
Pondasi kekuatan yang tadi Xavier sebar mengelilingi mereka sekarang sudah di hancurkan oleh Kakek Lucius dalam sekali hantaman Tongkat emasnya.
Ia segera membuat jarak dengan Xavier yang masih memeggang Pedangnya diantara rongga tubuh berlendir Apollo yang terlihat mulai tak bisa bertahan. Kala Pedang itu Xavier cabut, tubuh Apollo langsung jatuh ke bawah sana membuat tatapan Kakek Lucius semakin berapi-api.
"KAUUUU..."
"Dia hanya merusak mataku." jawab Xavier masih dengan keangkuhan dan pembawaan arogannya. Bukan berusaha untuk tak membuat Kakek Lucius mereda, ia bahkan menyiram minyak pada bara api yang sudah meledak-ledak itu.
Ntah dendam apa yang menyertai amarahnya. Kakek Lucius segera menghentakkan ujung Tongkat itu ke Asap gelap yang ia pijaki dengan satu tangan mengusap lehernya yang seketika mengeluarkan Serangga seperti kumbang hitam kecil yang menyerbu keluar dari salah satu lingkaran di lehernya.
"Serangga itu akan memakan tubuhmu. Dia akan berkerumun dan menyerang membabi-buta."
Suara bisikan di telinga Xavier yang menajamkan satu mata merah menyala itu. Dengungan Kumbang ini terasa begitu berisik seperti tengah mengerumuni Bangkai yang besar.
Segerombolan Serangga buas ini langsung mengepung Xavier yang dengan cepat menebaskan kilatan merah di Pedangnya. Namun, hal itu tak berdampak sama sekali bahkan mereka bertambah banyak.
Melihat hal itu Kakek Lucius menyeringai licik. Ia terlihat puas dengan desakan yang di lakukan para Serangganya memojokkan Xavier yang belum pernah melihat Hewan kecil mematikan ini.
Tentu hal itu dapat di lihat oleh Zion yang tengah berdiri di depan pintu Villa. Setelah mengamankan semua orang tadi, ia tak tenang untuk meninggalkan Masternya di luar sini.
"Aku harap Master bisa membebaskan diri." gumam Zion menatap khawatir pada kerumunan Serangga itu. Ia hanya bisa meredam rasa paniknya karna yang di lawan ini adalah Yang Mulia Lucius, jika Mahluk lain Zion bisa duduk dengan santai bahkan meminum Teh atau Kopi.
Kekhawatiran Zion nyatanya semakin meningkat kala Kakek Lucius kembali menambah ribuan Serangga miliknya. Alhasil langit Villa ini dipenuhi oleh Binatang berdengung menjijikan itu bahkan sebagian dari mereka menyerang Benteng Gelombang yang masih mengurung Baby Ester di dalam sana.
Ntah bagaimana keadaannya sekarang tapi, Xavier tetap berusaha untuk melindungi anak itu selagi belum selesai.
"Menyerahlaah!! Aku ajak Putramu bergabung dengan Elbrano!!"
Suara Kakek Lucius bagai Terompet peperangan. Kakek Lucius tahu jika sekarang luka di bagian dada Xavier sudah begitu parah dan pasti ia tak akan bisa memanggil Tunggangannya.
Apalagi, Kakek Lucius memanfaatkan keadaan Xavier yang terdesak dengan menambah pasukan Serangga-nya dan beriringan menyerang ke arah Pusaran air yang ia hambat.
"Jika begini terus dia tak akan bisa menyelesaikannya."
Batin Xavier masih menebas beberapa Serangga yang mencoba mendekatinya. Melihat Kakek Lucius yang begitu keras menerjang Pusaran angin itu Xavier tak punya cara lain.
"Lukamu semakin parah. Jangan memanggil Tunggangan-mu."
"Diamlah." gumam Xavier tak perduli jika jantungnya akan meledak setelah ini. Segera mungkin ia menghunuskan Pedangnya ke atas langit sana hingga Badai angin ini beralih memutari ujung benda tajam di tangannya.
__ADS_1
Kedua mata Xavier terpejam beberapa saat untuk memusatkan Energi tubuhnya di Pedang ini hingga kedua mata Xavier terbuka berubah merah darah seluruhnya.
"KELUARLAH!!"
Titah Xavier hingga Angin yang tadi memutari puncak Pedangnya langsung berhembus melingkar membentuk Kepala Naga Merah dengan cahaya begitu menyilaukan.
Kedatangan Tunggangan gagah miliknya itu membuat Petir diatas san menyambar dengan keras bahkan Tuan Attacus dan Nyonya Margaretta yang tadi berhadapan dengan Authums itu juga terkejut.
"Dia.."
"Masih saja punya kekuatan sebesar itu padahal jelas Yang Mulia sudah melukai bagian dalam tubuhnya." kagum Tuan Attacus yang merasa tak percaya jika Xavier benar-benar keturunannya. Ntahlah, terkadang ia merasa iri dengan Kekuatan yang dimiliki Pria ini.
Sementara Kakek Lucius. Ia hanya diam melihat Xavier mengeluarkan Tunggangannya berupa Naga Merah yang terlihat berputar di atas Pedang itu.
Lekukan tubuh bergerigi yang sangat perkasa dengan suara jantan yang tak takut mati. Sungut panjang miliknya begitu menakutkan dengan raut wajah sangar mengancam nyawa.
"Kau akan mati." desis Kakek Lucius juga tak ingin kalah. Ia mengeluarkan sesuatu dari lingkaran di lehernya tepat di bagian tenggorokan hingga Ribuan Kelelawar hitam itu langsung menyerbu keluar.
"Itu bagian-mu!" titah Xavier pada Naganya yang begitu agresif tapi penurut. Ia melesat cepat ke arah Segerombolan Kelelawar sana dengan Xavier yang sudah menebaskan Pedangnya hingga kilatan merah itu menghanguskan Kumbang-kumbang yang tadi nyaris menyerang Villa.
Semakin di serang maka mereka akan semakin banyak. Hal itu tentu sangat menguras tenaga apalagi Kakek Lucius belum menggerakan tubuhnya.
"Waktumu sedikit. Jangan menyerang suruhan tapi Tuannya."
Ia memperhatikan bagaimana Tipe Serangga ini dan jika ia mati maka akan ada yang baru lagi bahkan bertambah kuat.
"Percumaa!!! Kau hanya akan memberikannya makan."
Desis Kakek Lucius yang tengah mengendalikan Kelelawarnya untuk menyerang Naga Tunggangan Xavier yang terlihat menyemburkan lahar panas merah yang begitu berbahaya. Sontak hal itu membuat Kakek Lucius mengubah posisi bahkan mulai bergerak karna terdesak.
Xavier yang memutar otak untuk mencari cela menyerang ke arah Kakek Lucius seketika langsung melirik ke arah Pusaran air yang ia lindungi tadi.
Sedetik kemudian barulah ia menatap sengit Kakek Lucius yang cukup kewalahan dengan Naga Tunggangan Xavier yang dengan mudah memanggang Ribuan Kelelawarnya dengan semburan Lava ganas yang begitu mengerikan.
"Apa yang ingin kau lakukan?"
Xavier hanya diam tak menjawab suara menyebalkan ini. Ia memutar Pedangnya mengeliling membentuk lingkaran merah darah lalu memusatkannya pada Pusaran air di belakang Kakek Lucius.
"Kau.."
__ADS_1
"Jadilah berguna!!" tegas Xavier seketika melemparkan Sosok yang tadi berlindung padanya ke arah Kakek Lucius yang terkejut kala kecepatan Mahluk ini datang padanya cukup menyulitkan untuk bergerak karna Naga Tunggangan Xavier terus mendesaknya ke arah Pusaran air itu.
"Kauuu..."
"Ku serahkan padamuu!!!" teriak Xavier melepas Tebasan terakhirnya ke arah Pusaran air itu hingga kekuatan Pedang Xavier mendorong Kakek Lucius masuk ke dalam sana.
Tak cukup disitu saja Xavier langsung menutup kembali Portal Dimensi Arthas yang tadi masih terbuka mengeluarkan Mahluk-mahluk ganas itu ditengah sisa Energinya dengan Naga Tunggangan miliknya langsung menyambut Sosok yang Xavier lemparkan tadi dengan kaki bercakar tajam itu.
"Masteeer!!!"
Teriak Zion kala melihat Xavier nekat menggunakan sisa Energinya untuk menutup kembali semua Dimensi yang tadi terbuka. Akibatnya langit ini langsung bergemuruh hebat bahkan petir mulai saling bersahutan kala Xavier benar-benar mengarahkan Pedangnya ke arah langit hitam pekat ini.
Sementara Kakek Lucius. Ia merasakan tubuhnya terserap ke dalam Pusaran ini bahkan untuk keluar saja ia tak bisa, ada satu kekuatan besar yang membuat tubuhnya mati rasa. Wujud aslinya mulai membayang pertanda Kekuatannya terhisap cukup banyak.
"K..kauuu..."
Kakek Lucius ingin menggunakan Tongkatnya tapi tiba-tiba Tubuhnya langsung tertarik kuat ke bawah sana dengan kilatan biru naik ke atas begitu cepat menimbulkan gesekan udara dan gelombang air laut yang mulai berubah Formasi.
Deru angin semakin kuat bahkan gemuruh di atas langit yang tadi tak begitu mengerikan sekarang berubah drastis. Kilatan Petir menyambar hebat membentuk 3 Pilar yang tiba-tiba mengelilingi satu Mahluk yang sudah berdiri dengan diselimuti Cahaya biru di sekelilingnya.
Mereka tak bisa melihat siapa itu tapi yang jelas ada Sayap seperti Malaikat berwarna hitam pekat tapi ada gradasi Merah neraka yang mengerikan.
"I..itu.."
Tuan Attacus dan Nyonya Margaretta syok melihat Kakek Lucius terperangkap di dalam Pusaran air sana sementara sosok yang ada di dalam kurungan Sinaran biru itu terus menarik Petir yang seakan digunakan untuk membuat satu Segel langit yang ikut merestui kehadirannya.
Hawa keberadaan nyaris setara dengan Xavier bahkan mereka bisa merasakan jelas jika Sosok ini menyimpan amarah bahkan kebencian yang begitu besar sampai membuat udara begitu panas membara.
"D..Dia.."
Kakek Lucius yang terbata-bata menatap ke atas sana. Pandangan mereka terkunci ke arah objek satu itu hingga sedetik kemudian Sayap kokoh perkasanya langsung terkibas membuat kilauan biru yang tadi menutupi langsung terhempas kuat membuat dorongan ke semua objek yang ada di bawahnya.
Mata mereka seketika terpaku pada wajah Tampan belia yang tampak begitu mewarisi ketampanan seseorang. Kedua netra biru menghunus seperti pedang dengan rahang tegas dan Porsi wajah serta tubuh yang sudah tampan sempurna.
Bahkan. Nyonya Margaretta dan Tuan Attacus sampai terperangah karna mereka seakan melihat Xavier saat remaja berumur 18 Tahun disini. Hawa dan pesonanya benar-benar mirip tak terbantahkan sama sekali.
Lirikan netra bening biru indah tapi menikam itu beralih menatap Xavier yang hanya diam tapi jelas ia merasakan Daddynya tengah tak baik-baik saja.
"Serahkan padaku!"
__ADS_1
.....
Vote and Like Sayangku..