YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Hanya ingin?


__ADS_3

Mall yang tadi membawa petaka bagi Stella itu sudah lama tertinggal di belakang sana. Sekarang, Stella masih saja bak gelandangan menyusuri jalan dengan umpatan-umpatan kasar keluar.


Kakinya benar-benar sudah pegal bahkan Boots yang Stella pakai terasa begitu menyakiti kakinya. Alhasil karna langit juga mulai menyingkirkan rona Jingga itu akhirnya Stella memilih berhenti dengan nafas terasa begitu berat.


"Ini dimana?" gumam Stella melihat ada gedung-gedung Departemen Pemerintahan di sekitarnya. Semuanya tampak begitu megah dengan pepohonan yang di tanam di sepanjang jalan yang begitu teratur sampai mata siapa saja yang melihat ini akan terasa damai.


Namun. Ntah karna lelah atau memang sudah tak sanggup berjalan sedari tadi, Stella jadi mengabaikan hal itu karna ia bingung ingin pergi kemana.


Niat hati ingin pulang tapi tak tahu dimana jalannya. Kota Melbron ini termasuk Kota besar dan luas apalagi sangat berbeda dari Kota tempat ia tinggal dimana orang-orang ini hanya fokus ke andoridnya.


Saat lama berfikir dan terus menimbang. Ada sekilat keinginan di benak Stella kala mengingat tentang pulang kembali ke Villa.


"Tidak. Kenapa aku harus mengingat itu?" gumam Stella menepis keinginan di benaknya. Ia tak boleh terlihat begitu mengharapkan Xavier, ia bisa hidup dan mencari jalan sendiri.


Tak ingin berfikir yang tidak-tidak akhirnya Stella memilih untuk melanjutkan jalan kakinya menyusuri tempat ini. Stella hanya fokus ke jalan tanpa menghiraukan apapun dan orang-orang yang ada di sekitarnya sampai Stella merasa aneh melihat ada Gedung-Gedung yang sama.


"Tunggu. Apa bangunannya tetap seperti ini?" gumam Stella membandingkan beberapa Bangunan perkantoran Pemerintah ini dengan Bangunan yang tadi tempat ia berhenti.


Karna hanya sekali lihat. Stella jadi bingung membedakannya tapi Stella rasa ia masih disini dan di tempat yang sama.


"Sudahlah. Mungkin aku hanya lelah." lirih Stella dengan mengusap keringat di keningnya. Ia kembali berjalan dengan harapan besar bisa menemukan tempat untuk kembali atau ya tak munafik Stella berfikir untuk ke Perusahaan EMC.


Namun. Lagi-lagi Stella merasakan hal yang begitu aneh, ia kembali diam berdiri di tengah-tengah orang-orang yang melewatinya sampai mata Stella menatap ada tulisan Departemen Pemerintahan Gedung tinggi tepat tak jauh darinya dan orang-orang yang tadi sibuk menelfon melewati Stella kembali muncul dengan posisi yang sama.


"I..ini.."


Seketika Stella langsung menebak hal yang tak asing lagi. Dengan tatapan marah ia melihat disekelilingnya bagaimana Mobil-mobil yang sama tengah melewatinya.


"Keluar kauu!!!"


Teriak Stella sudah naik pitam. Ia di permainkan dengan cara yang sama bahkan berulang kali oleh Nyamuk sialan ini.


Melihat Stella yang sudah menyadari keberadaanya. Mobil yang sedari tadi terparkir tak jauh dari Stella mulai melaju pelan mendekat ke tepi jalan.


Stella menyipitkan matanya melihat Mobil Sport mahal ini sampai ada sedikit keraguan.


"Nyamuuk!!"


Tak ada jawaban. Hanya suara klakson yang di bunyikan dengan keras membuat Stella mengerti jika ini adalah sosok menyebalkan itu.


Tanpa pikir panjang lagi Stella membuka kedua Bootsnya lalu memukulkan kedua benda itu ke kaca jendela depan Mobil ini.


"Kau tak ada pekerjaan lain hingga melakukan hal ini. Ha???" teriak Stella dengan mata berapi-api menahan rasa amarah yang meluap-luap.


Ia terus memukulkan benda itu dengan niat agar memecah jendela Mobil ini dan ia bisa mencekik leher kokoh Xavier.


"Kakiku sakit berjalan sejauh ini dan kau melakukannya dengan mudah!! Kau memang ingin membunuhku. Haaa???" Pekik Stella sampai ia lelah memukul-memukul kaca tebal ini dengan nafas terengah tak lagi punya tenaga.


Stella memeggangi lehernya yang terasa sakit karna berteriak begitu keras apalagi ia belum Minum apapun sedari tadi.


"Uhuuk.. emm!"


Batuk terdengar keras membuat pintu Mobil itu terbuka otomatis. Sosok yang sedari tadi menunggu di dalam Mobil itu segera turun membuat mata Stella terpaku sejenak.

__ADS_1


Bagaimana tidak? Pria berbalut kaos putih, Jaket hitam dan jeans berwarna senada.


Wajah tampan yang masih begitu dingin dengan sorot menyimpan kekhawatiran. Netra Gray ini sampai membuat Stella merasa yang berdiri di hadapannya ini adalah seorang Model dengan ketampanan yang tak manusiawi.


"Ini!"


"A.. A..apa?" tanya Stella terperanjat kala Xavier menyodorkan sebotol air putih ke hadapannya.


"Minum!"


"A..aku.."


Stella agak canggung karna ia merasa gugup. Ia tak pernah melihat Xavier memakai pakaian santai ini dan ternyata begitu membuat Stella tersipu.


Melihat Stella yang tak kunjung menerima Botol minum darinya. Xavier segera menarik lengan Stella yang tersentak saat ia di dudukan di atas kursi Mobil dengan kedua kaki terjulur keluar.


Xavier membuka tutup botolnya dengan mudah lalu berjongkok melihat kedua kaki Stella yang sudah memar dan luka di lututnya tampak kering.


"K..kau.."


"Minum!" titah Xavier menyodorkan Botol itu ke bibir Stella yang memang sedang sangat haus. Ia tak segan lagi menerimanya dengan tegukan lapar.


"A..auuww.. Sakit." desis Stella menyudahi minumnya karna Xavier mengusap luka lecet di tumit dan jemari kaki Stella yang merah.


"Tahan sebentar." gumam Xavier mengusapnya lembut dan sedikit memijat di area pergelangan.


Hawa dingin itu menyapa kedua kaki Stella yang terasa begitu rileks. Rasa keram di sekujur tubuhnya mulai membaik seakan Xavier menyerap rasa lelah yang tadi ia rasakan.


Sensasinya seperti ada sesuatu yang di tarik dari tubuh Stella terutama pada bagian yang terasa sakit membuat Stella terlihat lega dan tak sepucat tadi.


"Tidak separah tadi." jawab Stella jujur menyandarkan tubuhnya ke samping kursi kemudi. Botol di tangannya masih ia peggang beralih menatap ke arah kakinya.


Xavier mengusap bagian-bagian yang memar dan lecet itu sampai kembali membaik membuat Stella tak terkejut lagi.


"Lain kali jangan keras kepala!"


"Ini karnamu. Kau yang membuat jalanku semakin panjang." ketus Stella sedikit memukulkan botol di tangannya ke bahu Xavier yang perlahan bangkit dari posisi berjongkok.


Rahang tegas itu masih merapat dengan raut tanpa exspresi yang tak begitu berlebihan.


"Vee!"


"Hm." jawab Xavier seadanya. Ia beralih menggendong Stella ringan untuk memindahkan ke kursi samping.


Stella yang juga sudah tak bisa membantah-pun hanya menurut dengan kedua tangan berkalung ke leher kokoh Xavier. Aroma maskulin Musk ini membuat Stella nyaman menyelipkan kepalanya ke ceruk leher kekar Xavier.


"Kau lapar?" tanya Xavier memasukan Stella ke dalam Mobil yang pintunya sudah otomatis naik ke atas selayaknya Mobil mewah yang memang bermerek.


"Memangnya kau perduli?"


"Aku serius." tegas Xavier masih dengan posisi membungkuk dengan kedua tangan belum melepas Stella yang bermuka masam.


"Kau pasti senang melihatku begini."

__ADS_1


"Lapar?"


"Tidak." ketus Stella mendorong Xavier melepasnya. Alhasil Xavier juga tak mau berdebat lama hingga kembali melangkah masuk ke pintu samping Mobil hingga kembali tertutup.


Stella melihat jika keadaan di luar berubah. Ia sempat menyipitkan matanya melihat Mall yang tadi tempat ia bertengkar sudah ada di samping sana.


Berarti aku tak benar-benar jauh dari tempat ini? Cih, bisa-bisanya Xavier mempermainkannku.


"Kau ingin masuk ke sana?" tanya Xavier melirik Stella dari ekor matanya. Tanpa menjawab satu kata-pun Stella memilih untuk membuang muka ke kaca mobil di sampingnya.


"Terserah padamu. Aku tak perduli."


"Yakin?"


"Hm. Yah!"


"Tak ingin masuk?" tanya Xavier lagi membuat Stella dengan emosi segera menoleh dengan niat ingin menyembur Xavier tetapi bibirnya terhenti kala melihat sesuatu di depan Mall.


Pemandangan Mall berubah. Gadis-gadis yang tadi mencari masalah dengan Stella tergantung di dekat pintu Mall dengan darah sudah menjiprat ke kaca-kaca itu.


"I..ini.."


"Kau suka?" tanya Xavier hanya menatap santai. Sangat jauh berbeda akan respon yang Stella tunjukan.


"Kau.. Kau apakan mereka?? Vee!!"


"Anggotaku kenyang!" jawab Xavier dengan sangat tenang melajukan Mobil ini stabil. Keadaan di belakang sana kembali berubah seperti suasana biasa tapi ntah apa yang Xavier lakukan sampai mereka tak melihat jika banyak darah dan ceceran tubuh disana.


Melihat Stella yang begitu gelisah dan terus menatap ke belakang. Xavier segera menggenggam tangan lentik Stella yang dingin.


"V...Vee! Kau apakan mereka? Kau tak membunuhnya-kan?"


"Menurutmu?" masih fokus menyetir kedepan memuat Stella cemas dan panik.


"Kenapa? kenapa kau membunuhnya?"


"Hanya ingin." jawab Xavier seadanya. Hal itu tentu hanya sebuah jawaban yang tak benar. Di dalam sebuah dimensi rahasia yang Xavier juga tak tahu hal apa yang membuatnya sangat benci jika ada yang berusaha merendahkan wanita ini.


"V..Vee! Bagaimana kalau.."


"Tenanglah! Tak akan ada yang tahu."


"Tapi.."


Xavier segera menarik tangan Stella masuk ke dalam saku celananya. Hal itu membuat Stella tercekat kuat dengan tubuh kaku dan mulut terkunci rapat.


Ia takut bergerak sedikit saja maka akan menyentuh sesuatu yang akan membuat ia remuk detik ini juga.


"Kau akan membangunkannya!"


Lirikan ekor mata tajam Xavier tertuju pada wajah gugup Stella yang kembali menghadap ke depan dengan raut tegang.


"*Jika begini kau baru akan diam!"

__ADS_1


.....


Vote and Like Sayang*..


__ADS_2