
Perdebatan sengit tadi membuat keadaan Xavier begitu tersudut. Ia tak bisa memarahi Stella secara keras karna wanita ini akan semakin membuat suasana tak nyaman diantara keduanya.
Alhasil Xavier memilih untuk tak melayani Stella yang lagi-lagi terus mencecer pertanyaan tentang Dokter Ryker menguji kesabaran Xavier.
"Vee!! Jawab pertanyaankuu!!"
"Jangan tanya padaku." jawab Xavier yang memilih untuk beristirahat di atas ranjang. Ia tak menggubris Stella yang duduk tepat di tengah-tengah kaki Xavier yang ada di samping kiri dan kanan tubuhnya.
Tentu dalam suasana perdebatan kecil ini Xavier masih mengutamakan keselamatan Stella yang terus tak mau kalah.
"Vee!!"
"Hm." Xavier menutup matanya dengan lengan terangkat ke keningnya. Posisi ini tentu membuktikan Xavier tengah pusing akan pertanyaan wanita ini.
"Kalau aku tanyakan pada mereka. Jelas tak ada yang akan menjawab karna KAUU!!!"
"Hm."
"Veee!!!!" teriak Stella sejadi-jadinya menarik-narik satu lengan Xavier yang terulur bebas di atas ranjang.
Mendengar rengekan dan suara berkicau Stella yang sangat berisik. Akhirnya Xavier memilih untuk menundukan egonya. Lagi pula Dokter Ryker tak akan berani lagi mencoba untuk mendekati Stella.
"Vee! Jika dia tak membantu aku pergi maka pasti bayi kita tak akan besar dan.."
"Diamlah!" malas Xavier akhirnya beringsut duduk bersandar ke kepala ranjang. Netra abu tajamnya menatap datar Stella yang beralih memeggang betisnya.
Lama keduanya saling pandang sampai akhirnya Stella naik ke atas paha Xavier yang tak sungkan untuk membelit pinggang agak berisi Stella yang berkoala padanya.
"Vee! Sebenarnya kau sayang padaku atau tidak?"
"Kau ini aneh." jawab Xavier merasa Stella sangat susah ia kendalikan. Memang dulu Stella sudah pemberontak tapi semakin bayi itu besar perilakunya mulai terlihat sangat-sangat arogan dan tiba-tiba mau bermanja padahal dulu ia sangat tak mau mendekat lebih dulu.
"Vee!"
"Hm."
"Kau bilang kau mau memulainya denganku. Tapi, kau selalu saja tak mau menuruti kemauanku. Kau.."
Xavier langsung membekap mulut Stella yang jika di biarkan bicara terus maka akan membuat sebuah buku. Ia akhirnya pasrah menegakkan tubuh gagahnya yang sangat malas untuk digerakkan.
"Vee! Kau.."
"Baiklah!" jawab Xavier dan membuat senyum Stella mekar. Akhirnya pertengkaran mereka beberapa jam ini membuahkan hasil dan pemenangnya masih seorang Stella.
"Kau senang?"
"Tentu. Itu penyelamatku." jawab Stella membalas intonasi suara ketus Xavier yang mengepalkan tangannya. Wajah dingin itu kembali tampak tapi Stella hanya acuh.
"Ayo. Pergi!"
"Tidak sekarang!" tegas Xavier yang membuat dahi Stella mengkerut.
"Kau sudah setuju tadi."
"Aku tak mengatakan Sekarang." ujar Xavier asal hingga Stella langsung turun dari ranjang lalu pergi ke kamar mandi.
Lagi-lagi suara pintu itu di tutup kasar membuat wajah Xavier yang tadi mengeras perlahan berubah menjadi tenang. Akhirnya ia kembali mendengar suara benturan yang selama ini menghiasi Villanya.
__ADS_1
"Walaupun kau begitu liar. Tapi, aku menyukainya." gumam Xavier memandangi pintu kamar mandi. Ia mengambil nafas dalam meraih ponsel di atas bantal yang tadi ia letakan.
Kontak Zion yang pertama Xavier hubungi. Ia malas untuk mengurus semua itu apalagi berhubungan dengan Pria yang sudah memiliki citra baik di mata Stella.
"Yah. Master?"
"Besok bawa pria itu ke sini! Pastikan keadaanya cukup baik untuk di lihat beberapa menit."
"Baik. Master!"
Jawab Zion di seberang sana. Xavier mematikan sambungan lalu berniat untuk melihat Stella yang kedengarannya tengah mandi.
Namun. Saat Xavier ingin berdiri lagi-lagi ponselnya berdering cukup menyita perhatiannya.
"Veee!!"
"Apa?" tanya Xavier seraya mengambil ponsel di atas ranjang. Nyatanya itu panggilan dari Nyonya Margretta yang tak begitu sering menelfon Xavier bahkan ini yang pertama kali dalam beberapa bulan ini.
"Vee!! Tolong ambilkan handukku. Aku lupa membawanya!!"
"Hmm."
Xavier tak langsung mengangkat panggilan itu. Ia pergi mengambil handuk di ruang ganti tetapi ponsel di tangannya masih berbunyi.
"Vee! Cepatlaah!!!"
"Sebentar!"
Xavier mendorong pintu kamar mandi dengan ujung kakinya karna sudah di buka kecil oleh Stella. Kepala basah wanita itu menyembul keluar tak membiarkan Xavier masuk.
Hal itu hanya mendapat senyum misterius Xavier yang kembali merubah raut wajahnya kembali dingin. Ia melangkah ke arah Balkon kamar untuk sedikit mencari suasana tenang dan barulah ia mengangkatnya.
"Prince! Apa kau baik-baik saja? Kenapa lama sekali menjawab panggilanku?"
Suara Nyonya Marggretta yang terdengar begitu cemas. Tapi. Respon Xavier hanya datar dan tak perduli.
"Ada apa?"
"Kakek-mu ingin kau pulang ke Kediaman Utama malam ini. Jangan sampai kau tak datang, kau tahu sendiri Kakek-mu bagaimana?!"
Xavier hanya diam. Ia yakin jika hawa keberadaan Stella sudah di temukan Kakek Lucius, ia juga tak bisa menyembunyikan hal itu terlalu lama karna yang berkuasa tetaplah Yang Mulia Lucius.
"Dan satu lagi. jemput Linnea di Kediamannya, kau sudah banyak membuat Keluarga mereka marah besar dan mempermalukan Kakek-mu."
"Hm."
Xavier mematikan ponselnya sepihak. Ia menghela nafas dalam untuk sekedar merilekskan tubuh dan otaknya.
"Sampai kapan wanita itu terus menguntit hidupku?"
"Wanita siapa?"
Xavier menoleh kala suara Stella tepat di belakangnya. Nyatanya wanita itu sudah selesai membersihkan tubuhnya walau hanya di baluti handuk Stella benar-benar menjelma menjadi Bidadari surgawi. Perut besarnya mempersingkat panjang handuk yang hanya sampai ke batas pangkal paha putihnya.
"Kau selesai?"
"Siapa yang menelfon?" tanya Stella mengeringkan rambut pendeknya dengan handuk kecil yang selalu ada di dalam kamar mandi.
__ADS_1
Xavier tak langsung menjawab. Ia mendekat menatap wajah penuh tanya Stella.
"Vee!"
"Wanita tua di Kediaman!" lugas Xavier tak mengatakan jika itu Mommynya. Jelas hubungan mereka tak sedekat itu.
"Mommymu?"
"Hm," gumam Xavier mengangguk seraya mengambil alih handuk di tangan Stella. Ia beralih mengusap rambut basah ini dengan kedua tangan Stella beralih menggantung di pinggangnya.
Hati Stella gelisah. Ia yakin jika banyak hal yang belum ia ketahui tentang Xavier dan keluarganya.
"Vee! Apa Mommy-mu akan setuju dengan hubungan kita?"
"Apa perlu?" tanya Xavier tanpa menghentikan tangannya yang bekerja mengeringkan surai pendek ini. Aroma bunga Gardenia dari tubuh Stella membuat Xavier tenang dan sangat damai.
"Dia Mommy-mu. Seperti aku dan Mommyku yang butuh persetujuan dan kau juga. Vee!"
"Aku tak menjamin itu terjadi."
"Kenapa?" tanya Stella sangat gelisah memikirkan soal hubungan mereka. Banyak hal yang tak Stella mengerti tentang kehidupan Xavier.
Melihat raut cemas Stella mendapat helaan nafas Xavier yang beralih menarik pinggang lentik itu merapat ke arahnya.
"Ini tak semudah yang kau pikirkan."
"Lalu? Bagaimana supaya dia menyukaiku dan aku.."
"Kau tak perlu memikirkan hal itu." tegas Xavier tahu jika harapan Stella tak akan pernah berhasil terwujud. Pasalnya, Keluarga Elbrano tak akan menerima manusia dan apalagi Stella. Nyonya Clorie sangat paham hal itu dan itu karnanya dia melarang keras Stella ikut ke sini.
"Vee! Aku.."
"Stella! Kau itu urusanku bukan mereka. Tak ada hubungannya mereka setuju atau tidak karna hanya aku yang bisa mengatur posisimu dimana. Kau mengerti?" tegas Xavier ingin Stella tak berharap lebih jauh pada Keluarganya.
Stella bungkam. Ia merasa aneh dengan hubungan ini tapi rasanya tak sanggup untuk saling meninggalkan.
"Tapi.."
"Seiring berjalannya waktu kau akan paham. Hidupku berbeda dan aku harap kau mengerti karna ini jalan terbaik untuk sekarang. Hm?" jelas Xavier penuh kelembutan agar Stella tak merasa terusik dan berfikir yang tidak-tidak.
"Tapi boleh aku minta sesuatu?" tanya Stella hanya ingin bicara soal perasaanya.
"Katakan!"
"Aku sanggup jika itu tentang Keluargamu tapi masalah wanita.."
Stella mengambil nafas dalam. Ia sudah pernah sakit hati dan rasanya begitu pahit dan menggila. Dan kali ini ia akan mati jika mendapatkan hal yang sama.
"Aku mohon jaga kepercayaan ku dan hanya aku. Kau bisa melakukan apapun padaku asal jangan meminta pada wanita lain. Hanya itu!"
Xavier mengangguk ringan. Ia hanya perlu membereskan Linnea secepatnya karna itu akan jadi Boomerang yang akan merusak hubungannya nanti.
"Aku berjanji!"
....
Vote and Like Sayang..
__ADS_1