
Tak bisa hanya berdiam diri di tempat dan terus melihat orang lain bekerja. Akhirnya Ester menghilang tiba-tiba. Dia tak di jumpai di Perusahaan maupun di Villa dan hal ini membuat Asisten Zion yang tadi sudah menutup semua situs Berita itu kembali merasa gelisah.
Ia yakin Ester pasti melakukan sesuatu hingga tak pulang seperti ini. Dan Stella yang sudah tidur di Ruangan Xavier juga tak menyadari kepergian Putranya.
"Jangan sampai dia bertindak sembarangan." gumam Asisten Zion mencoba menelpon Ester. Tapi, lagi-lagi hanya suara operator yang menjawab dan tentu hal itu semakin menambah kekhawatirannya.
Ia masih berdiri di Lobby utama Perusahaan tak menghiraukan beberapa Mobil yang keluar masuk memberinya salam Klakson tapi itu tak di gubrisnya. Ia tetap hilir mudik tak tentu arah.
"Kau terlihat gelisah."
Suara yang mengalun kali ini membuat Asisten Zion terhenti. Ia diam dengan mata terpaku pada satu objek dan itu dinding Lobby membelakangi sumber suara.
"Apa terjadi sesuatu?"
Seketika senyum remehnya muncul. Ia yakin jika semua ini adalah ulah dari Keluarga Panthson yang mencari mati dengan Elbrano.
"Tak ku sangka Anjing yang di kasihani bisa menyerang balik Majikannya."
"Kau membicarakan siapa?" tanya Linnea yang memang tadi datang kesini dan melihat jika ada banyak keamanan di luar. Pasti tadi terjadi penyerangan Media.
"Apa kau memang sangat ingin menyusul kematian Rekanmu?!" seraya berbalik menatap tajam Linnea yang hanya diam.
"Cobalah berpikir." imbuhnya menekan kalimat.
"Cih. Sekarang Xavier sudah tak ada. Dan kau ingin menggantikannya menjaga wanita itu?" sinis Linnea tapi Asisten Zion terkekeh kecil meremehkan.
"Apa aku terlihat melindunginya? Dia tak selemah yang kau pikirkan." jawab Asisten Zion menyimpul senyum mengejek.
Sontak Linnea langsung mengepal. Matanya membelalak marah mendengar pujian yang seharusnya menjadi makian hari ini.
"Bukankah kau membencinya?? Dia penyebab Mastermu Tiadaa!! Dan.."
"Kau menyedihkan." sela Asisten Zion membuat kalimat Linnea yang tadi terucap menggebu-gebu seketika langsung terpotong cepat.
Mata wanita itu terlihat heran dan juga marah tapi tak lagi mengerti.
"Kau.."
"Aku memang membencinya. Tapi, bukan berarti aku akan membenci Masterku. Dia mencintai Stella dan pasti punya alasan untuk itu, aku hanya sekedar muak dengan pertemuan mereka."
__ADS_1
"Kau gilaa!!" Tukas Linnea begitu geram.
"Kau datang ingin mempengaruhiku?" menarik alisnya ke atas meremehkan.
"Walau aku tak menyukainya tapi dia LEBIH BAIK dari mu." imbuh Asisten Zion lalu masuk ke Mobilnya. Ia melajukan benda mewah itu keluar dari Lobby meninggalkan Linnea yang sudah berapi-api.
"Kenapa semua orang selalu menjadi pahlawan bergantian. Wanita itu sangat menjijikan." desis Linnea begitu membenci pengaruh kuat Stella.
Tapi, ia tak berani untuk mengusiknya karna tak ada Xavier tapi iblis kecil itu masih berkeliaran.
Sementara itu. Wanita yang tadi ia maki nyatanya sudah menyaksikan semua perdebatan sengitnya dengan Asisten Zion. Hanya berdiri di balik Body Mobil seseorang dan Linnea mencium aroma darah murni yang pekat.
"Ingin bersembunyi berapa lama?"
Stella hanya diam. Ia menatap Linnea yang berbalik memandangnya tajam. Dari gurat muka wanita itu, Stella sangat paham jika Linnea begitu membencinya.
"Cih. Kau senang bukan? Banyak orang yang mendukungmu."
Stella tak menjawab. Ia berjalan mendekati Linnea dengan wajah penuh ketenangan. Langkah pasti b
elegan dan optimis berambisi ini sangat di tatapan lekat oleh Linnea.
Satu pertanyaan langsung muncul. Tawa menggelikan Linnea meruak menatap jijik Stella yang sudah berdiri tepat didepannya. Hawa darah murni ini tak begitu terasa pekat lagi dan mungkin Xavier sudah membatasinya.
"Kebencianku tak terhitung."
"Yang membuatmu membenciku?" tanya Stella masih penuh ketenagan tapi Linnea sudah meledak-ledak.
"Kau bertanyaa??? Sudah jelas kau merebut Calon Suamiku!!! Kau membuat semuanya berubah bahkan hanya karna kau DIA TIADAA!!!"
"Lalu?"
"KAU WANITA YANG TAK PANTAS DI PERJUANGKAN TAPI. MASIH SAJA MENDEKATI PRIA SEPERTI XAVIER!!! PERGILAH KE NERAKAAA!!" maki Linnea menggebu-gebu ingin menyerang Stella dengan tangannya tapi tangan lentik Peri yang indah itu sudah menahan cepat lengan Linnea sebelum memutar kendali disini.
Mata Stella berubah tegas dan wajah begitu menekankan agar jangan berbuat berlebihan.
"Kauuu.."
"Kau tahu kenapa Xavier tak menyukai-mu?" tanya Stella tapi meremas lengan Linnea karna ia juga tak cukup sabar melihat Cinta dan obsesi di mata Linnea untuk Xavier.
__ADS_1
"Karnamu, Wanita liaar!!"
"Apa sebelum kedatanganku dia mencintaimu?" tanya Stella membuat wajah Linnea pucat. Nafasnya tercekat menatap kosong Stella yang masih menunjukan wajah tegasnya.
"K..kau.."
"Tidak? Lalu kenapa kau menyalahkan aku?! Coba cari pada dirimu sendiri. Apa yang membuatnya tak suka padamu selama ini?! Jangan hanya sibuk menyalahkan orang lain." desis Stella melepas kasar tangan Linnea.
Sontak kalimat pedas tapi penuh arti ini membuat Linnea terdiam dan matanya menatap Stella dengan kosong.
"Bukan aku yang minta di Cintai! Aku sudah pernah pergi darinya tapi dia mencari ku untuk memulai dari awal. Dan jangan katakan lagi jika aku MENGEMIS tapi kami punya cara sendiri dalam MENCINTAI PASANGAN." Imbuh Stella menekan beberapa kalimat lalu segera berbalik pergi ke arah luar. Tadi ia sudah menelfon taksi dan harus pergi ke suatu tempat.
Sementara Linnea. Hanya diam memandangi Stella yang terlihat begitu cantik walau dari depan dan belakang. Hawa ketenagan dan kadang bisa jadi mengancam ini membuat siapa saja pasti penasaran dengannya.
Sedetik kemudian Linnea beralih memandang kaca jendela depan Mobil di sampingnya. Wajah cantik khas miliknya dengan mata coklat dan rambut bergelombang ini tampak sangat di penuhi hawa kejahatan. Pandangannya terasa panas dan tak bisa membuat kenyamanan.
"Aku sadar jika Stella memang lebih jauh dariku. Tapi, apa aku mencintaimu, Patriack! Aku tak bisa mengakui dia."
Batin Linnea begitu tertekan. Ia egois tak mengakui sebuah kekalahan tapi bahkan membuat penyamaran dengan menyalahkan orang lain.
Sementara Stella. Ia sudah pergi meninggalkan Perusahaan dengan Mobil Taksi yang membawanya ke tempat tujuan yang di rencanakan.
Stella memakai Masker dan Juga Topi yang tadi ia bawa di dalam tasnya yang cukup besar seraya mengganti Jas wanita miliknya dengan jaket tapi celananya masih sama.
"Nona! Kau yakin ingin ke sana?"
"Hm. Kau cukup menungguku sebentar." jawab Stella melihat jam di pergelangan tangannya. Ini sudah Sore dan ia harus pulang tepat pada saat Ester pulang dan anak itu tak akan menyadari apa yang akan ia lakukan.
Supir yang tadi melirik ke arah kaca depan yang memperlihatkan separuh wajah Stella terlihat merasa Familiar. Ia diam-diam membuka Ponselnya menyamakan kulit putih dan tinggi badan ini dengan seseorang yang tadi selalu lewat di Notifikasi Ponselnya yang tadi sempat tersimpan sebelum terhapus.
Saat sudah melihat Foto Gadis belia yang tampak memakai Seragam Sekolah. Dan ini Foto Pelajar Stella yang ntah siapa yang mempublisnya.
Sontak ia terdiam beberapa kali melihat Stella yang fokus melihat ke arah luar dimana ia sudah semakin jauh dari Perusahaan.
"Apa wanita ini yang tengah di perbincangkan?"
....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1