
Sejak pertengkaran hari itu semuanya perlahan berubah. Stella sudah mulai membentengi dirinya dari Xavier yang juga masih abu akan perasaannya.
Ia memilih tak perduli dan acuh walau sejujurnya Stella tahu jika ia memang sudah memiliki rasa pada Xavier. Tetapi, dengan sikap dan jawaban Xavier setiap ia bertanya tentang status dan posisi, Stella akhirnya memilih sadar dan tak ingin jatuh dalam lubuk perasaan yang terdalam. Ia hanya akan sakit sendiri karna menahan hati.
Seperti sekarang. Stella masih kekeh untuk pergi dan benar-benar mantap akan keputusannya. Ia sudah ada di satu Mobil dengan Xavier yang juga diam tak ada satu kata-pun yang keluar.
Pandangan keduanya fokus ke arah luar membuat Zion yang tengah menyetir-pun heran dan bingung. Biasanya ada saja yang di lakukan dua mahluk ini di kursi belakang?
Tentu Zion belum tahu tentang kehamilan Stella dan Xavier juga tak berniat untuk memberi tahu siapapun.
"Master!"
"Hm."
Xavier tak menatap Zion atau melirik kecil saja tidak. Dari wajah datar begitu mengintimidasi darinya itu sudah menyatakan jika Dunianya tengah tak baik-baik saja.
"Master ingin membawanya ke Perusahaan?"
"Dia.."
"Aku turun di jalanan saja." sela Stella tak membiarkan Xavier bicara. Ia masih melihat keluar dimana Mobil sudah ada di jalur Tol Kota seperti biasa tapi kali ini tak ada decah kagum dari Stella yang berubah dingin.
"Kau yakin?"
"Yah." jawab singkat Stella pada Zion yang menutup rapat mulutnya. Mobil sudah keluar dari area Tol dan tiba di jalanan cukup sepi.
Mata elang Xavier memindai kondisi jalan santai yang biasa di gunakan untuk jalur cadangan mereka jika Jalan utama begitu ramai.
Pepohonan disini cukup rindang dengan beberapa orang yang tengah berjalan santai di pinggirnya.
Saat merasakan tempat ini tak cukup aman untuk Stella. Xavier menyentuh pintu Mobil didekatnya hingga Stella yang ingin membuka pintu di sampingnya kesusahan.
"Zion!"
"Aku tak menguncinya." gumam Zion kala Stella melayangkan tatapan membunuh padanya.
Alhasil Stella tahu jika ini perbuatan seseorang dan itu pria di sampingnya.
"Aku ingin turun!"
Xavier masih diam menatap keluar seakan tak mendengar itu. Dari sini saja Xavier bisa memprediksi berapa berandalan yang akan datang jika Stella tetap ingin keluar.
"Master kau.."
__ADS_1
"Jalan!" titah Xavier tak memperdulikan permintaan Stella yang seketika diam tak mau bicara apapun lagi.
Ia hanya terus melihat ke luar dimana banyak tempat-tempat aneh disini. Ia juga tak mengerti kenapa banyak orang-orang yang berdiri di sudut-sudut bangunan dan terlihat membicarakan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi.
Zion yang sudah tahu keadaan tempat ini hanya bisa menghela nafas lega karna Stella tak turun. Ia tak perduli akan kejahatan apapun tapi yang pasti Masternya akan turun tangan lagi.
Setelah beberapa lama mereka mulai memasuki area Perusahaan. Seperti biasa disini begitu ramai tetapi tak padat. Semuanya punya jalur sendiri hingga mata tak sakit saat melihatnya.
"Turunkan disini saja!"
Spontan Zion menghentikan Mobilnya di ujung jalan Perusahaan. Ia menatap Xavier dari arah kaca spion tetapi sepertinya Xavier tak keberatan saat Stella sudah membuka pintu Mobil seraya bersembunyi takut-takut ada yang melihatnya.
Namun. Mata tajam Xavier bisa melihat jika ada Paparazi yang mengintai di balik pohon-pohon rindang di tepi jalan.
Dengan cepat ia menarik mengulur tangannya ke arah lengan Stella yang tadi ingin menutup pintu Mobil.
"Kauu.."
"Diam!" tekan Xavier meraih tubuh Stella yang jatuh ke pahanya. Netra abu tajam itu menelisik ke arah kaca spion dimana sosok pria berbaju hitam itu masih mengintai disana.
"Lepaass!!"
"Kau ingin jadi Topik utama?" tanya Xavier menciptakan kerutan di dahi Stella yang tak mengerti. Ia kebingungan dan baru paham saat melihat kaca depan Mobil yang memperlihatkan seseorang tengah memantau mereka.
"Jika kau keluar. Fotomu akan terpampang di Layar besar." jawab Xavier masih dengan intonasi berat dan dinginnya.
Sadar akan posisi mereka begitu intim, Stella segera kembali ke kursinya seraya merapikan kemeja yang ia pakai.
Balutan kemeja putih dan Rok jeans sepaha ini masih saja di sukai Stella. Ia tampak selalu sempurna dengan balutan pakaian apapun.
"Aku akan suruh penjaga untuk mengusirnya. Master!"
"Hm."
Zion menelfon penjaga yang ada di depan Perusahaan. Tak perlu waktu lama untuk datang dua pria berstelan jas lengkap itu sudah berlari dan memberi sapaan hormat saat melewati Mobil Xavier.
Melihat petugas penjaga datang ke arahnya. Pria itu langsung melarikan diri dari area Perusahaan dan barulah Stella lega.
"Jangan lupakan aturan ku!" tegas Xavier kala Stella kembali ingin turun.
"Tentu! Kau juga ingat dengan ucapanmu kemaren, malam ini aku akan membawanya padamu!"
Xavier hanya diam walau tangannya sudah terkepal kuat. Stella benar-benar serius ingin mencarikan penggantinya padahal Xavier mengatakan itu hanya agar Stella tak lepas dari jeratannya.
__ADS_1
"Dan yah."
Stella menatap Xavier yang masih saja enggan dan tampak begitu arogan.
"Kau yang mengatakan jika aku bisa mencarikannya maka kau akan melepaskan aku. INGAT KATA-KATAMU ITU." tekan Stella menutup pintu Mobil lalu berjalan menjahui benda mewah itu.
Seakan tersulut api yang menggelora Xavier segera menendang kursi kemudi Zion yang sampai terpadat ke depan dan Mobil berguncang hebat.
Dada Zion terbentur Mobil sampai ia terbatuk darah perlahan keluar dari Mobil. Ia tak berani menegur Xavier yang tengah menjadikan Mobil pelampiasan amarahnya.
"Dia pikir dia siapa? dia ingin melawanku." geram Xavier benar-benar naik pitam. Rasa tak terima akan perlakuan Stella padanya dan penolakan wanita itu untuk tinggal dengannya menjadikan Xavier pria teregois yang pernah ada.
Di suatu sisi ia menginginkan Stella tinggal tapi disisi lain ia juga sangat tak bisa melihat wanita itu terus memberontak dengannya.
"M..Master!"
"Pastikan dia tak bertemu wanita itu! Bila perlu jadikan dia makanan bawahan ku." geram Xavier membuat Zion bergidik melihat wajah mengeras Masternya.
Jika anggota bawah yang bertindak maka kejadian saat di Mall itu akan terulang kembali. Stella hanya akan membawa korban baru yang tentu tak akan pernah selamat sampai kapanpun.
"Lihat! Sampai kapan kau akan memberontak. Hanya aku yang bisa mengurung mu dan hanya aku." geram Xavier benar-benar tak bisa mengendalikan dirinya.
Stella sudah begitu lancang mengobrak kehidupannya dan Xavier Patriack Elbrano tak pernah bisa di kendalikan siapapun apalagi Wanita.
"Bayi. Bayi apa? Itu hanya akan menyusahkan mu. Dia tak penting dan tak harus ada."
Maki Xavier sampai mengatakan hal itu. Ia tak akan membiarkan Stella mengandung benihnya karna itu akan berakibat fatal.
Senyayu angin mulai terasa mendingin. Cuaca yang tadi cerah perlahan membawa kegelapan dan sangat mistis.
Seiring dengan cuaca berubah buruk. Begitu pula kilatan cahaya hitam yang melesat ke arah Mobil tanpa di lihat siapapun.
"Master!"
Suara yang keluar tapi tak menunjukan sosok apapun. Hanya ada asap hitam di luar Mobil yang mengambang tak berpijak ke tanah.
Wajah Xavier yang semula begitu manusiawi dan tak mengerikan berubah menjadi sosok separuh jiwa Vampirnya.
Setengah wajahnya berubah menjadi tengkorak dengan mata merah dan taring keluar dengan sangat tajam.
"Lenyapkan Janin itu!"
Vote and Like Sayang..
__ADS_1