YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Sangat keras kepala!


__ADS_3

Sesuai dengan kesepakatan tadi. Ella bersedia untuk ikut bersama Stella, gadis lugu itu sangat berharap jika semua masalah keuangan yang ia hadapi akan selesai dengan menekuni pekerjaan barunya.


Stella yang membawa Ella untuk menunggu di jalan tak jauh dari Perusahaan EMC-pun hanya bisa diam berharap jika Xavier memperlakukan Ella dengan baik.


"Stella! Perusahaan itu sangat besar, dan kau tahu? Presdirnya sangat Tampan. Bahkan, di sekolahku banyak yang menggilainya."


"Begitu. Ya?" tanya Stella seakan tak tahu. Ia juga sadar jika Xavier memang patut di kagumi tapi tak banyak yang tahu sikap egois dan arogan pria itu.


"Stella! Kau sering kesini?"


"Aku?" tanya Stella yang tadi asik melihat-lihat orang yang keluar masuk dari Gerbang besar Perusahaan dari sini.


"Iya. Kenapa harus menunggu disini? Apa pria itu dari Perusahaan EMC?"


"A.. mm bisa di bilang begitu." jawab Stella belum mengatakan jika yang harus Ella layani itu adalah Presdir yang ia bicarakan tadi.


Ella yang mendengar jawaban Stella seketika tersenyum sumringah. Ia yakin pria itu juga pasti orang yang cerdas. Buktinya, dia bisa bekerja di Perusahaan Microsoft terbesar EMC ini.


"Semoga pekerjaanku lancar. Ya?"


"Tapi.. Kau harus menurut, jangan sesekali membantahnya. Jika dia melakukan hal yang membahayakan nyawamu, kau bisa lari. Ella!" jelas Stella serius. Ella jadi bingung, kenapa sedari tadi Stella tampak cemas setiap membahas soal Pria itu.


"Tenang saja. Aku akan berusaha tak mengecewakannya dan mempermalukan mu."


"Berjanjilah kau akan baik-baik saja!" pinta Stella benar-benar khawatir.


"Hey! Aku hanya bekerja, bukan berperang."


"Tapi, salah sedikit saja nyawamu akan melayang."


Batin Stella tak bisa tenang. Ia selalu berharap semoga Ella akan baik-baik saja dan semuanya berjalan lancar.


Setelah menunggu cukup lama di dekat tempat duduk tak jauh dari lingkungan Perusahaan. Stella mulai merasa lapar karna ia hanya makan tadi pagi itu-pun tak banyak.


Dilihatnya langit yang sudah membayang jingga dan disini banyak orang yang memperhatikan mereka khususnya Stella yang mendapat lirikan nakal lelaki muda.


"Ini sudah sore! Kapan dia keluar?"


"Biasanya malam. Tapi, aku tak tahu kapan dia akan keluar?!"


Ella terdiam sejenak. Ia melihat Stella tak membawa barang apapun kecuali pakaian di tubuhnya.


"Kalau begitu kita cari makan di sekitar sini."


"Aku tak bawak uang." gumam Stella hanya bisa meremas perutnya yang sakit. Ella tersenyum dengan ringan merogoh saku celananya.


Ada pecahan uang receh yang memang sisa dari makannya tadi pagi. Ia rasa ini cukup untuk membeli dua Sandwich dan air mineral.


"Aku punya!"


"Sudahlah. Simpan saja untukmu." jawab Stella prihatin melihat uang yang di tunjukan Ella padanya.


Tanpa bicara lagi. Ella dengan cepat menarik lengan Stella bangun dari tempat duduk ini lalu melangkah ke arah Toko Roti yang memang tak jauh dari sini.


"Ella! Kauu.."


"Sudahlah. Jangan menolak ajakan teman barumu. Hari ini aku traktir dan lain kali kau. Bagaimana?"


Mau tak mau karna memang sudah lapar akhirnya Stella setuju berjalan menyebrang ke arah Toko Roti yang lumayan besar tapi tampaknya sepi.


Logo-logo Toko yang usang dan berdebu ini membuat Stella dan Ella saling pandang. Tak lama setelahnya ada nenek tua yang keluar dari dalam Toko dengan rambut hampir memutih. Tampaknya ingin menutup pintu kaca ini.


"Permisi!"

__ADS_1


Ella ragu-ragu mendekat melihat kondisi Toko yang sepi dan tak banyak yang melihat kesini.


"Nek! Bisa kami beli Roti disini?"


"Apa?" tanya Wanita tua itu menyipitkan mata berkedut nya. Ia menatap Ella sebentar lalu terfokus pada Stella yang tampak diam merasa cukup risih di pandangi netra tua ini.


Sadar akan hal itu Ella segera menarik lengan mulus Stella mendekat hingga Nenek di hadapannya diam.


"Ini temanku. Nek! Kami ingin beli Sandwich yang harganya tak begitu mahal. Uangku cukup membeli dua."


"Kau.."


Nenek itu melewati Ella dengan tatapan terus memindai wajah cantik Stella yang merasa tak nyaman. Ia saling pandang dengan Ella yang menaikan bahu tak mengerti.


"Kau cantik, kulitmu putih, matamu biru dan.."


"Ella!" gumam Stella merasa risih dan ingin menarik lengan Ella untuk segera pergi dari sini. Tapi, langkahnya tertahan kala baru sadar ada Gambar di dekat dinding Toko.


Dan itu adalah pajangan Foto Stella yang tampak jelas tetapi agak tersembunyi di balik Logo Toko ini.


"I..itu.."


"Mirip! Yah, kau gadis yang di cari beberapa bulan lalu." sambar Wanita tua itu terpongoh-pongoh mendekat ke area Logo melepas gambar Stella di sana.


Ella jadi keheranan sekaligus tak mengerti kenapa bisa foto Stella berseragam ada disana? Maksudnya apa?


"Kenapa bisa? Dari mana kau mendapatkan ini?" tanya Stella mengambil lembaran kertas itu dari tangan Nenek Tua yang tampak mengingat-ngingat.


"Kemaren ada pria paruh baya yang datang kesini. Dia juga menyebar Gambar yang sama di beberapa sudut kota tapi, tak banyak yang tahu."


"Siapa? dan apa yang terjadi?" tanya Stella takut jika ini berhubungan dengan Mommynya.


"Dia bilang. Jika menemukan gadis itu maka katakan jika Mommynya tengah sakit keras karna mencari anaknya."


Duaarr..


"M..Mommy!"


"Sebaiknya kau pulang. kasihan Mommymu sampai sakit keras begitu. Anak-anak jaman sekarang memang sulit di kendalikan." ucap wanita tua itu lalu kembali masuk ke dalam Tokonya.


Stella yang sudah panik sampai rasa lapar yang tadi menggerogoti perutnya tak lagi terasa. Ia mulai lemas sampai Ella menahan bahu Stella yang tampak cemas.


"M..Mommy!"


"Aku akan mengantarmu pulang! Dimana tempatmu?" tanya Ella juga ikut prihatin.


Stella tak tahu harus bagaimana. Ia sendiri juga bingung kemana jalan ke Kota Brohana? Apa tempat ini begitu jauh dari tempat asalnya atau hanya berjarak beberapa kilometer saja?!


"M..Mommy! Ella aku.. "


Kepala Stella mulai berdenyut hebat. Ia nyaris tumbang tapi Ella berusaha menahan tubuh Stella agar tak jatuh ke Mar-mer di bawahnya.


Ditengah kepanikan ini berubah kala ada asap hitam yang muncul dari depan sana menghantam wajah keduanya.


Ella terpental ke arah jalan dan Stella tak bisa bergerak selain pasrah masuk ke dalam putaran gelombang hitam yang perlahan bisa mengubah pandangannya.


"I..Ini.."


Stella kembali ke area pantai di dekat Villa dengan keadaan tak lagi ada mentari. Nuansa gelap dari remangan bulan yang lagi-lagi membawa Stella pada keadaan yang sama.


Netra biru Stella menatap ke arah hamparan laut yang mulai bergelombang. Udara membeku dan kembali membuat Stella ingat akan kejadian waktu itu.


"T..tidak..tidak. Ini.."

__ADS_1


Lagi dan lagi. Pasir yang ada di sekitarnya berubah menjadi merah dan keadaan mulai mencekam. Hutan-hutan di sekitar tempat ini tiba-tiba saja memperlihatkan ratusan mata merah bak lentera dan Suara gempuran ombak menderu hebat.


Putaran angin mulai terasa kencang dengan Mahluk-Mahluk seperti asap dan berkepala tengkorak itu bangkit dari permukaan laut dan kembali mengelilingi bulan yang berubah menjadi merah darah.


"T..tidak... tidaaaak!! Aku..aku ingin keluaar!!!" jerit Stella bangkit ingin berlari ke Villa tapi matanya melebar melihat Villa sudah berubah seperti Bangunan Tua yang dijalari akar-akar besar dari Hutan.


Wajah Stella memucat dengan tungkai lemas melihat banyak tubuh manusia yang tertusuk akar kayu dan bergelantungan di atas atap Villa.


"I..Ini.."


Stella perlahan mundur dengan tatapan takut dan waspada. Namun, tiba-tiba saja kakinya terasa dingin dan seperti digapai oleh sesuatu.


Jantung Stella sudah berdebar sangat keras dengan keringat dingin bercucuran kala tahu apa yang tengah meraba-raba kakinya di bawah sana.


"M..Mommy!" gumam Stella dengan mata berkaca-kaca sudah ketakutan setengah mati. Mahluk-mahluk yang tadi mengelilingi rembulan tiba-tiba saja datang ke arah Stella dengan gejolak angin semakin membuat air bergelombang.


"Pergiii!!!! Pergii!!!"


Teriak Stella sejadi-jadinya kala energi di tubuhnya seakan di hisap keluar. Tubuh Stella di tarik jatuh ke pasir hingga mata Stella terbelalak kala melihat mayat-mayat yang kala itu bertumpuk di kakinya sekarang sudah mengelilingi Stella.


Tangan-tangan mayat hidup dengan darah berlumuran amis itu mulai mendekati perut Stella yang berusaha menepis tangan-tangan pucat dingin ini menyentuh tubuhnya.


"Pergiii!!! Pergiii!!!" teriak Stella menjauhkan tubuhnya sebisa mungkin. Tapi, tiba-tiba saja Stella kaku dan tak bisa bergerak. Alhasil mayat-mayat bertubuh pucat itu mulai merangkak mendekati Stella seakan mereka sangat ingin mengambil sesuatu di perut datar itu.


"T..tidaak! To..Tolong.. Tolong Jangaaan hiks. Jangaaan!!!" jerit Stella benar-benar takut sampai Mahluk-Mahluk seperti asap hitam itu mulai mengelilingi Stella yang merasakan sakit teramat di bagian perutnya.


"S..Sakiitt hiiks. Sakiittt!!!" teriak Stella sampai merasa perutnya di cabik-cabik.


Ya Tuhan. Apa mereka akan mengambil bayiku?!Aku mohon, jangan.. Jangan lakukan itu padaku.


Batin Stella memohon agar jangan sampai janin ini pergi. Ia tak mau menjadi seorang pembunuh anak sendiri.


Kala tak tahan lagi akan rasa sakit di tubuhnya. Stella sadar jika Xavier pasti menyuruh anggotanya untuk membunuh anak yang ada di kandungan Stella.


"A.. Aku.. Aku bersumpah!!! Jika.. Jika sampai terjadi sesuatu pada Janinku.. A..aku..Aku akan mengutukmu Veeeee!!!! Aku akan membencimu seumur hidupkuuu!!!!"


Teriak Stella dengan air mata lolos kala tubuhnya sudah penuh dengan goresan darah dari tangan-tangan yang meremas perutnya.


Ntah apa yang membuat Stella berani untuk menendang mereka semua lalu berusaha bangkit untuk pergi dari sini.


Tubuhnya yang kaku dan benar-benar mendingin membuat Stella terjebak dalam lingkaran hitam di atasnya.


Merasa perutnya semakin sakit Stella sudah tak perduli lagi. Ia mengigit bibirnya kuat sampai berdarah dan karna aroma darah murni Stella mahluk-mahluk itu jadi mulai berhasrat kuat tak hanya ingin mengambil janin itu tapi juga darah wanita ini.


"A..aku.. "


Nafas Stella terasa berat. Ia pasrah di kerumuni mayat-mayat ini karna ia tahu mereka pasti ingin mengambil darahnya.


Air mata Stella terus menetes tapi ia senang. Kesadarannya akan hilang dan bebannya berkurang. Ia hanya akan pergi menemui Mommynya walau tak akan bisa kembali lagi.


"A..aku membencimu." gumam Stella mengepal kuat. Dengan mengirim hal seperti ini berarti Xavier memang tak pernah perduli padanya. Pria itu hanya menganggap jika selama ini kehadirannya tak berharga sama sekali.


Melihat Stella yang sudah tak ingin memberontak. Tiba-tiba saja bayangan-bayangan hitam itu melihat jika yang ada di dalam perut Stella itu energi besar dari Masternya.


Semakin mereka mencoba menyerap energi Stella maka semakin kuat pula tekanan itu di rasakan sampai hawa panas dari tubuh Stella kembali menyerap energi mereka.


"Masteeer!!!!"


Suara jeritan mahluk-mahluk aneh itu seperti kumpulan kelelawar yang memekik di malam hari. Stella sudah tak sadar jika tubuhnya menyerap energi hitam yang masuk ke dalam tubuhnya sampai akhirnya muncul ledakan yang kuat dari dalam laut membuat sesosok pria yang sedari tadi melihat dalam kegelapan langsung melesat bak kilat membuat Portal dimensi untuk membawa wanita ini pergi.


"Kau sangat keras kepala!"


.....

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


Maaf ya say.. Masalah tulisan semalam. Author pikir bisa di ubah 🥲😫


__ADS_2