YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Tak akan melepasnya!


__ADS_3

Detakan Heels merah dengan tumit runcing 7 senti meter itu telah menapaki Mar-mar mahal berwarna hitam dengan corak biru bunga salju di dalamnya.


Ia memasuki Kediaman megah yang berpilar kokoh dengan warna gelap dan terkesan sangat mistis tapi begitu mewah. Lampu-lampu besar di atas sana mendukung Desain interior yang menakjubkan memukai mata siapa saja yang memandangnya.


Para pelayan yang tampak berpakaian selayaknya manusia biasa tapi mata mereka begitu kosong seperti robot yang di kendalikan tengah menghampiri dirinya. Wajah pucat dan selalu tunduk akan apa yang di perintahkan sang Tuan.


"Nona!"


"Dimana Yang Mulia Lucius?" pertanyaan keluar dari bibir merah merekahnya. Dagu begitu tirus dengan porsi wajah yang pas terkesan dewasa.


Rambut emas panjangnya tampak di urai indah menutupi punggung mulus yang ia perlihatkan karna Dress yang ia pakai cukup membuat mata lelaki terbelalak.


"Yang Mulia ada di Ruangannya. Nona!"


"Aku mengerti." jawab wanita bertubuh jenjang dengan mata berwarna coklat tua. Perawakannya terlihat sangat elegan dan feminim menatap ke arah Tangga yang dilapisi emas dan karpet merah.


"Linnea?"


Panggilan itu membuat wanita yang tadi melihat ke arah tangga segera menoleh kebelakang.


Senyuman bibir tipisnya mengembang kala melihat seorang wanita paruh baya dengan perawakan orang Yunani itu mendekat dengan dua pelayan yang tadi menemaninya ke Taman Kediaman.


"Mom!"


"Aku senang kau sering berkunjung kesini." jawab Nyonya Margretta yang mengembangkan senyuman. Tangannya terulur anggun meraih lengan mulus Linnea yang juga menatap senang wanita ini.


"Mom! Kau terlihat semakin cantik?"


"Kau juga. Lihat betapa indahnya Princess Linnea kebanggaan Elbrano." puji Nyonya Margretta membelai surai keemasan Linnea yang hanya bisa tersipu malu.


Didalam lubuk hatinya yang terdalam. Keinginan untuk di puji itu lebih besar keluar di bibir seseorang yang sudah lama membuatnya mabuk.


"Mom! Apa Patriack udah pulang?"


Nyonya Margretta terdiam sejenak. Helaan nafasnya muncul dengan raut tak berdaya dan sangat jengkel.


"Kau tahu sendiri jika Kekasihmu itu sangat menggilai pekerjaannya."


"Yah. Tapi, akhir-akhir ini dia sulit di hubungi." gumam Linnea merasa kecewa. Memang selama ini Xavier tak pernah bersikap manis padanya tapi setidaknya pria itu selalu mengangkat panggilan walau jawaban selalu singkat.


Melihat raut kekecewaan Linnea. Lengan Nyonya Margretta beralih memeggang bahu polos Linnea yang memang mengenakan Dress tanpa lengan. Hanya ada dua tali di atas bahu lebarnya yang langsing membuat kecantikannya menguar.


"Kenapa kau secemas ini? Biasanya tak begitu."

__ADS_1


"Mom! Patriack itu sangat tampan dan mendominasi, bisa saja dia.."


Linnea berhenti bicara kala Nyonya Margretta tertawa kecil tampak geli akan ucapan darinya.


"Mom!"


"Hey! Kau pikir Putraku bisa di dekati sembarangan. Hm? Tak ada satupun di dunia ini yang bisa berdekatan dengannya kecuali kau!"


"Benarkah?" tanya Linnea tersenyum malu. Ia juga tak sabar untuk segera bertemu Xavier yang sudah lama membuatnya gelisah.


"Yah. Siapa yang bisa melawan pesonamu dan hanya kau yang pantas di sampingnya. Tak ada manusia yang tahan dengan aura intimidasi Vampir Xavier. Kau mengerti?"


Linnea mengangguk memeluk Nyonya Margretta. Senyumnya kembali lepas seketika lega akan ucapan wanita ini.


"Jangan memikirkan hal yang tak pasti! Kau lebih baik fokus pada Perusahaan Ayahmu. Jangan membuatku malu mempunyai seorang Menantu."


"Itu pasti.Mom!" jawab Linnea sangat menyukai dukungan yang selalu di berikan Nyonya Margretta. Di Keluarga ini semuanya mendukung kecuali seseorang yang sudah lama mengurung dirinya di Black Room keluarga Elbrano. Dia tak pernah ikut campur urusan apapun bahkan sudah di anggap tiada.


..............


Hamparan kertas kosong itu telah beberapa kali terbang ke atas permukaan lantai mahal ini. Hanya selang beberapa detik maka akan kembali melayang membuat ruangan begitu berantakan.


Tentu saja ia tak menyukai ruangan yang kotor dan berserakan. itu karnanya sedari tadi Asisten Zion sigap memunguti kertas-kertas ini tak mau menegur sosok pria tampan yang tengah seenaknya menjatuhkan kertas dengan wajah datar begitu dingin. Ia beberapa kali melihat layar ponselnya dan masih saja kosong.


"Master! Kau butuh sesuatu?"


"Jam!"


"1 siang. Master!" jawab Zion seraya kembali meletakan kertas-kertas yang ia susun di atas meja Xavier yang tengah menunggu.


Dalam peraturannya semalam. Xavier menegaskan agar selalu bertanya apa saja tugas barunya tetapi sampai sekarang belum juga ada panggilan.


"Master! Memangnya ada apa?"


"Apa aku tak cukup Tampan?"


Hal itu membuat Zion hampir tersedak air liurnya sendiri. Satu pertanyaan yang baru sekali ini terucap setelah seumur hidup ada di sisi Masternya.


Mata Zion sampai terpaku kosong mendengar pertanyaan Xavier barusan. Wanita mana saja yang di tatap dalam oleh netra Gray ini bisa mimisan kecuali spesies yang ada di Villa.


Melihat Zion diam melongo. Xavier langsung menggebrak meja menyentak Zion yang segera serius.


"Kau masih hidup?!"

__ADS_1


"A.. Iya. Master! Kau..kau sangat tampan. Tak ada yang bisa menandingimu." puji Zion menarik rasa angkuh Xavier semakin besar dan menggunung.


Wajah tampan sebeku salju dengan sudut bibir terangkat seakan sudah menduga akan jawaban Zion.


"Hm. Kau benar."


"Yah. Master!" jawab Zion menghela nafas lega. Setidaknya Xavier tak marah-marah tak jelas dan menatap semuanya sebagai musuh. Ia tak bisa menahan aura membunuh pria ini jika sudah dalam Mode Dewa Kematian.


Namun. Wajah Xavier belum puas akan pujian yang di lontarkan Zion. Seakan-akan masih ada batu yang mengganjal di rongga jantungnya. dan itu sangat menyesakkan.


"Apa dia bukan manusia?" gumam Xavier bersandar ke kursi kerjanya. Tatapan menerawang jauh mencoba menggali misteri yang ada di dalam diri Stella.


Wanita itu sangat berbeda dan tak pernah bersikap manis dengan tulus padanya. Bahkan, Stella terkesan tak menginginkannya.


"Master! Apa kau sudah memeriksa data Nona Stella?"


Xavier terdiam sejenak. Netra elangnya melirik ke arah kiri lengannya dimana ada lembaran kertas yang kemaren Zion letakan dan ia malas membawanya.


Karna keasikan mempermainkan Stella. Ia jadi lupa melakukan beberapa hal.


"Kau menemukan sesuatu?"


"Dia hidup di keluarga yang sederhana. Ibunya seorang wanita malam dan ayahnya penjudi! Nona Stella juga sering di jual Ayahnya untuk mendapatkan uang dan.."


Nafas Zion tercekat merasa udara disini terasa panas dan dingin bercampur menyesakan dadanya. Siaalll.. Kenapa Master jadi begini?


Zion tak berani melihat wajah kelam Xavier yang mengeraskan rahangnya kuat. Urat-urat kemarahan itu terlihat jelas melintas di kepalan tangannya.


"BERANINYA DIA." geram Xavier merasa panas. Ia sungguh merasa tak rela tubuh Stella di nikmati banyak lelaki dan itu sangat menjijikan.


"M..Master."


Sadar akan aura intimidasi yang keluar begitu besar, Xavier segera menormalkan aura mencekam itu agar Zion bisa bernafas normal.


"Pergilah!"


"B..Baik!"


Zion segera pergi ingin mencari udara segar karna didalam ruangan sana sangat mencekik lehernya.


Sementara Xavier. Ia tengah berfikir kuat. Ia tak mau Stella sampai kembali ke sana lagi, ketempat menjijikan itu.


"Sampai kapanpun. Aku tak akan membebaskanmu!"

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2