YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Semuanya akan hancur!


__ADS_3

Hembusan hawa dingin ke wajah cantik agak pucat itu membuat kesadarannya yang tadi telah tenggelam di alam mimpi sana kembali ke permukaan.


Jemari lentik itu tergerak kala merasakan genggaman hangat jemari kecil itu seakan menariknya untuk segera membuka mata. Perlahan tapi pasti kelopak netra biru itu terbuka dengan tatapan kabur dan menyeringit kala lampu kamar ini langsung menusuk matanya.


"Stella!"


Suara cemas Nyonya Clorie yang duduk di sampingnya. Bayang-bayang kabur ini perlahan menyatu karna Stella mengerijab pelan agar bisa memperjelas segalanya.


Ia seketika tersentak kala di Ranjang ini sudah di kelilingi oleh beberapa penghuni Villa. Efika berdiri di ujung Ranjang bersama Kakek Le-Yang dan Dokter Ryker juga duduk di samping ranjang terlihat memeriksa Stella.


"K..kau.."


"Kau tadi diantarkan pulang oleh Tofer kesini. Dia bilang kau pingsan saat di Perusahaan." jawab Tofer memeriksa denyut nadi di pergelangan Stella yang kembali normal.


Stella hanya diam beralih memandang sosok mungil bermata yang sama sepertinya tengah menggenggam jemari lentik Stella dengan tangan mungilnya.


"Sedari tadi Putramu tak mau beranjak dari sini! Dia selalu menggenggam jarimu. Stella!"


"B..Benarkah?" gumam Stella dengan suara mulai parau. Ia ikut menggenggam jari mungil itu dengan mata sendu dan terlihat sayu.


"Apa yang terjadi padamu? Mommy sudah bilang Jangan ke sana karna kau belum sehat betul tapi kau sangat keras kepala. Dan lihat apa yang sekarang terjadi padamu?"


"M..Mom! Apa Xavier dia.."


"Jangan membicarakan dia lagi!" tegas Nyonya Clorie dengan wajah terlihat marah. Stella seketika menunduk dengan mata berkaca-kaca merasa begitu sesak.


Tadi itu kau. Aku tahu itu kau.Vee! Tapi.. Tapi kenapa kau tak mau menemuiku? Ada apa denganmu?


Batin Stella sangat terpukul. Ia tak tahu harus melakukan apa sekarang bahkan berfikir saja tak lagi bisa Stella lakukan.


Melihat kondisi Stella yang tertekan Dokter Ryker semakin tampak merasa bersalah.


"Jika bukan karna aku membawamu keluar saat itu maka ini tak akan terjadi." lirihnya penuh sesal.


"Tidak. Jangan mengatakan itu." gumam Stella tak ingin melibatkan Dokter Ryker dalam hal ini.


"Stella! Aku sadar jika selama ini Master tak suka akan kedekatan kita. Tapi, aku memang salah karna tetap mendekatimu. Tapi jujur aku hanya cemas karna aku tahu Master bagaimana." jelas Dokter Ryker mengungkapkan kekhawatirannya.


Stella hanya bisa diam menoleh merasakan genggaman erat dari jemari mungil Baby Ester yang tengah memandang Stella dengan tatapan sangat sulit di tebak.


"Vee memang seperti itu. Dia selalu bertindak sesukanya."


"Tapi aku yakin Master pasti masih mengawasi mu. Dia tak akan melepaskan mu begitu saja." jawab Dokter Ryker percaya itu. Kegilaan Masternya tak akan berhenti hanya karna melihat mereka berdua di bibir pantai malam itu.


Mendengar pendapat Dokter Ryker yang berusaha menenangkannya Stella hanya bisa mengulum senyum. Matanya tak bisa berbohong jika ia tengah menahan sakit di dadanya.


"S..Sudahlah. Lagi pula dia.. dia akan menikah."


"Apaaa???" Pekik Nyonya Clorie sampai membuat Stella tersadar jika ia sudah keceplosan. Stella menatap sendu Nyonya Clorie yang dengan emosi memeggang lengan Stella.


"Menikah?? DIA MENIKAAH??"


"M..Mom.. Aku.."


"Katakan!!! Apa itu yang membuatmu pingsan. Ha??"


Stella menggeleng tapi matanya sudah berkaca-kaca. Jelas hal ini sangat memukul batin Nyonya Clorie yang seketika kembali mengingat tentang apa yang sudah terjadi padanya dulu.


Matanya melotot tajam dengan wajah mengeras dan sangat mendidih.

__ADS_1


"Aku sudah mengatakan bukan! Dia itu hanya ingin memanfaatkan mu!!! Yang namanya Elbrano tak akan pernah bisa memanusiakan manusia. Stella!! Buka matamu!!"


"M..Mom. Hiks! Sudah.." lirih Stella meloloskan isakan sesaknya. Efika hanya bisa menunduk juga tak menyangka jika Masternya tega melakukan ini.


"S..Sudah hiks."


"S..Stella.. " lirih Nyonya Clorie segera merengkuh bahu Putrinya dengan hangat. Ia mengusap kepala Stella dengan lembut mencoba untuk memberikan kekuatan pada gadis belia ini.


"Sudahlah. Maaf Mommy membentak mu."


Stella hanya diam menyandarkan kepalanya ke bahu Nyonya Clorie yang juga menahan amarah di dalam dirinya. Jika tahu begini sampai mati-pun tak akan pernah menginjak tanah terkutuk ini.


Hal ricuh ini membuat Dokter Ryker merasa sangat marah dan benci akan sikap Masternya. Ia berdiri dengan tegas menatap Stella yang masih menahan isakan.


"Ayo pergi dari sini!"


"Tuan!" lirih Kakek Le-Yang terkejut. Begitu juga mereka tapi tidak dengan Baby Ester yang malah melayangkan tatapan membunuhnya pada Dokter Ryker.


"Aku tahu jika setelah ini aku akan mati. Tapi, aku tak ingin melihat Master berlaku seenaknya lagi. Aku tak akan diam saja melihat dia pergi tanpa alasan yang jelas." tegasnya mengepal.


"Jangan asal bicara." sela Stella tak mau membuat masalah ini tambah rumit.


"Stella! Ini semua sudah terlanjur dan aku tak ingin kau di sia-siakan lagi. Aku.."


"Kemana aku akan pergi?" tanya Stella dengan wajah sudah pasrah dan hanya ingin memperjelas ini dengan Xavier.


"Stella kau.."


"K..Kemana? Selagi bukan dia yang melepaskan ku maka aku tak bisa kemana-mana. Aku tak bisa." Imbuh Stella meremas selimut yang menutupi separuh tubuhnya yang sudah memakai Kemeja santai.


Mendengar itu seketika Dokter Ryker terdiam. Ia sangat paham itu tapi, ia tak tahan dengan semua ini.


"Kau gila. Haa???" pekik Stella sudah tak mau mendengar itu. Ia muak menjadi alasan kehancuran seseorang.


"I..ini tak semudah itu. Aku..aku mohon jangan mengorbankan apapun lagi." imbuhnya mengiba.


"Stella aku.."


"Nona!"


Suara pelayan di luar membuat kalimat Dokter Ryker terhenti. Pintu di buka oleh Efika yang menatap tegas Pelayan wanita muda yang terlihat pucat di tempat.


"Ada apa?"


"M..Master sudah kembali!"


Hal itu spontan membuat mereka menegakkan tubuhnya. Stella meremas lengan Nyonya Clorie yang terlihat berapi-api menampung amarah.


"M..Master memanggil Nona turun!"


"Apa dia tak bisa berjalan ke sini. Haa??" geram Nyonya Clorie menyerahkan Baby Ester ke pangkuan Stella lalu ia berdiri dengan cepat.


"M..Mom!"


"Lihat! Aku akan bicara dengannya. Untuk melepaskan mu!" desis Nyonya Clorie berjalan ke arah Pintu tapi nyatanya sosok yang mereka nanti sampai malam ini tiba sudah berjalan ke arah sini.


Wajah dingin dengan tatapan abu semakin menciutkan nyali mereka semua. Efika dan pelayan wanita itu gemetar memilih untuk masuk ke dalam kamar mendekati Kakek Le-Yang untuk bersembunyi.


"M..Master!" gumam mereka dengan suara tercekat kala hawa yang di sebar Xavier tak bisa mereka tepis begitu saja.

__ADS_1


Bahkan, Dokter Ryker merasa dadanya panas seakan kedatangan Xavier menyebar lahar api di kerongkongannya.


"Keluar!"


Suara dingin itu membekukan ruangan ini. Untuk sesaat mereka tak bergerak karna melangkah ke pintu untuk melewati Xavier di sana saja tak ada keberanian untuk itu.


"KELUAAR!!!" Bentak Xavier hingga Lukisan-lukisan di kamar ini berjatuhan dan pecah ke lantai kamar beriring dengan semua pelayan keluar dari kamar kecuali Dokter Ryker dan Nyonya Clorie.


"Masih belum?" desis Xavier menatap kelam Nyonya Clorie yang menggeram.


"Bajingan sepertimu memang tak pantas mendapatkan Putrikuu!!!"


"M..Mom!" lirih Stella menggeleng. Dalam amarah seperti ini Xavier bisa membunuh siapapun tanpa pandang bulu.


"Stella! Ayo pergi!"


"M..Mom keluarlah!" lirih Stella memohon. Raut wajah Xavier sudah sangat menakutkan membuat kamar ini di landa ketakutan yang kuat.


Stella juga memohon pada Dokter Ryker agar keluar mengajak Mommynya yang bisa saja menentang Xavier disini.


"A..aku mohon!" lirih Stella membuat Dokter Ryker akhirnya pasrah. Ia menarik lengan Nyonya Clorie melangkah ke arah pintu.


Tapi sebelum itu tatapan tajam Dokter Ryker menghunus Xavier yang tak tertindas sama sekali.


"Kau akan hancur." desisnya lalu keluar dari kamar dengan pintu yang tiba-tiba tertutup keras nyaris jebol.


Sontak tangisan Baby Ester melengking pertanda terancam membuat Stella yang sudah berkaca-kaca itu hanya bisa memeluk putranya erat.


Ia melirik dari ekor matanya jika Xavier melangkah mendekat ke arah ranjang. Stella sangat takut jika Xavier melakukan hal buruk pada Baby Ester.


"K..kau.."


"Sudah puas bermain dengannya. Hm?"


Spontan Stella mengangkat wajahnya mengadah menatap Xavier dengan mata sudah memanas. Tatapan bengis Xavier seakan mengatakan dirinya begitu kotor.


"Xavier.."


"Jangan memanggilku dengan nama itu!!!" geram Xavier menggertakan giginya kuat sampai nyawa Stella seakan mau pergi secepat mungkin.


Tatapan begitu sakit dan kecewa Stella layangkan membuat kedua tangan Xavier terkepal erat. Air mata itu tak lagi Stella bendung bahkan sudah membasahi pipinya.


"K..kau.. "


"Aku muak melihat wajah sok polosmu ini!"


Seketika kebencian Stella terpupuk kuat. Tangannya terkepal dengan mata mengigil menahan luka, sakit dan amarah yang bercampur mengaduk batinnya.


Xavier membungkuk mengulur tangannya untuk memeggang dagu tirus seksi ini. Tatapan masih merendahkan Stella yang menahan sakit di sekujur tubuh dan jiwanya.


"Wajah yang sangat LICIK!"


Plakkk..


Tamparan Stella mengenai pipi Xavier yang seketika terdiam. Suara itu sampai terdengar keluar bahkan membuat seringaian seseorang yang tadi bersembunyi di balik dinding ini meruak.


"Tunggu dan lihat. Semuanya akan berakhir!"


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2