
Rasa hangat itu menjalar di seluruh permukaan kulitnya. Hawa beku yang tadi menusuk tulang bahkan menyumbat pori-pori kulit berangsur hilang bahkan kehangatan ini membuatnya tak lagi merasakan sakit yang di bagian perutnya.
Perlahan-lahan ia mulai bisa keluar dari alam bawah sadarnya. Kelopak netra biru laut itu dengan pelan membuka tapi masih terkesan takut-takut dan sayu.
Saat netra birunya tampak, hal pertama yang membuatnya menyeringit adalah kondisi kamar yang sepi dan sunyi.
Apa yang terjadi padaku? kenapa tak ada orang disini?
Batin Stella bertanya-tanya. Kondisi kamar benar-benar sunyi bahkan Stella tak bisa mendengar suara deru ombak seperti yang biasa ia dengar di pagi hari atau senyayu angin dari arah balkon seketika menuli.
"V..Vee!"
Panggil Stella melihat ke seluruh penjuru kamar. Tak ada hawa manusia disini dan semuanya seakan sudah lama di tinggalkan.
Karna merasa aneh dan tak mau terkurung didalam rasa penasarannya. Stella mulai memberanikan diri untuk turun dari ranjang.
"Vee! Apa kau sudah berangkat kerja?" tanya Stella melihat ke kamar mandi.
Ia melangkah perlahan ke arah pintu kamar mandi. Tangannya terulur menyentuh gagang pintu lalu menariknya seperti biasa.
"Vee!"
Panggil Stella tetapi hawa hawa dingin yang menghembus di wajahnya. Stella terpaku kala tak melihat siapapun disini bahkan aroma sabun atau shampo itu tak terasa.
Perasaan Stella tiba-tiba gelisah. Ia dengan cepat melangkah ke pintu kamar yang ia buka untuk keluar. Tak heran jika lantai ini sunyi tapi, Stella yakin Efika masih ada di lantai bawah.
"Efikaaa!!!"
Panggil Stella menuruni anak tangga Villa. Ia belum merasakan sesuatu yang sangat janggal hingga langkahnya terhenti di dekat tangga.
"Efikaaa!!! Kakek Leee!!"
Panggil Stella tak jua ada sahutan. Para penjaga Villa di depan sana juga tak ada membuat Stella mulai keheranan.
"Apa Xavier mengosongkan Villa lagi?" gumam Stella dengan heran keluar dari pintu Villa.
Saat telapak kakinya menginjak teras Villa. Seketika hawa dingin ini semakin terasa tapi tak dapat menembus tubuh Stella yang tetap merasakan hangat walau ia yakin disini sangat dingin.
"Dimana mereka? Sampai keluar-pun tak ada." gumam Stella melihat-lihat ke semua penjuru teras.
Ia pergi ke arah pagar dengan niat menemukan satu saja manusia disini tapi nihil, Stella tetap saja sendirian.
Tak menunggu disini. Stella akhirnya keluar dari pagar dengan mata menyapu jejeran hutan didepan sana dan ntah kenapa Stella seakan di tarik kuat ke arah Laut Pantai.
__ADS_1
"Efikaaaa!!!" Panggil Stella lagi melangkah ke arah pantai yang tiba-tiba saja bergejolak kala Stella mendekat ke sana.
Air laut yang semula tenang tiba-tiba saja menyusut seakan menjauhi Stella yang terus mendekat sampai menginjak pasir basah pantai.
Ada rasa gelisah di hati Stella kala membayangkan kejadian waktu itu tapi, ntah kenapa ia masih nekat kesini.
"Kenapa hari itu aku melihat yang aneh-aneh?" gumam Stella merasa cukup penasaran. Ia mulai asik memainkan pasie basah di kakinya sampai suatu suara membuat Stella tersentak.
"Jangan pergi!"
"A..apa?" sentak Stella segera melihat ke samping tapi tak ada orang. Padahal dengan jelas Stella merasakan ada yang berbicara di samping telinganya.
"S..Siapa?" tanya Stella mulai merasa panik. Pasalnya ia dengar dengan jelas dan tak mungkin halusinasi.
Kenapa? Disini tak ada orang lain selain aku.
Batin Stella bertanya-tanya. Namun, saat ia melihat ke Villa hembusan angin dingin yang cukup kuat dari yang tadi menerpa wajah Stella sampai ia jatuh kembali ke bibir pantai.
Kejadian yang sama. Air mulai bergelombang tetapi menjahui tubuh Stella tak ingin menyentuh seujung kuku-pun dari kulit wanita itu.
"K..Kenapa?" gumam Stella merasa panik karna takut jika mahluk-mahluk itu keluar dari lautan dan semuanya berubah.
"Tidak. Aku harus kembali ke Villa!"
"Ternyata kau disini. Hm?"
Spontan langkah Stella terhenti membatu kala mendengar suara itu. Jantung-nya tiba-tiba saja berdegup sangat kencang bahkan keringat dingin mulai keluar di keningnya.
Perlahan-lahan Stella mulai membalikan badan ke belakang dan beriringan dengan itu tiba-tiba saja kondisi di sekitarnya berubah.
Nuansa malam kembali menyelimuti padahal jelas tadi mentari naik ke atas langit sana.
"I..ini.."
Stella kebingungan. Ia menatap hamparan lautan lepas yang terlihat begitu stabil menubruk karang dan suasana pantai terasa kembali hangat.
"Disini dingin! Ayo masuk."
Stella langsung menoleh. Seketika matanya melebar melihat Seorang pria yang begitu gagah dengan rambut agak gondrong tapi dari belakang saja sudah dipastikan dia tampan.
Sosok pria berbaju kaos biru memakai celana pendek selutut mendekati seorang wanita yang memakai Gaun malam berwarna hitam di lapisi Kardigan tengah berjongkok memainkan pasir laut yang menyentuh kakinya.
"Ayo masuk! jangan terlalu lama disini, Sayang!"
__ADS_1
"Sebentar lagi!"
Suara wanita itu tak begitu bisa Stella dengar karna nyanyian ombak malam ini. Terlihat jika dia tengah berusaha membawa wanita itu untuk masuk, ntah kemana?
Karna cukup penasaran. Stella langsung berjalan mendekat dengan niat bisa menyapa atau berbicara. Tak ada aura ancaman yang ia rasakan tapi hanya sebuah sesak dan rindu.
"Permisi!!"
Sapa Stella dari beberapa jarak yang ada. Ia melihat jika dua mahluk ini tak mendengar atau melihatnya sedikitpun.
"*Sayang!"
"Aku mau disini sebentar. Hanya sebentar*."
Mereka masih saja bicara membuat Stella tak lagi bisa menahan rasa penasaran di benaknya.
"Permisi!" sapa Stella lagi nyaris mendekat ke arah dua mahluk ini hingga angin kembali berhembus dengan kencang menggulung pasir pantai.
Stella spontan menutup wajahnya karna takut serpihan pasir ini mengenai matanya.
" Disini akan ada badai! Pergilah ke Villa dulu!" pinta Stella tanpa menatap ke arah depan hingga perlahan ia membuka mata menerobos suasana badai ini.
Namun. Stella syok kala dua sosok itu sudah tak ada lagi di depan matanya bahkan sudah menghilang.
Bahkan, air laut yang semula tenang tiba-tiba mulai bergelombang dan suara-suara aneh itu kembali Stella dengar.
Tempat di sekitar Stella mulai berubah menjadi pekat dan aroma amis ini menyengat masuk ke sela hidung Stella yang mulai merasakan mual yang begitu besar mengocok perutnya.
"Ak..aku.."
Stella berniat untuk kembali ke Villa namun, sesaat ia berbalik tiba-tiba saja Villa berubah kembali menjadi bangunan tua yang diselimuti akar-akar pohon besar dan pemandangan malam itu kembali terjadi.
Wajah Stella memucat kala melihat air laut ini berubah menjadi merah darah dan yang paling menggentarkan keberanian Stella adalah.
Pasir yang tadi ia pijaki berubah menjadi tumpukan tubuh manusia yang menatap ke arah Stella dengan pandangan iba.
"T.. Tolong!"
Lirihan mereka menggapai kaki Stella yang dengan spontan berteriak dikerumuni banyak mayat.
"Veeee!!!"
.....
__ADS_1
Vote and Like Sayang