
Setelah melewati jalanan yang siang ini cukup padat akhirnya mereka sampai di Rumah Sakit Pusat Borneo yang tampak begitu banyak di datangi orang.
Dari dalam Mobil yang sudah masuk ke area Lobby ini, Stella bisa melihat banyaknya Pasien Rumah Sakit dan para pengunjung yang bersangkutan.
"Pakai ini!"
"Apa kau tak masalah datang ke sini?" tanya Stella membiarkan Xavier memasangkan Masker padanya. Wajah tampan datar itu tetap tak berubah tetapi hanya terkesan sangat lembut pada Stella.
"Itu karnanya pakai ini."
"Vee! Mobilmu terlalu mencolok. Aku khawatir jika salah satu orang disini me.."
"Bawahan-ku sudah mengurusnya." jawab Xavier menenagkan Stella yang tak mau ada berita apapun di Majalah karna mereka.
Tofer yang sudah keluar dari Mobil. Segera membuka pintu mempersilahkan Master dan Nonanya keluar dengan hormat.
"Silahkan. Master, Nona!"
"Kau tunggu disini!"
Titah Xavier yang diangguki patuh oleh Tofer. Ia keluar seraya membantu Stella berdiri dengan Mantel musim semi yang ia pakai untuk menutupi perut besarnya.
Xavier juga memakai Masker dan kacamata hitam dilengkapi Jaket hitam dan satu set pakaian serba gelap hingga tak ada yang bisa mengenali mereka disini.
Stella memang tahu jika Xavier tak suka warna yang mencolok. Alhasil ia memilihkan Jaket hitam tapi ada corak abu di bagian kerahnya yang sama dengan Mantel yang ia pakai.
Saat berjalan ke arah pintu masuk Rumah Sakit. Semua mata tertuju pada mereka. Walau sudah menutupi wajah tapi bukan berarti Tubuh kekar tinggi dan gagah itu bisa di tepis semua orang.
Apalagi, pembawaan Xavier yang berkharisma melangkah dengan tangan saling menggenggam dengan jemari lentik Stella yang ia imbangi sampai ke dalam.
"Dimana ruangannya?"
"Jangan terburu-buru." gumam Xavier kala Stella begitu gelisah memasuki tempat ini.
Ada Resepsionis Rumah Sakit yang tampak menatap ke arah mereka dengan pandangan penuh hormat. Hal itu sudah di atur oleh Zion yang memang menghandle masalah disini.
"Vee! Cepatlah! Dimana ruangannya?"
"Di lantai atas!"
Jawab Xavier membawa Stella masuk ke dalam Lift. Benda Kotak itu langsung membawa mereka ke lantai atas dimana tempat ruang rawat Nyonya Clorie.
Tangan Stella mulai semakin dingin. Pastinya ia sangat cemas jika terjadi sesuatu pada Mommynya apalagi wanita itu sudah terbaring lama beberapa bulan lalu.
"Tenanglah!"
"Bagaimana bisa tenang? Mommy sudah sering sakit. Aku takut tekanan darahnya kembali naik dan bisa seperti dulu. Vee!" cemas Stella tak bisa menahannya.
Xavier menghela nafas dalam. Ia merengkuh bahu Stella merapat ke arahnya lalu keluar saat Lift sudah terbuka.
Nyatanya lantai ini sudah sunyi dan hanya ada Zion yang tengah berbicara dengan seorang Dokter paruh baya yang tampak menjelaskan sesuatu.
Keduanya terhenti bicara kala melihat kedatangan Xavier dan Stella yang langsung mendekat.
"Master!"
"Bagaimana keadaan Mommyku?" tanya Stella buru-buru dan tak sabaran.
Dokter Isaack menatap Xavier seakan meminta izin. Saat anggukan datar itu tiba barulah ia membuka suara pada Stella yang menunggu.
"Nyonya Clorie hanya terkena Syok berat. Otot tubuhnya tiba-tiba kaku dan mengalami Drop sesaat. Tetapi, ada beberapa kelumpuhan dari saraf ototnya."
"Jadi, apa itu berbahaya?" tanya Stella sangat khawatir.
"Iya jika di biarkan. Sepertinya Saraf otak dan tubuh Nyonya begitu tertekan. Untuk sekarang dia baik-baik saja tapi usahakan jangan membuatnya tertekan atau dalam keadaan Syok lagi. Ini bisa berakibat pada Kelumpuhan."
"Ya, Tuhan!" gumam Stella begitu terkejut. Antara lega dan ikut khawatir karna keadaan Mommynya akan memburuk jika selalu mendapatkan tekanan dari hidupnya.
"Silahkan Nona masuk! Sebentar lagi dia akan sadar."
Tanpa menjawab lagi, Stella segera melangkah masuk ke pintu yang sudah di buka Zion. Ia menatap nanar seorang wanita dewasa yang terbaring di atas ranjang Rumah Sakit dengan infus melekat kembali di punggung tangannya.
__ADS_1
"M..Mom!"
Gumam Stella bergetar segera mendekat. Wajah pucat Nyonya Crolie menambah titik hampa di relung hati Stella yang merasa sangat bersalah. Ia melepas Masker di wajahnya agar leluasa melihat sang Mommy.
"Mom! Kau baik-baik saja-kan?"
Tanya Stella meraih jemari lentik Nyonya Crolie untuk ia genggam. Jika tahu begini maka ia tak akan memberi tahu Mommynya soal Program Magang itu.
Mata Stella memanas kembali berair. Ia terus mengusap lengan Nyonya Crolie dengan penuh penyesalan sampai akhirnya jemari wanita itu bergerak.
Stella tersadar dengan binaran di wajahnya. Ia semakin menunggu sampai kelopak mata Nyonya Crolie perlahan terbuka menatap kabur langit-langit ruangan.
Kepalanya sangat sakit sampai ringisan kecil itu muncul menarik Stella untuk menyapa.
"M..Mom! Kau baik-baik saja?"
"K..kau.."
Nyonya Crolie terkejut melihat Stella ada di sampingnya. Mata itu memanas tak percaya jika Putrinya masih disini.
"S..Stella.. Ini.. Ini kau .."
"Iya. Mom! Aku baik- baik saja." jawab Stella menahan bahu Nyonya Crolie agar tak bangkit dari baringannya.
Tapi. Rasa bahagia sekaligus lega itu sudah meledak-ledak tak terbendung untuk segera lepas. Ia berhambur memeluk Stella yang juga memeluknya. Tangis Nyonya Crolie pecah menangkup pipi mulus Stella dengan mata berair.
"Kau.. Kau baik-baik saja-kan? Ada yang luka? Apa ada yang sakit? Maafkan Mommy.. Maaf. Stella!"
"Tidak. Ini.. Ini bukan salah. Mommy! Rumah tiba-tiba terbakar dan Mommy tak salah apapun." jawab Stella menenangkan Nyonya Clorie yang tampak sangat menyalahkan dirinya atas kejadian ini.
"K..kalau saja Mommy tak mengunci mu. Kau pasti bisa lari keluar dan.. dan Perban ini.."
"Luka ringan. Sudah di obati." jawab Stella kala Nyonya Clorie melihat perban di lengannya. Wanita ini juga memeriksa semua yang ia kira juga terluka termasuk bayi di perut Stella.
"Perutmu? Perutmu baik-baik saja-kan?"
"Mom! Aku sehat dan tak kurang apapun. Vee menyelamatkan aku tepat waktu. Jika tidak mungkin aku akan tiada," jawab Stella membuat Nyonya Clorie terdiam. Vee? Bukankah itu Kucing kurus yang kemaren Stella katakan?
"Kucing?"
Batin Stella mengumpat kala salah bicara. Jelas jika Nyonya Crolie pasti akan tahu apa yang ia maksud kemaren.
"Stella?"
"M..Maksudku.."
"Jangan berbohong!" pinta Nyonya Crolie serius menggenggam tangan Stella yang menelan ludah kasar. Ia melirik ke arah pintu takut-takut Xavier masuk.
"A.. Itu. Maksudku. Kucing kemaren datang dan.."
"Dia bukan Kucing." sela Nyonya Crolie tahu jika kemaren Stella berbohong. Ia bukan anak-anak lagi yang percaya akan dongeng seperti itu.
Mendengar jawaban dari Nyonya Crolie spontan Stella tercekat. Ia tak bisa mengelak lagi jika sudah begini.
"M..Mom!"
"Baiklah! Kau tak perlu menjawab. Kita pergi dari sini!" ujar Nyonya Crolie mencabut jarum infus di punggung tangannya membuat Stella terkejut.
"Mom! Apa yang kau lakukan? Kau masih belum pulih."
"Ayo pulang!"
Ajak Nyonya Crolie memaksakan dirinya untuk turun dari ranjang walau harus berpeggangan karna pusing.
"Mom! Aku mohon tetaplah disini dulu. Kau.."
"Pulang! Ini bukan tempat kita." jawab Nyonya Crolie berbalik ingin menarik Stella tapi seketika langkahnya terhenti kala melihat sosok yang tadi ia lihat di depan Sekolah Stella sudah berdiri di depan sana.
Stella juga menatap Xavier yang hanya memandang datar tapi justru itu sangat mempunyai banyak makna. Pria itu tak lagi memakai kacamata atau Masker yang tadi bertengger rapi.
"Kebetulan kau disini!"
__ADS_1
"Mom!" gumam Stella kala Nyonya Crolie bicara seakan sudah bertemu Xavier sebelumnya.
"Putriku tak memundurkan diri. Dan aku harap kau menerima itu." imbuh Nyonya Crolie menatap tegas Xavier yang hanya diam melangkah masuk dan mendekat ke arah Stella.
Tingkat kewaspadaan Nyonya Crolie naik kala ia tahu jika Xavier bukan manusia biasa. Ia tak ingin Stella berurusan terlalu dalam dengan pria ini.
"Masalah uang. Kau tinggal mengatakannya. Aku akan berusaha memberikan itu padamu!"
"Mom! Kau.."
"Ayo!"
Nyonya Crolie menarik Stella untuk pergi dari ruangan ini tapi sedetik kemudian tangannya tersentak kala Xavier sudah menarik Stella lepas darinya.
Nyonya Crolie menatap tajam Xavier yang tak merubah gurat wajahnya sama sekali. Ia dengan entengnya membelit pinggang Stella yang juga memucat di tempat.
"Menjauh dari Putrikuu!!!"
"V..Vee!" lirih Stella ingin lepas tapi Xavier tak sedikit-pun memberi jarak. Ia seakan menentang Nyonya Crolie yang ingin membawa Stella pergi darinya.
"Stella! Ayo pergi!"
Stella mengangguk ingin melangkah tapi tiba-tiba kakinya kaku dan ini sudah tak asing lagi. Wajahnya mendongak menatap pahatan tampan Xavier yang masih membisu.
"Vee!"
"Rumahmu sudah hangus!" jawab Xavier tetapi Nyonya Crolie hanya diam. Ia sudah menduga itu tapi keras kepalanya masih di tunjukan sampai sekarang.
"Aku bisa mencari tempat lain!"
"Kau tak punya Uang."
"Aku punya!" tegas Nyonya Crolie seakan sangat menolak keberadaan Xavier. Padahal, memang ia tak punya uang untuk membeli rumah atau sekedar menyewa.
Tetapi. Apapun akan ia lakukan asal Stella aman dan terhindar dari orang-orang misterius ini.
Melihat sikap keras kepala Nyonya Clorie . Xavier jadi sangat paham dari mana Stella mendapatkan tingkah keras dan pemberontak itu?!
Sementara Stella. Ia juga mulai berfikir akan ucapan Xavier. Rumah mereka terbakar dan tak ada yang bisa di selamatkan.
"Stella! Ayo!"
"Mom!" lirih Stella dengan tatapan ragu. Ia tak yakin jika Uang simpanan mereka masih cukup untuk menyewa Rumah.
Tahu akan keraguan Stella. Nyonya Clorie langsung membuang muka, ia memang tak punya tapi sekuat tenaga akan ia usahakan.
"Aku akan berusaha."
"Mom! ini bukan masalah kecil. Sewa Rumah itu butuh biaya besar."
"AKU AKAN MENCARINYA!!" tekan Nyonya Clorie sangat kekeh akan keputusannya. Hal ini jelas membuat Stella diam dengan mata nanar yang sendu.
Tatapan yang iba dan sangat bersalah itu membuat Nyonya Clorie tertunduk mengepalkan tangannya.
"Kau tak percaya?"
"M..Mom!"
Nyonya Clorie memejamkan matanya. Ia melihat jika Xavier dan Stella memiliki hawa kedekatan yang sangat dalam dan intens. Rasa takut itu menyeruk sampai ia sendiri tak punya keberanian menduga sesuatu.
Biasanya Stella tak pernah sudi membiarkan pria asing mendekat sampai membelitkan tangan sampai ke pinggang itu. Ini hal yang aneh bukan.
"M..Mom!"
"Stella! A.. Ayah dari b..bayimu itu.."
"Aku!"
Duaarr..
Jawaban tegas Xavier membuat tubuh Nyonya Crolie lemas. Kedua netra coklatnya mematung kosong seakan masih belum bisa menerima jika selama ini Stella membawa benih dari seorang Pria yang sangat ia takutkan bagian dari Klan itu.
__ADS_1
.....
Vote and Like Sayang..