YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
A..apa itu kau?


__ADS_3

Setelah menemani Stella berkeliling dengan Mobil yang tadi ia kendarai, Ester juga menuruti keinginan Gadis Muda itu untuk berkebun padahal suasana sudah mau malam terbukti dengan langit yang mulai membayang gelap.


Saat berkeliling tadi mereka mencari bibit bunga dan pilihan Stella jatuh pada Bunga Gardenia dan beberapa Bunga Kirisan yang ia beli untuk di tanam di sekeliling Vila.


Walau permintaan Stella terkesan rumit karna tak boleh ada satu-pun manusia yang menginjak bagian halaman yang ia Tanami dan harus di pagar. Yang mengerjakan semuanya adalah Ester dan tentu Lelaki muda itu tanpa segan atau lelah membantu Mommynya.


"Ini dimana? Mom!" tanya Ester memeggang Bibit Bunga yang tampak sudah remuk di tangan kekarnya.


Stella yang tadi tengah menata tempat di depan Ester sontak langsung berdiri dengan tatapan syok.


"Jangan di peggang begitu. Kau bisa merusak akarnya. Baby!"


"A.. Benarkah?" tanya Ester melihat jika batang kecil ini sudah patah. Wajah Tampannya langsung menggambarkan rasa bersalah membuat Stella berkacak pinggang memeggang Sekop kecil di tangannya.


"Maaf. Mom!"


"Sudahlah. Kau sudah berkeringat sampai seperti ini, pergilah bersihkan dirimu. Mommy akan selesaikan ini!" ucap Stella berjongkok kembali dengan sarung tangan yang ia rapikan.


Pagarnya sudah dan hanya perlu menanam satu bunga lagi di beberapa barisan Bibit yang tadi selesai di tanam.


Tapi, Stella tersentak kala alat penggali di tangannya di ambil alih oleh Ester yang tiba-tiba saja berjongkok di sampingnya.


"Baby kau.."


"Mommy yang masuk. Aku akan mengerjakan ini!"


"Tidak. Kau ada pertemuan dengan Asisten Zion malam ini, nanti kau lelah. Pergilah ke dalam!" pinta Stella tapi Ester tetap membatu mengambil alih pekerjaan Stella.


Alhasil Stella tak bisa lagi menyela Ester yang tampak tak keberatan sama sekali.


"Mom!"


"Hm?" tanya Stella menatap wajah tegas Ester yang masih fokus pada Tanah di depannya.


"Aku tak nyaman jika keluar sendirian."


Dahi Stella menyeringit mendengar ucapan Ester barusan. Ia mulai serius takut-takut ada yang menyakiti Putranya.


"Memangnya kenapa? Siapa yang berani mengganggumu katakan pada Mommy!"


"Hanya risih," jawab Ester beralih menatap Stella karna sudah menanam Bibit bunga di tangannya.


"Risih kenapa?"


"Wanita-wanita itu sangat menggelikan. Aku tak menyukainya." jawab Ester dengan wajah sedikit terganggu. Seketika Stella mengambil nafas lega karna nyatanya permasalahan Ester tak seserius yang ia bayangkan.


"Baby! cukup abaikan saja, mereka hanya mengekspresikan ketertarikannya pada Putra Tampanku ini."


"Mom! Aku tak nyaman, pandangan mereka seakan ingin menelanku hidup-hidup," jawab Ester menusukan Sekop di tangannya ke tanah ini.


Stella diam antara geli tapi juga paham akan ketidaknyamanan Ester.


"Lalu, kau mau Mommy melakukan apa?"


"Jadilah Kekasihku!"

__ADS_1


Ucapan Ester barusan membuat hembusan angin ini mulai menyapu cukup kuat. Suasana hening dan Stella juga diam kala merasakan hawa panas yang mengelilingi mereka.


Ester tahu jika permintaanya barusan membuat seseorang marah tapi pastinya dia tak bisa melakukan apapun. Jadi, Ester bebas meminta kedekatan ini.


"Baby! Apa kau.."


"Mom! Jika mereka tahu aku sudah punya Kekasih pasti mereka tak akan menggangguku lagi." sela Ester memang masuk akal.


Stella juga mulai mempertimbangkan hal itu dan ia rasa tak masalah. Lagi pula, ia juga butuh kedok itu untuk menyamarkan diri dari lelaki hidung belang.


"Bagaimana?"


"Emm.. Baiklah."


Seketika bibir sensual Ester menipis dengan mata penuh binaran menatap wajah cantik Stella yang melepas sarung tangannya.


"Mommy setuju. Lagi pula Mommy juga risih jika di anggap sendirian."


"Terimakasih. Mom!" ucap Ester mengecup pipi Stella yang seketika tersenyum simpul.


Kakek Le-Yang dan Efika yang tadi berdiri di samping Villa sana menatap ngeri hubungan Stella dan Ester. Mereka sudah merinding membayangkan bagaimana murkanya Master mereka kala melihat semakin hari Ester begitu bertindak intens bahkan terlihat jelas ia mencintai Mommynya.


"Untung Master tak ada disini."


"Yah. Jika ada pasti tempat ini sudah rata." gumam Kakek Le-Yang menelan ludah. Namun, saat tatapan tajam Ester menangkap keberadaan mereka, keduanya langsung berbalik dan pura-pura berbicara soal bunga-bunga di pot dekat teras Villa.


"Aku rasa disini juga harus di beri bunga."


"Yah. Kau.. Kau sangat brilian." puji Kakek Le-Yang pada Efika seraya berangsur masuk kembali ke dalam Villa.


"Setelah ini cepatlah mandi. Lalu turun ke bawah untuk makan. Hm?"


"Mom!" panggil Ester ingin meminta satu hal lagi.


"Apa? Kau butuh sesuatu?"


"Malam ini aku tidur dengan Mommy. Ya?" pinta Ester dan tentu Stella tak keberatan. Ia masih menganggap Ester sebagai Putra kecilnya yang selalu merengek meminta diperhatikan.


"Baiklah. Tapi di kamarmu."


"Setuju!" tegas Ester membiarkan Stella pergi ke arah pintu samping Villa. Seketika seringainya meruak begitu terlihat licik dan mendominasi.


Dengan santai Ester merenggangkan otot-otot tangannya seakan mengejek seseorang yang tengah ada di belakang tubuhnya.


Sesosok Mahluk berwujud tengkorak yang di selimuti asap hitam tapi hanya Ester yang bisa melihatnya. Hawa disini sangat dingin bahkan ia akui nafasnya cukup berat.


"Sudah lama tak bertemu!" sapa Ester memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana.


Angin ini berhembus membawa hawa panas dan semua itu membuat seringaian di bibir Ester semakin melebar puas.


"Aku menyuruhmu menjaganya. BUKAN MENGGANTIKANKU." Suara bariton yang sangat mengerikan itu mengalun di telinga Ester.


"Beberapa hari ini kau kemana saja? Aku pikir kau sudah lupa dengan KEKASIH-KU itu."


"Kauuu.."

__ADS_1


Ia ingin mencekik leher Ester tetapi kekuatannya tak cukup untuk masuk berbuat lebih. Menunjukan diri seperti ini saja sudah benar-benar membutuhkan perjuangan.


Mata merah menyala itu semakin berkobar murka. Ntah apa yang membuat sosok ini sampai begitu marah tapi yang jelas Ester cukup santai karna ia memanfaatkan keterbatasan tubuh Daddynya.


"Dad! Cepatlah kembali atau aku tak akan menahan diri."


"Kau tunggu saja. Sekali kau menciumnya lagi aku akan benar-benar mencekikmu." ancaman yang tak main-main. Terbukti jika leher Ester terasa cukup sakit pertanda jika kekuatan Sosok ini sudah perlahan di tingkatkan.


Untuk sesaat Ester diam. Apa Pria ini kembali melakukan Proses kebangkitan yang dulu ia jalani selama bertahun-tahun? Pasti rasanya sangat menyakitkan.


"Kau butuh bertahun-tahun menjalani Tantangan untuk datang ke Dunia Manusia. Waktumu sangat panjang tapi pastinya itu terlalu lama bagi Mommy."


Mendengar pernyataan Ester barusan tak ada jawaban dari belakang sana. Tatapan mata merah menyala itu berangsur melihat Bibit-bibit Bunga yang di tanam oleh Stella.


Ada rasa sedih di hatinya kala melihat bagaimana kosongnya jiwa wanita itu sekarang. Ia merasakan sakit kala suara tangisan Stella sampai padanya dan saat itu ia tengah menghadapi Latihan tubuh yang ketat di Dunianya.


"Datanglah ke Mimpinya walau sebentar."


"Jika aku bisa sudah sedari lama." jawab Xavier dengan intonasi suara rendah. Ia juga sangat merindukan sosok itu tapi hanya bisa melihat dari jauh dan sesekali saja.


"Lalu apa? Aku benci tangisannya." geram Ester tanpa berbalik sama sekali.


"Aku akan berusaha. Aku akan melakukan apapun agar bisa kembali."


"Kapan?" tanya Ester juga sudah muak kala tawa dan senyuman kosong Stella hanya sebuah kepalsuan belaka.


"Kapan kau akan kembali? Jika tak bisa maka KATAKAN!! Dia tak perlu terus menunggumu!!" imbuh Ester sedikit emosi.


Xavier paham perasaan Ester tapi ia juga tak bisa tergesa-gesa. Ini terlalu rumit di jelaskan.


"Ini terakhir kali aku bisa datang!"


Seketika Ester langsung mengepal. Ia sendiri tak terima tapi dayanya tak cukup untuk membantu sosok ini.


"Setelah ini aku akan pergi ke tempat dimana pertama aku di besarkan. Sampai saat itu tiba, Jagalah dia untukku."


"Babyyy!!!"


Suara Stella muncul hingga keduanya beralih pada Sosok gadis cantik yang tampak sudah membawa handuk.


Senyumnya mengembang menatap Ester yang hanya diam.


"Ester! Cepatlah masuk. Bersihkan tubuhmu!" pinta Stella tapi ntah kenapa matanya seakan di tarik ke belakang tubuh Ester.


Lama ia mematung diam sampai Stella merasa hawa kehadiran seseorang yang terasa sangat Familiar. Bahkan, dadanya terasa bergetar tak karuan padahal tak ada siapapun di sana.


"A.. Apa itu kau?"


Batin Stella dengan mata berkaca-kaca. Matanya sama sekali tak berkedip begitu juga Xavier yang tak bergerak dari tempatnya. Dadanya bergetar hebat tak bisa ia kendalikan.


...


Vote and Like Sayang..


Ada saatnya say🤣

__ADS_1


__ADS_2