
Pandangan penuh kecemasan dan was-was itu meruak pada seorang Pria paruh baya yang tampak masih diam tak mau menjawab pertanyaannya yang terkesan begitu panik tapi juga ada alasan.
Rona tak percaya dari wajah cantik wanita berambut bergelombang dan netra coklat itu sedari tadi terus menunggu jawaban sang Ayah.
"Dad! Kenapa kau melakukan ini. Ha? Aku tak mau di seret masuk dalam masalah itu lagi." decah Linnea dengan kecemasan menghantui dirinya.
Ia sudah cukup melihat bagaimana mengerikannya kejadian waktu itu dan bahkan ia harus bersyukur karena hari ini ia masih bisa hidup di dunia ini.
"Dad! Jawab aku!!"
"Kau bisa diam?" desis Tuan Panthson yang menatap tajam Linnea. Keheningan dan hawa magis Ruang Baca ini terasa cukup kental bagi Linnea.
"Dad! Aku tak ingin terlibat lagi."
"Dan dengan bodohnya kau menyia-nyiakan kesempatan emas ini." sambar Tuan Panthson dengan kalimat tak menyangka akan kebodohan Putrinya.
Dahi Linnea mengernyit. Ia mengusap wajahnya pertanda cukup lelah dan tak bisa lagi menyangga ucapan Ayahnya.
"Dad! Kau ini.."
"Linnea! Kita sudah bertahun-tahun mencoba mengendalikan Keluarga Elbrano dan bahkan kau merasakan bagaimana angkuhnya mereka menginjak Keluarga kita. Apa kau tak pernah berpikir kesana?" tanya Tuan Panthson dengan satu alis terangkat mempertanyakan sikap Linnea.
Dengan cepat Linnea mengambil nafas dalam. Ia berdiri tegap pertanda tak terpengaruh tapi juga ingin melindungi dirinya.
"Dad! Aku tahu dan sangat paham karena aku juga merasakannya! Tapi, apa kau tak berpikir jika Keluarga kita tak di hancurkan itu adalah keberuntungan? Lebih baik kita tak ikut campur lagi. Aku sudah muak terus menjadi sasaran!"
"Kau tenang saja." gumam Tuan Panthson dengan mata penuh kelicikan beralih menatap ke arah deretan Buku di ruangan ini.
"Kali ini akan berbeda. Mereka tak lagi punya Dasar yang kokoh seperti sebelumnya."
"M..Maksud, Daddy?" Gumam Linnea merasa kali ini senyuman samar di wajah paruh baya Tuan Panthson terlalu rumit untuk di artikan. Ia belum pernah melihat Ayahnya sebahagia ini setelah kehancuran Keluarga Elbrano kemaren.
"Pergilah lihat keadaanya! Dia harus segera sadar dan rencana baru bisa di jalankan."
"Dad aku.."
Linnea seketika terdiam kala tatapan membunuh Tuan Panthson tertuju padanya. Mendapatkan hal itu Linnea tak lagi berani bicara dan ia berangsur meninggalkan ruangan ini.
Setiap langkahnya terasa begitu berat menyimpan beban besar. Entah apa lagi yang akan terjadi jika kedua Orang Tuanya kembali mencari mati.
Saat tiba di luar. Linnea di hadang Nyonya Brillier yang terlihat terburu-buru. Alhasil Linnea menahan wanita paruh baya itu untuk masuk ke dalam.
"Mom!"
"Dimana, Daddy-mu?" tanya Nyonya Brillier dengan pandangan serius tapi tampaknya cukup senang.
"Memangnya kenapa?"
__ADS_1
"Panggilan Daddy-mu untuk segera ke kamar atas! Dia sudah mulai sadar." Pinta Nyonya Brillier tapi nyatanya Tuan Panthson sudah muncul di belakang Linnea yang masih diam membisu.
"Suamiku! Dia sudah berangsur membaik. Hanya luka bakarnya masih perlu penyembuhan."
"Kau urus Putri tak berguna-mu ini!" titah Tuan Panthson melewati Linnea untuk lergi ke lantai atas. .
Linnea hanya diam tak lagi bisa bicara atau menyangga semua rencana Daddynya.
"Nea! Kenapa kau jadi begini?"
"Aku tak mau lagi berurusan dengan Keluarga Elbeano. Mom! Sudahi semua ini," Frustasi Linnea terlihat khawatir.
Lagi-lagi wajah yang sama di tunjukan oleh Nyonya Brillier. Bedanya, wanita ini sedikit lebih bersahabat.
"Kita sudah menunggu momen ini selama bertahun-tahun bahkan ribuan tahun. Tak ada lagi Yang Mulia Lucius dan Pria angkuh itu, kita bisa mengambil alih kekuasaan mereka dan menguasai Dunia Dunia sekaligus."
"Semoga berhasil." jawab Linnea sudah tak mau memperingatkan mereka. Ia melenggang pergi dengan wajah kesal tapi juga tak mau ikut campur.
"Stella? Cih. Kau selalu saja jadi objek sasaran." gumam Linnea begitu kasihan tapi juga merasa senang. Ia akan melihat hal besar apa yang akan terjadi.
Cela besar di masa lalu Stella sangat luas untuk di hancurkan. Apalagi kini tak ada Tiang kokoh penyangga hidup wanita itu. Sangat menyenangkan bukan?
.....
Sementara di Villa sana. Stella tampak baru bangun dari tidurnya yang cukup nyenyak tadi malam. Rencananya ia tak mau tidur sampai pagi menjelang tapi matanya tak bisa di ajak kompromi.
Alhasil saat ia bangun sudah berada di dalam kamarnya dengan Ester yang terlihat membaca buku di Sofa.
Duduk bertopang kako angkuh dan berkharisma seperti itu sangat persis dengan seseorang. Stella-pun tak canggung atau malu memandang Ester tanpa berkedip.
"Apa aku terlalu Tampan. Mom?"
Seketika senyum Stella mengembang mendengar suara Ester yang tak mengalihkan pandangan dari Bukunya. Ia tahu sedari tadi Stella menatap dalam diam padanya.
"Yah. Karena kau Putraku!" jawab Stella masih mengulum senyum.
Sontak Ester menutup Buku dan melepas kacamatanya. Tatapan datar hangat netra biru laut ini sudah biasa bagi Stella.
"Apa tidurmu nyenyak?"
"Sedikit. Setidaknya Mommy tak merepotkan-mu karena menangis tengah malam." gumam Stella menghela nafas lega. Selama ini ia seperti itu tapi setelah merasakan kehadiran seseorang semalam membuatnya sangat nyaman dan tenang.
Ester menatap wajah cantik Stella dalam kemudian mengalihkannya pada area Balkon yang ada di sampingnya. Sinar Mentari sudah masuk pertanda ini mulai mendaki siang.
"Astaga!!"
Stella terkejut saat sadar akan sesuatu. Ia terlihat mulai panik menyibak selimut hingga Tubuhnya hang memakai Piyama tidur terlihat sangat indah dan menggemaskan.
__ADS_1
"Ada apa? Mom!"
"Baby!! ini buruk!!" panik Stella berlari ke kamar mandi. Seketika dahi Ester mengerinyit berdiri lalu melangkah ke pintu kamar mandi yang sudah di tutup.
"Mom!"
"Ester! Bisa tolong panggilkan Sekertaris Grach? Mommy sudah ada janji Rapat dengan para Klien lain di Perusahaan!!"
Suara Stella terdengar sayup beriringan dengan deraian air. Ester diam sejenak lalu melangkah kembali ke arah Sofa meraih Ponselnya di dekat meja.
Tapi. Ia masih mempertimbangkan sesuatu karena tak mungkin jika Mommynya di biarkan disana maka akan banyak hal yang terjadi.
"Esteer!!"
"Aku saja yang pergi!" jawab Ester berdiri di depan Pintu ini. Setelah beberapa lama Pintu ini terbuka memperlihatkan Stella keluar memakai Bathrobe yang begitu besar di tubuh Seksinya.
Dahi Ester mengernyit melihat ukuran bahu dan lengan benda ini sangat tak selaras dengan Tubuh mungil tinggi Mommynya.
"Mom! Kau.."
"Ini punya Daddy-mu. Bagus tidak?" tanya Stella berpose dengan kedua tangan berkacak pinggang. Alhasil lipatan lengan besar ini mengulum tangan Stella yang susah payah menaikannya.
Ester jadi paham. Mungkin ini bisa meredakan sedikit rasa rindu Stella pada Xavier.
"Aku saja yang pergi. Mom!"
"Ha? Mana bisa? Kau belum diketahui statusnya." Tukas Stella melangkah ke arah ruang ganti.
"Mom! Tapi.."
"Ester! Dengan kedatangan-mu secara tiba-tiba. Ini hanya akan membuat masalah besar, kita akan pelan-pelan agar tak mengejutkan siapapun." jelas Stella yang tak mau mempersulit Ester. Ia ingin membuat jalan yang lebih muda walau konsekuensinya Stella harus berhadapan dengan seseorang dari masa lalunya.
Stella masih tersenyum. Ia berusaha kuat tak bisa bersembunyi dari masa lalunya. Ia bisa melakukan apapun yang ia mau sesuai dengan apa yang Xavier katakan padanya.
"Aku akan tenang jika Nenek mengikutimu. Mom!"
"Nenek-mu mengurus urusannya sendiri. Mommy tak mau membebani siapapun selagi Mommy bisa. Hm?"
Keduanya saling pandang hingga akhirnya Ester mengangguk barulah Stella masuk ke dalam ruangan ganti sana.
Seketika Stella merinding karena masih belum sempurna mengendalikan emosi jiwanya.
Kau tak boleh takut padanya! Memangnya kenapa kalau dia pernah berhubungan denganmu? bukan berarti dia bisa mempermalukan mu. Stella!
Batin Stella berusaha menguatkan diri. Ia berulang kali mencoba tetap terlihat tenang walau jujur Stella juga cukup panik berdekatan dengan Pria itu.
...
__ADS_1
Vote and Like Sayang..
Maaf ya say baru up skrg.. Author baru pulang kegiatan sklh🙃