMU VEE..


Dengan amarah dan kekesalan yang membeludak Stella langsung mengangkat panggilan dengan mata melotot tajam.


"Kau benar-benar gila!! Apa setelah aku pergi kepala mu terbentur atau Kau meminum darah Kadaluarsa?!" maki Stella dengan deru nafas naik turun.


Tak ada jawaban apapun dari seberang sana bahkan nuansa panggilan sangatlah sunyi. Ntah apa yang sekarang dia lakukan sampai seperti itu?!


"Kau masih hidup? Atau kau sudah tiada sejak tadi!!"


"Jangan berteriak! Aku akan semakin merindukanmu!"

__ADS_1


Deeeg..


Vote and Like Sayang...


__ADS_2