YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Ingat batasanmu!


__ADS_3

Pagi ini terasa cukup aneh bagi Stella. Ia terus berfikir panjang dan cukup lama kala melihat penampilannya di cermin besar Waklcloset.


Bagaimana tidak? Xavier menyuruhnya bersiap ntah untuk apa Stella juga kebingungan. Tak biasanya Xavier menyuruhnya untuk bangun sepagi ini lalu menyuruhnya bersiap-siap.


"Stella!!"


Suara Efika dari luar kamar membuat Stella tersadar. Ia merapikan rambutnya yang terurai sebahu dengan baju kaos pendek hanya sampai perut sedangkan bagian bawahnya memakai Rok span Jeans berwarna hitam.


Stella benar-benar menjelma menjadi sosok remaja cantik yang terlihat manis dengan pakaian muda ini. Ia tak memakai gaun ketat dan Make-up Bold yang biasa ia pakai di malam hari dulu.


"Stellaa!!!"


"S..Sebentar!"


Jawab Stella lalu keluar dari Walk-Closet dengan wajah masih terkesan datar membuka pintu kamarnya.


Spontan Efika yang melihat Stella keluar dengan tampilan seperti ini jadi terkesima. Ia tak menyangka Stella cocok dengan berbagai pakaian dan riasannya kali ini begitu natural seakan tak memakai apapun tapi sangat-sangat cantik.


"Kau luar biasa!" terpaku dengan mata biru laut itu.


"Sudahlah. Sekarang apa? Dia mau apa?"


Efika memeggang kedua bahu Stella yang terlihat begitu cantik bahkan membuatnya iri.


"Master menunggumu di bawah!"


"Efika!" lirih Stella memegang lengan Efika dengan tatapan yang rumit. Ada rasa cemas di hatinya karna dulu Tuan Rowan juga menyuruhnya bersiap sebelum di jual ke sana -sini.


"Ada apa?"


"A..apa dia akan menjual ku?"


Seketika Efika tercekat. Pertanyaan Stella begitu mencekik kerongkongannya dan agak merinding.


"Maksudmu?"


"Dia tak pernah begini. Apa dia akan menjual ku?"


Tanya Stella cemas. Ia tak mau di jual lagi apalagi untuk memuaskan dahaga para pria. Ia tak sanggup untuk melakukan hal itu.


Melihat rasa cemas tak beralasan Stella begitu tinggi. Efika seketika menghela nafas menarik Stella untuk berjalan ke arah tangga.


"Apa kau pikir Master kekurangan uang?"


"Aku..aku hanya berfikir jika dia itu pria yang sulit di tebak. Suasana hatinya suka berubah-ubah. Bisa saja dia ..."


"Jangan di pikirkan! Ayo turun. Master menunggumu." sela Efika mengiring Stella menuruni anak tangga sampai ke lantai bawah dimana semuanya begitu sunyi.


Stella terfokus pada sesosok pria tampan yang tengah duduk di sofa singelnya biasa di dekat Jendela mengarah ke pantai.


Xavier tampak begitu berwibawah dengan stelan kerja yang membuatnya tampil Maskulin. Duduk bertopang kaki dengan menyeduh secangkir Teh ntah itu Teh atau cairan yang amis kala itu.

__ADS_1


"Master!"


Sapa Efika menunduk. Xavier masih belum menoleh. Pria itu meletakan cangkir Tehnya dengan begitu elegan dan sangat halus.


Ia menjelma menjadi pria yang begitu tenang padahal sebelumnya Stella tahu Xavier begitu arogan dihadapannya.


"Master! Nona Stella sudah siap."


"Hm!"


Efika mengerti dengan situasi ini. Ia melangkah pergi membiarkan Stella sendiri bersama Masternya.


"Efika!" gumam Stella menatap tajam Efika yang menatapnya dengan aura semangat. Justru Stella tak bisa di susana secanggung ini.


"Kau siap?"


"A.. Iya!" jawab Stella spontan. Ia tak bergerak sama sekali sampai akhirnya Xavier berdiri dari duduknya lalu menoleh ke arah Stella yang mematung kaku.


Tatapan Xavier begitu datar tapi ia menyembunyikan rona keterpesonaan atas penampilan Stella dan aura kecantikan wanita ini begitu membuatnya kagum.


"A.. Kau..kau mau membawaku kemana?"


Tak ada jawaban dari Xavier yang mendekat dengan satu tangan masuk ke dalam saku celananya dengan netra elang memindai tubuh Stella dari ujung kaki yang memakai Boots Hitam dan sampai ke puncak kepala Stella.


Sempurna.


Satu kata hanya terjabarkan di batinnya. Tentu Stella merasa kesal karna berfikir yang macam-macam karna sikap aneh Xavier.


"Kau mau apa?"


"Aku tak mau pergi!"


"Kenapa?" tanya Xavier menunggu. Yang ia tahu Stella begitu ingin keluar dari Villa ini tapi kenapa sekarang enggan?


"Bukankah kau selalu ingin keluar?"


"Kau menanyakan aku lapar atau tidak? Jika begitu aku pasti akan menjadi Babi yang kau beri makan dengan kenyang lalu siap di sembelih."


Batin Stella mengumpat. Ia tak akan pergi dari sini atau mengikuti rencana licik Xavier lagi.


"Aku tak mau pergi. TITIK!" tekan Stella lalu ingin berbalik ke arah tangga tapi kakinya tiba-tiba kaku tak bisa di gerakan.


"Kauu.. Kau mau apa. Ha???" pekik Stella berusaha lepas dari sini. Xavier hanya diam setia dengan wajah tanpa exspresi itu.


"Tak ada bantahan padaku!"


"Aku tak mau pergi!! Kau pergi saja sendiri!!" teriak Stella memekik hebat sampai Zion yang baru datang dari pintu depan sana tak heran lagi dengan pertengkaran dua mahluk ini.


"Master!"


"Siapkan Mobil!" titah Xavier lalu melangkah pergi. Ntah apa yang ia lakukan pada Stella sampai tubuh wanita itu bergerak sendiri mengikuti Xavier yang hanya melirik wajah panas Stella dari ekor netra Graynya.

__ADS_1


Sedangkan Zion. Ia heran kenapa Stella juga ikut? Biasanya Xavier tak pernah berniat membawa Stella keluar.


"Aku tak mau pergiiii!!! Aku mau disinii!!!"


"Ada apa dengan Master?"


Batin Zion keheranan. Ingin bertanya tapi tak cukup berani karna jelas Xavier sangat tak suka jika ada yang ikut campur urusannya.


"Aku tak mau pergi!!! Tak mauu!!!"


"Masuk!" gumam Xavier menarik lengan Stella untuk masuk ke pintu Mobil yang sudah ia buka.


Namun. Mobil yang datang dari arah Pagar Villa sana membuat Stella terdiam dengan binaran bahagia.


Tentu Xavier langsung mengeraskan wajahnya melihat exspresi Stella mengetahui kedatangan pria ini.


"Pak Dokteeer!!!"


Teriak Stella dengan senyum merekah membuat Dokter Ryker yang baru turun dari Mobilnya juga ikut senang.


"Stella!"


"Aku ingin bicara denganmu!" ucap Stella dengan niatan untuk mengelak dari Xavier.


Tapi. perlakuannya yang terlihat nyaman dengan Dokter Ryker membuat pria itu merasa terancam dengan tatapan membunuh Xavier yang seakan menusuk jantungnya.


"M..Master!" sapa Dokter Ryker tetapi hanya mendapat aura intimidasi dari Xavier.


"Kau.. Kau kesini cepat!"


"Kau masih sakit?" tanya Dokter Ryker tak berani mendekat karna ia bisa merasakan bagaimana ranah membunuh Xavier mencekam tubuhnya.


Dokter Ryker berusaha melindungi dirinya dari serangan aura Xavier yang membuatnya susah bernafas dan berkeringat dingin.


"Masuk!"


"V..Vee! Aku..aku ada keluhan sedikit pada Pak Dok.."


Kalimat Stella tercekat kala mulutnya tiba-tiba terkunci dan tubuhnya bergerak spontan masuk ke dalam Mobil hingga pintu itu Xavier banting keras membuat mereka tercekat.


"M..Master!" gumam Dokter Ryker menunduk kala Xavier berjalan mendekat ke arah pintu Mobil yang ada di samping sana.


Namun. Langkah Xavier terhenti di dekat pintu Mobil tepat membelakangi Dokter Ryker yang merasa jika Masternya begitu aneh pagi ini.


"Master!"


"Ingat batasan mu!" ucap Xavier dengan peringatan yang begitu nyata dan mengerikan bagi Dokter Ryker.


Ia saling tatap dengan Zion yang tak mau merespon banyak hal dan segera masuk ke Mobil membuat Dokter Ryker merasa kebingungan.


"Kenapa Master begitu marah? Seharusnya dia tak seperti ini."

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


Maaf yak semalam up cuman 1.. Author capek abis pulang sekolah Say. Ujan lagi itu 🥲


__ADS_2