
Suara penuh dengan artian Mesum itu terdengar meremangkan Tubuh Stella yang diam tapi jelas ia tengah menahan amarah akan apa yang sudah di lakukan Pria ini.
Giginya tertutup rapat dengan mata berair menahan semua gejolak perasaan di dadanya.
"Bagaimana kabarmu? Apa kau merindukan-ku?"
"Aku baru melihat Pria SEMENJIJIKAN kau." desis Stella tapi di jawaban kekehan dari seberang sana.
Pintu Lift sudah terbuka tapi Stella masih belum keluar. Ia tak bisa menahan diri untuk tak memakai bajingan satu ini, tak bisa sama sekali.
"Sayang! jangan bicara seperti itu, kau dan aku sama-sama menjijikan. Hm?"
"Aku tahu ini perbuatanmu-kan?" geram Stella dan lagi-lagi tawa yang sama keluar. Bahkan, Stella berpikir apa Pria ini memang benar-benar sudah gila dan tak waras.
"Kenapa menuduhku sembarangan? Aku tak tahu apa-apa. Berita yang mana? Dan.."
"Kau lihat saja! Aku bisa saja membalikan keadaan." tekan Stella dengan deri nafas terdengar memburu. Emosinya naik level tinggi dan ingin sekali membongkar semua aib Pria ini tapi ia tak ada bukti untuk sekarang.
"Ouh. Benarkah? Tapi sayangnya kau tak akan bisa."
"Aku bisa. Dan kau bisa lihat siapa yang akan tenggelam dalam semua ini." jawab Stella dengan kepalan menguat. Terdengar suara desisan di seberang sana seakan Pria ini tengah terluka.
"Stella ku sayang! Menyerahlah, datang padaku dan kita nikmati Momen indah yang selama ini kau tinggalkan. Jangan terlalu memberontak. Sayang!"
Muak mendengar suara Mesum ini membuat Stella langsung mematikannya. Ia segera mencengkram rambutnya yang terasa ingin lepas menahan pusing.
"Dia terdengar santai. Tak bisa seperti ini terus." gumam Stella mengigit ujung jarinya. Ia melangkah lunglai arah ruangan Xavier yang hanya ini yang mampu membuatnya nyaman ditengah gempuran masalah yang rumit.
Saat tiba di pintu sana Stella diam karna pandangannya mulai terasa berkunang. Ia lupa Makan karna tadi Ester memang sudah memberikan makanan padanya tapi tak sempat menyuap satu sendok saja.
Dengan pelan Stella membuka Pintu ruangan Xavier yang memang tak di kunci karna ia dari sini tadi. Pandangan sendu Stella tertuju pada Kursi gagah berkharisma yang sudah lama dingin di depan sana.
"Siang. Vee!" sapa Stella tersenyum nanar seraya melangkah ke arah Sofa. Ia menjatuhkan tubuhnya di sana sekedar untuk merilekskan jiwanya.
__ADS_1
Stella bersandar dengan satu tangan meletakan Ponsel di atas meja tak jauh darinya. Ia beralih memijat pelipisnya yang terasa berdenyut berat dan kepalanya sedikit berputar.
"A..Asss emm.. Kenapa harus sekarang?" umpat Stella menggelengkan kepalanya agar kembali lebih baik.
Alhasil ia tak kuat duduki seperti ini hingga Stella berbaring di atas Sofa panjang yang cukup untuk menampung tubuhnya. Dalam konsisi tak baik-baik saja Stella terus memikirkan soal Nyonya Clorie dan rencana apa yang akan di buat oleh Direktur Luther nantinya.
"Vee! Boleh tidak aku ikut kau saja?" tanya Stella menatap langit-langit tinggi ruangan ini. Rasanya dunia ini terlalu mengerikan jika tak ada Xavier di sampingnya.
"Zion benar. Dia patut menyalahkan-ku karna kau memang tak selayaknya mengorbankan nyawa-mu hanya untukku. Lihat sekarang!" gumam Stella yang sebenarnya begitu ingin melihat Xavier lagi.
Tapi, setelah pertemuan itu Xavier tak lagi datang bahkan Stella tak merasakan lagi kehadirannya di sekitar Villa atau Perusahaan.
Aku tak tahu harus melakukan apa? Rasanya semua ini begitu mustahil bagiku. Vee! Aku terlalu takut untuk melihat kebelakang tanpa ada kau di sampingku. Aku tak berani.
Stella hanya bisa mengusap air matanya agar Ester tak melihat ini. Ia harus tetap berjuang walau nantinya kenyataan yang di beberkan pada Media itu benar.
Drett..
Notifikasi bermunculan di layar Ponsel Stella. Lirikan mata sembab itu tertuju lada Ponselnya di atas meja Sofa lalu meraihnya berat.
TERLIHAT JIKA ITU MEMANG SEKERTARIS BARU DI PERUSAHAAN.
AKU RASA DIA PUNYA JALUR TIKUS UNTUK MASUK KE SANA.
EMC BARU KALI INI DALAM SEJARAH MENERIMA LACUR.
AKU KENAL WANITA ITU! DIA YANG IKONIK DI CLUB KEMAREN-KAN*?
Komentar para Publik pada Postingan beberapa Karyawan Perusahaan yang tadi berniat membela Stella tapi malah menambah masalah. Mereka membuat Postingan tentang kejadian hari ini tapi pembelaan mereka di bantah oleh Masyarakat yang tahu bagaimana Stella.
Lama Stella memandangi tulisan-tulisan yang terus berderet di Layar Benda pintar ini hingga sedetik kemudian semuanya langsung hilang.
Tak ada lagi Notifikasi tentang itu keluar dan berganti dengan kalimat-kalimat dukungan pada Stella.
__ADS_1
Untuk sesaat Stella hanya bisa tersenyum tapi setelah itu ia mengigit bibir bawahnya miris lalu kembali meletakan Ponsel itu.
"Meredam untuk saat ini tak akan ada gunanya." gumam Stella tahu jika ini pekerjaan yang di lakukan Team IT yang tadi di tugaskan Asisten Zion.
.....
Sementara di Dunia yang berbeda. Keadaan terlihat sangat mengerikan. Sahutan kilat saling bersilang dengan guntur di langit menambah kepekatan Tempat ini.
Di sebuah Pohon besar di jalari akar lebar menjulang tinggi itu tampaklah Sesosok Mahluk yang tengah di jerat dan terus di sengat oleh Petir yang kesetanan menyambar ke arahnya.
Pohon tinggi tanpa sehelai duan dengan ranting bercakar panjang. Di sekelilingnya ada lautan hitam dimana hanya ada satu cahaya yaitu dari Bulan yang merah darah tepat di atas sana.
Rasa sakit itu menjalar di sekujur tubuhnya bahkan Tulang-tulang yang semula kokoh sudah beberapa kali hangus tapi ia masih tak mau menyerah. Hal ini membuat Mahluk yang sama dengannya itu hanya bisa diam melihat bagaimana kesungguhan Ponakannya.
"Kau tak akan bisa menembus waktu selama itu." gumamnya patah asa. Tapi, mata merah Sosok yang tengah menahan sakit itu semakin terkobar tak pernah padam.
"D..Diamlah!"
"Kau mau meninggalkanku di sini?" pertanyaan terdengar konyol tapi tak bisa mengekspresikan bagaimana hatinya sekarang.
Rasa sangat bahagia itu muncul karna selama disini Xavier begitu berjuang bahkan dalam waktu singkat ia sudah mencapai Level Ujian ini. Hanya tinggal beberapa langkah lagi yang tentu lebih berat lagi untuknya kembali seperti semula.
Kalimat meremehkan yang di lontarkan Oleh Sosok yang sering di panggil Arlen itu sama sekali tak menurunkan hasrat Xavier. Ia merasakan sakit yang teramat kuat di dadanya pertanda ada masalah yang tengah terjadi pada Stella dan wanita itu dalam ancaman besar.
"Tunggulah sebentar. Jangan melupakanku."
Batinnya ingin segera pergi. Amarahnya berkobar kala membayangkan bagaimana bebasnya Pria bajingan itu mengusik Istrinya.
Walau ada Ester tapi tentu ia tak cukup paham bagaimana menghadapi situasi Perusahaan dan Masalah Mommynya sekaligus.
....
Vote And Line Sayang..
__ADS_1
Maaf ya say emang terasa ruwet. Author juga mau namatin cepat biar nggak berteleh-teleh. beberapa hari lagi ya🥲