YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Mulai muncul!


__ADS_3

Kekacauan yang semula terjadi di depan kelas 3 bisnis itu tak lagi terdengar. Hanya hening dan sunyi mempersilahkan suara seorang Pria yang tengah menyampaikan Poin-Poin cara menghadapi masalah dalam Dunia Bisnis.


Mereka memang diam tapi mata dan telinganya tengah memandang ke arah sosok Pria yang sedari diam di kursinya. Ia mengabaikan tatapan lemah dan lembut dari seisi kelas termasuk Mrs Emma yang memanfaatkan kesempatan untuk memandangi Xavier dari rekaman Ponselnya.


Tapi. Disini hanya Stella yang fokus pada Zion dan mencatat poin-poin penting yang disampaikan. Ia memang risih dengan keberadaan Xavier apalagi respon aneh dan menjijikan wanita-wanita disini tapi ia cukup paham.


"Poin ketiga adalah PEMBERANI. Kalian harus bisa mengalahkan ketakutan di dalam diri sendiri sebelum melangkah untuk membuat keputusan besar. Dan.."


"Maaf!"


Stella spontan mengangkat tangannya di pertengahan penjelasan Zion. Mereka semua hanya mengacuhkan hal itu karna Xavier masih harus di perhatikan walau jujur Xavier ingin menghempaskan seluruh manusia disini kecuali Sang belahan hati.


"Yah. Ada yang tak jelas?"


"Di Poin Nomor 5 dalam Konteks percaya diri!" tanya Stella masih fokus pada Zion yang menoleh ke arah Masternya.


Xavier sama sekali tak mengalihkan pandangan dari Stella dengan kaki bertopang angkuh menunjukan kharismanya.


"Apa bisa di ulangi?"


"Master!" gumam Zion masih menunggu respon Xavier yang masih diam dan guratan itu sangat di pahami oleh Zion yang sudah biasa.


Melihat Xavier terus memandanginya Stella jadi mulai risih. Apalagi tatapan pria itu sangat tak biasa dan jelas Devano yang sedari tadi mengamati sampai mengepal karnanya.


"Jika tak bisa. Anda bisa me.."


"Silahkan ke depan. Nona!" sela Zion membuat Stella tercekat. Ia meremas Pulpennya menatap semua orang yang tengah beralih menghunuskan panah kebencian.


"Lagi-lagi dia."


"Memang mencari perhatian."


Desis mereka sinis terutama Audrey yang melirik dengan pandangan jijik dan angkuh. Hal itu di sadari Xavier yang tahu jika disini semuanya membenci Stella.


"Nona Stella! Kau yang tadi bertanya. Bukan?"


Stella memejamkan matanya lalu berdiri dari tempat duduk. Almamater itu masih Stella pakai guna menutupi perutnya yang sudah mulai lebih besar.


"Aku datang untuk belajar dengan benar. Mommy berharap banyak untuk ini."


Batin Stella menekankan hal itu. Dengan pelan ia melangkah ke arah depan melewati beberapa meja di samping kiri kanannya.


Hawa disini sangat panas dan mendesak Stella untuk mundur tapi Stella meremas pinggir Roknya memberanikan diri untuk maju berhadapan langsung dengan pria ini.


Melihat Stella yang berani mengambil perhatian. Audrey begitu geram hingga menatap Hera dengan isyarat yang mematikan.


Matanya melirik ke arah kaki Stella yang masih berjalan ke depan mau melewati Meja Hera yang ada di depan.


Ntah karna gugup dan cemas, Stella sampai tak sadar jika kaki Hera sudah menyela di pinggir kakinya hingga spontan keseimbangan Tubuh Stella lenyap.


Devano yang terkejut kala Stella ingin jatuh ke lantai yang ada di belakangnya. Dengan ujung Meja yang siap membentur perut wanita itu.


"Stellaa!!"


Teriak Devano berdiri ingin melewati Audrey tapi sekilat tubuh kekar seseorang itu bagai hembusan Asap yang begitu ringan menyambut Tubuh Stella.


Mrs Emma berdiri dengan wajah pucat begitu juga yang lainnya kala melihat Stella sudah di belit oleh lengan kekar itu yang menahan benturan dari ujung Meja.


Terlambat sedikit saja. Stella akan benar-benar mengalami hal yang mengerikan.


"V..Vee.." gumam Stella karna ia juga tengah syok dengan wajah pucat dan tubuh mendingin. Lirihan gemetar itu membuat wajah Xavier seketika mengeras menarik Stella masuk dalam belitan kokohnya.


Spontan mereka semua berdiri kala rasa panas mulai membakar padahal tadi masih terasa normal.


"Kenapa tiba-tiba lantainya panas. Dan udaranya sesak." keluh mereka semua berkeringat.


Hal itu juga di rasakan Zion yang tahu jika Masternya kembali di bakar oleh amarah yang membeludak. Terbukti jika ia melihat asap hitam dari permukaan lantai kembali muncul menekan kaki mereka untuk tetap diam kaku.

__ADS_1


"M..Mrs! Panaaaas! t..tubuhku kaku!!" jerit Hera yang diikuti kepanikan yang lainnya.


Mereka berteriak karna rasanya seperti menginjak bara api. Benar-benar membakar padahal tak ada apapun di Permukaan Mar-mer ini.


Melihat keadaan Kelas kembali kacau. Mrs Emma langsung berlari keluar untuk meminta bantuan petugas keamanan untuk kembali datang.


"Toloong!!! Tolong. Kak..kakikuu!!" jerit Hera yang merasa jika Kakinya tengah di belit sesuatu sampai ingin putus.


Jeritan yang Hera alami tak di rasakan betul oleh yang lain. Mereka masih mengeluh panas tapi tak separah Hera yang sampai menjerit histeris dengan air mata yang keluar memohon agar membawanya pergi.


"T..Tolooong!!! Panaas hiks. Panaaas!!"


"H..Hera!" gumam Audrey bergetar. Ia takut-takut menatap wajah dingin Xavier yang justru memandangnya membuat bulu kuduk Audrey meremang.


K..kenapa dia terlihat sangat mengerikan?


Batin Audrey menunduk menahan panas di sekujur tubuhnya. Ia gemetar kala merasakan hawa membunuh yang sudah mengelilingi tubuhnya.


Tanpa mengucapkan satu patah-kata-pun. Xavier segera menggendong ringan Stella yang sudah termenung kosong memeggang perutnya.


Ia masih syok seakan-akan belum bisa sadar dari rasa takut. Hanya satu senti saja ia akan kehilangan Bayinya. Ia sangat ceroboh dan membahayakan si kecil ini.


"Master!"


Zion mendekat ke arah Xavier yang dengan tegas berbalik melangkah pergi keluar kelas yang tengah dalam keadaan memanggang.


Zion tak mau berbuat apapun ia juga mengikuti Xavier yang membawa Stella keruangan khusus untuknya disini.


Bahkan, para petugas keamanan yang datang bersama Mrs Emma sampai terkejut melihat Stella sudah ada di dalam rengkuhan kekar Xavier yang tak memandang mereka.


"I..itu.."


"Kau dengarkan ini baik-baik." tekan Zion yang berhenti di dekat Mrs Emma yang masih menatap kosong dan tak percaya.


"A..apa yang.."


Ia kembali melanjutkan langkahnya tak menghiraukan Miss Emma yang tengah tertegun bersama yang lainnya.


Apa hubungan Stella dengan Presdir? Dan kenapa bisa sedekat itu?


........


Sementara di dalam ruangan yang tak begitu luas tapi cukup elegan untuk bekerja itu terlihatlah Xavier yang mendudukan Stella di atas Sofa panjang ruangannya.


Disini ada datu meja kerja selama masa Berkunjung dan Sofa tempat bersantai. Jelas ini pertama kalinya Xavier masuk itu-pun karna cemas jika Stella masih syok.


"Hey! Kau baik-baik saja?" tanya Xavier mengusap keringat dingin di kening mulus Stella yang masih memeggang perutnya.


Wajah Stella masih pucat membuat Xavier sangat paham. Ia meraih gelas air di atas meja dekat Sofa lalu mendekatkannya ke bibir Stella.


"Minumlah!"


"A..aku.."


"Minum! Kau dan dia akan baik-baik saja. Hm?"


Mendengar jawaban tegas dan tatapan hangat yang Xavier berikan, akhirnya Stella menegguk air putih yang ada di gelas ini sampai tinggal setengah saja.


"V..Vee.."


"Ada yang sakit? Katakan padaku!" pinta Xavier masih belum melepaskan pandangannya dari Stella yang tampak mulai bicara dengan suara parau.


"A..aku.. Aku hampir saja kehilangannya. Aku.."


"Sutt!! Jangan katakan hal itu, dia akan tetap bersamamu." sela Xavier beralih mengusap perut Stella yang membuatnya tertegun sesaat.


Sudah sebesar ini? Perkembangannya sangat cepat.

__ADS_1


Pikir Xavier yang tak menyangka Stella bertahan sampai di tahap ini. Pasti energi wanita ini sangat terkuras sampai sering Down dan merasa lemas.


Lama Xavier melamun meresapi kehadiran buah hati mereka sampai Stella sadar jika ia sudah kebablasan menerima Xavier.


Dengan cepat ia menepis tangan Xavier dari perutnya lalu segera menjaga jarak. Ia kembali berwajah tegas dan tak perduli.


"Terimakasih atas bantuanmu."


Tegas Stella segera berdiri tapi lagi-lagi perutnya kembali keram. Alhasil Xavier kembali menarik Stella untuk duduk di dekatnya.


"Duduk!"


"A..aku.. Aku ingi keluar!" kekeh Stella masih keras kepala membuat kesabaran Xavier menipis.


"K..Keluar! Aku.. Aku ingin pulang!"


"Dengarkan aku.."


"Lepaas!! aku .."


"DIAAM!!" Bentak Xavier membuat Stella tercekat sampai meremas pinggir Roknya. Ia menjauh dengan mata berkaca-kaca masih merasa sakit dengan bentakan Xavier sebelumnya.


Melihat hal itu. Xavier segera mengusap wajahnya kasar menarik nafas dalam untuk tetap tenang dan tak menakuti Stella.


"Dengarkan aku!"


"P..Pulang!" lirih Stella mencengkram Roknya kuat. Hal itu membuat Xavier sangat menyesal dan merasa bersalah.


"Stella! Maaf. Aku tak bermaksud apapun. Aku hanya.."


"Jauhi aku." tegas Stella dengan suara bergetar berdiri dan dengan cepat memaksakan langkahnya keluar ruangan.


Seketika Xavier mengepal seraya menendang meja di hadapannya sampai terbentur ke dinding sana. Ia sudah kelepasan tapi bukan berarti Xavier marah pada Stella, ia hanya tak suka jika kata PULANG dan PERGI itu terus terucap.


"Sialaan!! Kau memang pria brengseek!!"


"Master!"


Zion masuk dengan wajah cemas karna tadi ia melihat Stella keluar sendirian. Apalagi ia tengah menangis dan dalam keadaan Hamil dan emosi tak stabil itu bisa saja hal buruk akan terjadi.


"Dimana dia?"


"Tadi keluar. Dia menangis. Aku pikir dia bertengkar dengan Master!"


Xavier mengambil nafas dalam. Ia tahu jika Stella akan tetap emosi jika ia menemuinya sekarang.


"Kau pastikan dia baik-baik saja. Sediakan Tofer di depan!"


"Baik. Master!"


Jawab Zion segera keluar dari ruangan. Namun, saat tiba di luar Stella sudah tak ada dan sepertinya wanita itu benar-benar dalam masa perubahan hormon.


Namun. Stella yang ada di tangga sana merasakan jika ia benar-benar merasa sedih. Ntah kenapa bentakan Xavier terasa lebih menyakitkan dari apa yang terjadi sebelumnya.


"K..kenapa aku menangis? Ini bukan aku." gumam Stella menghapus air matanya lalu berjalan menyusuri tangga yang sunyi.


Tetapi. Saat tiba di anak tangga terakhir Stella merasakan jika perasaanya tiba-tiba tak anak dan mendorongnya ingin menemui Xavier.


"Tidak. Aku tak akan kembali sana.".


Gumam Stella lalu dengan cepat melangkah keluar. Ia tak terfikir akan Tas atau yang lainnya karna rasa marahnya belum reda.


Saat kaki Stella menginjak lantai dasar. Tiba-tiba saja Stella merasa ada yang tengah mengawasinya Ia sensitif akan hal seperti ini dan sangat peka.


"Ini pasti anak buah. Xavier!" gumam Stella akhirnya tak mau lewat di depan. Ia memilih jalan Sekolah yang sudah jarang di gunakan agar tak bertemu dengan siapapun.


Namun. Saat kakinya sudah menginjak halaman belakang Sekolah tiba-tiba saja ada yang lewat di belakang Stella dan saat bayangan itu hadir mata Stella langsung terasa berat dan tumbang di tempat.

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2