YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Akan menunggumu!


__ADS_3

Masih dengan suasana yang sama. Keheningan ini menyapa dengan semilir angin berhembus tenang menyapu wajah cantik Stella yang masih menatap kosong tanpa berkedip ke satu titik fokus dibelakang Ester.


Tak ada yang berani bergerak seakan-akan hal ini adalah momen sakral dan sangat dinantikan.


Xavier yang menatap wajah sendu Stella seketika terasa angin sejuk ini menerpa wajahnya. Perlahan ia melangkah mendekati Ester tapi matanya masih fokus ke belakang Lelaki itu.


Ester hanya diam membiarkan Stella mendekat hingga berhenti tepat di samping bahunya. Dada Xavier semakin bergemuruh dengan tangan terulur ke arah wajah Stella yang merasakan hawa keberadaan ini.


"V..Vee!" lirih Stella memejamkan matanya membiarkan sesuatu yang sejuk menyentuh pipinya. Hanya terasa seperti hembusan angin dingin tapi Stella yakin jika ini menyimpan kehangatan.


Air matanya jatuh dengan kedua mata masih terpejam dan bibir merapat erat. Jemari Xavier yang tak bisa menyentuh wajah Stella hanya bisa memeggang hampa. Dadanya sangat berat dan terasa sesak.


Tubuh ini sudah ingin berhambur memeluk Kesayangannya tapi ia tak cukup bisa dan sangat benci akan hal ini.


"V...Vee!"


"Sayang!" lirih Xavier sangat gelisah. Ester merasakan ketidaknyamanan Xavier yang benar-benar tak bisa mengendalikan dirinya.


Rasa rindu itu sangat besar bahkan, amarahnya juga ikut menggebu karna tak bisa menyentuh Stella.


"Vee! I..ini kau?" lirih Stella dengan suara parau. Air matanya terus turun dan menembus bayangan tangan Xavier.


Kelopak netra biru laut itu perlahan terbuka hingga matanya menatap hampa kedepan tapi keyakinan dan kepercayaannya menjadikan Stella seperti orang gila di tengah keramaian.


"V..Vee! K..kau melihatku?"


"Iya. Aku melihatmu. Aku lihat!" jawab Xavier mengangguki hal itu. Tapi, Stella tak bisa mendengarnya kecuali Ester yang mengepal sungguh merasakan hasrat kerinduan yang begitu besar ini.


"K..kau kemana saja? Aku menunggumu datang Kenapa hanya kali ini? Apa kau tak ingin melihatku lagi? Kau.."


"Tidak. Itu tak benar." sela Xavier terlihat panik. Ia sendiri tak bisa memenuhi keinginannya yang bahkan begitu besar untuk bertemu begini.


"A..apa kau melupakan aku?"


"Tidak. Aku..aku masih mengingatmu. Bahkan, aku.."


Stella diam dan Xavier juga menghentikan ucapannya. Sedetik kemudian Stella tersenyum kecil kala melihat ia seperti orang bodoh yang bicara sendirian.

__ADS_1


"Kau panik?" tanya Stella tahu jika Xavier pasti membalasnya.


Seketika dada Xavier yang tadi ingin meledak semakin di Jalari perasaan yang membuatnya serasa ingin berteriak. Nyatanya wanita ini mengerjainya dalam kondisi seperti ini.


"Kenapa kau selalu membuatku ingin gila. Ha?"


"Karna hanya aku yang bisa melakukannya."


Sontak Ester tersentak kala Stella seakan menyahut dengan sangat yakin jika Xavier tengah bicara seperti itu. Dahinya menyeringit tapi Xavier tak heran lagi karna Stella memiliki ingatan yang cukup mengesankan.


"Jangan kau pikir aku lupa Tabiat-mu. Hm?"


"Aku tak terkejut." jawab Xavier sangat merasa tak mau pergi dari sini.


Stella juga sama. Kesedihannya sedikit terobati bahkan rasanya ia berharap waktu terhenti agar tak merebut Momen ini darinya.


Merasa jika Stella sudah larut dan tak sadar lagi keadaan di sekelilingnya, Ester akhirnya pergi kembali ke dalam Villa meninggalkan Stella yang masih asik padahal lampu Taman sudah menyala Otomatis pertanda sudah mendaki malam.


Tetapi, keduanya masih tetap nyaman disini bahkan Stella yang memang belum berganti pakaian kerjanya tampak merasakan hawa dingin di sekujur kaki dan pahanya. Tanpa menghiraukan hal tersebut ia masih fokus pada suasana hangat ini.


"Vee! Aku ingin membuat Taman Bunga di sekitar Villa. Tapi, ini tak cukup luas. Apa boleh aku menanam di belakang?" tanya Stella yang langsung diangguki Xavier.


"Terimakasih." jawab Stella tersenyum tulus. Ia seakan tahu jika Xavier pasti menyetujuinya dan itu tak heran lagi.


Xavier juga merasa tenang dan lega karna Stella baik-baik saja. Ia sangat cemas karna rasa sakit dan kesedihan yang Stella rasakan juga tersampaikan padanya.


Aku lega kau baik-baik saja. Walau aku tahu kau setiap hari menangis sendirian. Sayang!


Suara batin Xavier melihat Stella menahan air matanya. Ia bicara seakan hari ini adalah hari yabg sangat membahagiakan tapi sekaligus luka besar akan kembali tertoreh.


"Vee! Aku menanam semua ini untukmu."


"Untukku?" gumam Xavier menatap Bibit-bibit bunga yang sudah berjejer rapi mengelilinginya. Sesaat Xavier diam memahami makna hal ini.


"Ini adalah bentuk harapanku."


"Kau.."

__ADS_1


Stella beralih menatap ke arah langit yang sudah gelap. Tatapannya begitu jauh dan sangat intens menarik Xavier yang juga memandang ke arah sana.


"Vee!"


"Hm?"


"Aku akan menunggumu!" gumam Stella masih belum mengalihkan pandangan dari langit sana. Xavier menoleh hingga wajah penuh keyakinan dan percaya Stella menarik perasaan terdalam Xavier.


"Bagaimana jika aku tak kembali?"


"Aku akan tetap menunggu!" sambar Stella dengan pandangan benar-benar yakin. Xavier jadi sangat takut mengecewakan harapan besar yang terpancar di mata Stella.


"Aku akan menunggumu disini. Saat ratusan bunga-bunga ini mekar dan kau harus berjanji padaku , kau akan datang!"


"Jangan terlalu berharap. Stella!" gumam Xavier takut dan sangat takut. Ia tahu betapa besar bencana dan ujian yang akan ia alami dan membutuhkan waktu yang sangat lama.


Hawa keraguan Xavier dapat di rasakan Stella. Ia juga tak bodoh untuk tahu betapa banyak Ujian dari Mahluk sebangsa Xavier untuk datang kembali ke Dunianya.


"Vee! Tak perduli apapun yang akan terjadi aku akan tetap menunggumu. Terserah kau akan datang atau tidak, tapi aku akan tetap disini."


Xavier diam meratapi semua ini. Ia tak bisa menyia-nyiakan harapan Stella yang begitu besar untuk kebangkitannya.


"Saat kau datang kau harus memetik Bunga untukku, jika tidak aku akan tetap memintanya darimu. Tak ada bantahan dan TITIK."


"Aku datang!" tegas Xavier beralih menggenggam tangan Stella walau hanya bayang-bayang saja. Stella juga merasakan jika keyakinannya semakin menguat.


"Kau sudah berjanji dan harus menepatinya. Jika tidak, aku akan mencari penggantimu."


"Aku janji." jawab Xavier tak bisa membayangkan hal itu. Saat bersama Ester saja ia sudah was-was jika Stella melupakannya. Bukan tanpa alasan Xavier memikirkan itu.


Jelas Ester jiplakannya saat masih Remaja dan bisa saja Stella oleng ke sana. Tak bisa di diamkan dan untung saja ia masih bisa menekan Ester untuk menjaga jarak.


Untuk malam ini Xavier menemani Stella untuk menikmati suasana malam. Walau angin ini terasa dingin tapi Stella di sapu hawa hangat dari Xavier yang menjaga agar area ini tak membahayakan Stella.


Tapi. Xavier datang tak hanya untuk melihat Stella. Ia ingin memperingatkan Ester soal Manusia yang baru saja ia intimidasi.


Sosok itu telah di bantu oleh Sebangsa mereka dan jangan sampai Ester terkena imbasnya. Mereka akan bermain sangat licik nantinya.

__ADS_1


....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2