YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Gadis yang lugu!


__ADS_3

Sudah berkeliaran jauh sampai ke berbagai jalan kaki itu melangkah tapi ia tak juga menemukan seseorang yang pas untuk ia bawa.


Pikiran Stella begitu buntu dan terasa ingin segera menghilang dari hiruk-pikuk Kota yang membuatnya sangat depresi dan pusing.


Ia menanyai pada beberapa orang tentang Club disini tapi tampaknya mereka menatap Stella dengan pandangan lucu dan rumit. Anggapan jika remaja semuda Stella sudah menanyakan hal sefulgar itu padahal memang Stella tak asing lagi dengan namanya dunia gemerlap.


"Permisi! Permisi. Nyonya!" ucap Stella pada seorang wanita paruh baya yang tampak menunggu Bis di Halte yang biasa di tunggu.


Disini juga ada banyak orang tetapi ntah kenapa Stella hanya berani pada wanita yang tengah memeggang payung ini.


"Nyonya!"


"Ada apa?" jawaban yang agak ketus keluar karna dia sudah lama menunggu tapi belum ada Bis datang kesini.


Tatapannya pada Stella terlihat enggan dan malas tetapi Stella memberanikan diri untuk bertanya kembali pada orang yang berbeda.


"Nyonya! Maaf sebelumnya tapi, apa disini ada Bar atau sejenis Club?" memelankan suaranya agar tak terdengar yang lain.


"Cluub???"


Spontan sambaran wanita itu membuat mata semua orang tertuju pada mereka berdua. Niat hati ingin bertanya pelan dan sembunyi tapi wanita ini begitu membuat Stella malu.


"Ya Tuhan! apa tak ada pikiran anak muda sekarang yang benar? Kau masih remaja tapi sudah mau ke Club?"


"A..aku.."


Stella tergagap sulit menjelaskannya. Beberapa orang yang melihat itu sampai menggeleng tak menyangka jika gadis cantik ini ingin ke tempat seperti itu.


"Hey! Disini yang di perbolehkan ke Club itu hanya berumur 20 keatas. Kau ini masih di bawah umur."


"Iya. Jangan membuang masa mudamu, disana banyak laki-laki nakal." sangga yang lain memperingatkan Stella hal yang sejujurnya tak lagi Tabu bagi Stella sendiri.


"Atau kau bekerja disana?" tuduh wanita itu membuat Stella spontan terperanjat. Tatapan semua orang mulai menyelidik seakan ingin menguliti Stella yang benar-benar tak tahu jika ada aturan seperti itu di Kota ini.


"Dasar kau. Ya? Apa kau tak berfikir bagaimana orang tuamu menyekolahkan kau?"


Stella hanya diam memilih untuk mundur. Ia tak mau membuat kerumunan apalagi disini cukup ramai.


"Aku pikir disini bebas." gumam Stella mempercepat langkahnya. Ia kembali ke area pejalan kaki yang tampak sudah ramai dengan anak-anak sekolahan khususnya tingkat SMA sepertinya.


Langkah Stella terhenti melihat gadis-gadis berseragam itu tampak menunggu Mobil-Mobil yang lewat di jalanan lebar ini untuk pergi ke seberang.


"Sekolah?" gumam Stella melihat mereka sangat ceria bergandengan tangan satu sama lain. Ada tawa kecil saling bersenda gurau terlihat begitu hangat.


Ntah kenapa Stella merasakan nyeri yang teramat didadanya. Apa seindah itu Sekolah disini? Ada banyak teman dan semuanya baik.


Stella melamun sampai tak sadar gadis belia yang berlari di sisinya tak sengaja menyenggol keras bahu Stella sampai oleng jatuh ke area jalan dimana Mobil-Mobil tengah melaju cukup kencang.


"Nonaa!!!"


Pekik mereka kala Stella tersungkur di aspal kering sana dengan Mobil putih susu itu tak bisa lagi menginjak Rem karna jaraknya sudah dekat.


"Tolong gadis ituuu!!!"


"Nonaa!!"


Stella ingin berdiri tapi waktunya tak bisa di hentikan secepat itu hingga.


"Veeeee!!!"


Teriakan Stella membuat angin di sekitar sini mulai berhembus sangat dingin sampai spontan menghentikan Mobil yang hanya 5 senti saja akan menghantam pinggang Stella yang tiba-tiba di tarik ke belakang.


"Kau tak apa?"

__ADS_1


Tanya seseorang yang menarik Stella menjauh dari area jalan yang tampak sudah ramai dimana Mobil-Mobil yang tadi ingin lewat terhenti.


"Kau baik-baik saja? Apa ada yang luka?"


"A..aku.."


Stella tampak pucat berpeggangan ke lengan seorang gadis muda berseragam yang sama seperti Anak-anak sekolah yang baru saja Stella lihat tadi.


Gadis dengan mungil dan mata bulat yang manis. Rambutnya di kepang ke samping dan berkacamata menampilkan raut cemas di wajah lugunya.


"Lutut mu berdarah. Ayo ke Rumah Sakit."


"T..tidak. Aku tak apa." gumam Stella menormalkan deru nafasnya dan degupan jantung yang begitu cepat.


Sedikit saja Mobil itu tak berhenti maka nyawanya bisa hilang dengan cara yang mengerikan.


Melihat Stella yang masih pucat, gadis belia ini dengan sigap memapah Stella untuk pergi ke area Bangku tempat duduk di dekat pohon cukup besar yang ada di samping Mini Market di seberang sini.


"Duduklah!"


"Terimakasih." jawab Stella duduk di sana menatap kerumunan yang tampak sudah mulai renggang kala melihat ia baik-baik saja.


"Apa kau baik-baik saja? Atau ada luka lain?"


"Sudah. Aku tak apa." jawab Stella tak mau merepotkan gadis ini. Namun, bukannya meninggalkan Stella disini ia berjongkok untuk melihat luka di lutut Stella.


"Kau..kau mau apa?"


Pekik Stella waspada. Tatapan gadis ini tampak keheranan melihat respon Stella yang seperti tak percaya padanya.


"Maaf, aku hanya ingin memeriksa lukamu."


"A.. Aku.. Aku tak apa-apa. ini luka kecil." gumam Stella merasa sulit membawa diri. Ia tak terbiasa di perlakukan seperti ini oleh gadis seumuran dengannya.


"Aku tak ada niat buruk apapun. Namaku Ella!" Mengulurkan tangannya dengan niat perkenalan.


Stella diam menatap Ella dengan pandangan aneh. Siapa yang baru pertama bertemu bahkan tak saling kenal tiba-tiba bersikap sok akrab begini?


Melihat respon Stella yang enggan. Ella menurunkan tangannya dengan exspresi sendu dan senyuman sadar diri.


"A.. Maaf, aku terlalu lancang!"


"Stella!"


Spontan ia langsung menatap wajah cantik Stella dengan pandangan kosong. Stella yang tak tahu harus bersikap bagaimana hanya menunjukan wajah datarnya selayaknya bertemu orang baru.


"Namaku Stella!"


"A.. Stella! Namamu sangat cantik seperti orangnya."


Puji Ella terkagum-kagum. Pasalnya Stella memang begitu cantik dengan kulit bersih bak keturunan Bangsawan.


Respon berlebihan yang Ella tunjukan membuat Stella risih tetapi juga cukup penasaran.


"Biasa saja. Jangan terlalu kuno." ketus Stella menunjukan wajah tak sukanya. Spontan Ella terdiam merasa bersalah karna lagi-lagi membuat masalah.


"M..Maaf. Aku minta maaf." ucap Ella seraya ingin memeggang kaki Stella yang refleks menaikan kakinya ke atas Bangku dengan raut syok.


"Kau ini..."


"Aku mohon. Maafkan aku!" pintanya dengan penuh penyesalan. Tatapan takut itu membuat Stella merasa Ella bukan gadis yang buruk tetapi juga punya sebuah masalah besar.


"Bisa-bisanya aku bertemu dengan gadis seperti ini."

__ADS_1


Batin Stella merasa cukup kesal melihat wajah tak berdaya Ella yang terlihat takut padanya.


"Maafkan aku. Kau jangan bicara pada siapapun tentang ini. Aku mohon!"


"Kau pikir aku perduli tentang itu?!" gumam Stella mengibas luka di lututnya yang berdarah. Ella yang mendengar kalimat pedas Stella merasa perih dan senang beriringan.


Perih karna terus di caci maki tetapi senang karna Stella tak mempermasalahkannya.


"Terimakasih! Aku berjanji akan membantumu dan.."


"Kau bisa diam?" tanya Stella merasa pusing. Alhasil Ella mengangguk langsung membuka tasnya mengeluarkan Tisu.


"Aku akan membersihkan lukamu!"


"Tak usah. Ini luka kecil." tolak Stella menepis halus tangan Ella yang ingin menyentuh kakinya.


"Stella! Apa kedua orang tuamu akan marah? Dia akan marah padaku?"


Stella hanya diam tak mau menjawab apapun semakin membuat Ella cemas dan khawatir.


"Apa dia akan datang memarahiku? Stella aku minta maaf. Aku.."


Dreet..


Suara Ponsel itu membuat kalimatnya terhenti. Ella mencari-cari suara ponsel itu yang jelas bukan milik Stella yang tak punya apa-apa.


"Di dalam tasmu. Konyol!" maki Stella membuat Ella segera sadar memeriksa Tasnya. Dan benar saja Ponselnya menyala membuat wajah Ella pucat.


"T..terlambat. Aku terlambat."


"Ada apa?" Stella cukup heran mengernyitkan dahinya.


"Stella! Maaf, aku pergi dulu. Aku janji akan menebus kesalahanku dan besok kita bertemu disini."


"A.. Kau.."


Belum sempat Stella bicara Ella sudah berlari pergi bak di kejar setan menyebrangi jalan. Ia tampak sesekali melihat jam di pergelangan tangannya dengan raut panik membuat Stella heran.


"Dasar aneh." gumam Stella membuang nafas kasar. Ia kembali fokus melihat lututnya yang begitu perih mengharuskan Stella untuk berjalan kembali ke Perusahaan Xavier.


Tunggu. Bicara soal Xavier, seketika Stella sadar akan tujuannya. Ia kembali menoleh ke arah Ella tadi hingga ada sedikit rasa kejam di benak Stella.


"Dia begitu polos. Aku yakin dia masih suci!" gumam Stella lirih antara tak tega tapi ia yakin Ella akan baik-baik saja.


...........


Sedari tadi Linnea berusaha menahan rasa marah duduk di atas sofa di dalam ruangan Xavier yang sama sekali tak memperdulikannya.


Kaki Linnea sudah sakit menunggu lama di Lobby khusus tapi nyatanya Xavier lewat di depan. Pria ini memang sulit ia kendalikan.


"Patriack! Kakiku sakit."


Xavier seakan menuli. Ia lebih fokus menatap ke arah luar dengan wajah tampak mengeras ntah itu karna mencemaskan Linnea yang sempat merasa bahagia jika itu benar.


"Kakiku sakit menunggumu! Bisa kau obati sebentar?"


"Ceroboh." umpat Xavier mencengkram Pulpen di tangannya sampai patah. Bahkan, Xavier tampak menahan emosi yang terlihat nyata di mata Linnea yang salah artikan.


"Maaf, tapi aku menunggumu. Sayang!"


Ucap Linnea senang bukan main. Akhirnya Xavier memperdulikannya walau hanya dari umpatan kasar itu.


....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2