YOU ARE MINE MIS STELLA.

YOU ARE MINE MIS STELLA.
Berhati-hati


__ADS_3

Dalam perjalanan ke arah Perusahaan miliknya tiba-tiba saja Mobil yang di kemudikan oleh Asisten Bert langsung terhenti tepat di jalanan yang begitu lengang.


Jalur panjang beraspal hitam ini tampak sangat sepi dengan hawa aneh dan suasana langit-pun mulai berumah mendung padahal seharusnya Sore ini cukup terang dengan cahaya jingganya.


"Ada apa?" tanya Direktur Luther sedikit emosi. Ia tadi terganggu dengan Mobil yang berhenti mendadak bahkan ia nyaris terlempar keluar.


Asisten Bert yang sudah berdiri memeriksa bagian Cup depan sana tampak heran dan sesekali menatap Tuannya dari balik kaca.


"Tuan! Tak ada masalah apapun."


"Kau jangan membual." desis Direktur Luther memukul peggangan Kursinya. Ini sudah ingin hujan dan tak ada siapapun disini.


"Tuan! Saya akan menelpon Montir dan anda silahkan pergi duluan dengan Supir di Kediaman nanti."


"Cepatlah!" malas Direktur Luther mengibaskan tangannya. Asisten Bert tampak ke pinggir jalanan menelfon Kediaman agar mengirim Supir. Ia juga menghubungi Montir untuk datang membawa Mobil Derek.


Menunggu selama ini membuat Direktur Luther yang memang memiliki sifat pemalas langsung memanfaatkannya untuk tidur sejenak. Suasana dingin dengan hawa mendung ini membuatnya mengantuk.


"Kapan lagi aku bisa membayangkannya?!" gumaman mesum keluar. Ia menyandarkan kepala ke jendela Mobil lalu tersenyum sendiri dengan ekspresi wajah terlihat menahan gemas akan sesuatu.


"Ku kira aku tak bisa lagi melihatmu. Tapi, nyatanya sekali bertemu kau terlihat semakin cantik dan SEKSI."


Suara Direktur Luther barusan mengalun ringan tetapi tiba-tiba saja cuaca tampak murka. Langit yang semula mendung berubah sangat gelap dan angin mulai membawa rintikan hujan dari atas.


Untuk sesaat Direktur Luther tak menggubrisnya tapi saat suara kaca depan pecah ia langsung membuka mata.


"Tuan!"


Asisten Bert yang juga syok mendekat kala tiba-tiba saja Kaca depan Mobil pecah. Rintihan hujan perlahan-lahan mulai lebat bahkan angin kuat ini bisa menggerakan posisi Mobil.


"Tuan! Sepertinya badai akan terjadi. Anda.."


Belum sempat Asisten Bert berkata tapi tiba-tiba saja ada Petir yang menyambar dari atas sana tepat di tepu Mobil yang seketika terbakar.


Tubuh Asisten Bert terlempar ke tepi jalan dan tanah ini sampai bergetar hebat. Suasana seketika mencekam kala Api yang menjalari Mobil seakan begitu berhasrat memanggang Direktur Luther di dalam sana.


"Bert!!! Bertt buka Pintunyaa!!"


Suara teriakan Direktur Luther menendang Pintu Mobol yang tiba-tiba terkunci rapat. Asap mulai mengepul bahkan hawa panas dari Api yang membakar Mobil membuat kulit Direktur Luther langsung terasa melepuh.


Mendengar suara keras Direktur Luther. Asisten Bert langsung berdiri dengan kaki gemetar dan telinga masih sakit mendengar ledakan kuat tadi mencoba membuka Pintu Mobil.


"Bert!!! Bert bukaaa!!"


"T..Tuan. Macet, Pintunya tak bisa di buka." panik Asisten Bert begitu pucat. Hujan lebat ini terus mengguyur Badan Mobil tapi anehnya api ini semakin menyala-nyala seakan yang jatuh itu adalah rintikan Solar.

__ADS_1


Api mulai menjalar masuk ke dalam Mobil bahkan, Jas yang di pakai Direktur Luther terbakar membuat Pria itu semakin syok melepas Jasnya tapi bagian atap Mobil juga sudah menjalar bara yang begitu mengerikan.


Kulitnya merah dan rasa panas tanpa oksigen ini benar-benar membuatnya mati dalam keadaan mengenaskan.


"B...Bert!"


"Pergilah ke Neraka!"


Suara bisikan di telinga Direktur Luther yang terdengar begitu mengerikan membuat tubuh keringnya meneggang hebat kala dada itu terasa sangat panas dan terbakar.


Pandangannya mulai kabur membayang hitam. Ditengah kepulan asap ini mata Direktur Luther melihat ada sosok yang berdiri tepat di depan Mobil sana.


Hanya separuh tubuhnya yang terlihat memakai Stelan Jas tapi yang jelas sosok ini masih muda dengan hawa membunuh yang kental. Kilatan tajam itu saling berbelit melewati Tubuhnya tapi mereka seakan tunduk.


"K..Kau..."


Lirihan kata terbata-bata dengan api yang susah menjalar ke tubuhnya. Teriakan Asisten Bert tak lagi terbantahkan kala melihat Tuannya menatap kosong kedepan padahal tak ada siapapun disana.


"Tuaaan!!!"


Teriakan itu beriringan dengan ledakan Mobil yang seketika kembali membuat Tubuh Asisten Bert terpental jauh.


Bagian-bagian Mobil tercerai berai bahkan api itu belum juga padam seperti jatuhan Meteor yang tengah membumbui rona magis dari wajah Tampan belia mengerikan milik Ester yang sudah berdiri dengan tatapan tajam tak berkedip sama sekali seakan ia masih belum puas.


Tapi. Saat ia ingin meremukkan Bangkai Mobil ini tiba-tiba saja ia merasakan jika Mommynya akan pulang dari Perusahaan.


Sedari tadi Stella menunggu di depan teras Perusahaan. Ia sesekali di sapa oleh para Karyawan yang tampak lebih menghormatinya karna kala itu Stella menyelamatkan mereka semua dari bencana masal.


Terutama seorang wanita berkulit hitam yang kemaren memaki Stella, ia tampak lebih dekat bahkan sering menyapa dengan logat candaan.


"Menunggu Pangeran?"


"Yah. Pangeran ku!" jawab Stella tersenyum kecil pada Tifani yang memang terlihat baru keluar dari area Post penjaga.


Wanita berambut keriting yang lebih dewasa darinya itu tampak diam sesaat lalu berwajah serius.


"Stella!"


"Yah?" tanya Stella memang merasa ada yang ingin di tanyakan Tifani.


"Kau harus hati-hati dengan Dewan Direksi tadi."


"Aku tahu. Mereka juga tak bisa mendesak Perusahaan lagi." jawab Stella dengan yakin. Tapi, raut wajah Tifani sama sekali tak berubah.


"Stella! Selama ini mereka sama sekali tak akan tunduk jika bukan kaki Presdir yang menginjaknya. Mereka akan mencari cela kesalahan Perusahaan dan sekarang kau terlibat, aku harap kau harus berhati-hati."

__ADS_1


"Hm. Terimakasih! Aku juga tak akan mundur." jawab Stella tegas penuh keberanian. Tapi, Tifani sangat berharap jika kedepannya Stella tak lagi berurusan dengan mereka.


"Aku harap begitu. Kau harus menjahui Direktur Monar dan Direktur Forbieden. Keduanya sangat berkuasa di Bidang Media, hanya Presdir saja yang tak berani mereka serang dan aku harap Presdir cepat kembali."


Ucapan Tifani barusan hanya di jawab senyum tipis Stella. Ia meremas Tas kecil di tangannya mencoba tetap tersenyum padahal rasa rindunya pada sosok itu sangatlah besar dan meluap.


"Aku pergi dulu. Semoga berhasil!"


"Terimakasih." ucap Stella pada Tifani yang sudah melangkah pergi. Sontak Stella langsung memejamkan matanya mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskan dengan ringan.


"Vee! Memangnya apa yang tak bisa ku lakukan. Hm?" gumam Stella menatap ke arah langit sana.


Matanya mulai kembali berkaca-kaca tapi ia segera menghapusnya kala ada Mobil yang masuk ke Gerbang Perusahaan.


Senyumnya mengembang kala wajah Tampan pria muda itu tampak dari kaca jendela yang di buka. Kedatangan sosok itu membuat beberapa Penjaga dan Staf yang tadi berkeliaran di luar langsung saling pandang.


"Apa itu pacarnya Nona Stella?"


"Dia sangat Tampan!"


Puji mereka semua bersemu kala Ester sudah keluar dari Mobil. Ia menjelma menjadi Pengusaha Muda kala wajahnya terasa Familiar dan auranya juga hampir sama.


Dengan angkuh dan wajah datar mendingin itu ia berjalan ke arah Stella yang tersenyum simpul kala semua orang memuji ketampanan Putranya tapi ada juga yang menggosipkan mereka.


"Sudah lama?" suara berat Ester sangat meremangkan bulu kuduk mereka. Potongan rambut Cooma Hear yang menjuntai di dahinya menjadikan Ester bagai Model Majalah Pria.


"Tidak juga." jawab Stella tersenyum simpul membiarkan Ester merangkul pinggangnya. Alhasil semua orang langsung syok menutup mulut tak percaya.


"Baby! Kau memang sempurna."


"Hanya untukmu. Mom!" bisik Ester tak menatap Mahluk lain selain Stella.


Ia membuka Pintu Mobil di samping Kemudi memastikan Stella masuk dengan nyaman dan barulah ia kembali ke Pintu samping sana.


Stella masih mengulum senyum membuat Ester sangat tak nyaman.


"Mom!"


"Hm?" Stella menatap wajah kesal Ester yang menutup kembali pintu Jendela Mobil.


"Jangan mengejekku!"


"Apanya? Mommy benar. Kau banyak penggemar." gemas Stella mencubit pipi mulus Ester yang seketika di perlakukan seperti Bayi.


Tapi Ester senang melihat mata sembab Stella sudah tak lagi menyimpan kekacauan. Ia rela jika menjadi bahan pelawak untuk Wanita ini.

__ADS_1


.....


Vote and Like Sayang..


__ADS_2