YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Mencoba tak perduli!


__ADS_3

Mentari di atas sana sudah menyapa. Kemilau emas itu menyebar tak begitu terasa panas tapi membuat tubuh hangat dan terasa berenergi.


Sinaran kekuningannya menerobos dicela Fentilasi dan Balkon yang dalam sejarah Villa ini ada, tak pernah terbuka sama sekali.


Tirai-tirai itu di geser ke pinggir dengan kaca di buka membiarkan kesegaran pagi ini masuk dengan bebas.


Tak ada yang bisa melarang sosok cantik bertubuh seksi itu melakukan apapun yang ia mau disini. Termasuk menata kamar yang begitu terkesan dingin dengan lukisan-lukisan aneh yang meresahkan.


"Ini baru kamar manusia!" gumam Stella menepukan kedua tangannya pertanda sudah beres. Ia hanya memakai Tanktop berwarna hitam kontras dengan kulit sebening salju itu. Bawahan mengenakan Hotpant menampakan kaki jenjang indahnya begitu saja


Ada bekas memar di kaki dan lutut Stella karna semalam jatuh. Luka di lengannya tampak sudah membaik dan tak lagi berdarah.


Hal itu tentu karna Xavier benar-benar memastikan Stella baik-baik saja sampai berjaga semalaman dan sekarang tengah bersiap untuk pergi ke Perusahaanya.


"Veee!!!"


"Hm?" Suara dari ruang ganti yang terdengar begitu ringan terucap. Stella masih melihat-lihat apa ada yang kurang dari penataan barang-barangnya.


Sofa sudah di atur sedemikian rupa. Stella meletakkannya di dekat Balkon menghadap langsung ke kaca. Dari sini bisa melihat indahnya pemandangan taman di bawah dan langsung terpapar cahaya matahari.


Namun. Yang jadi titik fokus Stella adalah lukisan-lukisan aneh di dinding kamar ini. Ia merasa tidur di sebuah Gua dengan banyak mata menatapnya dengan intens.


"Veee!!!"


"Apa?" jawab Xavier keluar dari ruang ganti. Ia sudah rapi dengan Stelan kemeja Coklat yang membalut tubuh kekarnya.


Jas itu ia tenteng seraya merapikan rambutnya. Selalu tampak sempurna membuat wajah Stella memerah mengalihkan pandangan.


"Ada apa? Pagi-pagi kau sudah sesibuk ini."


"Memangnya kenapa? kau marah??" ketus Stella mendongakkan wajahnya dengan tampan pembangkang seperti biasa.


Xavier mengangkat tangannya dan Stella terkejut memejamkan matanya menduga Xavier akan menamparnya.


Namun. Setelah beberapa lama menunggu ia tak merasakan sakit di wajahnya hingga mata Stella terbuka pelan dengan waspada.


Ia menaikan satu alisnya heran melihat wajah Tampan datar Xavier yang tampak memandangnya tanpa exspresi.


"Kau.."


"Kau pikir aku akan apa. Hm?" tanya Xavier segera menarik hidung mancung mungil Stella sampai memerah membuat wanita itu segera memukul lengan kekarnya ringan dan barulah Xavier melepas cubitannya.


"Hidungku sakit!!"


"Hm. Aku tahu." jawaban santai Xavier membuat Stella menahan kekesalan. Hidungnya yang merah tampak sangat menggemaskan dengan mata melotot bak Boneka.


"Dasar menyebalkan!!"


Xavier hanya diam melihat ke seluruh sudut kamarnya. Tatanan barang-barang ini begitu rapi tapi terkesan sangat terbuka. Bahkan, Balkon yang selama ini tak pernah dibuka dengan cela cahaya tak masuk sempurna sekarang sudah benar-benar berubah.


"Tutup kembali Balkonnya!"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Aku tak suka." jawab Xavier merasa risih dengan ruangan yang terang. Ia terbiasa dengan kegelapan di kamarnya tetapi Stella mengubah segalanya.


Mendengar itu Stella terdiam. Ia tahu Xavier memang tak menyukai ruangannya di otak-atik dan terlalu terbuka begini.


"Kau tak suka?"


"Tidak." lugas Xavier menatap tajam Stella yang menghela nafas dalam. Tatapannya berubah nanar meratapi hasil kerja kerasnya selama pagi ini.


"Aku mau seperti ini. Dan lukisan-lukisan jelekmu itu di buang saja."


"Kauuu..." geram Xavier mendengar ucapan konyol Stella yang mengatakan jika lukisan-lukisan sakral ini Jelek. Sudah jelas hal ini bukan sebuah omong kosong belaka.


"Ayolah! Buang, aku tak suka bentuknya."


"Seleramu memang rendahan." maki Xavier menatap kesal Stella yang tampak kekeh ingin membuang semua itu.


"Pokoknya aku tak suka. TITIK!"


"Apa yang salah dari benda-benda itu?" tanya Xavier heran. Ia justru merasa risih dengan bunga-bunga yang Stella letakan di atas Balkon sana.


Kamarnya sekarang berubah seperti ruangan seorang gadis perawan. Seprey tempat tidur Stella ganti dengan warna hitam bercorak bunga mawar. Dan ada Vas bunga di dekat nakas.


Ini benar-benar gila. Wanita ini mulai memonopoli kamarnya!


"Mataku sakit melihatnya terus!"


"Kau pikir mataku tak sakit melihat benda-benda yang kau letakan disini. Ha?" tanya Xavier berdebat tetapi Stella menggeleng keras masih kekeh dengan keputusannya.


"TIDAK!" tegas Xavier membuat Stella naik darah dengan tatapan yang begitu tak bersahabat.


"Kalau begitu aku minta kamar yang ada di samping. Tidur saja dengan kamar mayatmu ini."


"Kauu.."


Xavier tak bisa berkata-kata saat Stella mendekat ke arah ranjang lalu ingin menggulung kembali Sprei yang tadi ia pasang.


"Aku juga tak sudi sekamar denganmu. Kau pikir aku ini mayat yang hidup di tempat gelap. Cih, dasar nyamuk!"


Umpatan Stella sangat terdengar jelas oleh Xavier yang menahan dan bersabar. Jika berdebat dengan wanita ini mau bagaimanapun ia tak akan menang.


"Baiklah!"


"Pergilah! Aku akan mengembalikan kamar MAYATMU ini." tekan Stella lalu-lalang di depan Xavier ingin memindahkan barang-barangnya lagi tapi Xavier segera memejamkan matanya mengambil keputusan.


Saat Stella ingin menarik sepenuhnya Sprei ranjang itu. Xavier langsung mendorong bokong Stella dengan kakinya sampai wanita itu jatuh ke atas ranjang.


"Kauuu!!!"


"Kau jangan mengusik barang-barangku yang ada di dinding!" ucap Xavier selayaknya perintah.

__ADS_1


Ia segera melangkah ke pintu membuat Stella tak puas untuk bertanya.


"Lalu kamarnya. Bagaimana? Aku sudah lelah menatanya dari pagi! kalau kau tak mau, aku bisa tidur di kamar se.."


"Terserah padamu."


Potong Xavier lalu melangkah keluar kamar. Stella syok mendengar jawaban Xavier yang berarti tak lagi mempermasalahkan renovasi kamarnya.


"Yeeess!! Memang ini yang-ku mau." girang Stella tak berniat pindah. Ia sudah terlalu nyaman dengan kamar ini dan Xavier si nyamuk penghisap darah.


Dengan hati berbunga-bunga. Stella merapikan kembali Sprei ranjang. Ia sedikit bergumam lalu terkekeh sendiri membayangkan bagaimana tersingkirnya Xavier dari kamar sendiri.


Setelah merapikan semuanya. Stella dengan berani keluar dari kamar dengan pakaian seminim itu. Ia memang sudah terbiasa jadi tak canggung lagi melenggang kesana-kemari.


"Efikaaa!!!"


Panggil Stella karna ia sudah lapar. Hanya wanita itu yang tahu apa yang ia inginkan disini.


"Efikaaa!! Kau dimanaa?"


Dahi Stella menyeringit kala tak ada satu orang-pun di Villa. Bahkan, para pelayan yang biasa ia temui di dekat tangga sekarang hanya tinggal jejak saja.


"Efikaaa!!! Kau dimanaa??"


Tak ada jawaban. Stella kembali pergi ke arah pintu depan dimana Xavier tampak tengah menelfon didekat Mobil seorang diri tanpa adanya penjaga.


"Patriack! Kapan kau pulang? aku sangat merindukanmu!"


"Aku sibuk."


Jawab Xavier dengan wajah datar seperti biasa bahkan terkesan tak bersemangat.


Stella diam menguping pembicaraan itu dengan rasa penasaran di benaknya. suara wanita? Terdengar masih muda. Apa itu kekasihnya?


Batin Stella menduga-duga. Ia diam cukup lama dengan pikiran yang melayang jauh sampai tak sadar jika Zion yang tadi pergi mengambil satu berkas di ruang kerja Xavier sudah berdiri di belakangnya.


"Ehmm!"


Stella terperanjat. ia berbalik menatap terkejut Zion yang segera memalingkan wajahnya kala melihat Stella tampil seperti ini. Ia adalah pria normal.


"Sebaiknya jangan bersikap seenakmu saja." tegas Zion merasa Stella begitu pecicilan. Sangat tak cocok dengan Masternya yang begitu berwibawah.


Mendengar itu Stella hanya tersenyum culas. Ia bersidekap dada dengan wajah yang terkesan angkuh.


"Kau sedang menceramahiku?"


"Tidak. Hanya memperingatkan!" jawab Zion melangkah melewati Stella yang mematung. Tiba-tiba saja ia merasa perih kala memaknai apa maksud Zion sebenarnya.


"Aku tak berniat menggodanya." gumam Stella mulai merasa kecil. Ia tahu jika ia juga tak akan bisa bersama Xavier karna mereka juga berbeda. Tapi, tak seharusnya semua orang memandang Stella sebagai seorang wanita penggoda?


Hati Stella mulai merasa gelisah kala Xavier belum juga mematikan ponselnya sampai masuk ke dalam Mobil. Apa wanita itu sangat penting?

__ADS_1


"Tidak. Kenapa aku perduli? Terserah dia ingin apa. itu bukan urusanku." gumam Stella tersenyum geli tapi tak sejalan dengan exspresi wajahnya yang berubah sendu.


Vote and Like Sayang..


__ADS_2