
Pintu kamar itu terbuka dengan sendirinya, tanpa ada suara atau deritan yang nyaring bahkan tak akan ada yang menduga jika ada sesosok kekar dengan aura keberadaan yang terasa begitu mendominasi tengah berdiri meratap ke arah ranjang.
Dua netra elangnya terpaku nanar melihat wajah pucat wanita yang tampak memejamkan matanya masih bersandar di kepala ranjang.
Ia melangkah pelan mendekat membuat Stella yang tadi menunggu Dokter Ryker merasa lebih baik.
"Aku sudah tak apa. Terimakasih!" gumam Stella masih belum sadar akan kedatangan Xavier yang melihat ada gelas yang airnya sudah tinggal setengah.
Tas kerja Dokter Ryker masih ada di samping tubuh Stella dan ada tisu yang tampak sudah di gunakan.
"Kau bawa apa?"
Xavier masih diam kala Stella mengira jika ia adalah pria itu. Jelas ada rasa panas di dada Xavier menduga jika Dokter Ryker telah merawat Stella terlepas dari tanggung jawab pekerjaannya.
"Hey! Kau masih di sana?" tanya Stella lagi tanpa membuka mata.
Kala tak mendengar jawaban apapun. Akhirnya Stella membuka kelopak netra biru lautnya hingga ia terpaku pada sosok tinggi kekar yang sekarang sudah berdiri tepat di dekat ranjang.
Ia baru sadar jika aroma Musk ini memang berasal dari tubuh Xavier yang sekarang memandangnya dengan tatapan tak biasa.
"K..kau pulang?"
"Kau tak suka?" tanya Xavier dengan intonasi suara terkesan marah. Stella bingung kenapa respon Xavier seperti ini padahal ia tak melakukan kesalahan apapun?
"A..apa aku menganggu pekerjaanmu? Kalau kau sibuk maka pergilah, aku tak akan mengganggumu." jelas Stella malas untuk berdebat. Lagi pula ia juga masih kesal dengan Xavier dan tak mau memperpanjang masalah.
Tak ada jawaban apapun dari Xavier yang segera memunguti gulungan tisu di atas ranjang lalu meremasnya kuat dengan wajah begitu dingin.
"Kau mau apa?"
Xavier tetap diam menyibak selimut Stella yang kebingungan. Netra elang Xavier bagaikan mesin pemindai Ronsen menatap penuh selidik pada tubuh Stella yang hanya memakai kaos polos pendek dan Hotpants.
"Kau mencari apa?"
"Di bagian mana dia menyentuhmu?"
Spontan Stella menyeringit. Kepalanya yang tadi pusing saat melihat Xavier begini ia bertambah memutar hebat.
"Apa? Kau bicara apa?"
"DIBAGIAN mana?" tekan Xavier dengan sorot mata membunuh. Stella sampai memijat pelipisnya pusing merasa Xavier terlalu sulit di pahami.
"Dia memeriksa suhu tubuhku dan denyut nadi. PUAS?"
"Kau membiarkannya?"
Ucapan penuh kata-kata sarkas itu membuat Stella jadi naik darah. Ia tak suka di tuduh-tuduh tanpa alasan begini.
"Lalu kau aku haru apa? Perlu aku mengusirnya sementara aku hampir MATI disini? atau perlu aku menenggelamkan tubuhku di lautan sana agar kau PUAS??"
Tanya Stella dengan intonasi berapi-api. ia masih panas dengan kejadian pagi tadi dan saat di hubungi Xavier juga tak mengangkat, apa begitu SIBUK?
Melihat Stella yang begitu marah. Xavier langsung menghela nafas untuk tak memperpanas keadaan ini. Ia sudah cukup cemas saat tahu jika Stella tak sadarkan diri dan langsung pulang kesini.
"Untuk apa pulang? Biasanya kau datang larut malam." ketus Stella membuang pandangan ke arah Balkon.
Namun. Ia segera tersentak kala tangan kekar hangat Xavier tiba-tiba sudah menempel di keningnya.
Jantung Stella mulai kembali bergejolak. Wajahnya naik memerah dengan kedua tangan mencengkram selimut.
__ADS_1
"A..ada apa denganku?"
Batin Stella berkecamuk. Ia menegguk ludahnya berat kala Xavier masih diam tak merubah posisi tangannya.
"K..kau..lepaas!!"
Stella menepis tangan Xavier yang sudah merasakan panas di tubuh Stella cukup tinggi seperti saat malam itu.
Tanpa banyak bicara lagi. Xavier duduk di samping paha Stella seraya menatap tak berkedip ke wajah cantik Stella yang merasa mulai risih.
"K..kau mau apa?"
Gugup Stella kala Xavier mengulur tangannya yang tadi meremas tisu ke arah leher Stella. Sialnya isi kepala Xavier tak bisa ia tebak asal.
Semakin tangan Xavier ingin menyentuh lehernya Stella berusaha mengelak pelan membuat Xavier kehilangan kesabaran.
"Kau bisa diam?"
"K..kau mau apa??" tanya Stella waspada. Ia tak mau Xavier dekat-dekat dengannya karna suara degupan di dalam sana akan terdengar sangat jelas.
Tak mau menunggu lama lagi. Xavier dengan sigap menahan bahu Stella agar tak bergerak sedangkan tubuhnya mendekat.
Hal ini tentu membuat Stella merasa terancam. Ia berusaha untuk bergerak sampai akhirnya Xavier sudah membuatnya tiba-tiba kaku.
"K..kau.."
"Kau memang suka kekerasan." gumam Xavier menahan penuh kesabaran. ia merapikan rambut Stella lalu mengusap keringat yang mengalir di leher putih wanita ini.
"Kau mau apa?"
"Diamlah!"
"Dia memang bukan manusia."
Batin Stella melemah merasa di buat takjub. Tak pernah ia bertemu dengan pria setampan Xavier bahkan Devano kala jauh dari pria ini.
Xavier semakin mendekatkan wajahnya sampai hidung mancung keduanya susah menempel dengan tatapan saling bertaut.
Ya Tuhan. Apa yang harus aku lakukan? Aku akan mati disini jika dia terus menahanku.
Xavier juga sama. Hasratnya begitu naik kala melihat bibir pucat Stella terlihat memancingnya. Bahkan, raut pasrah Stella bisa membangkitkan hal yang paling jantan di tubuhnya.
"K..kau.."
Stella meneggang kala Xavier mulai beralih mengendus lehernya. Wajah yang merah antara menahan malu dan gugup takut Xavier mendengar detakan jantungnya yang begitu cepat.
Mata Stella terpejam pasrah saja dengan apa yang akan Xavier lakukan. Gesekan bibir pria itu ke lehernya membuat Stella merasa wanita yang begitu bodoh mau diperlakukan seperti ini.
Grett..
Mata Stella seketika terbelalak lebar kala gigitan Xavier langsung menempel di lehernya. Spontan ia berteriak keras memberontak tapi tubuhnya kaku.
"Veeee!!!"
Teriakan Stella membuat Xavier yang tengah menghisap sisa pengaruh yang di tinggalkan pada saat para Mahluk bawahannya lepas kendali malam itu.
Tubuh Stella menunjukan tanda-tanda jika darahnya menolak cairan asing dan kotor dari jejak yang di berikan anggota bawahnya semalam.
"S..Sakiit kau..."
__ADS_1
Taring Xavier semakin menancap ke dalam membuat Stella mengigit bahu Xavier menahan sakitnya. Ia sekuat tenaga mengigit kala Xavier terasa menarik beberapa bagian di dalam darahnya.
"Ehmmm!!!"
Stella menggeram sampai mengkerahkan seluruh tenaganya. Xavier tetap tak menghentikan hisapannya sampai ini benar-benar selesai.
"S..Sudaahh!!!"
Jeritan terkahir Stella barulah membuat Xavier melepas gigitannya. Sisa darah itu membekas di bibirnya dengan dua taring yang sudah Xavier kembalikan normal.
Nafas Stella yang tadi terengah mulai membaik dengan tubuh kembali bisa di gerakan.
"K..kau.."
"Apa masih sakit?" tanya Xavier melihat bekas gigitannya perlahan memudar. Ia tahu ini akan terjadi itu karnanya ia bisa melakukannya pada Stella.
"Sakit. Itu.. Leherku."
"Bagian yang lain?"
Stella mulai sadar. Ia merasa tubuhnya tak lagi terasa lemas dan kepalanya juga sudah tak begitu pusing, bahkan ia merasa tubuhnya sangat ringan dan enteng.
"Kenapa bisa? Tadi aku merasa demam."
"Benar tak sakit?" tanya Xavier memastikan. Stella mengangguk menatap penuh binar wajah datar Xavier yang lega.
"Kau bisa menyembuhkan demam juga. Ternyata!"
"Bukan demam."
Batin Xavier menjawab. Hal ini di karenakan aura jahat dan menakutkan dari anggota bawahnya yang mencoba menguasai tubuh Stella mengalami penolakan keras.
Darah Stella mencoba mengeluarkan semua itu hingga berdampak pada hal fisik seperti ini. Tentu Xavier mudah mengetahuinya karna ia bisa melihat bagaimana jalan darah Stella sekarang.
"Lagi pula, tadi Dokter Ryker memberiku obat dan vitamin. Itu pasti juga karnanya."
Seketika raut wajah Xavier semakin membeku. Stella begitu memuji sampai-sampai menepis apa yang baru saja ia lakukan.
"Sampaikan terimakasihku padanya. Ya?"
"Terimakasih?" gumam Xavier dengan kedua tangan mengepal. Kepalan tangannya menguat sampai membuat Stella syok kala melihat tisu yang ada di genggaman Xavier berubah menjadi butiran abu.
"K..Kau..."
"Sekali lagi kau membahas itu aku akan MEMBUNUHNYA." tekan Xavier langsung melempar Tas kerja Dokter Ryker keluar kamar dengan sangat marah membanting pintu sampai ingin jebol. Ia melepas Jas dan Dasinya kasar dengan deru nafas memburu.
"K..kau mau apa?"
Xavier hanya diam. Dadanya tengah bergejolak merasa muak dengan pujian dan kalimat lembut itu.
Kala Xavier mendekat dengan tatapan penuh amarah dan hasrat. Stella benar-benar di cekik oleh dua keadaan sekaligus. Ia tak mengerti kenapa Xavier tiba-tiba marah tanpa alasan.
"B..bukan. Maksudku dia.. Dia itu.."
"BERHENTI MEMBAHAS TENTANG DIAA!!!" bentak Xavier tak suka langsung naik ke atas ranjang menarik kedua kaki Stella hingga membentur tubuhnya.
Mau tak mau Stella tak bisa menghindar kala Xavier sudah membungkamnya dengan ciuman yang begitu kasar dan liar.
Vote and Like Sayang.
__ADS_1