
Semua orang yang sudah ada di ruangan Meeting itu terus melihat jam di pergelangan tangan mereka. Ini sudah mau Sore tapi belum juga ada kabar tentang kedatangan Presdir EMC. Dewan Direksi dan Tuan Darren juga ada sebagai bukti jika Kerja sama antara Perusahaan berjalan dengan sangat lancar.
Tetapi, sedari tadi mereka merasa cukup tak tenang. Apa ada masalah hingga Presdir tak datang lagi? Atau mungkin ada gangguan yang memang tak memungkinkan?!
Linnea yang melihat kondisi ruang Meeting yang tampak mulai sunyi-pun mengumpat. Ia sudah beberapa kali menghubungi Xavier tapi masih tiba-tiba saja Ponsel pria itu mati.
"Apa kau tak bisa berbuat berguna sedikit saja?" desis Linnea pada Sekertaris Xavier yang sedari tadi menghandle suasana disini.
Sekertaris Grach hanya bisa diam tak menggubris amarah Linnea yang sedari tadi menunggu dikursinya. Tuan Darren yang tahu dengan raut wajah kesal Linnea segera memberi sapaan.
"Nona Linnea terlihat cemas. Kenapa?" tanya Tuan Darren dengan sopan. Pria paruh baya itu menatap lembut anak Pengusaha tersohor di hadapannya itu.
"Aku bertanggung jawab dengan Proyek besar ini. Selama Presdir pergi keluar Kota, akulah yang dipercaya melanjutkan posisinya. Sekarang dia belum datang. Aku sangat cemas jika terjadi sesuatu yang buruk padanya. Tuan!"
"Kau sangat perhatian pada Presdir. Nona!" puji Tua Darren membuat senyum di bibir tipis Linnea mekar. Hal itu menarik Mr Frenzer untuk sedikit menjilat.
"Ntahlah. Kami selalu merasa Nona dan Presdir itu cocok. Walau Rumor kedekatan kalian sudah tercium oleh Media tapi itu tak mustahil lagi."
"Benar! Aku dan Presdir memang memiliki hubungan yang dekat dan kuat. Hanya saja aku ingin profesional dalam dunia Kerja. Kalian tahu sendiri bagaimana Presdir sangat menggilai pekerjaannya?!" Jelas Linnea menyelipkan intonasi seakan sangat mengenal Xavier.
Asistennya yang ada di belakang ikut mengangguk meyakinkan mereka akan ucapan Nonanya barusan. Melihat semua orang mendukung hubungannya dengan Xavier, Semangat Linnea semakin menggebu dan percaya diri yang tinggi.
Jelas Linnea belum tahu soal kabar Pemberontakan Xavier terhadap Kakek Lucius semalam. Ia masih sibuk di Perusahaan dan terus memikirkan cara untuk mendapatkan hati Xavier.
"Lihatlah. Patriack! Kita berdua adalah pasangan sempurna di mata semua orang. Kau harus bisa memahami itu."
Batin Linnea merasa sangat puas. Perlahan-lahan ia sudah memasuki Dunia Xavier. Ia bisa mengambil tempat di Perusahaan ini dan sebentar lagi tempat yang kosong di dada bidang itu akan segera ia kuasai.
Karna merasa sangat percaya diri. Linnea tak ingin menunda tentang kabar Pernikahannya. Jika di diamkan Xavier akan menolak terus tapi bagaimana dengan Media?
"Sebenarnya ada hal yang kami sembunyikan untuk sementara waktu dari kalian!"
Ucapan Linnea membuat mereka saling pandang. Tuan Darren cukup penasaran karna yang ia tahu Presdir EMC itu tak pernah bisa di tebak isi pikirannya.
"Kalau boleh tahu apa. Nona? Kau sangat membuat kami penasaran!"
__ADS_1
"Kalian bisa menyebarkan ini pada Media untuk menambah Pamor Perusahaan kalian karna aku baru bicara hanya disini." jawab Linnea memelintir ujung rambut bergelombangnya dengan tatapan sangat licik.
"Katakan. Nona!"
"Aku dan Presdir akan menikah!"
Sontak ucapan Linnea barusan membuat Tuan Horneo dan Mr Frenzer tersedak. Keduanya saling pandang terkejut karna yang mereka lihat kala itu Presdir Xavier sangat dingin pada Linnea bahkan sering mengabaikan keberadaan wanita ini.
Bagaimana bisa? Apa setelah meluapkan amarahnya dengan menyuruh mengubah Dokumen selama 10 menit itu sudah di obati oleh Linnea?
"N..Nona! Kau luar biasa. Presdir sangat susah di dekati tapi kau bisa menaklukannya."
"Yah. Kalau boleh tahu kapan acaranya? Kami akan bantu meramaikan."
Puji mereka sangat tak menyangka tapi juga masih belum sepenuhnya percaya. Ada beberapa persen kemungkinan karna Linnea berasal dari Keluarga tersohor yang dekat dengan Keluarga Misterius Xavier. Keduanya memang sangat mungkin untuk menikah.
"Aku ingin kalian sebarkan hal ini! Presdir terlalu sibuk jadi aku harus membicarakan ini sendiri."
"Baiklah. Nona!" jawab Tuan Darren hanya setuju saja. Lagi pula posisi Linnea memang sangat berpengaruh. Mereka tak bisa asal bersikap jika masih ingin menginjakan kaki di lantai Perusahaanya.
Setelah beberapa lama Linnea menunjukan bagaimana dekatnya ia dengan Xavier, tiba-tiba saja Sekertaris Grach menerima pesan kalau Presdir mereka sudah ada di depan.
"Biarkan aku saja. Kau urus yang ada disini!"
"Baik. Nona!" jawab Sekertaris Grach tak mau membuat masalah.
Linnea berjalan ke arah pintu keluar ruangan ini. Ia berjalan ke arah lorong menuju Lift. Tapi tiba-tiba saja Sesosok pria yang sudah ia tunggu kehadirannya sedari tadi itu tampak berjalan tegas penuh kharisma yang kuat ke arah Ruang Meeting.
Senyuman Linnea mekar menatap hangat wajah Tampan dingin Xavier yang datang bersama Zion.
"Sayang! Kau dari mana saja? Mereka sudah menunggumu!"
Xavier tak memperdulikan Linnea. Masih dengan sikap dinginnya ia masuk ke dalam Ruang Meeting seakan tak melihat wanita yang tadi mencegat jalannya.
"Cih. Masih saja begitu, dia memang ingin aku berbuat nekat." desis Linnea menghentakkan kakinya ke lantai. Dengan gaya elegan tapi istimewa itu Linnea meredam amarahnya kembali masuk ke Ruangan Meeting.
__ADS_1
Di dalam sana mereka sudah berdiri menyambut kedatangan Xavier yang segera duduk di kursi kekuasaannya. Meja Bundar lebar dengan desain Modren klasik ini membuat hawa bangsawan itu semakin kental.
"Presdir! Kami harap kau baik-baik saja."
Xavier hanya mengangguk datar. Ia tak menyapa siapapun karna fokus pada apa yang akan di bahas kali ini.
Zion yang tahu bahwa Masternya tak punya banyak waktu akhirnya langsung memulai Meeting ini. Ia memimpin berjalannya Pertemuan sampai pada Linnea yang tadi sudah duduk di tempatnya mengajukan satu pertanyaan.
"Proyek ini sudah 85% berjalan dan sebentar lagi akan selesai. Apa Presdir akan mengadakan Pesta untuk merayakan Proyek yang berjalan lancar?"
Tanya Linnea ingin membuat sebuah guncangan. Ia yakin di Pesta besar itu nanti Xavier tak akan berkutik jika ia membahas soal Pernikahan.
"Bagaimana? Presdir!"
Xavier menatap lurus kedepan. Pesta itu adalah hal yang sangat membosankan. Lebih baik ia menghabiskan waktu bersama Boneka Saljunya yang tadi marah dan belum berniat untuk berbaikan.
"Proyek ini masih belum selesai! Aku hanya mengadakan Apresiasi besar jika semuanya sempurna." tegas Xavier malas untuk mengadakan itu.
"Yah. Presdir benar! kami akan menyelesaikan Proyek itu terlebih dahulu. Jika sudah selesai maka sah-sah saja untuk mengadakan Pesta."
"Aku setuju!" timpal Tuan Darren mencari aman akan jawaban Mr Frenzer. Raut wajah Linnea seketika kelam dengan satu tangan terkepal di bawah meja.
Sialnya Xavier memang tak perduli dengan pandangan orang lain padanya.
Tahu akan amarah Linnea yang terpendam bagaikan api di dalam sekam, Xavier mulai melempar tatapan datarnya pada Linnea yang juga memandangnya.
"Kau sudah bekerja keras. Bukan?"
"Yah. Sangat bekerja keras." jawab Linnea berbangga hati. Xavier melempar Dokumen yang di sodorkan Zion padanya ke meja Linnea yang terdiam kala tatapan beberapa orang disini terlihat membandingkan realita dengan ucapan Linnea tadi.
"Temukan informasi itu dan berikan padaku secepatnya!"
Linnea membuka Dokumen yang di lemparkan Xavier tadi. Namun, seketika ia menyeringit melihat apa yang ingin Xavier ketahui.
"Ini..."
__ADS_1
....
Vote and Like Sayang..