
Latar berciuman di Jalanan gelap tadi sekarang telah berubah di sebuah kamar yang tampak sangat tak asing. Ntah kenapa dalam sekali kibasan tangan saja mereka bisa kembali ke ruangan yang tiba-tiba terasa menyambut hangat kedatangan mereka.
Keadaan mulai sama seperti dulu. Tepatnya di dalam Mimpi indah yang kala itu Stella rasakan tapi terulang kembali. Ntah ini nyata atau tidak Stella tak ingin ambil pusing karna ia hanya menginginkan Pria dan tak mau pergi sama sekali.
Deraian kelopak bunga yang terus berjatuhan menambah kesan sensitif dan romantis. Suasana kamar yang remang hanya diterangi bunga lilin itu membuat keadaan terasa sangat-sangat mengesankan.
Stella sampai tak mau lepas dari pelukan erat lengan kekar ini ke pinggangnya dengan satu tangan menekan tengkuknya untuk memperdalam belitan lidah keduanya.
Nafas Stella semakin terasa tak stabil bahkan ia sangat agresif tak bisa diam dan terus menggerayangi di bawah sana. Ia memancing bengkakan hebat di balik Resleting ini dan selalu bisa membuat erangan nikmat itu keluar.
"V...Vee.." serak Stella dengan seru nafas memburu. Ia membiarkan lehernya di jelajahi oleh lidah basah ini tapi tentu Stella memang menginginkannya.
Dalam satu sentakan Kemeja dengan lengan koyak itu sudah di tarik oleh jemari kekar itu hingga kancingnya langsung bertebaran jatuh.
Stella hanya diam menikmati pelayanan ini. Ia pasrah kala tubuhnya di dorong ke atas ranjang hingga kelopak-kelopak bunga yang tadi ada di atasnya langsung berhamburan tapi ini terlihat indah.
Tatapan sayu yang Stella layangkan membuat hasrat di tubuhnya semakin bergejolak. Ia melepas Kemeja yang tadi sudah di buka Stella dan melemparnya ke sembarang arah.
Tubuh atletis dengan bahu dan dada bidang serta bayangan Visual yang begitu indah. Stella bagai melihat seorang Pangeran tengah mengungkungnya dengan pahatan sempurna yang nyaris membuat mata Stella tak berkedip.
"V..Vee.." lirih Stella kala wajah Tampan tapi masih remang ini begitu dekat dengannya.
Aroma nafas Mind dan hangat ini membuat Stella ingin sekali melihat wajah Pria ini. Ia diam dengan pandangan begitu sayu dan sangat mendamba. Jemari Stella terangkat mengusap rahang tegas di hadapannya hingga tak lama setelahnya Stella berbisik pelan dan tersendat.
"A..Aku ingin melihatmu." lirihnya dengan tubuh sedikit menggeliat menahan rasa panas yang menjalar di sekujur kulitnya.
Tak ada yang terjadi. Keadaan masih sama seakan Pria ini tak ingin Stella melihat wajahnya. Tentu hal itu membuat Stella beranggapan jika lagi-lagi ini tak nyata.
"K..Kenapa?"
Suara bergetar Stella dengan mata berkaca-kaca. Ia kembali di landa perasaan sesak yang begitu kuat hingga langsung memejamkan matanya.
"K..Kenapa? Vee. Hiks!"
Isak Stella hingga lampu ini langsung menyala. Stella tetap menangis tak memperdulikan hasratnya sendiri. Ia terlalu tak sanggup jika hanya bahagia untuk sesaat saja.
"K..Kenapa? Kenapa kau datang? Kau.."
"Kau tak ingin melihatku?"
Suara berat itu benar-benar sangat Stella rindukan. Sedari tadi hanya kali ini ia mendengar suara Pria ini hingga membuat Stella perlahan membuka mata sembabnya.
Alhasil kedua netra birunya langsung terkurung dengan netra abu elang milik Xavier yang sama sekali tak berkedip menyelami galaksi ini.
Bibirnya Stella bergetar meraba wajah Tampan Xavier yang tampak baik-baik saja bahkan semakin mempesona. Ia sesekali menggelinjang menahan gejolak di tubuhnya tapi juga tak mau menyudahi Momen ini.
__ADS_1
"V..Vee.."
"Hm?"
"I..Ini kau-kan?" tanya Stella lagi-lagi memastikan. Xavier segera menggenggam tangan Stella yang ada di pipinya dan hal itu membuat Stella menggelinjang.
"Nanti kita bicara. Selesaikan dulu ini."
"T..Tidak.."
Stella menggeleng. Jika sudah selesai maka Xavier akan pergi. Ia tak mau itu terjadi lagi.
"A..Aku.. Aku bisa.. M..menahannya.. Aku.."
"Biarkan aku melakukannya!"
"T..Tidak. Kau.. Kau d..di sini.. S..saja.." gumam Stella mengigil. Ia perlahan ingin keluar dari Kungkungan Xavier yang memejamkan matanya karna wajah Stella sudah sangat merah. Ia tahu ini begitu menyiksa dan sumpah demi apapun Xavier tak akan melepaskan bajingan itu.
"K..kau.. d..disini.." lirih Stella terengah-engah menarik dirinya.
"Kau jangan menyiksa dirimu sendiri."
"T..tidak.. Vee! Aku.. "
Stella mencengkram selimut di bawahnya karna kepalanya sangat pusing dan terasa begitu tak nyaman. Melihat itu Xavier segera menyentuh bahu Stella yang lagi-lagi merespon dengan Tubuh bergetar.
"Dengarkan aku!" tegas Xavier tapi Stella menggeleng. Ia menutup kedua telinganya dengan kedua tangan tak mau mendengar kalimat perpisahan itu lagi.
"T..Tak mau dengar. A..aku tak mau. Aku.."
"Stella!"
"J..Jangan.. d..disini saja." gumam Stella dengan tatapan memohon pada Xavier yang seketika mengepal. Ntah apa yang terjadi sampai Stella separah ini.
"T..Tak boleh p..pergi. Vee! Hiks. Jangan!"
Seketika Xavier langsung memeluk Stella yang lagi-lagi menangis. Sekarang batinnya berbicara karna akal sehat Stella sudah mulai terpengaruh.
"J..Jangan hiks. Jangan pergi!"
"Maaf." gumam Xavier mengusap kepala Stella yang terbenam di dadanya. Matanya seketika mengobarkan amarah kala melihat bahu Stella merah karna tergores Kemeja yang tadi di tarik paksa dari tubuhnya.
"J..Jangan pergi. Jangan pergi. Vee!"
Xavier memejamkan matanya untuk meredakan emosi yang bisa saja membuat Stella tak nyaman. Ia mengambil nafas dalam lalu menarik wajah Stella mengadah menatap wajahnya.
__ADS_1
"Jangan menangis." mengusap kedua pipi mulus ini lembut.
"K..kau tak akan pergi-kan?" seraknya parau.
"Tidak akan." jawab Xavier dam sontak Stella langsung berbinar.
"Bersumpah demi aku. Kau..kau tak akan pergi! Kau tak akan pergi!" pinta Stella begitu terlihat tak percaya tapi juga senang dan terlihat berbinar.
Xavier mengusap kepala Stella yang menggenggam tangannya erat. Pandangan begitu sangat-sangat senang itu membuatnya tak mampu berpaling.
"Vee! Berjanjilah padaku! Janjii!!" .
"Janji." ucap Xavier mengecup kilas bibir Stella hingga kali ini Stella tak menahan lagi. Ia langsung menekan bahu Xavier agar berbaring dan tentu ia mengambil kendali.
"A..Aku.. Aku mau punya bayi."
Xavier tersentak mendengar Stella bicara seperti itu. Ia tampak cukup terkejut kala Stella melepas semua helai pakaiannya dengan tatapan begitu berhasrat padanya.
"B..Bayi.."
"S..Stella. Sayang kau.."
"Buktikan kalau kau tak..tak akan pergi lagi. Aku.. Aku mau punya Bayi lagi." serak Stella dengan nafas terputus-putus dan sangat ingin.
Melihat itu Xavier mengulum senyum. Ia hanya melihat bagaimana Stella kembali menguasai ranjang padahal permintaanya termasuk hal yang harus di pertimbangkan Xavier.
"Tanpa kau minta aku akan melakukannya. Sayang!"
Batin Xavier memperhatikan Stella agar wanita itu tak jatuh saat melepas semua pakaiannya. Reaksi obat ini semakin kuat dan membuat Stella tak perlu lagi melakukan Pemanasan dua kali. Ia sudah langsung memenjarakan Xavier dalam surga kenikmatan yang lagi-lagi membuat keduanya tak mampu memikirkan hal lain.
.....
Sementara di luar sana sedari tadi suasana dingin menyapa satu Villa. Mereka diam tak berani berkutik kala Ester sudah datang tapi ada 4 para penjaga membawa masing-masing satu Kotak Kaca di tutupi kain hitam.
Efika dan Kakek Le-Yang diam tak berani menyapa Ester yang tampak menatap tajam ke arah tangga menuju kamar Mommynya.
"Tuan Muda! Dimana kami letakan ini?"
Ester tak langsung menjawab. Ia hanya diam dengan sifat tak terduga yang semakin menyelimuti rasa takut mereka.
"Tuan!"
"Pajang di sana!" titah Ester menunjuk ke arah Rak di dekat Televisi. Alhasil mereka langsung mengerjakan tugas melewati Efika yang mencium aroma amis yang kuat.
"Apa yang mereka bawa sampai seamis ini?!"
__ADS_1
.....
Vote and Like Sayang..