
Setelah bicara tentang perasaanya Stella pasrah harus di tinggal pergi sesaat oleh Xavier yang harus ke Kediaman Phanston tetapi, jelas Xavier tak akan kesana. Ia sama sekali tak perduli jika Linnea menunggu atau sudah pergi lebih dulu.
Yang jelas. Ia harus menyelesaikan hal ini satu persatu agar tak berdampak buruk pada hubungannya dan Stella nantinya.
"Master! Nona Linnea sudah menelfon beberapa kali menanyakan kapan Master ke Kediaman?!"
"Katakan aku sudah di Kediamanku!" jawab Xavier dengan suara terkesan dingin. Ia sedari tadi melihat layar ponselnya yang menyala memperlihatkan beberapa laporan dari anak buahnya.
Nyatanya Nyonya Clorie dulu adalah seorang Sekertaris di Perusahaan EMC pada saat kepemimpinan Paman Lucian yang tiba-tiba anjlok setelah beberapa tahun terakhir sampai Pria itu terkurung lama di Ruang Gelap milik Kakek Lucius.
Disini Xavier bisa menebak jika Stella adalah buah dari Cinta terlarang keduanya. Pantas Nyonya Clorie sampai begitu keras menentang hubungannya dan Stella karna takut hal yang sama terjadi kembali.
"Kenapa bisa sama?!" gumam Xavier merasa di permainkan oleh takdir. Gilanya benih itu sudah tumbuh besar di dalam perut Stella yang juga tengah berjuang membesarkannya.
"Ada apa? Master!"
Xavier hanya diam bergulat dengan pikirannya sendiri. Berarti Kakek Lucius benar-benar punya dendam pada anak dari hubungan terlarang Paman Lucian dan Nyonya Clorie.
Sialnya kenapa ia baru tahu sekarang? Kakek Lucius sangat menjaga rahasia dan aib besar Keluarga Elbrano. Sampai seiring pertumbuhannya Xavier dilarang bertemu atau membicarakan soal Adik Ayahnya itu.
"Apa Atticus sudah kembali?"
"Tuan besar sudah kembali dari Ranah Arthas. Dia juga menunggu kehadiranmu. Master!" jawab Zion membelokan kemudi ke arah Aspal yang memang hanya tertuju pada satu Kediaman.
Malam tanpa bintang ini terasa cukup dingin menyapa Body Mobil yang melaju stabil masuk ke Area khusus yang luas dan mewah bagi orang awam.
Dari sini sudah terlihat Gerbang besar dan beton tinggi yang mengelilingi Bangunan megah dengan Pilar-pilar seperti istana berdiri kokoh dengan kesan mistis sangat kental.
Lampu Mobil mereka di sambut oleh suara Gerbang besi yang terbuat dari lapisan emas murni itu terbuka dengan sendirinya.
Hawa magis mulai terasa dengan suara Kelelawar yang berdebat di atas langit sana. Patung-patung bercorak gelap dengan lampu Neon redup diatas beton pembatas mendukung suasana dingin tempat ini.
"Sepertinya Keluarga Nona Linnea sudah datang. Master!" ujar Zion kala melihat ada banyak Mobil di area halaman Kediaman yang luas.
Banyak para penjaga yang diam bak patung berdiri di sepanjang jalan dengan tatapan kosong tanpa jiwa. Jelas ini tak asing lagi jika datang di Kediaman Elbrano.
Zion menghentikan Mobil di dekat Lamborghini Veneno milik seseorang dari Kediaman. Ia turun lalu membukakan pintu belakang Xavier yang juga sudah menapakan kakinya ke Halaman Kediaman.
Kala kedua kakinya sudah menapak tegas tiba-tiba saja ada sambutan dingin dari hawa tempat ini. Xavier merasakan jika Ranah intimidasi Kakek Lucius berniat untuk menyerang dan melumpuhkan tubuhnya.
"Master!" gumam Zion kala melihat Xavier mengambil nafas dalam menekan kakinya ke lantai ini hingga hawa dingin dari angin yang tiba-tiba terhempas cukup kasar membuat Zion agak oleng.
"Master!"
"Tetap fokuskan pikiranmu!" tegas Xavier melangkah dengan santai dan penuh kharisma kearah teras depan.
Zion merasa sesak dan sangat sulit bernafas. Pantas ia begini karna Zion murni manusia biasa yang berteman lama dengan Pria misterius seperti Xavier.
"Ntah apa yang akan terjadi setelah ini?!" gumam Zion kembali mengikuti Xavier yang telah masuk kedalam Bangunan bersejarah ini.
Tampak pertama adalah lantai dasar yang luas dimana ada beberapa pelayan yang hanya berdiri di beberapa sudut ruangan dengan kepala tertunduk menyambut Xavier.
"Prince!! Silahkan ke Ruang Utama!"
__ADS_1
Tanpa menjawab apapun Xavier langsung menapaki tangga berlapis emas dan karpet merah membentang di bawahnya. Raut wajahnya benar-benar berubah sangat dingin tak sama seperti yang ia tunjukan pada Stella.
Dari sini Xavier sudah mendengar suara agak riuh dari lantai atas Kediaman. Tepatnya di Ruang santai Keluarga yang tentu tak seceria itu.
"Bagaimana tentang Pernikahan Linnea dan Patriack? Aku ingin membicarakan ini secepat mungkin karna sudah terlalu lama."
"Masalah itu pastinya akan.."
"Dia sudah dataang!!" suara berbinar Linnea yang tampak cantik dengan Gaun merah menjuntai panjang dengan bagian dada rendah dan rambut bergelombang yang di tata sangat seksi.
Senyuman di bibir merahnya mekar kala melihat Xavier sudah berdiri tegap di ambang pintu dengan raut wajah masih gelap.
"Patriack! Kau sudah datang? Nak!" Nyonya Margretta berdiri dari duduknya di atas sofa menatap Xavier lembut.
Begitu juga Nyonya Brillier yang ikut senang akan kegembiraan yang terpancar dari raut wajah cantik Linnea.
"Ayo duduk! kami sudah lama menunggumu." ajak Nyonya Margretta mendekat tetapi Linnea sudah lebih dulu menyongsong Xavier.
Hal itu membuat mereka semua tersenyum membiarkan Linnea melakukan pendekatannya.
"Kenapa kau selalu saja membuatku cemas? Aku menghubungiku selalu dan setiap saat tapi kau.."
"Dimana Kakek?" tanya Xavier pada Nyonya Margretta tak menggubris ucapan Linnea yang sudah mengepal.
Ia sangat malu di abaikan begini apalagi tak sekali dua kali Xavier terus menjahuinya.
Melihat suasana yang tak baik-baik saja. Nyonya Margretta melirik Nyonya Brillier yang akhirnya mendekati Linnea.
"Biarkan Calon Suamimu melepas rindu pada Keluarganya dulu. Nak!"
Mata Nyonya Brillier memelototi Linnea yang akhirnya pasrah bergerak ke pinggir. Ia masih menyimpan semua amarahnya karna ada sesuatu yang ingin Linnea cari tahu
"Kakek mu masih bicara dengan Ayah Linnea dan Daddymu!"
"Dia bicara tentang Pernikahan kita." sambar Linnea dengan intonasi kemenangan.
Hal itu spontan membuat kepalan Xavier menguat. Zion yang ada di belakangnya sampai menahan nafas karna hawa dingin di kakinya terasa cukup menebas nyawa.
"Patriack! Kita akan segera menikah. Kau jangan terlalu dingin pada CALON ISTRIMU sendiri." tekan Linnea membuat suasana semakin beku.
"Ini butuh persetujuanku!"
"Bukankah dulu kau tak mempermasalahkannya? Prince!"
Suara bariton seseorang dari belakang sana membuat wajah Nyonya Margrrtta, Linnea dan Mommynya tertunduk.
Ketiganya memberi salam hormat pada Yang Mulia Lucius yang datang dengan hawa panas dari tubuhnya sendiri. Pria tua dengan tubuh masih kekar dibaluti syal itu didampingi oleh dua sosok Pria paruh baya yang berwajah masih segar dan tampan.
Tuan Phanston yang merupakan Ayah Linnea dan Tuan Atticus yang menjadi Ayah Xavier. Tampaknya mereka baru saja merundingkan tentang Pernikahan Xavier dan Linnea yang sudah di ramalkan oleh Apollo.
"Prince! Kami sudah sepakat melaksanakan Pernikahanmu 3 hari lagi."
"Yah. Itu waktu yang baik menurut Uncle-mu Apollo!" timpal Tuan Phantson pada Tuan Atticus. Keduanya terlihat sudah akrab karna memang sangat setuju akan hubungan Linnea dan Xavier.
__ADS_1
Mendengar kesepakatan tanpa persetujuan darinya ini, Xavier segera berbalik menatap tegas Kakek Lucius yang memandangnya penuh ketenagan tapi sangatlah licik.
"Aku yang menikah dan bukan kalian." tegas Xavier tak bisa membayangkan bagaimana respon Stella mendengar ini.
Melihat penolakan Xavier mereka semua langsung syok. Pasalnya selama ini Xavier tak pernah membantah keputusan dari Kakek Lucius yang selalu menjadi panutannya.
Amarah Tuan Atticus sampai memuncak akan jawaban lancang putranya.
"Kau bicara dengan Kakekmu! Tundukan sedikit kepalamu. Patriaack!!"
"Aku tahu." tegas Xavier menatap tajam Kakek Lucius yang jelas paham watak Xavier bagaimana. Ia tak ingin kehilangan Penerus terbaik Keluarga Elbrano tapi juga tak akan mundur.
"Aku sangat menghormatimu. Kakek! Tapi, hargai juga KEPUTUSANKU."
"Kauu.."
Tuan Atticus terdiam kala Kakek Lucius sudah mengangkat tangannya. Tongkat yang di peggang Pria tua itu masih kokoh bertapak ke lantai dingin ini.
"Yang Mulia! Maafkan Putraku. Dia sedang dalam masalah besar."
"Putramu benar." jawab Kakek Lucius tak mengalihkan pandangan dari Xavier yang menahan aura intimidasi yang kuat dari Pria ini. Ia akui kekuatannya tak cukup kuat tetapi sekuat apapun dunia menekannya maka ia akan tetap berdiri.
"Dia sudah mengabdi selama bertahun-tahun padaku. Aku harus memberikan hak untuk menjawab dan memilih."
Imbuhnya maju satu langkah berhadapan dengan tubuh kekar Xavier. Keduanya sama-sama tinggi dengan aura kelam beradu menipiskan atmosfer disini.
Kakek Lucius bisa melihat ada satu cahaya di netra abu Xavier dan aura melindungi seseorang melebihi dirinya sendiri.
"Kau sudah banyak berubah. Prince!"
"Maksudmu? Yang Mulia!" tanya Tuan Phantson heran. Ia melihat wajah Tampan Xavier yang semakin hari begitu mempesona dengan hawa kekuatan juga meningkat. Ini sesuatu yang luar biasa.
Tetapi, yang di maksud Kakek Lucius adalah hal yang berbeda. Tangan keriput tapi masih kuat itu terangkat menepuk bahu kokoh Xavier yang seketika merasakan sakit di area jantungnya.
"Shiit!!"
Xavier menahan sakit di dadanya. Tepukan di bahu itu bukan sekedar sentuhan tapi remasan kuat yang bisa memutus jantungnya. Dalam wujud manusia mereka memang dikendalikan oleh Jantung selayaknya manusia biasa tapi hal itu akan berubah kala sudah kembali ke Wujud yang sebenarnya.
"Berubahlah semampu mu. Lindungi dia semau mu. Tapi ingatlah ucapanku dulu dan sekarang. Prince!" bisik Kakek Lucius masih tak mau melukai Xavier.
"HIDUPMU ADA DI TANGANKU."
Imbuh Kakek Lucius menurunkan tangannya kala ia juga mendapat serangan balasan dari Xavier yang juga tak bisa di remehkan. Terbukti dengan rasa terbakar di tangan Kakek Lucius yang tadi meremas bahunya.
Semuanya terdiam. Tak ada yang berani bicara karna sosok Pria Tua ini masih tampak mengamati Xavier.
"Pernikahanmu adalah sebuah Takdir dan kebaikan bagi seluruh Keluarga! Dengan menikahi Linnea kau bisa memberikan keturunan yang pantas dan sedarah dengan kita. Kau tak di beri hak untuk membantah atau menolak KEPUTUSANKU!" Ucap Kakek Lucius terdengar seperti sebuah Ultimatum keras.
"Hidupku memang ada di tanganmu. Tapi tidak dengan Kemauanku." tegas Xavier tak memperdulikan hal itu.
Ia berbalik melangkah pergi diikuti Zion yang sangat jantungan menyaksikan perang dingin ini secara langsung. Untung saja perkelahian tak terjadi atau mungkin ia akan mati di tempat.
.......
__ADS_1
Vote and Like Sayang..